[Cerpen] Cerita Ramadan

 


Waktu jam dinding menunjukkan pukul 5 lebih 10 menit. Siska masih sibuk di dapurnya sementara putri kecilnya masih tertidur di ayunan. Hari ini merupakan hari ke 17 di bulan Ramadan. Siska berencana menyajikan rawon untuk menu berbuka bersama suaminya beberapa jam lagi. Seharusnya suaminya itu sudah tiba di rumah beberapa menit lalu. Namun karena katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan Sandi mengabarkan kalau dirinya akan pulang agak terlambat. 

Saat sedang mengaduk kuah tawon di panci, terdengar dering handphone di ruang tengah. Mengira itu adalah telepon dari suaminya, Siska pun segera bergegas. Segera dikecilkannya api kompor, membersihkan tangan dan bergegas menuju ruang tengah. Rupanya bukan suaminya, namun Haris adiknya yang menelpon. 

"Kak, sudah lihat berita belum di IG?" Haris langsung bertanya sesudah mengucapkan salam pendek. 

"Berita apa, Ris?" tanya Siska tanpa curiga

"Supermarket di samping kantor Kak Sandi robohh. Kakak tenang dulu, ya. Sebentar lagi aku sama mama mau ke sana," 

"Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun!" pekik Siska begitu mendengar kata-kata adiknya itu. Bagaimana tidak, saat suaminya itu mengabarkan akan pulang terlambat, Siska sempat meminta tolong dibelikan popok untuk Raisa putri mereka. Bagaimana kalau ternyata Sandi berada di dalam supermarket itu saat kejadian itu terjadi? 

Setelah menutup telepon, Siska langsung membuka akun Instagramnya. Gemetar tangannya saat membuka sebuah video dari akun berita di kotanya. Dalam video singkat tersebut terlihat bangunan yang dulunya merupakan ruko berlantai tiga sekarang sudah rata dengan tanah. Beberapa orang tampak berdiri di depan bekas reruntuhan. Siska kemudian mengecek kembali pesan yang dikirimkannya ke Whatsapp Sandi. Ia kemudian menekan tombol dial pada handphone-nya. Berharap Sandi akan mengangkat telepon yang artinya suaminya itu baik-baik saja dan. Sayangnya hingga dering ke sepuluh panggilan tersebut tidak dijawab.

Haris dan ibunya tiba setengah jam kemudian. Siska kini sedang sibuk menyusui Raisa yang terbangun beberapa menit setelah Siska mengetahui kabar kantor suaminya roboh. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya saat ibunya datang dan memeluknya. Dari dapur tercium bau hangus masakan karena Siska tak memiliki tenaga lagi untuk menyelesaikan masakannya. Haris yang menyadari hal tersebut bergegas ke dapur untuk mematikan kompor.

"Nanti setelah berbuka kita pergi ke lokasi, ya Kak. Haris sudah menghubungi Danu dan bilang mungkin ada Kak Sandi di antara korban di sana," kata Haris sekembali dari dapur.

***

Usai berbuka dan menunaikan salat Magrib, Siska bersama ibu dan adiknya berangkat menuju lokasi kantor suaminya yang berjarak kurang lebih 3 kilometer dari rumahnya. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa belas menit berubah menjadi hampir satu jam karena macet yang harus mereka hadapi di sepanjang perjalanan. Di lokasi supermarket sendiri sudah terdapat tim SAR dan alat berat yang digunakan untuk mengangkat reruntuhan bangunan. Selain alat berat dan tim SAR, banyak juga relawan dan masyarakat yang berkumpul di lokasi tersebut.

Haris meminta Siska dan ibunya untuk menunggu di salah satu warung makan yang lokasinya tak jauh dari supermarket sementara dirinya mendatangi salah satu relawan SAR yang saat ini sedang bekerja. Selang beberapa menit, Haris kembali untuk mengabarkan informasi yang didapatnya. 

"Proses evakuasi kayaknya bisa memakan waktu lama, Ma. Kalau dari informasi yang didapat dari CCTV kemungkinan ada 15 orang yang berada di bawah reruntuhan bangunan. Semoga saja nanti kita bisa dapat kabar baik secepatnya," kata Haris pada ibu dan kakaknya yang sedang duduk bersandar di kursi yang ada di warung tersebut. Siska yang sejak tadi banyak berdiam menyusut air matanya yang tak keluar perlahan sementara sang ibu menggendong Raisa. 

