Pengalaman Menggunakan KB IUD setelah menggunakan KB Suntik 3 Bulan

 

Pengalaman menggunakan KB IUD

Pengalaman menggunakan KB IUD - Bulan Februari 2022 ini, genap 1 tahun saya menggunakan IUD sebagai alat kontrasepsi. Mengingat usianya sudah 1 tahun, saya putuskan untuk melakukan kontrol dan pemeriksaan posisi IUD sesuai yang disarankan dokter pada saya. Kebetulan juga 2 bulan terakhir saya beberapa kali merasakan kram pada perut di luar jadwal haid yang membuat saya takut kalau IUD yang ada di rahim saya bergeser.

Saya pun menyambangi Rumah Sakit tempat saya memasang IUD 1 tahun yang lalu. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, giliran saya dipanggil. Dokter bertanya sedikit tentang kondisi saya setelah menggunakan IUD selama setahun. Setelahnya saya dipersilakan untuk berbaring di ranjang untuk diperiksa.

"Gimana posisi IUD saya, Dok?" tanya saya saat dokter melakukan pemeriksaan USG.

"Posisi IUD-nya masih bagus. Tapi memang ada inflamasi yang cukup berat makanya ibu ada merasa nyeri di perutnya," begitu dokter menjelaskan pada saya.

"Oo gitu, ya. Tapi itu nggak apa-apakah, Dok?" tanya saya lagi

"Iya nggak apa-apa itu," jawab dokter lagi menutup pembicaraan kami.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan IUD, saya pun diizinkan pulang dengan membayar biaya sebesar Rp. 135.000,00. 


Proses pemasangan KB IUD

sumber : https://rs-alirsyadsurabaya.co.id

 

Beralih dari menggunakan KB suntik 3 bulan menjadi IUD merupakan keputusan yang saya ambil setelah melakukan berbagai pertimbangan. Kala itu, saya sudah menggunakan KB suntik 3 bulan selama kurang lebih 1 tahun setelah melahirkan anak ke dua. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya memutuskan berganti kontrasepsi ini. Alasan pertama karena selama menggunakan KB suntik 3 bulan saya tidak mengalami haid. Jujur ini agak membuat saya khawatir karena setahu saya kalau perempuan tidak haid itu bisa membuat tulang keropos.

Alasan kedua dari penggantian kontrasepsi ini adalah karena katanya KB IUD merupakan yang paling aman karena tidak mempengaruhi hormon dan bisa digunakan hingga bertahun-tahun. Maklum di tahun 2020 lalu saya mengalami penambahan berat badan yang cukup signifikan dan berpikir kalau KB suntik adalah penyebabnya. Padahal kalau dipikir penyebab utama berat badan saya meningkat ya karena saya makan melulu dan kurang olahraga. Hehe.

KB IUD atau yang lebih dikenal dengan nama KB Spiral sendiri merupakan alat kontrasepsi berbentuk T dengan bahan plastik yang dipasang di rahim kita untuk mencegah kehamilan. Ada 2 jenis IUD yang biasa digunakan yakni IUD non-hormonal yang berlapis tembaga. IUD ini bekerja dengan cara menghalangi sel sperma masuk ke dalam saluran antara rahim dengan indung telur (tuba falopi).

Sedangkan IUD jenis ke dua adalah IUD Hormonal yang memiliki kandungan hormon progesteron sintetis. IUD ini mampu menipiskan dinding rahim yang seharusnya menebal saat pembuahan terjadi. Dengan menipisnya dinding rahim ini tentunya dapat menghentikan terjadinya pelepasan sel telur (ovulasi) dan mencegah sel sperma membuahi sel telur. 

Untuk meyakinkan diri perihal keputusan mengganti kontrasepsi ini, saya bertanya kepada beberapa teman yang sudah cukup lama menggunakan IUD. Rata-rata dari mereka mengatakan kalau selama menggunakan IUD tidak ada masalah yang cukup mengganggu. Namun sebagian juga mengatakan kalau siklus haid mereka agak terganggu selama menggunakan IUD ini. Setelah mendengar berbagai jawaban tersebut, akhirnya saya putuskan untuk berganti kontrasepsi setelah masa KB suntik saya berakhir.

Saya pun menghubungi salah satu teman 1 SMA yang saat ini menjadi dokter kandungan di salah satu Rumah Sakit bersalin di kota saya untuk menanyakan proses pemasangan IUD di tempatnya bekerja. Saya juga menjelaskan kondisi saya yang tidak haid selama 1 tahun selama menggunakan KB suntik 3 bulan. Ajaibnya, dokter tersebut langsung meminta saya datang ke tempat praktiknya untuk pemasangan IUD. Padahal biasanya untuk melakukan pemasangan IUD disarankan dalam kondisi wanita sedang haid agar proses pemasangannya lebih mudah.

