Review Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini


Awal tahun 2020 kemarin, sebuah film terbaru Angga Dwimas Sasongko hadir di bioskop Indonesia. Film berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini diadaptasi dari novel Marchella FP dengan judul yang sama dan dibintangi oleh aktor-aktor yang tak perlu lagi diragukan aktingnya seperti Doni Damara, Oka Antara, Rio Dewanto, Susan Bachtiar, Sheila Dara Aisha hingga Rachel Amanda. Saat film ini tayang, banyak sekali review positif atas ide cerita dari film ini.

Sinopsis Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini sendiri berkisah tentang keluarga Narendra yang memiliki 3 orang anak yakni Angkasa, Aurora dan Awan. Kisahnya bermula dari proses kelahiran anak ketiga Ajeng dan Narendra, Awan. Cerita kemudian melompat ke belasan tahun kemudian, saat ketiga anak Narendra sudah dewasa. 

Dari sini, bisa dilihat kalau Awan si bungsu merupakan anak yang paling mendapat perhatian dari seluruh keluarga. Meski sudah diterima sebagai anak magang di sebuah biro arsitek, ia tetap diantar jemput oleh Angkasa. Bahkan saat Awan dipecat dari biro arsitek tempatnya magang, sang ayah dengan koneksinya berhasil membuat Awan kembali dipekerjakan.

Di lain pihak, Aurora si anak tengah jelas sekali terlihat sebagai anak yang tak kasat mata di keluarga tersebut. Sosoknya lebih banyak diam dan menyendiri di studionya. Hanya sang ibu yang tampak sesekali berusaha mendekati Aurora dengan menanyakan progress karya seninya yang akan dipamerkan.

Adapun Angkasa, si sulung, sejak kecil selalu diingatkan oleh ayahnya kalau ia memiliki tugas untuk menjaga adik-adiknya, terutama Awan. Kalau terjadi apa-apa pada Awan, maka Angkasa yang pertama akan ditanyai. Beban sebagai seorang kakak ini pada akhirnya mempengaruhi hubungannya dengan sang kekasih bahkan hingga ke urusan pekerjaannya di sebuah event organizer.

Awan sendiri kemudian berkenalan dengan Kale, manajer band yang dikenalnya saat ikut menonton acara yang di-handle Angkasa. Bersama Kale, Awan mulai melihat dunia dari sisi yang berbeda. Ia yang selama ini merasa dibesarkan dengan penuh kenyamanan dan tak memiliki banyak pilihan diajak menyelami dunia baru yang belum pernah dikunjunginya. Sayangnya perkenalan Awan dengan Kale ini membuat Narendra tak senang hingga kerap beradu argumen dengan putri bungsunya tersebut. 

Konflik dari keluarga ini memuncak saat pameran hasil karya seni Aurora berlangsung. Awan yang datang terlambat dengan terlibat pertengkaran dengan sang ayah. Aurora pada akhirnya mengusir seluruh keluarganya dari pameran. 

Pertengkaran pun berlanjut di rumah yang pada akhirnya membuat Angkasa yang selama ini diam membuka sebuah rahasia kelam keluarga mereka yang disembunyikan ayahnya selama 21 tahun sekaligus melepaskan beban berat yang selama ini ditanggungnya. 


Kesan Setelah Menonton Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Saat menonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, mau tak mau saya teringat pada satu film Indonesia bertema keluarga lainnya yakni Sabtu Bersama Bapak. Bedanya, jika saat menonton Sabtu Bersama Bapak saya merasa heartwarming, maka saat nonton NKCTHI ini saya merasa kesal dengan pola asuh yang digunakan Narendra kepada putranya.

Sebagai seorang ayah, Narendra selalu mendoktrin Angkasa untuk menjaga adik-adiknya terutama Awan yang otomatis membuat Angkasa bertanggung jawab atas adik-adiknya. Saat Awan tertabrak motor, Narendra langsung menarik Angkasa dan mengingatkan putra sulungnya itu akan kewajibannya. Pun setelah dewasa Angkasa juga masih diwajibkan untuk mengantar jemput Awan yang sebenarnya tak ingin terus-terusan diantar-jemput.

