Bacaan Bulan April




Assalamu'alaikum teman-teman! 

Di bulan April lalu, saya sempat membuat postingan khusus untuk buku yang saya baca di bulan Maret. Rencananya postingan resume tersebut bakal jadi postingan rutin tiap bulan saya. Eh, begitu bulan Mei entah kenapa postingannya tak kunjung selesai padahal draftnya sudah dibuat sejak awal bulan. Entah ini karena mager atau memang semangat ngeblog saya yang sedang turun karena tidak ada job. Eh. 

Sebagai akibat dari magernya saya ngeblog ini, alhamdulillah bulan April kemarin saya berhasil menyelesaikan 10 buku yang kebanyakan berupa fiksi, genre favorit saya. Selain itu, ada 2 buku yang diterbitkan secara indie oleh rekan sesama blogger dan mentor saya saat ikut mentoring beberapa waktu lalu.

Baca juga : Bacaan Bulan Maret


Berikut adalah beberapa buku yang berhasil saya tamatan di bulan April:

Tabula Rasa (Ratih Kumala) 


Novel Ratih Kumala pertama yang saya baca dan merupakan salah satu novel pemenang DKJ. Ceritanya tentang seorang pria bernama Galih yang bertemu dengan seorang gadis yang mengingatkannya pada cinta pertamanya belasan tahun lalu. Si gadis sendiri, Raras ternyata memiliki kisah cintanya sendiri yang tak tersampaikan. Awalnya Raras menerima cinta Galih namun pada akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Galih karena tak ingin terjebak dalam sebuah hubungan yang palsu.

Dari segi sinopsis cerita sih novel Tabula Rasa ini masuk genre romance, namun Ratih Kumala menuliskannya dengan gaya yang berbeda. Ada juga sedikit unsur sejarah dan politik dalam novel ini namun tak mengambil banyak porsi dan hanya sebagai tempelan. Novel ini juga memiliki alur yang melompat-lompat dan tak banyak konflik maupun klimaks yang bisa membuat pembaca terbawa emosinya

Gadis Kretek (Ratih Kumala) 


Usai menamatkan Tabula Rasa, saya memutuskan untuk membaca novel Ratih Kumala yang lain yakni Gadis Kretek. Sejujurnya Gadis Kretek ini sudah lama ingin saya baca namun baru terlaksana di bulan April kemarin. Novel Gadis Kretek ini sendiri berkisah tentang pencarian seorang wanita bernama Jeng Yah oleh ketiga putra pemilik pabrik rokok Djagad Raya yakni Soeraya. Saat sakitnya kumat, Soeraya menyebut-nyebut nama Jeng Yah yang membuat sang istri marah karena ternyata Jeng Yah adalah mantan kekasih suaminya. Di lain pihak, ketiga putra Soeraya malah penasaran hingga akhirnya melakukan perjalanan ke kota kelahiran mereka untuk mencari tahu sosok wanita ini.

Perjalanan ketiga putra Soeraya ke kampung halaman ayahnya kemudian membuka sebuah cerita persaingan antara pengusaha rokok di masa penjajahan yakni Soejagad dan Idroes Moeria. Persaingan ini berlanjut hingga bertahun-tahun dan berujung pada sebuah pengkhianatan yang dilakukan Seoaraya pada Jeng Yah yang merupakan pemilik rokok Gadis Kretek. Saya pribadi sangat menikmati membaca novel ini karena selain diajak menjelajahi industri rokok di jaman penjajahan (entah fiksi atau betulan), novel ini juga menggambarkan interaksi ketiga saudara Soeraya juga cukup seru untuk diikuti.  

 

Escape, Please (Rindang Yuliani)



Escape, Please! merupakan buku yang ditulis oleh rekan sesama blogger Kalimantan yakni Rindang Yuliani. Saat melihat cover dan membaca judulnya, saya pikir buku ini merupakan sebuah buku dengan genre travelling. Namun setelah saya baca, ternyata buku ini berisi berbagai ide bagi kita yang ingin rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari. 

