Memasuki bulan Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti salat, tadarus Al-Qur’an, dan bersedekah. Salah satu ibadah yang rutin dilakukan setiap malam selama Ramadan adalah salat tarawih.
Siapa sangka, di usia empat puluh tahun saya harus berkenalan dengan nyeri lutut yang dikenal sebagai osteoarthritis. Kondisi ini secara tidak langsung juga berpengaruh pada berbagai aktivitas harian saya mulai dari jalan, duduk hingga menunaikan ibadah salat. Terlebih selama bulan Ramadan aktivitas salat juga semakin intens. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah saya masih bisa salat dengan normal dengan kondisi lutut yang terkena osteoarthritis?
Bagi penderita osteoarthritis lutut, menjalankan salat tarawih sering menjadi tantangan tersendiri. Gerakan seperti rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud bisa memicu nyeri lutut yang cukup mengganggu. Namun dengan beberapa penyesuaian, salat tarawih tetap bisa dilakukan dengan nyaman.
Disclaimer :
Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dalam menjalani aktivitas dengan osteoarthritis. Informasi ini tidak menggantikan saran medis profesional. Jika mengalami nyeri lutut yang berat, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Awal Mula Saya Terkena Osteoarthritis Lutut
Selama 2 tahun terakhir, saya harus berjibaku dengan osteoarthritis yang menyerang bagian lutut. Osteoarthritis sendiri adalah jenis radang sendi yang menyebabkan sendi mengalami peradangan dan penurunan fungsi sehingga menimbulkan nyeri, terutama pada lutut.
Kondisi ini membuat saya tak bisa duduk atau berdiri dalam jangka waktu yang lama karena akan berakibat pada nyeri lutut yang luar biasa. Efek lain dari osteoarthritis yang saya derita adalah saya mengalami kesulitan untuk menjalankan salat karena nyeri lutut yang menyerang saat duduk di antara dua sujud.
Saya sendiri tidak ingat kapan persisnya nyeri lutut ini menyerang. Satu hal yang saya ingat, saat itu ketika saya akan berdiri dari kursi setelah selesai melakukan input data calon pelanggan, tiba-tiba saja lutut saya terasa sakit dan nyeri. Hal ini terus berulang selama beberapa minggu bahkan bulan.
Karena rasa nyeri yang tak kunjung hilang, saya pun akhirnya berkonsultasi ke dokter penyakit dalam. Setelah dilakukan pemeriksaan rontgen, bisa dipastikan saya menderita osteoarthitis pada lutut kiri. Dokter waktu itu memberi 2 opsi yakni melakukan fisioterapi 1 minggu sekali atau suntik oli lutut. Saya kemudian memilih suntik oli lutut dengan harapan rasa nyeri di lutut berkurang.
Mulanya saya pikir suntik oli di lutut ini hanya dilakukan di lutut kiri. Nyatanya dokter yang bertugas menyebutkan kalau lutut kanan saya juga mengalami osteoarthritis dan harus disuntik. Jadilah selama 10 minggu saya bolak-balik ke rumah sakit untuk prosedur suntik lutut ini. Alhamdulillah untuk suntik lutut ini ditanggung asuransi pemerintah sehingga saya tak perlu memusingkan masalah biaya.
Sayangnya, meski sudah disuntik 10 kali, nyeri lutut saya tidak berkurang. Saya juga tidak mengerti kenapa rasa nyeri ini tak berkurang namun saya sempat bertanya kepada rekan kerja yang ibunya juga menderita osteoarthritis dan mendapat tindakan suntik lutut, memang suntik lutut ini tidak secara otomatis menghilangkan rasa sakit pada lutut.
Tantangan Salat Tarawih dengan Nyeri Lutut
Sebagai penderita osteoarthritis, kondisi nyeri lutut ini memang cukup mengganggu. Ada beberapa kondisi yang membuat nyeri lutut saya semakin meningkat seperti terlalu lama berdiri atau berjalan terlalu lama. Bahkan jika saya terlalu lama duduk juga akan membuat kaki saya kaku nyeri ketika berdiri.
