Menjaga Lisan dan Emosi Saat Ramadan: Refleksi Seorang Ibu



Bagi umat Muslim, Ramadan adalah bulan melatih diri untuk menahan banyak hal. Bukan hanya lapar dan haus, tetapi juga emosi dan lisan. Menahan diri dari makan dan minum memang terasa berat, namun sadarkah kita bahwa menahan emosi dan menjaga ucapan justru sering kali menjadi tantangan yang jauh lebih besar?

Sebagai seorang ibu, hari-hari saya kadang diisi dengan berbagai macam omelan terutama untuk anak-anak dan suami. Pagi hari biasanya menjadi momen omelan ini berlangsung, terutama saat anak-anak harus berangkat sekolah. Meski sudah diingatkan sebelumnya, ada saja hal-hal yang membuat saya harus menaikkan nada suara pada anak-anak. Entah itu soal mencari kelengkapan sekolah, kecepatan berpakaian dan hal-hal lainnya. 

Padahal, dari beberapa informasi dan buku yang saya baca, ada teknik yang bisa digunakan untuk bisa memberi perintah kepada anak. Namun entah mengapa teori-teori tersebut masih belum berhasil saya praktikkan hingga akhirnya saya kadang masih menjelma menjadi Mama Godzilla jika berhadapan dengan kelakuan anak-anak. 

Pagi yang Hectic di Bulan Ramadan

Memasuki bulan Ramadan, saya pastinya berharap suasana pagi bisa berjalan lebih tenang. Jam kerja yang lebih longgar membuat saya memiliki cukup waktu untuk menyiapkan diri. Bekerja juga tak perlu lagi dikejar waktu karena pagi di bulan Ramadan adalah pagi yang santai. 

Namun, harapan itu rupanya tidak sepenuhnya terwujud. Di hari pertama anak-anak masuk sekolah di bulan Ramadan, pagi kami kembali dipenuhi drama kecil yang menjadi bagian dari cerita hidup. Berhubung sebelum Ramadan ada hari libur yang cukup panjang, anak-anak seolah-olah melupakan rutinitas pagi mereka. 

Setelah dibangunkan dari tidur selepas sahur, saya berkali-kali mengingatkan anak-anak untuk segera bersiap dan bergegas, mengingat kami harus berangkat hampir bersamaan. Saya sendiri juga agak kerepotan karena tidak menyangka pagi itu akan seriweh itu. Ujung-ujungnya saya pun akhirnya mengeluarkan ceramah panjang kepada anak-anak yang masih harus beradaptasi dengan jadwal puasa. Dan setelah akhirnya semua siap dan kami pun berangkat, saya baru menyadari bahwa perhitungan waktu saya meleset.

Sepanjang perjalanan, saya harus banyak bermanuver dan menaikkan kecepatan kendaraan. Rintik gerimis menemani kami sepanjang perjalanan juga membuat saya tak bisa cepat membawa kendaraan. Rasa panik mulai menyergap ketika melihat jam menunjukkan waktu yang semakin mepet. Saya melajukan motor secepat mungkin menuju sekolah anak dan langsung ke kantor setelah anak masuk ke sekolahnya. 

Beruntung, saat tiba di depan mesin absen, waktu masih menunjukkan pukul delapan tepat yang merupakan batas akhir absen pagi. Setelah absen, saya pun melangkah cepat menuju lapangan untuk mengikuti apel pagi. 

Rasa lega hadir di hati saya. Setidaknya, hari itu saya masih bisa datang tepat waktu. Namun di balik rasa lega itu, ada perasaan lelah, kesal, dan sedikit penyesalan. Mengapa pagi itu harus diwarnai emosi? Bukankah Ramadan seharusnya menjadi momen untuk lebih tenang dan sabar?

Tantangan Menahan Emosi di Bulan Ramadan

tantangan menahan emosi di bulan ramadan


Marah memang merupakan salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia. Dan harus diakui, menahan emosi di bulan Ramadan memang bukan perkara mudah. Kondisi tubuh yang sedang menahan lapar dan haus sering kali memengaruhi suasana hati. Sedikit lelah, sedikit terlambat, atau kesalahan kecil bisa menjadi pemicu kemarahan kita di bulan Ramadan. Tak jarang, informasi di media sosial yang kita baca setiap hari pun ikut memancing emosi tanpa kita sadari.

Secara fikih, marah memang tidak membatalkan puasa. Namun, amarah dapat mengurangi nilai pahala yang kita harapkan. Puasa bukan hanya tentang menahan diri dari hal-hal yang bersifat fisik, tetapi juga melatih kesabaran, ketenangan, dan keikhlasan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itulah kadang sedih sekali kalau memikirkan bagaimana puasa terasa sia-sia karena kita tak bisa menahan emosi di dalam diri. 

Sebagai ibu bekerja, tantangan menahan emosi di bulan Ramadan ini juga pastinya saya rasakan. Di lingkungan kerja bisa jadi ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan membuat saya sedikit emosi. Lalu kadang anak-anak begitu rewel yang membuat telinga terasa pekak dengan ocehan mereka hingga kadang saya merasa harus menjauh dari mereka kalau tidak ingin meledak karena emosi. 

Belum lagi kadang tuntutan pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, serta peran sebagai pendamping anak sering kali bertemu dalam satu waktu. Jika ibu tidak bisa mengelola emosi dengan baik, bisa jadi akan terjadi ledakan kemarahan tanpa bisa dicegah. 

Menjaga Lisan dan Ketikan: Ujian yang Tak Kalah Berat

Tak hanya menjaga emosi, tantangan lain yang cukup menjadi ujian besar di bulan Ramadan adalah urusan menjaga lisan dan ketikan. Bahkan kalau boleh dibilang urusan menjaga lisan dan ketikan ini jauh lebih berat dan besar dosanya dibandingkan meluapkan amarah.