(Nailiya Noor Azizah) 


Dua Tahun Menuju Cahaya merupakan sebuah catatan dari seorang ibu dengan anak yang didiagnosa menderita epilepsi. Selama ini jujur tak banyak yang saya ketahui tentang penyakit epilepsi. Nah, begitu kak Azizah mengumumkan akan menerbitkan buku tentang perjalanan beliau membersamai putranya yang di diagnosa Epilepsi saya langsung tertarik memilikinya. Tentunya ada banyak hal yang saya dapatkan setelah selesai membaca buku ini. Mulai dari gejala dan pengobatan epilepsi hingga ikhtiar yang dilakukan untuk bisa lepas kejang 2 tahun yang menjadi syarat agar pengobatan epilepsi bisa diturunkan/dihentikan. 


Cerita Cinta Indonesia : 45 Cerpen Terpilih (Penulis GPU)


Buku ini saya dapatkan di tumpukan buku sale Gramedia. Begitu membaca nama-nama kontributor yang ada di kumcer ini, tanpa ragu saya langsung membelinya. Bagaimana tidak? Mulai dari Ahmad Tohari, Ika Natassa, Ken Terate, Shandy Tan, hingga Mira W dan Marga T. turut menyumbangkan tulisannya di buku ini. Tentunya tulisan mereka memiliki ciri khasnya masing-masing. Beberapa cerpen ada yang keren namun ada juga yang biasa saja. Saya pribadi menyukai cerpen Ahmad Tohari yang menjadi pembuka dari kumpulan cerpen ini. 

Wonderful Life : The Novel (Kiki Raihan)

 

Novel ini merupakan versi adaptasi dari naskah skenario film Wonderful Life yang dibintangi oleh Atiqah Hasiholan. Filmnya sendiri diangkat dari kisah kehidupan Amalia Prabowo dan putranya yang mengidap disleksia. Novel ini bekisah bagaimana Lia, seorang wanita karir yang sukses harus menghadapi kenyataan kalau putra menderita disleksia. Lia pun memulai perjalanan bersama Aqil untuk mencari orang yang bisa menyembuhkan penyakit Aqil. Dalam perjalanannya bersama sang putra, 

Wonderful Life (Amalia Prabowo)

 

Nah, jika buku sebelumnya merupakan sebuah novel adaptasi, maka buku ini merupakan kumpulan tulisan dari Amalia Prabowo sendiri tentang putranya yang menderita disleksia. Ada beberapa perbedaan yang saya temukan dari versi film lewat buku ini. Selain itu, di dalam buku ini juga terdapat berbagai ilustrasi gambar yang dibuat oleh Aqil serta kisah tentang pameran lukisan Aqil yang membuat namanya semakin dikenal. 


Where'd You Go, Bernadette? (Maria Semple)

 

Novel ini juga saya dapatkan di tumpukan buku sale di Gramedia. Sejujurnya cukup lama bagi saya untuk bisa menamatkan novel ini. Ini mungkin karena terlalu banyak sudut pandang yang diambil dalam novel ini membuat saya agak bingung. Selain itu, saya juga terlanjur menonton versi filmnya sehingga kehilangan semangat untuk menamakan novel ini. 

Novel ini sendiri bercerita tentang seorang wanita bernama Bernadette yang mengalami xenophobia setelah sebuah kejadian menimpanya saat masih menjadi arsitek belasan tahun lalu. Ia tak mau berurusan dengan orang-orang dan memilih mengandalkan bantuan asisten online dalam segala urusan termasuk saat putri tunggalnya menagih janji jalan-jalan ke Antartika. 

Xenophobia yang diidapnya ini membuat Bernadette memiliki hubungan yang buruk dengan orang-orang di sekitarnya. Tak hanya itu, belakangan diketahui ternyata asisten online yang selama ini digunakan oleh Bernadette merupakan sebuah jaringan penipuan. Bernadette pun menghilang dan membuat keluarganya kelabakan. Sang putri yang seharusnya sekolah di asrama pun memaksa ayahnya untuk pergi ke Antartika untuk menemukan ibunya kembali. 

Demikian rangkuman dari buku yang berhasil saya selesaikan bulan April lalu. Semoga saja untuk bulan Mei nanti postingannya tidak molor lagi. 

