Pengalaman Ke Dokter Gigi di Masa Pandemi Corona




Sudah sejak beberapa bulan terakhir saya menyadari kalau gigi geraham belakang saya berlubang. Lebih tepatnya berlubang dan keropos karena ketika saya makan tiba-tiba saja gigi belakang tersebut terasa ada yang hilang. Mulanya saya biarkan saja gigi geraham belakang yang berlubang ini. Namun belakangan kalau saya makan kadang gigi geraham tersebut terasa cenat-cenut. "Hmm, apakah sebaiknya ditambal saja ke rumah sakit?" kata saya kemudian.

Bermasalah dengan gigi di masa pandemi Corona seperti sekarang jujur bukan hal yang mudah. Seperti yang diketahui bersama, dokter gigi merupakan salah satu orang yang paling rentan terkena virus Corona karena mereka harus berhadapan langsung dengan mulut pasien yang mana merupakan tempat droplet kita berasal. Setahu saya bahkan selama masa pandemi ini tak banyak pelayanan gigi yang buka.

Berhubung gigi yang berlubang sudah mulai terasa cenat-cenut setelah makan, saya pun bertanya kepada beberapa teman apakah saat masa New Normal klinik gigi sudah mulai buka? Beberapa teman mengatakan kalau dokter gigi sudah menerima pasien di masa New Normal bahkan ada yang bilang kalau di beberapa kota poli giginya juga sudah mulai dibuka. Mengetahui hal ini, saya pun mantap untuk menambal gigi yang berlubang tersebut.

Baca juga : Pengalaman Saat Ibu Harus Rawat Inap Karena Hipertiroid

Sayangnya ketika saya berencana untuk mengunjungi Rumah Sakit Gigi dan Mulut tempat saya biasa memeriksa gigi, saya keburu dinyatakan reaktif saat mengikuti rapid tes yang diadakan kantor. Sesuai dengan kebijakan kantor, saya harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama kurang lebih 2 minggu. Karena harus isolasi ini, mau tak mau rencana menambal gigi geraham ini harus tertunda.

Setelah kembali bekerja, rencana menambal gigi geraham kembali terlupakan. Sampai kemudian beberapa hari yang saya menyadari tambalan gigi depan saya lepas. Lalu, saat mengecek gigi Yumna, saya juga sadar kalau gigi geraham putri sulung saya itu sudah berlubang. Duh, langsung kepikiran deh kalau begini. Takutnya nanti karena berlubang Yumna jadi sakit gigi dan pastinya sebagai orang tua saya tidak tega melihat anak sakit gigi.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk menambal gigi saya terlebih dahulu baru kemudian membawa Yumna. Kebetulan kantor tempat saya bekerja kembali memberlakukan WFH bagi karyawannya, jadi saya bisa mengunjungi Rumah Sakit di pagi hari. Pagi hari saat jadwal WFH, berangkatlah saya menuju RSGM Hasan Aman untuk menambal gigi saya. Saat tiba di Rumah Sakit, saya agak bingung dengan kondisinya yang sepi. Saya pun langsung menuju ke loket untuk mendaftarkan diri.

"Saya mau nambal gigi, Mbak. Bisa langsung ke polikah?" tanya saya kepada pegawai yang bertugas di loket.

Kedua petugas tersebut tampak bingung dengan pertanyaan saya. Alih-alih memberi jawaban, mereka balik bertanya, "Ibu sudah ada janji?"

"Belum, sih," jawab saya

"Mohon maaf, Bu. Selama masa pandemi ini dokter gigi di sini hanya melayani pasien dengan keluhan berat," petugas tersebut kemudian menjelaskan prosedur baru di Rumah Sakit.

"Oo. Jadi nggak bisa langsung datang gitu, ya?" tanya saya lagi.

"Nggak bisa."

"Oke, deh. Terima kasih, Mbak," kata saya sebelum meninggalkan Rumah Sakit.

Karena tak bisa menambal gigi di RSGM, mau tak mau saya harus langsung ke praktik dokter gigi. Sayangnya sulit sekali mencari dokter gigi yang buka praktik di pagi hari. Padahal saya sengaja mencari dokter gigi yang buka pagi karena lokasi rumah yang di pinggiran kota sehingga agak sulit kalau harus ke dokter gigi malam hari. Selain itu saya punya 2 anak kecil yang pastinya susah ditinggal di malam hari.

Baca juga :  Pengalaman Telinga Anak Berdarah Tertusuk Cotton Bud



Sambil berputar-putar mencari dokter gigi, sempat terpikir di kepala saya untuk mendatangi salah satu klinik perawatan gigi yang baru buka di kota saya. Namun karena ini adalah klinik khusus perawatan gigi saya terpikir biayanya pasti lumayan mahal. Kemudian saya teringat salah satu rekan kerja sempat merekomendasikan dokter gigi langganannya. Iseng saya bertanya apakah dokter tersebut buka di pagi hari.