Tentunya ada alasan khusus di balik overprotective-nya Narendra kepada putri bungsunya ini. Namun hal ini di kemudian hari berakibat pada besarnya beban yang harus ditanggung Angkasa. Belum lagi karena terlalu fokus pada Awan, Narendra melupakan putrinya yang lain, Aurora. 

Sebagai anak tengah, sejak kecil Aurora kerap terpinggirkan bahkan harus banyak mengalah kepada Awan. Di lain pihak, Aurora juga tak tahu kemana harus bercerita karena kakaknya Angkasa juga dipaksa untuk memperhatikan Awan. Jadilah Aurora merasa tak memiliki tempat di rumahnya sendiri.

Refleksi: Bukan Urutan Kelahiran, Tapi Pola Asuh

Sebagai film keluarga, film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini juga membawa pesan lain yang saya tangkap. Selama ini mungkin kita berpikiran urutan kelahiran berpengaruh pada karakter seseorang. Anak sulung biasanya akan digambarkan sebagai sosok ngebos karena posisinya yang paling tua sementara anak bungsu kerap dilabeli manja. 

Kenyataannya, dari film ini saya bisa simpulkan kalau bukan urutan kelahiran yang mempengaruhi karakter anak, melainkan perbedaan perlakuan orang tua kepada anak-anaknya.

Anak sulung kadang terlihat lebih kuat dan mandiri mungkin karena di saat kelahirannya, orang tua sedang dalam masa berjuang baik itu dari segi finansial maupun dalam hal lainnya sehingga mau tak mau si sulung juga merasakan sedikit pahitnya kehidupan. 

Lalu ada anak tengah yang kerap memiliki stereotipe agak menyebalkan dan bermasalah. Ini bisa jadi karena sosok anak tengah ini kadang harus berebut perhatian antara kakak dan adiknya. Parahnya, si anak tengah lebih banyak diminta mengalah kalau sudah berhadapan dengan si bungsu.

Lalu bagaimana dengan anak bungsu? Biasanya anak bungsu lahir saat kondisi keuangan keluarga sudah membaik dan orang tua sudah lebih berpengalaman dalam membesarkan anak dan. Hal ini bisa jadi berimbas pada pola asuh yang mungkin lebih baik, fasilitas yang lebih lengkap hingga limpahan kasih sayang dari orang tua dan saudaranya. Ini membuat sosok bungsu biasanya memiliki karakter yang "bright" namun juga lekat dengan image manja.

Refleksi Pribadi sebagai Ibu

Menonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini pastinya memberikan wawasan baru bagi saya sebagai orang tua. Jujur saya sendiri memiliki sedikit kekhawatiran akankah nanti saya bisa mendidik anak-anak saya dengan baik? 

Bisakah saya membesarkan mereka dengan kasih sayang yang sama? Karena kira tidak bisa memungkiri kadang memang ada anak yang mendapat perhatian lebih karena berbagai alasan yang pastinya akan berpengaruh pada karakter dan sifat anak kita. Entah karena si anak lebih pintar atau ada kondisi lain yang membuat si anak mendapat perhatian lebih seperti kasus Awan
dalam film NKCTHI ini.

Saya sendiri adalah produk dari keluarga dengan 3 anak dengan posisi sebagai anak pertama. Dan jujur, dibandingkan dengan adik, saya masih kalah dominan karakternya. Adik perempuan saya merupakan sosok yang sangat dan mudah bergaul berbeda dengan saya yang cenderung pendiam dan tak punya banyak teman. 

Adapun si bungsu, lahir dengan jarak cukup jauh dengan kami berdua. Posisinya sebagai anak laki-laki satu-satunya membuatnya sedikit mendapat perlakuan istimewa dari orang tua kami hingga akhirnya membuat si bungsu ini agak susah diatur. Entah ini karena pengaruh pola asuh atau memang anaknya bawaannya begitu. Hehe.

Penutup

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini bukan sekadar film keluarga biasa. Film ini membuka mata bahwa di balik keluarga yang terlihat baik-baik saja, bisa jadi tersimpan luka yang tidak pernah dibicarakan.

Bagi saya, film ini menjadi pengingat bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal mencukupi kebutuhan, tetapi juga tentang hadir secara emosional dan adil bagi setiap anak.



Baca Juga