Kondisi lain yang cukup menganggu adalah saat harus jongkok di toilet jongkok dan saat melakukan gerakan duduk antara dua sujud. Dua kondisi ini memang memaksa lutut saya untuk ditekuk dan jika kaki saya sebelumnya masih kaku maka urusan jongkok dan duduk bertelempoh ini akan sangat meyiksa.
Di bulan Ramadan sendiri, umat Islam menjalankan salat tarawih dengan jumlah rakaat yang banyak. Ada yang menjalankan tarawih 8 rakaat dan ada juga yang 20 rakaat tergantung masjid mana yang didatangi. Saya sendiri mengikuti salat tarawih dengan jumlah rakaat 23 yang artinya saya harus melakukan 23 gerakan duduk antara dua sujud.
Di tahun 2025 lalu, saya beruntung karena saat itu tiba-tiba nyeri lutut yang saya alami beberapa bulan menghilang jelang Ramadan. Jadi saat itu saya bisa menjalankan ibadah tarawih tanpa menahan nyeri di lutut. Nah, di tahun 2026 ini, saya sebenarnya agak ketar-ketir karena nyeri lutut masih selalu terasa. Namun saya optimis untuk bisa tetap menjalankan salat tarawih dengan normal seperti tahun sebelumnya.
Pengalaman Salat Tarawih dengan Osteoarthritis
Bulan Ramadan tahun ini, saya memulai salat tarawih di hari ketiga. Seperti biasa, saya bersama anak-anak datang ke masjid dekat rumah. Rasa ragu sebenarnya sempat hinggap di hati saya apakah saya harus salat tarawih di masjid atau di rumah saja sehingga saya bisa salat dengan lebih nyaman dan tidak tergesa-gesa. Namun pada akhirnya saya pun memantapkan hati untuk s
alat tarawih di masjid bersama anak-anak.
Begitu azan Isya berkumandang, kami pun memulai ibadah salat Isya yang dilanjutkan dengan salat tarawih. Awal pelaksanaan salat, lutut saya masih terasa nyeri yang cukup untuk membuat saya meringis. Namun setelah beberapa waktu rasa nyeri tersebut berkurang dan saya pun bisa menunaikan salat tarawih dengan normal hingga 23 rakaat.
Kondisi seperti ini alhamdulillah hingga memasuki pertengahan Ramadan. Memang ada masanya lutut saya terasa lebih nyeri dari malam sebelumnya, namun alhamdulillah rasa nyeri tersebut masih bisa saya tahan hingga rakaat terakhir.
Sejujurnya hal ini membuat saya sedikit bingung. Pada pengalaman sebelumnya, biasanya saya harus benar-benar struggling untuk salat dengan normal. Namun setelah dipikir-pikir, kondisi nyeri yang saya rasakan saat salat terjadi jika kaki saya kaku atau terlalu banyak berjalan.
Saya jadi ingat kejadian saat saya berada di Yogyakarta tahun lalu dan kami berjalan cukup jauh. Ketika saya menjalankan ibadah salat dzuhur di musala Teras Malioboro, lutut saya terasa nyeri luar biasa yang membuat saya nyaris menangis saat hendak sujud dan duduk antara dua sujud.
Setelah diingat-ingat lagi, kondisi lutut yang sakit luar biasa ini terjadi karena kaki saya yang kelamaan berdiri dan berjalan dalam jarak yang jauh.