Dalam keseharian, kita pastinya tidak pernah lepas dari komunikasi. Mulai dari berbincang dengan keluarga, rekan kerja, hingga obrolan ringan di grup chat. Apalagi jika rasa akrab sudah terjalin dengan sesama rekan kerja, pastinya obrolan terasa lebih seru dan topik pun bisa melebar ke mana-mana. 

Seiring dengan semakin serunya obrolan, tanpa disadari, obrolan tersebut sering kali diselipi gosip dan ghibah. Padahal, membicarakan keburukan orang lain adalah sesuatu yang sangat dihindari dalam ajaran Islam. Seperti yang disebutkan al qur'an, orang yang berghibah itu diumpamakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. 

Uniknya, kini ghibah tidak hanya terjadi melalui percakapan langsung, tetapi juga menyebar lewat media sosial, komentar, story, hingga percakapan di grup pesan pribadi atau komunitas. Yang lebih mengerikan, ghibah online kadang efeknya lebih besar dan lebih luas ketimbang ghibah antar tetangga, misalnya. 

Salah satu contoh adalah apa yang terjadi pada seorang influencer di awal Ramadan ini. Pagi itu, ketika saya baru tiba di meja kerja, seorang rekan iseng mengucapkan sebuah kutipan dari influencer tersebut yang sedang viral karena berhasil membuat paspor Inggris untuk anaknya. 

Saya yang memang mengikuti konten ini sejak beberapa hari sebelumnya secara spontan menyambung kutipan rekan kerja ini. Dan kami semua pun langsung membahas dengan seru perihal influencer ini yang ramai dirujak netizen akibat ucapannya tersebut. 

Parahnya lagi, tak cukup hanya menguliti si influencer, netizen bahkan sampai mencari juga latar belakang pendidikan yang kemudian merembet ke kehidupan keluarganya juga dan bahkan ancaman denda beasiswa untuk suaminya. Seolah masih belum puas, netizen kemudian juga mengunggah kembali berbagai postingan dari influencer tersebut untuk kembali dihujat. 

Pada titik ini saya jadi membatin, kok kayaknya nggak puas-puas ini netizen? Padahal ini bulan Ramadan dan mereka tak segan-segan menuliskan berbagai komentar negatif hingga ujaran kebencian kepada orang yang bahkan tak dikenal langsung. 

Tips Menjaga Lisan dan Emosi di Bulan Ramadan


Cara menjaga lisan dan emosi bulan ramadan

Menjalani Ramadan dengan khusuk pastilah menjadi keinginan setiap muslim. Tak hanya meningkatkan ibadah, salah satu hal yang juga harus ditingkatkan adalah kemampuan kita menahan emosi dan lisan ataupun ketikan. 

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menahan emosi dan lisan di bulan Ramadan ini diantaranya:

1. Perbanyak Dzikir dan Istigfar Saat Emosi Datang

Sebagai muslim kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dan beristigfar baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. Melakukan Dzikir dan istighfar saat emosi mulai naik akan membantu menenangkan diri sehingga kemarahan dapat dikendalikan. 

2. Gunakan Teknik Jeda 5 Detik

Selain Dzikir dan istighfar, kita juga bisa menggunakan teknik jeda "5 detik" saat emosi mulai naik. Caranya saat emosi mulai meningkat, berhentilah sejenak. Kemudian tarik napas, hitung dalam hati dari satu hingga lima baru kemudian berbicara. 

3. Ganti Omelan dengan Kalimat Singkat dan Jelas

Sebagai ibu, tak jarang saya memberikan ceramah panjang dengan nada tinggi kepada anak-anak yang mungkin berakhir hanya lewat di kuping mereka. Nah, ternyata ada cara efektif untuk mengingatkan anak-anak yakni dengan menggunakan kalimat yang singkat dan jelas.

Jadi alih-alih berkata, "Sudah berapa kali mama bilang..."

Bisa diganti dengan kalimat, "“Tolong pakai sepatunya sekarang, ya.”

4. Perbanyak Diam daripada Berdebat

Di bulan Ramadan, ketimbang terlibat dalam pembicaraan yang berujung perdebatan atau malah perghibahan, maka perbanyak diam menjadi salah satu cara bagi kita untuk menahan diri dan menjaga lisan.

5. Mengurangi Paparan Konten Sosial Media

Di era digital, menjaga lisan juga berarti menjaga ketikan. Jika ada topik viral yang membuat kesal maka kita bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Hindari membaca kolom komentar terlalu lama
  • Jangan ikut menyebarkan
  • Tahan diri untuk tidak membalas dengan emosi

Karena sejatinya ghibah dan ujaran kebencian di media sosial tetap bernilai sama meski hanya lewat tulisan. Jika ingin membuka sosial media, teman-teman bisa menyiasatinya dengan membaca kisah inspiratif yang bisa menambah wawasan.

Penutup

Menjaga emosi dan lisan di bulan Ramadan memang bukan perkara mudah, apalagi bagi ibu bekerja yang menjalankan banyak peran sekaligus. Namun justru di situlah letak latihannya. Ramadan juga bukan tentang menjadi ibu yang sempurna, namun tentang menjadi ibu yang lebih sadar sebelum berbicara dan lebih bijak sebelum mengetik.

Jika kamu juga sedang belajar mengendalikan amarah agar tidak melukai hati anak, kamu bisa membaca tulisan saya tentang cara mengelola emosi saat marah sebagai ibu bekerja sebagai langkah kecil untuk memulai perubahan.

Semoga setiap hari puasa kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjadi latihan memperhalus kata dan melembutkan hati 

Baca Juga