Mengelola Emosi Diri Saat Marah: Belajar Menahan Amarah dengan Bijak

Marah adalah emosi yang sangat manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Entah karena tekanan pekerjaan, masalah keluarga, konflik pertemanan, atau kelelahan fisik dan mental. Namun, yang sering menjadi persoalan bukanlah rasa marah itu sendiri, melainkan cara kita mengelola emosi diri saat marah.

Saya pernah berada di beberapa situasi yang mengajarkan betapa pentingnya kemampuan mengendalikan amarah. Dari sanalah saya belajar bahwa menahan marah bukan berarti memendam perasaan, melainkan mengelolanya dengan lebih sehat.

Ketika Amarah Menguasai Diri

Beberapa waktu yang lalu, perusahaan tempat saya bekerja membuka lowongan untuk beberapa puluh posisi. Setelah mengecek kualifikasi yang diperlukan untuk setiap posisi, saya segera menghubungi adik laki-laki saya dan menyarankannya untuk segera membuat lamaran. Kebetulan salah satu lowongan memerlukan kualifikasi SMK Teknik Mesin yang memang menjadi jurusan pilihan adik saya saat SMK dulu.

Di hari terakhir pendaftaran, adik laki-laki saya tiba-tiba mengirimkan pesan. "Ijazah SMK-nya hilang! Sudah dicari ke seluruh rumah tapi nggak ketemu!" Begitu isi pesannya. 

Saat itu hari sudah malam dan jelas tidak mungkin baginya untuk mengurus administrasi terkait ijazah yang hilang tersebut. Entah kemana adik saya menyimpan ijazah SMK-nya tersebut. Yang jelas dengan ketiadaan ijazah ini, hilang sudah kesempatannya untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi dari yang sekarang.

Membaca pesannya tersebut jujur membuat saya sangat kesal. Adik saya memiliki waktu kurang lebih 4 hari untuk menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan dan dia malah baru sadar ijazah SMK-nya hilang di hari terakhir. Ingin rasanya besok harinya saya datang ke rumah ibu saya dan mengomelinya karena keteledorannya tersebut. 

Namun setelah berpikir kembali, rencana tersebut akhirnya urung saya lakukan. Saya berpikir adik saya pasti sudah cukup merasa terbebani karena kehilangan kesempatan bekerja di tempat yang lebih baik dan jika harus saya marahi lagi pasti akan semakin membuatnya kesal. Saya hanya bisa berharap peristiwa ini bisa lebih menyadarkannya dan membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Konflik Pertemanan Akibat Luapan Emosi


Dalam kesempatan lain, saya dan beberapa teman mengalami konflik dengan salah satu teman kami. Saat itu terjadi kesalahpahaman terkait rencana nonton film yang rencananaya akan kami tonton bersama. Rencananya kami akan nonton bersama namun karena satu hal rencana tersebut batal dan kami memutuskan untuk nonton sendiri-sendiri saja. Sayangnya kami lupa mengabarkan perubahan rencana tersebut dan sebaliknya teman tersebut juga tak bertanya lagi tentang kelanjutan rencana nonton. 

Saat tahu kami nonton sendiri-sendiri, teman saya yang merasa tidak dikabari soal perubahan rencana kemudian  marah-marah di grup whatsapp dan menuduh kami tidak peduli padanya. Padahal sejak awal kami sudah memberitahunya untuk melakukan pemesanan tiket sendiri namun tak dilakukannya. Omelannya membuat hati panas dan saya pun memutuskan keluar dari grup tersebut.

"Kenapa Antung keluar dari grup?" begitu tanyanya pada teman yang lain. 

"Dia nggak tahan baca omelanmu," balas teman saya itu. 

"Kan omelannya sudah selesai," jawabnya lagi. 

Mengetahui jawabannya ini saya sungguh tak habis pikir. Bagi saya jawaban dari teman saya yang marah-marah itu menunjukkan ketidakpeduliannya pada perasaan orang lain. Bagaimana mungkin dia merasa masalah selesai dengan dia marah-marah tanpa perlu meminta maaf? Teman kami itu mungkin merasa lega karena telah meluapkan kesalahannya namun di lain pihak dia sebenarnya juga telah melukai perasaan orang yang dimarahinya.

Di sisi lain, kami juga mungkin salah karena tak memberi kabar lanjutan terkait perubahan rencana. Pada akhirnya karena kemarahan yang diluapkan ini hubungan pertemanan pun jadi renggang hingga kini. 

Benarkah Kita Tidak Boleh Marah?

Dalam keseharian, pastinya ada momen di mana emosi kita meninggi bahkan mungkin berada di luar kendali. Beban pekerjaan, rumah yang berantakan, rekan kerja yang menyebalkan hingga anak-anak yang rewel bisa menjadi pemicu munculnya emosi dalam diri. Kadang ada masanya kita bisa menahan diri untuk tidak marah, namun kadang jika emosi sudah tak terkontrol maka akan muncul tindakan seperti bentakan bahkan mungkin kata-kata kasar. 