Setelah menginfokan hal tersebut, Haris kembali bergabung bersama dengan relawan anggota tim SAR meninggalkan Siska dan ibunya bersama penghuni warung yang lain. Sembari menunggu kabar terbaru dari Haris, terdengar sayup-sayup percakapan dari warga yang berkumpul di warung tersebut. Ada yang membahas tentang proses runtuhnya bangunan sampai melakukan analisis kenapa ruko 2 lantai itu bisa tiba-tiba runtuh.

"Ini pasti karena pondasi bangunannya yang jelek makanya bangunannya runtuh," begitu kata seorang Bapak yang duduk 

"Menurutku bukan cuma karena pondasi tapi faktor tanahnya. Tahu sendiri kan tanah di tempat kita ini tanah gambut. Rumah baru aja kalau nggak pakai pondasi pancang bisa amblas," sahut Bapak lain yang sepertinya pelanggan tetap warung tersebut menimpali.

"Tapi itu bangunannya kan sudah cukup lama berdiri. Berarti bukan cuma masalah tanahnya aja," balas pria itu kembali. 

"Ya berarti itu faktor usia bangunan juga yang bikin dia runtuh. Mungkin kolomnya sudah banyak yang retak sementara bebannya banyak," jawab pria lain. 

"Nah kalau menurutku, ini bisa juga karena masyarakat sini sudah banyak dosa dan para ulamanya sudah banyak meninggal makanya jadi sering kejadian bencana di tempat kita beberapa tahun terakhir. Ingat kan tahun lalu kita kebanjiran. Kalau kata orang tua dulu para ulama dan tuan guru ini selain berdakwah juga bisa menghindarkan negeri dari bencana," Seorang pria dengan kopiah haji berusaha memberikan jawaban dengan perspektif yang berbeda. 

Meski pikirannya sedang tidak fokus, mau tidak mau Siska tersenyum kecil mendengar percakapan orang-orang tersebut. Jika dalam kondisi normal, mungkin dia juga akan ikut nimbrung dengan perdebatan tersebut mengingat latar belakangnya yang sarjana Teknik Sipil. Dalam hati Siska setuju dengan pendapat pertama dan ke dua. Sementara untuk pendapat ke tiga entahlah bisa jadi memang ada faktor lain yang membuat bangunan bisa tiba-tiba runtuh seperti yang ada di hadapannya sekarang. 

"Keluarga korban ya, Dik?" Tiba-tiba seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluhan bertanya pada Siska yang kini menyusui Raisa. 

"Iya, Bu. Ada kemungkinan suami saya ada di bawah reruntuhan bangunan tersebut," Siska menjawab seadanya.

"Sabar ya, Dik. Adikku juga ada di sana. Dia bekerja sebagai kasir di supermarket itu. Semoga saja bisa ketemu dalam keadaan selamat," jawab wanita tersebut yang hanya bisa dibalas Siska dengan senyuman. Baik dirinya dan ibu tersebut sama-sama mengharapkan sebuah keajaiban di balik reruntuhan bangunan di hadapannya.   

Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, Haris kembali mendatangi Siska dan ibunya untuk meminta mereka pulang saja karena pencarian korban bisa memakan waktu semalaman. Mulanya Siska menolak untuk pulang dan ingin terus mengikuti proses pencarian korban. Namun ibunya mengingatkan Siska akan kewajibannya. "Lebih baik kita pulang dan menunaikan salat Isya dilanjutkan tarawih dan salat hajat, Nak. Mohon pada Allah semoga Sandi bisa ditemukan." ujar sang ibu. 

Akhirnya Siska setuju untuk pulang bersama ibunya. "Nanti kalau ada kabar terbaru langsung kukabari, Kak," kata Haris setelah menutup pintu mobil yang mengantar Siska pulang bersama ibunya. 

***

Sekitar pukul 3 subuh, terdengar nada dering dari handphone Siska. Siska yang tertidur dengan masih berbalut mukena langsung meraih handphone miliknya. Seperti kata ibunya saat akan kembali ke rumah, begitu tiba di rumah dan menidurkan Raisa, mereka berdua menunaikan salat isya dilanjut dengan tarawih dan salat hajat berjamaah. Dalam doa panjang mereka tak putus memohon agar Sandi bisa segera ditemukan. 

"Alhamdulillah Kak Sandi sudah ditemukan dalam keadaan selamat, Kak. Sekarang akan dibawa ke rumah sakit dulu. Nanti kakak dan ibu langsung menyusul saja ya ke sana!" seru Sandi begitu Siska mengangkat teleponnya.

"Alhamdulillahirobbil aalamiin!" mendengar informasi dari adiknya itu Siska langsung menyungkurkan kepalanya ke lantai untuk sujud syukur. 

