Cerita Kelahiran Anak Kedua





Bagi para ibu hamil, memasuki trimester 3 kehamilan memang bisa dibilang semakin nano-nano rasanya. Badan semakin berat, pinggang sakit ditambah kontraksi palsu yang kerap muncul membuat ibu bertanya-tanya kapan si bayi akan lahir.

"Kapan perkiraan lahirnya, Dok?" tanya saya pada dokter kandungan. Hari itu memasuki minggu ke 37 kehamilan saya.

"Hmm.. sekitar 1-2 minggu lagi kayaknya," jawab dokter sambil melihat hasil pemeriksaan USG. Di situ terlihat kalau bayi saya sudah mencapai berat 2,9 kg. "Duh semoga aja nanti bayinya nggak lebih dari 3 kilo," kata saya dalam hati.

Sepulang dari dokter, ternyata saya menemukan sedikit flek di celana dalam. Berkaca dari proses kelahiran anak pertama, yang lahir 2 hari setelah keluar flek, saya pun langsung ke bidan sore harinya untuk mengecek apakah sudah ada pembukaan. Benar saja, dari hasil periksa dalam asisten bidan, katanya saya sudah pembukaan 1.

Baca juga : Catatan Kehamilan Kedua

"Kira-kira kapan ya lahirannya?" tanya saya kemudian.

"Biasanya 3 hari sampai 1 minggu," jawab asisten bidan tersebut. 

Mendengar jawaban asisten bidan, akhirnya sore itu saya putuskan untuk menginap di rumah ibu sambil berjaga-jaga siapa tahu malamnya keluar flek lagi atau malah kontraksi. Rencananya saya memang akan melahirkan di bidan tempat saya melahirkan Yumna dulu.

Ternyata tak ada kontraksi malam itu. Saya pun kembali ke rumah sendiri. Namun karena saya cukup yakin akan melahirkan dalam waktu dekat saya putuskan untuk menyiapkan segala hal terkait persalinan. Mulai dari mengepak tas untuk dibawa ke rumah ibu, hingga membuat pengajuan cuti melahirkan ke bagian SDM kantor.

Sehari dua hari ditunggu, ternyata masih belum ada tanda-tanda akan melahirkan setelah kemunculan flek di hari Selasa. Memang ada kontraksi namun hanya berupa kontraksi palsu. Saya mulai tak sabar dan agak uring-uringan. Akhirnya di hari Jum'at kami putuskan untuk mengangkut semua barang dan tinggal di rumah mama sambil menunggu hari kelahiran si calon bayi. 


 ***

"Aku besok disuruh ke Palangka, nih," kata suami Minggu sore jelang jadwal berbuka tiba. 

Saya jelas terkejut mendengar kata-katanya. Duh sudah dekat HPL kok bisa-bisanya si bos nyuruh suami saya pergi ke luar kota, protes saya dalam hati. Meski begitu, saya berusaha tetap tenang dan menanggapi positif ucapan suami sebelumnya. 

"Yah semoga aja dedenya lahir setelah kamu pulang, ya," kata saya kemudian.

Nyatanya, saya tetap khawatir. Gimana kalau nanti saya lahiran pas suami lagi pergi? kata saya dalam hati. Sungguh sebuah skenario yang tidak saya inginkan jika harus melahirkan tanpa didampingi suami. Memang sih ada ibu saya tapi bagaimana dengan Yumna? Siapa yang akan menemaninya kalau saya melahirkan? Saya pun akhirnya mengajak suami ke bidan untuk mengecek kembali pembukaan rahim saya. Kebetulan hari iru memang kontraksi sudah mulai sering muncul.

"Sudah masuk pembukaan dua tapi belum penuh," kata asisten bidan setelah melakukan periksa dalam sore itu. Ah, jujur saya jadi kecewa mendengar pernyataan asisten bidan ini.

"Ibu tunggu sebentar, ya. Sebentar lagi bu bidan datang biar diperiksa lagi," katanya lagi.

Tak lama, bidan yang ditunggu tiba. Wanita awal empat puluhan tersebut terlihat cantik dan segar seperti biasanya. Melihat saya yang tanpa basa-basi beliau bertanya, "Kenapa? Pembukaannya belum naik ya?"
 