Karena sudah terlanjur bertanya, saya pun mendatangi Rumah Sakit tempat praktik dokter kandungan tersebut. Saat itu ada 2 pilihan IUD yang bisa digunakan yakni IUD lokal yang biaya pasangnya 450 ribu dan IUD merk luar dengan biaya pasang sekitar 1,5 juta. Dengan alasan ekonomis, saya pun memilih IUD merk lokal. Hehe.

Begitu tiba di ruang praktik, dokter pun mulai memasang IUD yang sudah saya pilih. Proses pemasangannya mungkin teman-teman sudah mengetahuinya. Jadi v*gina kita akan dibuka dengan menggunakan alat cocor bebek lalu kemudian IUD akan dipasang di dalam rahim. Dalam proses pemasangan ini jujur saya merasa cukup tidak nyaman karena ya bagian dalam tubuh serasa kayak dikorek-korek gitu. Saya tidak mengecek berapa lama saya harus berada dalam posisi ngangkang dan tidak nyaman hingga akhirnya IUD berhasil dipasang.


Efek setelah pemasangan KB IUD

Setelah IUD terpasang, selama beberapa hari saya merasakan kram di perut saya. Selain itu, saya juga mengalami pendarahan selama kurang lebih 1 minggu yang saya anggap wajar karena adanya benda baru di tubuh saya. Sayangnya ternyata pendarahan yang saya alami tidak hanya 1 minggu. Beberapa hari setelah pendarahan pertama berhenti, saya kembali mengalami pendarahan yang berlangsung hampir 20 hari. Tentunya ini di luar dugaan saya yang mengira tidak ada efek samping setelah pemakaian IUD.

Setelah konsultasi sana sini, akhirnya saya putuskan untuk bertanya langsung ke dokter. Berhubung jadwal praktik teman saya yang dokter kandungan tidak bisa saya ikuti, akhirnya saya berkonsultasi dengan dokter kandungan lain yang juga merupakan dokter kandungan saya saat hamil anak kedua. Setelah berkonsultasi dan dilakukan pemeriksaan USG, dokter pun meresepkan obat hormon yang diminum 12 jam sekali agar pendarahan yang saya alami berhenti. 

Setelah meminum obat hormon, pendarahan yang saya alami memang berhenti. Nah setelah obat hormon yang berjumlah 10 butir itu habis lagi-lagi saya mengalami pendarahan dengan durasi lebih dari 1 minggu. Memang sih pendarahannya tidak banyak hanya berupa flek-flek darah. Namun hal itu cukup menganggu saya apalagi saat itu juga sudah memasuki bulan Ramadan. Karena meski statusnya adalah darah istihadah yang keluar di luar jadwal haid, saya tetap merasa tidak tenang beribadah dengan kehadiran flek-flek tersebut.

Saya pun kembali mengunjungi dokter kandungan untuk berkonsultasi. Kali ini dokter kandungan meresepkan pil KB untuk menghentikan pendarahan yang saya alami. Jadi bisa dibilang saya menggunakan 2 alat kontrasepsi di bulan ke dua pemasangan IUD. Pil KB ini saya minum kurang lebih selama 1 bulan. Setelah pil KB habis dikonsumsi, saya kembali haid namun dengan durasi yang normal yakni 7 hari saja. Nah, setelah haid itu pelan tapi pasti siklus haid saya mulai normal hingga kini tepat setahun menggunakan IUD. 

Kesan setelah menggunakan KB IUD

Dengan adanya pengalaman menggunakan KB IUD selama 1 tahun ini, tentunya saya memiliki kesan tersendiri untuk alat kontrasepsi yang satu ini. KB IUD merupakan kontrasepsi yang kerap disarankan bagi mereka yang malas jika harus berurusan dengan jarum suntik dan tidak disiplin dalam minum obat. Kontrasepsi ini juga sangat cocok digunakan bagi para ibu yang ingin menyusui anaknya secara full mengingat beberapa KB bisa mempengaruhi produksi ASI ibu. 

Namun ada satu hal yang mungkin perlu dipertimbangkan para ibu sebelum menggunakan KB IUD ini. Reaksi tubuh kita dalam menerima benda baru berupa IUD ini pastinya bermacam-macam. Ada yang mengalami pendarahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan ada juga yang volume haidnya bertambah banyak dan menjadi tidak teratur selama penggunaan IUD. 