Saya jadi ingat dalam salah satu ceramah agama disampaikan oleh seorang Ustad di kantor. Beliau menyampaikan salah satu hadist Rasulullah tentang larangan untuk marah. "Jangan marah, maka bagimu surga," begitu bunyi hadist tersebut. Hadist yang sangat singkat namun sangatlah mengena. Selain hadist di atas masih ada beberapa hadist lain dan juga ayat dalam al qur'an tentang keutamaan menahan amarah bagi seorang muslim. 

Mendengar hadist ini, salah satu rekan senior kemudian berkata, "Tapi kalau misalnya marah tidak dikeluarkan bukannya akan berdampak ke mental kita? Kalau rasa marah kelamaan dipendam bukannya nanti akan meledak? Makanya kan ada orang yang dibolehkan banting-banting barang gitu kalau lagi marah?" Begitu kira-kira tentangan yang diucapkan rekan kerja tersebut. 

Saya hanya bisa manggut-manggut mendengar argumen rekan kerja tersebut. Waktu itu saya tidak tahu harus berargumen apa mengingat keterbatasan ilmu yang saya miliki. Nah, setelah berpikir-pikir kembali, saya akhirnya menemukan jawabannya. 

Larangan untuk marah yang disebutkan dalam hadist tersebut adalah dalam konteks melampiaskan emosi kepada orang lain tanpa berpikir dahulu. Ketika emosi sedang menguasai diri, tak jarang orang mengucapkan kata-kata kasar yang mungkin akan menyakiti orang lain. Bahkan berdasarkan penelitian, seorang anak yang dimarahi orang tuanya bisa mengakibatkan kerusakan pada sel otaknya dan juga melahirkan inner child yang negatif dalam dirinya.

Cara Mengelola Emosi Diri Saat Marah

tips mengendalikan amarah



Lalu apa yang harus dilakukan jika marah sedang melanda kita? Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredakan amarah kita:

1. Tarik Napas dan Tenangkan Diri

Hal pertama yang dilakukan saat emosi sedang menguasai hati dan pikiran adalah dengan menenangkan diri. Tarik nafas dalam-dalam sehingga oksigen bisa masuk lebih banyak ke dalam tubuh dan menurunkan ketegangan yang ada. 

Selain dengan menarik nafas dalam-dalam, membaca ta'awudz dan berwudhu juga menjadi beberapa cara yang dianjurkan untuk meredakan kemarahan bagi mereka yang beragama Islam. 

2. Menjauh Sejenak dari Sumber Masalah

Cara kedua yang bisa dilakukan untuk meredakan amarah adalah dengan mencari udara segar. Kita bisa melakukannya dengan berjalan-jalan di taman atau tempat lain dengan tujuan menjauhkan diri dari sumber kemarahan. Dengan berjalan-jalan dan menjauhi sumber kemarahan ini pastinya akan membuat pikiran jadi lebih jernih dan membuat kita bisa memandang masalah dengan lebih baik.

3. Ubah Posisi Tubuh

Selain dengan berjalan-jalan, cara lain untuk meredakan amarah adalah dengan mengubah posisi tubuh kita menjadi lebih rendah. Jika sedang dalam posisi berdiri maka ambil posisi duduk lalu jika saat marah kita dalam posisi duduk maka ambil posisi berbaring. Ada beberapa alasan mengapa kita dianjurkan untuk "merendahkan diri" saat sedang marah. 
 
Orang yang sedang marah memiliki kecenderungan ingin jadi lebih tinggi. Dengan posisi yang tinggi, orang akan lebih mudah meluapkan amarahnya. Selain itu posisi berdiri juga membuat seseorang lebih mudah bergerak dan memukul. Dengan mengubah posisi tubuh menjadi lebih rendah akan menghalanginya dalam melakukan hal negatif seperti memukul
 

4. Dengarkan Musik atau Lakukan Aktivitas Relaksasi 

Musik juga bisa menjadi media untuk meredakan amarah kita. Saat emosi mulai melanda kita bisa mengalihkan kemarahan dengan mendengarkan musik dengan irama yang menenangkan agar tubuh juga mengikuti ritmenya. Dengan mendengarkan musik maka diharapkan emosi yang sempat meninggi bisa berkurang dan kita bisa berpikir lebih jernih sebelum berbicara.  

Penutup: Belajar Berdamai dengan Emosi

Marah adalah emosi yang wajar dan layak divalidasi. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, amarah bisa melukai, merusak hubungan, dan meninggalkan penyesalan.

Belajar mengelola emosi diri saat marah adalah perjalanan panjang. Setiap pengalaman, baik maupun buruk, menjadi guru terbaik agar kita semakin bijak dalam bersikap. Tulisan ini pun menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus berlatih mengendalikan diri dan memperbaiki cara merespons setiap situasi.


Baca Juga