Ceritaku Menumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alpha

Ceritaku Menumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alpha

Sebagai ibu bekerja yang berusaha untuk konsisten membaca buku, kadang saya justru merasa gagal ketika melihat kedua anak saya yang sulit sekali diajak membaca. Di usia mereka yang menginjak sembilan dan tujuh tahun, kebiasaan membaca mereka masih belum terbentuk. Bahkan sering kali saya harus membujuk, mengingatkan, bahkan sedikit memaksa agar mereka mau membuka sebuah buku.

Padahal sejak mereka masih bayi saya secara rutin membelikan buku untuk mereka dan mengajak ke perpustakaan untuk mengenalkan dunia buku. Bahkan jauh sebelum menikah saya juga sudah membeli 1 setbox novel Roald Dahl yang saya temukan di bazar buku. Dalam bayangan saya saat itu, kelak buku-buku itu akan menjadi teman masa kecil anak-anak saya. 

Sayangnya apa yang saya impikan belum terealisasi karena anak-anak masih belum tergerak untuk membuka buku-buku tersebut.

Ketika Melihat Anak-anak yang Suka Membaca

Di era sekarang, melihat anak-anak yang gemar membaca buku bagi saya rasanya seperti sebuah keajaiban. Pernah satu kali saya menemukan unggahan di media sosial tentang anak seorang anak yang sedang membaca buku tebal di tempat umum dan kemudian menjadi viral.

Ada pula anak-anak yang sejak usia tiga atau empat tahun sudah memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal. Ada yang tertarik pada tubuh manusia dan biologi, ada yang begitu hafal berbagai jenis dinosaurus, sementara yang lain tertarik dengan luar angkasa atau sejarah. Saya tentu tidak tahu seperti apa keseharian mereka di rumah, tetapi saya membayangkan ada proses panjang yang membuat rasa ingin tahu tersebut tumbuh dan berkembang termasuk diantaranya adalah dengan membaca buku.

Melihat anak-anak ini, mau tak mau saya pun harus melihat kembali perjalanan saya sebagai seorang ibu. Memang selama ini saya sudah cukup rajin menyediakan berbagai media bacaan di rumah. Sayangnya sepertinya saya tak cukup telaten dan rajin menemani mereka membaca buku ketika masih kecil. Mungkin akibatnya, kebiasaan membaca memang tidak pernah benar-benar terbentuk pada diri mereka. 

Saya memang membelikan berbagai buku, tetapi tidak cukup sering membacakan ceritanya kepada mereka. Saya justru hanya meletakkan buku-buku tersebut dan berharap anak-anak akan mengambilnya sendiri, membacanya, kemudian jatuh cinta seperti yang saya alami.

Kenangan Perkenalan dengan Buku

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu ingat sejak kapan membaca buku berubah menjadi sebuah kegemaran. Apakah itu dimulai ketika saya diam-diam membaca koleksi buku di rumah almarhum kakek saat masih SD? Atau ketika saya mulai rajin berkunjung ke perpustakaan sekolah untuk meminjam buku cerita? Atau mungkin justru lebih sederhana, ketika saya melihat almarhum ayah yang hampir setiap pagi membaca koran sebelum berangkat kerja?

Yang jelas, jika diberi pilihan antara melakukan kegiatan outdoor activity atau membaca, saya hampir selalu memilih membaca.

Sampai sekarang saya masih ingat sekali sebuah cerita dari buku yang saya baca tentang anak yang di kepalanya tumbuh pohon karena berbohong. Saya mungkin sudah lupa judul bukunya, tetapi cerita itu masih melekat di ingatan. Sejak saat itu perpustakaan menjadi sebuah tempat yang rajin saya kunjungi untuk meminjam buku cerita dan tenggelam di dalamnya. 

Saya sendiri cukup beruntung karena kemudian orang tua bersedia memfasilitasi kesukaan membaca saya dengan berlangganan majalah Bobo. Kalau kata anak sekarang, ini adalah sebuah privilege bagi anak kelahiran 90-an. Padahal saat itu keluarga kami juga bukan berasal dari kalangan berada, namun ibu saya tanpa banyak tanya menyetujui permintaan saya untuk bisa membaca majalah bobo setiap minggu. 