Tips Salat Tarawih untuk Penderita Osteoarthritis Lutut
Berdasarkan pengalaman saya menjalani ibadah salat tarawih dengan kondisi osteoarthritis, saya pun mulai bisa memahami bagaimana cara menjalankan ibadah dengan tetap nyaman. Berikut adalah tips menjalankan salat untuk penderita osteoarthritis lutut:
1. Pastikan Kaki dalam Kondisi Lemas dan Tidak Kaku
Ini adalah salah satu kondisi wajib yang harus dipenuhi jika ingin salat dengan kondisi normal bagi penderita osteoarthritis. Jadi jika sebelumnya kamu dalam kondisi duduk yang lama atau berjalan jauh sebaiknya memilih salat dalam keadaan duduk saja untuk menghindari rasa nyeri yang menusuk di bagian lutut.
2. Melemaskan Otot Kaki Sebelum Menjalankan Salat
Hal berikutnya yang bisa bisa dilakukan sebelum menunaikan salat adalah melemaskan otot kaki sebelum salat. Beberapa gerakan yang direkomendasikan adalah calf raise (jinjit), peregangan betis, serta menekuk lutut secara perlahan agar otot tidak kaku saat salat.
3. Gunakan Knee Support atau Sajadah yang Tebal
Untuk melindungi lutut saat melaksanakan salat, kita bisa menggunakan Knee Support yang bisa membantu menopang lutut atau sajadah yang tebal sehingga lutut tidak langsung bertemu dengan lantai yang keras.
4. Pilih Salat Tarawih dengan Durasi Pendek
Bagi penderita osteoarthritis lutut bisa juga memilih salat tarawih dengan rakaat yang pendek yakni 11 rakaat sehingga tidak terlalu membebani lutut saat solat tarawih.
5. Salat Sambil Duduk
Islam adalah agama yang tidak memberatkan. Dan jika kita tidak bisa salat dengan berdiri maka diperbolehkan untuk melaksakan salat dengan duduk. Salat sambil duduk tetap sah dilakukan jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk berdiri. Hal ini juga merupakan bentuk kemudahan yang diberikan dalam Islam agar ibadah tetap dapat dilakukan dengan nyaman.
Peregangan Kaki Sebelum Salat untuk Mengurangi Nyeri Lutut
Sebelum melaksanakan salat, terutama salat tarawih yang cukup panjang, penderita osteoarthritis disarankan melakukan peregangan ringan. Tujuannya untuk membantu otot kaki lebih rileks dan mengurangi kekakuan pada lutut.Beberapa gerakan sederhana berikut bisa dicoba di rumah.
1. Calf Raise (Jinjit)
Gerakan jinjit membantu melatih otot betis dan meningkatkan fleksibilitas kaki. Berdiri tegak lalu angkat tumit perlahan hingga posisi jinjit, tahan beberapa detik, kemudian turunkan kembali.
2. Peregangan Betis (Calf Stretch)
Berdiri menghadap dinding, letakkan tangan pada dinding lalu tarik satu kaki ke belakang. Tekan tumit kaki belakang ke lantai untuk meregangkan otot betis.
3. Tekuk Lutut Perlahan
Berdiri dengan kaki selebar bahu, lalu tekuk lutut sedikit seperti setengah jongkok. Tahan beberapa detik lalu kembali berdiri perlahan.
Salat Tetap Nyaman Meski Mengalami Osteoarthritis
Mengalami osteoarthritis bukan berarti kita harus berhenti menjalankan ibadah dengan optimal. Dengan memahami kondisi tubuh dan melakukan beberapa penyesuaian, salat tarawih tetap bisa dijalankan dengan nyaman.
Bagi penderita osteoarthritis lutut, yang terpenting adalah tidak memaksakan diri dan tetap mendengarkan kondisi tubuh. Semoga pengalaman ini bisa menjadi penyemangat bagi siapa pun yang memiliki kondisi serupa untuk tetap menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan.
Selain menjaga kondisi lutut, menjaga energi selama Ramadan juga penting bagi ibu bekerja. Saya juga pernah berbagi tipsnya di artikel tips mengatur waktu ibu bekerja selama Ramadan agar tetap produktif. Semoga bermanfaat!
Baca Juga
0 Komentar