Post a Comment

19 Comments

  1. Wah bagus2 novelnya
    Saya penasaran sama cerita gadis kretek, karena saya berasal dari kota kretek Kudus, hehehe. Btw saya juga suka baca novel mbak, sampai kadang tak ulang2 karena kehabisan buku.

    ReplyDelete
  2. Sepertinya ini jenis fiksi ringan jadi membacanya bisa lebih rileks ya, Mbak. Untuk hiburan, aku juga lebih suka jenis buku seperti ini, sih. Kan udah suntuk ya dengan bertumpuk pekerjaan, pusing kalau baca bukunya yang terlalu berat, wkwkwk ...

    Tapi dari seluruh judul di atas, aku paling kepengen baca Gadis Kretek. Setiap cerita yang melibatkan unsur sejarah dan kearifan lokal selalu berhasil menarik perhatianku.

    ReplyDelete
  3. Penasaran sama gadis kretek. Berapa kali lihat di ipusnas, pingin baca juga. Tapi belum sempat euy. Lebih suka baca buku fisik soalnya, kl kelamaan liat HP suka jadi pusing,hehe

    ReplyDelete
  4. Seru deh mba bisa menulis perjalanan membacanya ya dalam artikel ini. Tertarik dengan gadis kretek deh. Saya juga di masa dan tanggal segitu kok lagi males ngeblog, hehe

    ReplyDelete
  5. Membaca tulisan mbak ini seolah menampol saya untuk segera membuat resensi buku² yang saya baca dibulan Mei kemarin๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ Thankiss mbak atas tampolannya

    ReplyDelete
  6. Wah, keren Mbak Ayana bisa baca 10 buku dalam 1 bulan. Dari 10 buku ini yang pernah saya baca cuma Wonderful Life: The Novel. Dan penasaran sama Gadis Kretek. Semoga ada versi digitalnya di iPusnas.

    ReplyDelete
  7. Wah, keren Mbak Antung bisa baca 10 buku dalam 1 bulan. Dari 10 buku ini cuma 1 yang pernah saya baca, Wonderful Life: The Novel. Dan saya penasaran sama Gadis Kretek. Semoga ada versi digitalnya di iPusnas.

    ReplyDelete
  8. wah mbak ayana banyak banget bisa rampungin novelnya hebaat... seru2 sih yaa ringan tapi berisi kalau fiksi ini. cuuus liat tumpukan buku belum dibacaa

    ReplyDelete
  9. Rajin nih baca bukunya mba. Aku juga pengin rajin baca buku lagi nih setelah bertahun-tahun cuma numpukin buku aja di rak. Baru selesai baca 1 aja nih aku mba, novel lama The Cuckoo's Calling. Udah di rak bertahun-tahun baru selesai baca 2 hari yang lalu. :)

    ReplyDelete
  10. Wah kerennya, sudah banyak yg dibaca..
    Aku penasaran dgn gadis kretek

    ReplyDelete
  11. Keren Mbaa, 10 buku dalam 1 bulan ๐Ÿ˜ Banyak yang penasaran dg gadis kretek ya. Aku juga ternyata. Hihi yang gadis kretek beli bukunya dimana ya mba?

    ReplyDelete
  12. Dari ulasannya aja bagus, ngga salah kalau buku ini emang recommended banget sih

    ReplyDelete
  13. Paling penasaran sama Gadis Kretek
    Bisa aku adopsi dimana mba? Sepertinya bukunya sangat menarik karena ada latar di zaman penjajahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa coba cari di Gramedia, put. Hehe. Tapi ini fiksi lho ya ceritanya buka kisah nyata

      Delete
  14. Pengen banget bisa baca buku dua tahun menuju cahaya, untuk belajar lebih banyak lagi, karna saya juga memiliki anak yang mengidap epilepsi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba langsung pesan sama ka Azizah, put. Bisa jua di shopee https://shopee.co.id/nailiyanoorazizah/4532247580/

      Delete
  15. Penasaran sama yang Bernadette kayaknya seru. Lama gak baca buku huhu

    ReplyDelete
  16. Menarik nih review buku²nya. Jadi bingung mau ikutan baca yg mana .

    ReplyDelete