Kebiasaan membaca majalah ini terus berlanjut hingga saya beranjak SMA di mana saya secara rutin membeli majalah remaja untuk mengetahui berbagai trend yang berlaku di masa itu. Bedanya untuk masa SMA ini, saya menggunakan uang saku yang disisihkan agar bisa membeli majalah remaja kesukaan seperti Aneka dan juga Kawanku. Selain majalah, masa SMA saya juga diisi dengan membaca aneka jenis komik yang saya sewa di rental komik tak jauh dari sekolah. 

Tantangan Membaca Generasi Alpha

Perkembangan zaman membuat saya berpikir kembali. Benarkah hanya dengan menyediakan dan membiasakan membaca buku pada anak bisa menumbuhkan minat baca mereka? Jika dibandingkan dengan masa kecil saya dulu, Generasi Alpha seperti anak-anak saya tumbuh dengan pilihan hiburan dan sumber informasi yang jauh lebih banyak. 

Dulu televisi hanya ada beberapa pilihan saluran dan saya tidak punya banyak pilihan untuk menghabiskan waktu selain bermain, membaca, atau menonton acara yang kebetulan sedang tayang. Bermain video game pun bukan sesuatu yang bisa dilakukan kapan saja karena perangkat dan permainannya masih relatif mahal.

Selain banyaknya pilihan hiburan dan sumber informasi, rentang perhatian juga menjadi tantangan yang saya rasakan ketika mencoba mengajak anak membaca. Bahkan saya sebagai orang dewasa saja kadang kesulitan menyelesaikan beberapa halaman buku ketika konsentrasi sedang tidak bagus. Karena itu saya bisa memahami mengapa membaca buku yang membutuhkan perhatian lebih lama terasa kurang menarik bagi anak yang terbiasa mendapatkan hiburan secara cepat dari layar.

Anak sulung saya, Yumna, kadang hanya bisa betah membaca beberapa halaman sebelum mulai mencari kegiatan lain. Bacaannya juga masih buku cerita bergambar. Pada kesempatan lain, dia bisa membaca cukup lama ketika menemukan buku dengan topik yang benar-benar membuatnya penasaran. 

Dari situ saya mulai menyadari bahwa mungkin persoalannya bukan semata-mata karena dia tidak suka membaca. Bisa jadi dia belum menemukan bacaan yang benar-benar membuatnya ingin terus membuka halaman berikutnya.

Belajar Berdamai dengan Kebiasaan Membaca Anak

Sebagai orang tua, pastinya ada banyak tantangan yang muncul dalam mendidik anak. Salah satunya adalah terkait membangun kebiasaan membaca yang ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya pikir karena sebagai ibunya saya suka membaca dan sering membeli buku dan ke perpustakaan, maka anak-anak otomatis akan mengikutinya. 

Apalagi di masa kecil juga saya tidak dibesarkan khusus dengan kebiasaan membaca. Tidak ada jadwal khusus membaca atau orang tua yang secara rutin membacakan buku untuk saya. Satu-satunya contoh yang saya ingat adalah almarhum ayah yang kerap membaca koran.

Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membandingkan kebiasaan membaca anak-anak dengan pengalaman saya sendiri. Saya lupa bahwa mereka bukan saya dan mereka tumbuh di zaman yang berbeda.

Saya tumbuh ketika buku, majalah, dan komik menjadi salah satu hiburan yang mudah ditemukan. Sementara anak-anak saya memiliki begitu banyak pilihan lain. Mereka bisa bermain, menonton video, mencari informasi, atau berinteraksi dengan teman-temannya hanya melalui sebuah layar.

Saya juga mulai menyadari bahwa membaca buku tidak selalu harus dilakukan melalui buku fisik. Sekarang ada buku digital yang bisa dibaca melalui ponsel atau perangkat lain seperti yang dilakukan dilakukan Mbak Trisuci seorang Travel Blogger Medan. Artinya, layar yang selama ini saya anggap sebagai salah satu tantangan dalam membangun kebiasaan membaca anak ternyata juga bisa menjadi media untuk membaca.

Saya tidak tahu apakah kelak kedua anak saya akan menjadi pembaca seperti ibunya. Bisa saja mereka memiliki kegemaran yang berbeda. Dan mungkin saya harus belajar menerima kemungkinan tersebut.