Jika dibilang menggunakan IUD merupakan kontrasepsi yang paling aman saya sendiri tidak 100% setuju. Sebab ada beberapa kejadian di mana kehamilan tetap terjadi padahal IUD masih tertanam di tubuh kita. Tidak seperti KB suntik atau pil KB yang mana di saat kita melewatkan jadwal minum atau suntiknya kita akan aware dengan kemungkinan hamil, KB IUD tidak memberikan sinyal tertentu yang membuat kita aware akan adanya kehamilan. Apalagi bagi mereka yang setelah menggunakan IUD haidnya jadi tidak lancar, pastinya akan bingung saat mendapati diri lama tidak haid eh ternyata hamil.

Namun tentunya perlu diingat, KB merupakan sebuah ikhtiar dari kita untuk mencegah kehamilan sementara wewenang terkait kehamilan ini ada pada Yang Maha Kuasa. Jadi ya jika sudah menggunakan KB ternyata ibu tetap hamil itu artinya kita dipercaya kembali untuk menerima amanah dari Allah.

 Setiap wanita tentunya memiliki ceritanya sendiri terkait pengalaman menggunakan IUD. Apa yang saya alami mungkin berbeda dengan wanita yang lain karena reaksi tubuh yang berbeda-beda terhadap benda asing dalam tubuh.  Demikian sedikit sharing yang bisa saya bagikan terkait pengalaman menggunakan KB IUD. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua!




25 Comments

  1. Pengalaman mbak antung sama seperti saya. Dulu saya pernah suntik 3 bulan saat anak pertama, tapi setelah itu 2 tahun tidak mens. Akhirnya memutuskan pakai IUD agar mens teratur.

    Setelah hampir 5 tahun pakai IUD, akhirnya bulan depan saya memutuskan untuk melepas dan memasang dengan IUD baru. Setelah cari2 info tarif lepas dan pasang IUD, biayanya mahal kalau di dokter. Bisa 1,5 juta lho, belum bayar lagi minggu depannya untuk pemeriksaan pasca pasang IUD.

    Akhirnya saya dapat di suatu klinik dan ditangani bidan biayanya 400ribu. Tapi minggu depannya tetap harus bayar 140rb untuk pemeriksaan USG oleh dokter.

    IUD memang kontrasepsi paling aman menurutku, walaupun dulu pernah kejadian mengalami keputihan saat pertama kali pemasangan. Selebihnya normal.

    Haid yang lebih banyak kalau pasang IUD dll itu sebenarnya mitos. Benang IUD saat pertama kali dipasang memang akan terasa oleh suami, tapi lama kelamaan benangnya akan melunak dan tidak akan terasa.

    Jangan lupa untuk kontrol ke dokter setahun sekali.

    ReplyDelete
  2. Wah, istri saya tidak saya sarankan untuk kb. Cukup kb dhewe saja hehehe

    ReplyDelete
  3. Iya betul, KB itu hanya ikhtiar. Pengalaman dari ibu saya, walaupun sudah di KB, ternyata masih diberi amanah untuk melahirkan di usia 40. Walau akhirnya harus disesar karena kata dokter berisiko.

    ReplyDelete
  4. Baru tahu soal suntik KB dan efeknya nih. Bisa juga ya karena suntik KB berpengaruh ke berat badan?

    ReplyDelete
  5. Mba, aku mau segimana pun bacanya, tetap cetek mba nyaliku pasang IUD. Akhirnya sampai sekarang aku pakai kondom saja sama suami. Takut banget aku mba, IUD, suntik, dan pil itu. Huhuhuhu.

    ReplyDelete
  6. Memang ya Mba Antung, untuk memilih kontrasepsi ini pasti ada plus minusnya yaa. Jadwal mesnstruasi yang seringnya tidak beraturan ini bagi saya juga ngga nyaman banget. Maka saya pun akhirnya kemarin memutuskan untuk kb alami saya. Memang selalu deg degan sih tiap jadwal haid, apalagi kalau mundur..

    ReplyDelete
  7. saya belum berani dan belum punya nyali pake kabe IUD, Mba. Entahlah, saya gak siap harus "diobok-obok" untuk masang alatnya. Cukuplah saat lahiran aja bagian privat itu dilihat, hehehe. Saat ini saya pake kb implan setelah sebelumnya pake kb suntik 3 bulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang berasa nggak nyaman pas pemasangannya. makanya juga mau lepas kemarin mikir-mikir akhirnya dilanjutkan aja. hehe

      Delete
  8. Saya mendengar pendarahan gitu jadi serem-serem gimana gitu, soalnya dari orang terdekat ada yang mengalami hal tersebut dan sampai saat ini masih terapi untuk pasca penyembuhannya. Hampir lebih dari 1 bulan di RS. Jadi pas denger pendarahan jadi keinget itu hhu

    ReplyDelete
  9. Sehat-sehat selalu, kak..
    Pilihan KB apapun, ikhtar yang terbaik. Semoga bisa mengendalikan kelahiran dan menjadikan badan tetap sehat dan bugar.