"Buka, Kak sampai jam 1. Tapi daftar dulu pagi hari biar dapat nomor antrian," balas rekan kerja saya tersebut. Mendengar jawaban ini, fix saya putuskan untuk mengunjungi dokter gigi tersebut.


Mengunjungi Klinik Dokter Gigi




Beberapa hari kemudian, saya bersama Yumna kembali ke Banjarmasin untuk mengunjungi dokter gigi yang direkomendasikan rekan kerja saya. Sesuai dengan informasi yang dia berikan, sebelumnya saya sudah melakukan pendaftaran via telepon dan diminta datang pukul 10. Begitu tiba di lokasi dokter gigi, saya agak kaget karena ternyata tempat yang saya datangi adalah klinik aestetik gigi  mirip dengan klinik yang tak jadi saya datangi beberapa hari sebelummya. Hmm, kayaknya bakal mahal juga nih biaya perawatannya, kata saya dalam hati. Karena sudah terlanjur mendaftarmau tak mau saya pun melangkahkan kaki ke dalam klinik tersebut.

Hari itu, ada sekitar 5 pasien yang berkunjung ke klinik dokter gigi tersebut. Setelah menunggu hampir 3 jam, akhirnya nama saya dipanggil. Sebelum memasuki ruangan periksa, saya diminta berkumur. Sayangnya begitu akan mengajak Yumna ikut ke ruangan ternyata hanya boleh 1 pasien yang masuk untuk diperiksa. Alhasil saya harus meninggalkan Yumna sementara gigi saya diperiksa.

Layaknya para tenaga kesehatan lainnya, para asisten dan dokter gigi di ruang periksa menggunakan baju hazmat lengkap. Saat diperiksa, wajah saya ditutupi semacam pelindung yang terbuat dari plastik untuk menghindari cairan dari mulut terpapar di udara. Hari itu saya putuskan untuk menambal gigi depan yang tambalannya lepas alih-alih gigi geraham yang berlubang. Alasannya sih sederhana, gigi depan lebih kelihatan kalau berlubang ketimbang gigi belakang. Hehe.

Setelah gigi saya selesai ditambal, giliran Yumna yang diperiksa giginya. Untungnya dokter mengizinkan saya untuk masuk lagi menemani Yumna. Seperti dugaan saya, gigi gerahamnya sudah berlubang. Bukan cuma satu, namun 2 geraham di sebelah kanan dan kiri. Dokter menanyakan apakah saya ingin menambal gigi yang berlubang tersebut dan saya langsung setuju.

Yumna sendiri tampak agak kebingungan saat diperiksa giginya. Dan ketika dokter hendak menambal giginya yang berlubang, Yumna tampak panik dan ingin lari dari kursi. Karena kondisi Yumna yang ketakutan ini, akhirnya proses penambalan gigi Yumna tidak dilanjutkan dan kami pun pulang ke rumah ibu saya untuk beristirahat sebelum sorenya kembali ke rumah kami.

Sepulang dari dokter gigi kemarin, saya masih berpikir ulang untuk mengunjungi dokter gigi lagi. Selain karena prosedurnya yang ribet masalah biaya juga lumayan banget nih kalau harus ke klinik perawatan gigi. Semoga saja dalam beberapa waktu ke depan saya tidak mengalami masalah yang berat untuk urusan gigi dan pastinya saya juga berharap pandemi Corona ini segera berakhir agar kita bisa berobat dengan lebih nyaman di berbagai fasilitas kesehatan.

Post a Comment

3 Comments

  1. Inggih ka ae. Takutan ke dokter gigi di masa pandemi ini. Ulun sempat ada sakit gigi jua. Sudah telpon klinik jua nanya jadwal dokter gigi. Tapi Alhamdulillah sakitnya hilang, kada jadi ke dokter gigi. Mudahan sehat² kita barataan. Aamiin...

    ReplyDelete
  2. Aku juga kemarin sempat ke dokter gigi, dan alhamdulillah masalahnya langsung terjawab dalam sekali kunjungan.. >.< Padahal sudah datang 1 jam sebelum buka, tapi tetep jadi pasien kedua.. (sempet incer jadi pasien pertama supaya meminimalisir resiko)
    Dan benar pas ke sana udah diberi surat persetujuan kalau dokter gigi ini berpotensi besar menyebarkan covid-19.. Aku juga dipakein corong gitu supaya meminimalisir droplet menyebar ke udara.. Agak deg-degan setelah pulang dari dokter sampai karantina mandiri di rumah, alhamdulillah gak kenapa2 huhu..

    ReplyDelete