Namun saya tetap ingin menyediakan buku di rumah. Bukan lagi dengan harapan bahwa keberadaan buku-buku itu secara otomatis akan membuat mereka jatuh cinta pada membaca, tetapi karena saya ingin mereka tahu bahwa selalu ada pilihan untuk membuka sebuah halaman ketika mereka ingin mencari cerita, pengetahuan, atau sekadar tempat untuk beristirahat sejenak dari dunia yang begitu ramai.

Baca Juga

Posting Komentar

33 Komentar

  1. Sepakat sekali. Bahwa, jatuh cinta pada buku, tidak bisa dipaksakan. Insya Allah, akan ada momennya sendiri bagi anak-anak kita yang di lahir di jaman teknologi digital begini, utk jatuh cinta pada buku fisik.Seperti ketika kita juga jatuh cinta dulu.
    Mari sama-sama tetap merawat harapan dan doa ya mbak. Salam Sabtu siang dari Gili Trawangan, Lombok.

    BalasHapus
  2. Topic menarik ini. Ngajarin genZ mencintai buku saja sudah cukup sulit. Apalagi generasi Alpha. Soalnya setelah terpapar gadget, cukup sulit supaya mereka menyentuh dan membaca buku fisik. Attention spannya keganggu gegara Instagram dan TikTok dan sejenisnya. Dunia nya sudah berubah

    BalasHapus
  3. POnakanku Gen Alpha. Sebenernya sang ortu sudah melakukan banyak hal supaya anak mereka pada suka baca buku. Tapiii, ya namanya tantangan parenting jaman now.
    Anak-anak ini prefer untuk main gedget. atau pilih main-main ama teman.
    Memang tidak mudah, tapi bisa diupayakan.
    Semangaaaattt, Moms and Dads!

    BalasHapus
  4. Aku kadang merasa beruntung juga sih lahir di jaman yang belum banyak pilihan lain. Kalau sekarang, begitu banyak hiburan dan hal2 lain yang membuat susah konsentrasi pada satu kegiatan.Kalau dulu kita gak ada kegiatan lain yang mengganggu konsentrasi baca. Berada di tempat yang gak ada hiburan pun, ya baca bukulah penghiburnya. Sekarang, kayaknya mereka akan lebih tantrum kalau ke tempat yg gak ada wifi. Tetap semangat ya dalam menumbuhkan minat baca pada anak2nya.

    BalasHapus
  5. Aihhh... Mbak Antung bikin aku ikut refleksi. Kadang kita suka lupa ya kalau anak Gen Alpha ini tantangannya beda banget sama kita pas era Bobo dan rental komik dulu. Gadget dan hiburan serba cepat memang saingan berat buat buku fisik.
    Emang yah proses mendampingi memang panjang dan butuh sabar. Yang penting niat tulus nyediain ruang baca itu udah langkah luar biasa kok.

    BalasHapus
  6. Sebagai sesama orang tua, saya pun merasakan sekali bagaimana perjuangan agar anak memiliki minat baca yang baik. Benar sekali, ini bukan proses instan, tapi perjalanan panjang mulai dari mengenalkan buku, aktivitas membaca sampai serunya mengenalkan serunya cerita-cerita dalam buku.

    Kalau saya alhamdulillah didukung dengan cukup banyak program dari perpustakaan daerah yang menarik perhatian anak-anak dalam mengenalkan literasi. Jadinya cukup sering ke perpustakaan untuk ikut program pengenalan literasi dasar bagi anak-anak.

    Bagi orang tua yang bekerja memang dinamikanya pasti lebih terasa, apalagi kalau kerjanya full time. Jadi harus pintar-pintar juga, ya mengalokasikan waktu untuk membersamai anak-anak membaca buku

    BalasHapus
  7. Eh iya, kalau usah senang Baca rada tenang ya soalnya ke depannya kita ga khawatir banget dia malas Baca karena basicnya udah senang membaca kan

    BalasHapus
  8. Ini nih yang kurang disadari oleh kebanyakan para ibu. Bahwa pilihan hiburan untuk anak gen Alpha tuh banyak banget. Mereka bisa memilih kegiatan lain, selain membaca.

    Beda sama jaman kita masih kecil dulu. Aku dulu suka banget membaca majalah BOBO. Temanku yang langganan tiap minggunya. Aku numpang baca ke rumah dia. Itu jaman SD.

