sumber gambar : kompas

Senin, 12 Juli 2021 merupakan hari yang bersejarah bagi negara Pizza, Italia. Setelah penantian selama 53 tahun, akhirnya squad asuhan Roberto Mancini ini berhasil mengangkat trofi piala Eropa untuk kedua kalinya dengan mengalahkan Inggris lewat adu penalti. Sebagai penggemar sepakbola musiman (nonton cuma kalau ada piala dunia dan Euro aja), jujur saya senang sekaligus sedih karena baik Inggris maupun Italia adalah 2 negara favorit saya di laga sepakbola Internasional.

Di belahan dunia lain, belasan jam sebelumnya, Lionel Messi dan kawan-kawan juga berbahagia karena berhasil memenangkan Copa America untuk Argentina. Bagi Argentina, ini adalah kemenangan ke lima belas mereka setelah terakhir kali menang di Copa Amerika di tahun 1993. Kemenangan ini juga membuat Argentina sejajar dengan Uruguay yang juga memenangkan Copa America sebanyak 15 kali. Saya sendiri tidak terlalu mengikuti sepakbola Amerika. Namun setahu saya, kalau Copa America ini pemenangnya nggak jauh-jauh dari Argentina, Brazil dan Uruguay, ya. 

Berbeda dengan Copa America, Euro yang diselenggarakan di tahun 2021 ini sebenarnya merupakan ajang 4 tahunan yang harus diundur karena adanya pandemi Corona yang melanda dunia sejak tahun 2020 lalu. Inggris terpilih menjadi tuan rumah yang dengan ironisnya harus kalah di babak final. Di bangku penonton, bisa saya lihat Pangeran William, istri dan putranya Pangeran George yang hanya bisa bertepuk tangan dalam diam melihat kebahagiaan pasukan Italia. Ada juga legenda sepakbola Inggris yang tetap ganteng di usia 46 tahun Mas David Beckham yang pastinya juga hanya bisa tersenyum pilu karena lagi-lagi Inggris harus menunggu untuk jadi juara. 

Selain perayaan selebrasi yang selalu menyenangkan untuk dilihat, satu hal lain yang menarik perhatian saya saat menyaksikan final Euro 2021 ini adalah bagaimana suasana stadion di final Euro kali ini. Meski di masa pandemi, nyatanya suasana final Euro 2021 tak jauh berbeda dengan final-final sepakbola lainnya di masa lalu. Supporter berteriak dan berkumpul bersama dalam stadion Wembley tanpa ada jarak dan masker. Wah, sungguh pemandangan yang langka banget ya kita temukan selama setahun terakhir. 

Seperti yang kita ketahui, saat ini wabah Corona masih menghantui berbagai negara di belahan bumi. India sempat mengalami Tsunami Corona yang membuat negara tersebut sempat dilanda kondisi gawat darurat. Bahkan negara kita sendiri harus kembali ke titik nol karena di bulan Juni ini terjadi ledakan kasus Corona. Setiap hari rasanya beranda media sosial saya tak henti-hentinya mengabarkan berita duka. Sungguh berita yang menyesakkan.

Di lain pihak, golongan yang tak percaya Corona juga masih saja menyebarkan isu-isu yang mereka anggap benar. Bahkan yang terbaru, ada dokter yang bilang kalau mereka yang meninggal karena Covid itu disebabkan oleh interaksi obat. Duh, bingung deh saya dengan orang-orang ini. Lalu jika golongan yang tidak percaya Corona ini menonton final Euro 2021 ini, pastilah mereka juga akan berkata, "Itu di Inggris orang sudah nggak pakai masker. Berarti memang benar Corona itu nggak ada," Hedew. Sebel banget ya pastinya mendengarnya. 

Faktanya, memang beberapa negara seperti Perancis, Italia, Amerika Serikat, Denmark hingga Korea Selatan telah melonggarkan kebijakan protokol kesehatan mereka termasuk kewajiban memakai masker. Namun adanya kebijakan baru ini tentunya didasarkan pada berbagai alasan salah satunya adalah dengan menurunnya kasus covid di negara-negara tersebut. Negara-negara tersebut sukses mengatasi virus Corona dengan memberlakukan protokol kesehatan yang ketat dan juga memberikan vaksin kepada warga negaranya.

Coba bandingkan dengan negara kita. Mau divaksin aja banyak banget isunya yang membuat orang-orang jadi tidak mau divaksin. Bahkan saya sempat emosi banget ketika di kantor saya diberikan fasilitas vaksin, ternyata cukup banyak yang menolak dengan berbagai alasan. Huhu. Padahal vaksin ini kan salah satu ikhtiar kita agar bisa terhindar dari covid. Tapi nyatanya malah banyak yang memilih untuk mendapat imun sendiri dengan terkena Covid katanya. Kalau begini terus sikap mereka, kapan dong negara kita bebas Covid?

Mau itu konspirasi atau bukan, kita tidak bisa menyangkal kalau Corona ini sudah menjadi wabah yang mengambil nyawa banyak orang. Mungkin memang ada daerah-daerah yang kasus penyebarannya sedikit dengan alasan yang hanya Allah tahu kebenarannya. Meski demikian, janganlah ini membuat kita menjadi sombong dan berbesar kepala sehingga mengecilkan mereka yang sangat peduli dengan Corona ini. 

Demikian sedikit curhatan saya setelah menonton ajang final Euro 2020. Sekali lagi selamat buat Italia dan Argentina yang sudah menjadi pemenang di masa pandemi. Semoga saja di tahun mendatang tak hanya mereka yang jadi pemenang namun negara kita juga bisa jadi pemenang dalam mengatasi pandemi Corona ini. 

Baca Juga