    Alhamdulillah-nya memiliki teman yang berprofesi dokter kandungan.
    Jadi terbantu sekali kalau ada masalah medis terkait.

    ReplyDelete
  10. Informasi yang sangat bermanfaat. Saya juga haid jadi tidak teratur ketika minum pil KB.

    ReplyDelete
  11. Kalau saya kebalikannya mba, setelah KB IUD setahunan dan ngga cocok, akhirnya memutuskan KB suntik. Emang milih yang 3 bulan itu karena emang masih menyusui. Konsekuensinya ya ngga haid itu tadi. AKhirnya lepas semua KB deh hahaha.

    ReplyDelete
  12. Toss mbak
    Aku juga pakai KB iud
    Sudah sekali ganti
    Sudah 6 th
    Iud ini yg paling pas KLO buatku, Krn g hormonal

    ReplyDelete
  13. Habis melahirkan anak pertama, aku ya pasang IUD sih. Samma pernah kram perut dan demam. Ada infeksi, trus dicabut aja IUD-nya, krn anak pertama juga udah 2.5 tahun.
    Habis melahirkan anak ke-2, engga berani pasang atau ikut KB apapun...wkwkwk. Suami aja yg KB...

    ReplyDelete
  14. Perjalanannya bikin saya cukup merinding. Mbak berusaha maksimal menggunakan alat kontrasepsi supaya mencegah kehamilan, sementara saya, justru yang tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi sampai sekarang belum dikaruniai janin dalam rahim ini. Padahal saya dan suami sangat mengharapkan segera memiliki anak mengingat usia sudah kepala empat. Memang hanya Allah sebaik pembolak balik kejadian ya ...

    ReplyDelete
  15. Aduh serem juga ya, Mbak, beberapa kali perdarahan gtu. Hiks.. Saya malah disaranin sama dsog untuk gak KB terus lanjut punya anak lagi. Abis punya anak sesuai rencana baru di KB. Ada penyebabnya juga sih itu. Hehe..

    ReplyDelete
  16. Wah mba kalau aku dulu pakai KB pil sih hehe itupun anjuran dokter untuk memperkecil tumbuhnya myom dalam rahim. tapi cuma bertahan setahun karena ga berhasil deh ituu

    ReplyDelete
  17. Dalam memilih jenis2 KB ternyata juga perlu diperhatikan respon tubuh kita ya. Cocok atau nggak ya. Bisa jadi di kita pendarahan normal, di orang lain bisa lebih lama.

    ReplyDelete
  18. Jadi lebih tau tentang KB IUD, banyak banget yang aku belum tau nih. penjelasannya lengkap banget mbak.. Makasih sharingnya

    ReplyDelete
  19. Aku disaranin pakai KB IUD tapi merasa sangat takut, sekarang gak KB dulu sih, karena dibadan kurang nyaman. Terimakasih mbak sharing pengalamannya jadi banyak tahu tentang KB IUD ini

    ReplyDelete
  20. Iya ya...kalau ikhtiarnya sudah maksimal, semoga perjalanannya lancar dan sehat-sehat selalu menggunakan KB apapun.
    Aku sebenernya juga pengguna IUD.

    ReplyDelete
  21. inflamasi apaan mbak? aku IUD juga mbak tapi kondisi alatnya kebalik setelah sekitar 1 tahun pemakaian entah karena saat itu dipasang pasca lahiran jadinya katanya sih longgar rahimnya jadi lebih mudah bergeraknya iudnya alhasil aku copot karena posisinya berbahaya dan bikin nyri di perut .. duh g nyaman memang pas pengambilan kususnya aku smapai mual kala itu. betul KB adalah ikhtiar karena aku dulu akhirnya pasang dikarenakan jarak anak pertama dan kedua cukup deket dan resiko hailku tinggi dengan kondisiku jadi ini ikhatir dr segi kesehatan

    ReplyDelete
  22. Saya jujur belum berani KB apapun. Hehe karena takut akan efek samping dari semua KB itu. Jadi selama ini KB alami aja. Atau suami yang make pelindung. Tapi insight dari sini tetap bermanfaat, makasih sharingnya ya mba

    ReplyDelete
  23. Saya sudah 2 kali pakai KB IUD ini. Yang pertama alhamdulillah lancar, pas yang kedua mengalami hal yang sama seperti mbak Antung di bulan pertama pemasangan. Entah perbedaannya apa karena beda merek atau karena faktor usia dan hormon.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post