    Pas beranjak SMP, aku suka baca novel-novel anak. Yang bangsanya Pasukan 5 Sekawan, Ghoose Bumps, dan kawan-kawan.

    Kalau anak sekarang. Hiburannya mah banyak. Nonton reels, main game online, dan lain-lain.

    BalasHapus
  9. Ponakan daku nih si Gen Alpha hihi. alhamdulillah suka ikut-ikutan kalau kami di rumah pada baca buku atau menulis, dia nya pun antusias buat ikutan juga. Jadinya peran orang dewasa di rumah juga punya andil penting

    BalasHapus
  10. Cerita perjuangan mbak menumbuhkan minat baca pada generasi Alpha ini memang sangat menantang sekali ya. Mereka sejak lahir ada di era digitalisasi.

    Semoga saja, dengan tetap menyediakan buku-buku di rumah, kemudian memperlihatkan ortu yang membaca buku, dan mengajak ke berbagai event literasi, bisa menumbuhkan keinginan dan minat membaca yang kuat. Gapapa secara perlahan namun ada progress. Soalnya aku lihat di taman-taman sekarang banyak anak gen Z pada baca buku bareng gitu. Aku pun pernah ikutan dan ternyata seru banget.

    BalasHapus
  11. kalau boleh jujur kebiasaan baca aku juga kurang teh haha , entah lah nanti aku membiasakan ke anaku gimana. Tapi ada poin penting yang aku tarik dari bacaan teteh pertama soal pembadingan aku sebagai ibu dan kelak habit anaku

    kalau bisa aku juga akan membersamai terkait minat baca , aku udah aksi kaya teteh beliindia buku-buku bacaan untuk anak2 gitu teh , cuma belum keliatan aja dia interest nya kemana , masih kecil juga sih , terimakasih tulisan nya teh jadi bahan buat akujuga belajar

    BalasHapus
  12. Jadi teringat waktu kecil dulu saya dikenalkan buku dengan di ajak beli buku milih sendiri dan momentnya itu sangat mewah era dulu saya ingat banget pilihat kalau gak bobo, donald bebek, tapi kalau sekarang agak banyak tantangan juga ya, mengingat harga buku semakin kencang dan hp semakin ramah di mata anak.

    BalasHapus
  13. Ini masalahku juga mbaaa 😄. Aku mengira dengan belikan anak2 buku, itu udah cukup. Padahal tantangan anak skr, dengan banyaknya gadget, games, mereka jelas lebih suka ke arah sana drpd sekedar membaca.

    Kalau dulu pas mereka kecil, aku rutin membacakan buku sebelum tidur. Trus pas mereka udh bisa baca, aku masih sering nyurun mereka baca 1 bab tiap hari, lalu nanti ceritakan isinya.

    Tp tetep aja, mereka melakukan itu bukan Krn mereka suka, tp Krn disuruh.

    Sementara dulu, tanpa disuruh aku bisa ngabisin 1 buku dalam sehari 🤣. Mungkin zaman kita ga banyak hiburan sih yaa. JD membaca buku memang refreshing yg aku suka banget.

    Ga bisa nyalahin anak2 juga sih. Tp sebisa mungkin aku ttp mau mereka membiasakan diri utk baca 1 bab aja setiap hari

    BalasHapus
  14. Membangun kebiasaan dan minat baca anak di era sekarang itu emang butuh kesabaran ekstra dan trik khusus ya, Kak Antung.

    Salut bgt Kak Antung mau dan mampu mengenalkan dunia literasi sejak dini lewat cerita di blog. Aku jadi kagum sekaligus bisa memetik banyak insight baru nih dr cerita di atas. .

    BalasHapus
  15. Gen Alpha hidup di zaman serba teknologi dan otomatis perangkat untuk mengakses bahan bacaan pun lebih bervariasi. Termasuk akses perangkat digital saat membaca. Beda yaa dengan zaman saya dulu waah mana ada membaca di tab atau akses perpustakaan digital atau e book. Tapi begitulah gen Alpha,,,mereka harus kita dampingi sesuai zamannya.