Tanpa pikir panjang Siska langsung membangunkan ibunya yang tertidur di kamar dan berganti pakaian. Raisa yang masih tertidur langsung diangkat dan digendong sementara ibunya membuka pintu rumah menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Tanpa banyak bicara ibu, anak dan cucu itu berangkat membelah malam menuju Rumah Sakit tempat Sandi dirawat. 

***

Cerpen ini terinspirasi dari peristiwa robohnya supermarket retail yang ada di kota saya pada 18 April 2022 lalu. Berita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Baca Juga
Reactions

Post a Comment

17 Comments

  1. Seru ceritanya.. Seperti ceritanya nyata.. keren.. 😍. Jadi pengen nulis ceritan juga lagi saya 😅

    ReplyDelete
  2. Ah Mpo kirain cerita beneran, ternyata cerpen. Tapi bagus tulisannya ceritanya.

    ReplyDelete
  3. Aku juga dulu suka nulis cerpen kak, sekarang malah gak sempet. Udah buntu perasaan otak mau nulis cerpen lagi. Hihi.

    ReplyDelete
  4. sepenggal cerpen yang terinspirasi dari kisah nyata apalagi kejadiannya juga barusan terjadi rasanya seperti ikut meraskan apa yang keluarga korban alami ya kak.

    ReplyDelete
  5. Salah satu temen di IG sharing kalau temennya jadi korban meninggal dunia. Aku yang gak kenal aja ikutan sedih. Liat video singkat setelah bangunan hancur dan foto-fotonya serasa nyes banget.

    Lahan gambut, pondasi nggak kuat, yang mungkin aja dalam pengerjaannya gak sesuai prosedur, bikin bangunan tergolong baru bisa ambruk gitu.

    Di sini juga ada, ruko kosong, baru banget dikin belum sempat disewakan ambruk juga. Beruntung gak sampe ada korban jiwa.

    ReplyDelete
  6. Asyik neh ketemu blogger yg isinya cerita pendek. Semoga continue dan makin seru lagi ceritanya

    ReplyDelete
  7. Wahh memang mukjizat itu tidak ada yang tau, yang penting selalu berdoa dan berserah kepada -Nya lah agar bisa dihindarkan dari hal-hal yang buruk,..Syukurlah bisa ditemukan dalam keadaan selamat.

    ReplyDelete
  8. Ngeri ya kalau mendirikan bangunan diatas lahan yang tidak stabil. Habis baca cerpen ini jadi kebayang-bayang aja kejadian aslinya.

    ReplyDelete
  9. Aku baca cerpennya ikut deg-degan. Kebayang gimana kalau itu terjadi pada kita. Semoga dalam bertugas, bekerja, di mana pun kita dilindungi Tuhan

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah Pak Sandy selamat dan dapat berkumpul kembali dengan Siska dan keluarga.
    Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT ya mbak, aamiin

    ReplyDelete
  11. Ikutan ngerasain cemasnya jadi Siska, Alhamdulillah suaminya selamat ya Mba. Jadi ikutan lega juga, kasian soalnya anaknya masih kecil.

    ReplyDelete
  12. Meskipun cerpen, berasa sedih kalau ceritanya tentang kejadian seperti itu. Semoga sabar dan tabah Aamiin. Siska bersyukur banget yaa Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  13. Ceritanya bikin deg degan jg nih Mbak. Untungnya suminya selamat ya. Memang sih bangunan toko gt harusnya memenuhi stsndar ya sblm dibangun, utk memininalisir bahaya yg akan terjadi

    ReplyDelete
  14. Dari awal baca cerpen ini sampai harap2 cemas dan deg2an jga semoga ada keajaiban kepada suaminya.. Alhamdulillah memang selamat ya dari kecelakaan ini. Wah ini kisah nyata jadinya kalau begitu yaa Mba di kotanya..

    ReplyDelete
  15. Ya Allah...
    Aku ikut berkecamuk rasanya memikirkan apakah Bang Sandi ditemukan dalam keadaan selamat atau tidak. Alhamdulillah, di penghujung malam hari mendapat kabar terbaik.
    Semoga dengan doa dan ibadah, kita semua senantiasa dilindungi dari keburukan.

    ReplyDelete
  16. Aku ikut dredeg deh saat pencarian Kak Sandi. Btw, tanah gambut berbahaya ya memang kalo dibangun bangunan du atasnya. Aku jadi ngeri nih kira-kira kita bisa gak sih tanya asal usul dari tandah sebuah bangunan apa sebelumnya ini dari tanah tambak apa gambht gitu.

    Kejadian gini kalau misal rumah kan ngeri ya

    ReplyDelete