Bu bidan kemudian mengambil sarung tangan karet. Oke lagi-lagi saya harus diperiksa dalam. Tak seperti asistennya yang, Bu Bidan melakukan periksa dalam dengan hati-hati, Bu Bidan ini benar-benar niat dalam memeriksa pembukaan saya. Saya sampai meringis dibuatnya. Setelah beberapa menit menahan sakit, Bu Bidan akhirnya mengeluarkan jarinya. Saya lihat ada sedikit darah di sarung tangannya.

"Tadi ada yang sedikit lengket di dalam. Sudah dibenarkan. Kita lihat malam ini ya apakah ada pembukaan atau tidak?" kata bu Bidan kemudian dan saya pun dibolehkan pulang.

Baca juga : Pengalaman KB Suntik 3 Bulan dan Kehamilan Kedua


***

Hanya selang beberapa jam setelah pemeriksaan di bidan, saya pun mulai merasakan kontraksi yang lebih intens. Suami sendiri malah pulang ke rumah kami untuk mengambil beberapa barang. Karena kontraksi yang saya rasakan semakin sering, akhirnya bada salat isya saya meminta adik mengantar saya kembali ke klinik bidan. Tanpa banyak bicara saya langsung diarahkan menuju ruang persalinan.

Begitu tubuh saya direbahkan, asisten bidan langsung melakukan pemeriksaan dalam. Ternyata pembukaan sudah memasuki angka 4. Sambil menunggu bidan datang dan pembukaan naik, asisten pun memeriksa tekanan darah saya. Masih dengan posisi rebahan dan menahan kontraksi, saya menghubungi suami memintanya segera datang ke klinik bidan.

Tak lama, Pak Suami dan bu Bidan pun datang. Pembukaan masih berada di angka 7. Saya sendiri sudah mulai kepayahan menahan kontraksi yang muncul. Beberapa kali saya nyaris menggigit tangan sendiri saat kontraksi melanda. Suami sendiri di sela proses pembukaan malah memilih kabur untuk salat Isya. Jadilah tinggal ibu saya yang menemani saya menahan kontraksi. Untung saat itu Yumna sedang tidur di rumah neneknya jadi ibu saya bisa turut menemani proses persalinan.

Mendekati pukul 11 malam, pembukaan pun lengkap. Bu Bidan pun memulai proses persalinan. Suami saya yang masih salat dipanggil untuk menemani saya yang akan melahirkan. Tak jauh berbeda dengan proses kelahiran anak pertama, saya sempat kepayahan mengejan. Bahkan untuk kelahiran anak kedua ini, selain infus, oksigen pun dipasangkan untuk membantu saya tetap bisa bernafas. Dan akhirnya, setelah beberapa kali mengejan akhirnya bayi laki-laki saya lahir dengan berat 3 kg dan panjang 51 cm.

Oleh suami saya, anak kedua ini diberi nama Yafiq Fahad Ramadhan. Yafiq berarti mulia, Fahad artinya harimau dan Ramadhan menunjukkan bulan kelahirannya. Jadi kurang lebih artinya adalah pemuda yang berjiwa pemberani seperti harimau dan berakhlak mulia yang lahir di bulan Ramadan.

Welcome to the world, Yafiq!
Baca Juga
Reactions

Post a Comment

4 Comments

  1. Alhamdulillah ya mbak, proses persalinannya lancar, anaknya juga sehat.
    Memang menginjak kandungan 9 bulan suka deg2an.. aku kemarin juga gitu.

    ReplyDelete
  2. Wahhh semoga anaknya sehat dan selalu diberikan rezeki dalam keluarga yaaa, semoga bisa segera bikin blog dan mulai nulis buat anaknyaaa.. Ayo nak jadi blogger :D

    ReplyDelete
  3. Adoowwwwhhh, bacanya sambil meringis!
    Saya tuh selalu kepo sebenarnya dengan lahiran normal, seperti apa rasanya?
    Lah saya punya 2 anak sama sekali belum tahu rasanya kontraksi, dua-duanya lahir ke dunia saat masih terlelap, jadi nggak ada adegan sakit2an kecuali lepas bius hilang hahaha

    Btw, saya pun baru sekali diperiksa dalam ama bidan, ampun malu dan ternyata kalau tegang jadinya sakit ya.

    Risih maksimal deh, kebayang kalau saya lahiran normal, sedang di cek pembukaan saja saya udah menggelepar saking malunya ahahhahaahah

    Btw, selamat atas anak keduanya yaaa mba Antung, semoga jadi anak sholeh aamiin :)

    ReplyDelete