Sebagai seorang yang ngakunya pecinta buku, saya lumayan sedih saat menyadari hanya bisa membaca kurang dari 20 buku di tahun 2019 kemarin. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka ini merupakan yang paling rendah dalam pencapaian sama membaca selama 1 tahun. Berdasarkan data yang saya kumpulkan di akun Goodreads, sejak tahun 2011, saya rata-rata berhasil melahap 30-50 buku setahunnya.

Karena rasa kecewa itu, saya pun memantapkan hati untuk lebih banyak membaca tahun ini. Saya buka lagi aplikasi Ipusnas yang sempat terabaikan dan memilih buku-buku yang menarik untuk dibaca entah itu fiksi, travelling hingga pengembangan diri. Bicara soal Ipusnas sendiri, jujur saya sangat senang dengan aplikasi yang satu ini. Layaknya perpustakaan pada umumnya, Ipusnas menyediakan banyak sekali buku untuk dipinjam. Saya tak perlu keluar uang untuk membeli buku dan pastinya bisa membaca di mana saja. Meski memang sih kekurangannya adalah saya jadi tak punya koleksi buku lagi karena bukunya berbentuk digital.

Dengan komitmen yang kuat, alhamdulillah setelah 3 bulan berjalan saya sudah berhasil menyelesaikan 13 judul buku. Inginnya sih saya membuat review dari buku-buku yang sudah saya baca itu di blog selain menuliskannya di akun goodreads saya. Tapi sayangnya saya masih belum bisa selevel para bookbloger yang bisa menulis review buku dengan panjang lebar.

Meski begitu, tentunya saya tetap ingin menuliskan sedikit catatan akan buku-buku yang berhasil saya selesaikan. Rencananya sih saya ingin membuat semacam bookhaul per bulan dimulai dari bulan Maret (Lebih bagus lagi sih kalau bisa bikin review secara lengkap). Tulisan ini sendiri terinspirasi setelah membaca postingan blogger www.ohsumayyah.com. Nah berikut adalah beberapa buku yang saya baca di bulan Maret:

Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman (Afifah Afra)

 

Novel ini merupakan versi republish dari novel berjudul Katastrofa Cinta. Saya memiliki bukunya di rumah ibu namun sedikit lupa dengan alur ceritanya. Akhirnya karena penasaran saya pinjam lagi novel ini di Ipusnas. 

Novel ini berkisah tentang 2 sosok wanita beda zaman. Adalah Sekar Ayu Kusumastuti yang terlahir dari keluarga ningrat di zaman Belanda. Sayangnya takdir membawanya ke kehidupan yang berliku. Menjadi korban pedofilia, lalu dijadikan pelacur hingga akhirnya bergabung dengan Gerwani dan turut berperan dalam menghancurkan pesantren sang kakek.

Adapun Mei Hwa adalah seorang gadis keturunan Tionghoa yang pandai namun tragedi 98 membuatnya harus kehilangan banyak hal. Ayahnya gila, ibunya bunuh diri dan Mei Hwa sendiri menjadi korban perkosaan yang sempat membuat jiwanya terganggu.

Dalam sebuah persimpangan, kedua wanita ini pun dipertemukan. Sekar Ayu kini sudah menjadi sosok renta dengan sisa-sisa kekuatannya. Sementara Mie Hwa masih dalam rasa trauma akibat perkosaan yang dialaminya. Siapa sangka di akhir cerita ternyata 2 wanita ini memiliki sebuah keterkaitan satu sama lain.

Sebagai penulis novel, Afifah Afra memang kerap mengambil tema sejarah dalam novel-novel yang ditulisnya. Sebagai pembaca tentunya hal ini membuat saya berkelana kembali ke masa penjajahan. Apalagi Mbak Afifah memiliki perbendaharaan kata yang sangat kaya dalam tulisannya. Ini membuat novelnya sangat mudah dinikmati.


Baca juga : [Review Buku] Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner

Jelajah Tiga Daulah : Journey to the Greatest Ottoman (Marfuah Puji Astuti)

 

Journey to The Greatest Ottoman merupakan catatan perjalanan penulis saat mengunjungi Turki. Diceritakan sebenarnya penulis ingin pergi ke Mesir namun karena masalah visa, rencana pun berubah dan penulis pun memutuskan mengunjungi Turki. Dalam buku ini penulis mengisahkan pengalamannya mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Turki mulai dari Istana Topkapi, Hagia Sophia, makam Abu Ayub al Anshori. Penulis juga berkesempatan mampir ke Cappadocia, salah satu tempat wisata Turki yang terkenal karena

Journey to Andalusia (Marfuah Puji Astuti)

 


Ini adalah buku berikutnya yang saya baca dari penulis Marfuah Puji Astuti. Dalam buku ini, penulis berbagi cerita perjalanannya saat mengunjungi Andalusia, yang merupakan salah satu pusat peradaban Islam di Eropa berabad silam. Membaca buku ini sedikit mengingatkan saya akan buku 99 Cahaya di Langit Eropa karena beberapa lokasi yang dikunjungi tak jauh berbeda yakni Mezquita, Alhambra an Cordoba. Buku ini sebenarnya adalah seri pertama dari 3 seri perjalanan penulis ke pusat-pusat peradaban Islam. Semoga saja nanti saya bisa menemukan buku ketiganya.

Cinta Segala Musim (Maya Lestari GF)


Novel Maya Lestari GF merupakan pemenang unggulan III Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva. Dalam novel ini berkisah tentang ujian dalam sebuah pernikahan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Rae dan Rampak. Setelah 6 tahun menikah, Rae dan Rampak harus melalui masa terpuruk karena bisnis yang dibangun Rampak hancur lebur dan membuat mereka harus kembali ke titik yang bahkan jauh lebih buruk dari nol. Rampak adalah seorang developer sukses. Namun kesalahan dalam memilih rekanan membuat namanya tercoreng dan kehilangan kepercayaan dari banyak orang. 

Dalam perjalanannya kemudian, novel ini menceritakan bagaimana sepasang suami istri ini berusaha membangun kembali kehidupan mereka di tempat yang baru. Berbagai kejadian silih berganti datang yang pada akhirnya menjadi cerita baru dalam kehidupan pernikahan mereka. Ada kehilangan, kegagalan dan juga proses bangkit lagi dari keterpurukan. 

Sebagai sebuah novel romance, Maya Lestari GF cukup berhasil membawa saya ke dalam lika-liku kehidupan pernikahan. Novel ini juga menjadi semacam pengingat kepada saya tentang bagaimana peran seorang istri dalam mendukung usaha suaminya. Untuk tokohnya sendiri, jujur saya awalnya kurang suka dengan karakter Rae yang terkesan sangat pasif. Namun seiring berjalannya cerita, Rae malah membuktikan bahwa dia bisa menjadi sosok penting dalam kesuksesan suaminya. 

***

Itulah dia buku-buku yang saya baca di bulan Maret. Semoga bulan April nanti saya bisa tetap konsisten dalam membaca buku. 
Baca Juga