    BalasHapus
  16. Memang agak PR ya, menumbuhkan minat baca gen alpha ini
    Klo di rumah, aku emang ada perpustakaan, Anak-anak wajib baca minimal satu buku tiap pekan

    BalasHapus
  17. Memang tantangan banget yaaa menumbuhkan minat baca sekarang, karena saingannya layar gadget. Kalau di rumah kami nggak ada TV, tapi tetep layar HP tu tantangan sekali.
    Paling kadang kami bawa ke toko buku atau perpus, trus ambil buku sesuai minat. Sampai aku beliin buku khusus buat mencatat mereka membaca buku apa aja, trus kasi pendapat soal buku itu.
    Kalau aku masih concern di buku fisik, nggak membiasakan anak2 ke buku digital dulu. Mencoba menjaga mata soalnya.

    BalasHapus
  18. Aku relate banget sama perjuangan menumbuhkan minat baca anak 😄 Kadang kita sebagai orang tua sudah semangat ngajak baca, eh anaknya malah lebih tertarik sama hal lain. Memang butuh cara dan kesabaran ekstra ya. Tapi kalau sudah mulai suka baca, rasanya ikut senang dan bangga.

    Dan skrg aku punya cerita baru Mbaa.. yaitu bayi gen betha hahah.. surprisingly yang ini justru lebih gampang banget deket dengan buku. Bahkan minta terus dibacain buku

    BalasHapus
  19. Menumbuhkan minat baca pada anak, khususnya gen Alfa memng perlu perjuangan ekstra. Karena tidak cukup hanya membelikan buku-buku bergizi tetapi juga harus membangun habits, dan ini yang kadang-kadang mememerlukan trik-trik khusus. Karena beda anak beda karakter, otomatis beda treatment he...he...

    BalasHapus
  20. Aku juga mengalami hal yang sama mbak. Aku sudah mengenalkan membaca bahkan sejak masih di dalam kandungan. Hasilnya ya dia mau membaca, mudah menangkap maksud dari bacaan, tapi nggak sampai jadi hobi. Memang hobi juga nggak bisa dipaksakan ya. Anakku sama kaya papanya, hobinya main game. Kalau nggak lagi ngegame atau nonton, dia lebih seneng bergerak aktif atau menggambar. Membaca jadi pilihan terakhir kalau dia udah capek banget. Misal malam hari kebangun dan susah tidur lagi, biasanya dia bakal milih membaca aja di kasurnya sampai ngantuk lagi. Dan aku sudah berdamai dengan itu hahaha...

    BalasHapus
  21. Memang membaca buku bukan kegiatan yang umum di tengah generasi muda Indonesia, ya. Harus telaten membiasakan dan menyadari bahwa belajar tidak harus melalui bacaan

    BalasHapus
  22. Wahhhh msa kecil kita mirip banget mbaaa...aku juga inget banget dulu langganan majalah bobo trus menginjak remana jadi suka beli majalah2 remaja itu...entah darimana asal mula aku suka membaca mungkin karena aku cenderung anak rumahan jadi merasa lebih asik membaca dirumah daripada pergi bermain hehe...
    Mungkin karena anak2 sekarang fokus nya memang lebih pendek dari jaman kita sehingga membaca tidak menjadi prioritas utama mereka kali yaa...tapi sepertinya sekarang tingkat literasi anak muda juga sudah mengalami peningkatan

    BalasHapus
  23. Di tengah gempuran dunia gadget dan minimnya buku fisik, tidak seperti dulu yang banyak tempat menyewaan buku, minim dunia tontonan, membaca jadi langka dan butuh ditumbuhkan kembali minta baca anak-anak

    BalasHapus
  24. Wah tulisan mbak Antung makin memperkuat keyakinan saya tentang generasi zaman now. Gak suka baca. Gak suka mendengarkan dan kurang fokus. Beda dg generasi dulu yg betah lama mendengarkan dan baca buku. Menumbuhkan literasi atau minat baca di zaman kiwari mau tidak mau harus melibatkan ponsel dan games. Beda zaman, beda dunia yah

    BalasHapus
  25. Keluarganya Mba Antung keren sekali ya tetap mempertahankan tradisi membaca dari Mba Antung Kecil sampai berkeluarga. Bahkan saat ini pun masih menyediakan buku di rumah. Poin menariknya memang betul membaca tidak bisa dipaksakan, kalau nanti udah ketemu bacaan yang cocok, pasti akan ada waktunya jika membaca itu hal yang seru.

    BalasHapus
  26. Setiap generasi sepertinya memang punya tantangan sendiri. Dulu, orang tua saya juga banyak membelikan buku dan langganan berbagai majalah. Semuanya saya baca. Mungkin karena dulu pilihan hiburan tv juga sedikit.

    Anak-anak saya Gen Z, saya belikan juga banyak buku. Tapi, setiap malah harus ditambah dengan membacakan buku sebelum tidur. Mengajak mereka untuk aktif membahas buku yang dibaca atau bergantian bercerita. Meskipun udah era digital, mereka masih bisa dengan mudah dibatasi akses dan durasinya.

    Mungkin Gen Alpha juga punya tantangan sendiri ya. Sejak kecil aja udah banyak yang akrab dengan PJJ. Belum lagi hiburan di medsos semakin banyak. Ya bisa jadi perlu cara lain juga supaya mereka senang membaca buku.

    BalasHapus
  27. Ya, benar sekali. Generasi yang lebih kenyang pengalaman biasanya akan meremehkan generasi yang lebih muda. Kebiasaan membaca yang kurang untuk generasi sekarang, dinilai karena malas. Padahal, tantangannya berbeda. Dulu orang suka membaca ya karena tantangan atau opsi hiburannya terbatas pada media teks. Sedangkan sekarang jauh lebih beragam. Belum lagi ada anggapan kalau mendengar dan melihat itu lebih efektif ketimbang membaca. Efektif untuk mendapatkan pemahaman yang disampaikan orang lain iya, tetapi efektif untuk bisa memahami, tentu beda.

    BalasHapus
  28. Relate banget dengan keresahan soal minat baca anak di tengah banyaknya distraksi dari gadget dan dunia digital. Yang aku suka, tulisan ini nggak memaksakan bahwa anak harus punya kebiasaan membaca yang sama seperti orang tuanya. Menyediakan buku dan memberi kesempatan ternyata juga bagian dari proses.

    BalasHapus
  29. Jadi inget sama keponakan ku, dia generasi alpha juga. Dan sengaja sering ku belikan buku bergambar yang menarik, mumpung masih balita pikirku. Ternyata dia tak tampak suka pada buku. Tapi bener prinsip yang mbak anut. Sediakan saja buku, semoga anaknya mau baca. Lalu, ortunya kasih contoh nyata, sering membaca di depan anak-anak biar mereka ikutan tertarik atau penasaran. Maklum di era digital kadang handphone lebih menarik ya.

    BalasHapus
  30. Aku jadi memahami minat membaca anak-anakku, ka Antung...setelah pengamatan beberapa waktu.
    Bahwa selera buku kita engga sama.. dan tingkat curiousity anak pun berbeda-beda. Jadi berdasarkan pengalaman ini, kami gak memaksa anak-anak untuk membaca buku-buku yang aku miliki, namun beberapa kali kalau jalan-jalan, suka sengaja ngajakin anak-anak mampir ke toko buku.

    Mereka excited banget kalo dibeliin buku di Periplus.

    BalasHapus
  31. Salah satu cara yang aku pakai saat ini adalah memberikan anak-anak dirumah buku komik dan buku bacaan untuk mengurangi bermain gadget. Meskipun awalnya sulit, tapi perlahan sudah mulai bisa diakalin, terutama dengan memberikan buku mewarnai diantara buku bacaan tersebut.

    BalasHapus
  32. Gen Alpha ini tuh seru sih menurut saya. Saya ada seorang anak yang masuk generasi ini. Awalnya saya biasakan dengan menyediakan buku di rumah dan membacakannya cerita jelang tidur. Kemudian saya ajak ke perpustakaan kota, buat kartu anggota, wahh seneng tuh dia, jadi terbiasa deh minta diajak ke sana untuk pinjam buku yang dia mau.

    BalasHapus
  33. Mengenalkan buku kepada anak sejak dini tuh memang butuh proses panjang, karena setiap anak punya rasa penasaran yang berbeda-beda. Tapi setuju sih kalau memang buku harus tetap disediakan di tempat di mana dia biasa bermain, sehingga bisa menimbulkan rasa penasaran dan mulai menengok isi buku-bukunya.

    BalasHapus