[Materi Kulwap] Melatih Kecerdasan Emosional Anak untuk Mendukung Daya Pikirnya




Beberapa waktu yang lalu saya mendapat info soal kulwap tentang Melatih Kecerdasan Emosional Anak yang diadakan oleh Bebelac yang bekerja sama dengan Rumah Dandelion dan Mom Blogger Community. Sebagai seorang ibu dengan 2 anak, saya merasa materi kulwap ini pas banget buat saya.
Kulwap ini sendiri diselenggarakan pada 29 Juli 2019 lalu dengan narasumber Mbak Binky. Berikut sedikit rangkuman materi yang saya dapat dari kulwap hari itu. 

Apa itu IQ dan EQ? 


Kita semua pastinya familiar dengan 2 istilah ini, IQ dan EQ. IQ atau Intelligence quotient adalah kemampuan kognitif seseorang, sesuai dengan kelompok usianya, yang dapat membantu ia dalam menyelesaikan tantangan hidup sehari-hari. Atau bisa juga dijelaskan sebagai kemampuan berpikir anak dalam menentukan apa yang bisa ia lakukan dalam membantu lingkungannya. 

Sedangkan EQ atau sering kita kenal dengan sebutan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengenali emosi yang dirasakan diri sendiri dan orang lain, serta tahu bagaimana respon yang tepat atas emosi tersebut.

Kedua hal ini sama pentingnya dan saling berkesinambungan dalam membantu anak menjadi cepat tanggap yang lengkap. Dengan adanya EQ, anak menggunakan hatinya dalam melihat situasi bermasalah dalam lingkungan, yang kemudian memunculkan keinginan membantu. 

Namun, keinginan saja tentu tidak cukup. Anak perlu tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu. Dan untuk ini, dibutuhkan IQ. Jadi memang IQ dan EQ adalah 2 hal yang sama pentingnya dan perlu dikembangkan bersamaan sejak anak usia dini.

Baca juga : Grow Happy : Tak Hanya Sehat dan Tercukupi Nutrisinya, Anak Juga Perlu Tumbuh Bahagia untuk Masa Depannya


Perilaku anak yang cerdas secara emosional



Salah satu cara mudah untuk mengetahui anak yang cerdas secara emosional adalah dengan melihat kemampuan seseorang dalam berempati.

Empati sendiri adalah respon emosi dan berpikir yang kompleks terhadap kondisi emosional orang lain. Dengan memiliki empati, maka seseorang dapat melakukan 3 hal yang menjadi bentuk perilaku dari EQ, yaitu:
  • Merasakan apa yang dirasakan orang lain
  • Bersimpati
  • Melihat situasi dan berusaha menyelesaikan masalah dari sudut pandang orang lain

Dalam hubungannya dengan IQ, anak yang cerdas secara emosi, dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk menjalani proses belajar di sekolah dan lingkungan agar daya pikirnya meningkat. Contohnya, ketika di sekolah anak sedang bosan, jenuh, atau stress dengan tugas/tuntutan sekolah lainnya, tentu akan berpengaruh pada semangat dan motivasinya dalam belajar. 

Nah anak yang memiliki kecerdasan emosi, dapat membantu dirinya sendiri untuk mengatasi masalah tersebut dan tetap optimal mengikuti proses belajar. Dengan cerdas secara emosi, maka anak memiliki kemampuan regulasi diri yang baik, yang membantu untuk menjalani tanggung jawabnya sehari-hari.

Selain itu, anak yang cerdas emosinya akan mampu untuk berempati terhadap kesulitan yang dimiliki orang lain. Dan melalui empati ini, anak akan bisa memunculkan perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih. Perilaku prososial itu sendiri bentuknya bisa salah satu dari 3 hal ini, yaitu menolong, berbagi, dan bekerja sama.

Meski begitu, tetap dibutuhkan bantuan orang tua untuk anak sehingga mau membantu. Bantuan ini tidak sekedar orangtua secara verbal mengingatkan anak untuk membantu, tapi kesempatan belajarnya pun ada. Dalam hal memberikan bantuan sendiri, ternyata ada proses yang dilalui, yaitu:
  1. Menyadari adanya situasi bermasalah
  2. Menilai situasi tersebut butuh dibantu
  3. Menyadari adanya tanggung jawab diri untuk membantu
  4. Tahu apa yang perlu dilakukan
  5. Memutuskan untuk membantu
Jadi sebelum anak akhirnya bisa membantu, dia perlu belajar dari orangtua dan lingkungannya untuk mengenali adanya situasi bermasalah dan apa yang bisa dilakukan dalam situasi tersebut.

Baca juga : 4 Manfaat Memahami Kepribadian Orang Lain

Tahapan perkembangan empati



Tahukah Bunda kalau ternyata dari bayi baru lahir pun sudah dapat berempati? Tentunya bentuk empati pada bayi ini berbeda dengan empati yang ditunjukkan anak besar. Cara mengembangkan EQ itu pun disesuaikan di tiap kelompok usia anak. Melalui pengalaman belajar, cerita di buku, bermain peran, dan terutama mencontoh orang tua dan orang lain di lingkungan, maka EQ anak pun akan terstimulasi

Empati sendiri memiliki tahapan perkembangannya. Tahapan ini terbagi menjadi 4 tahap sesuai usia anak, yakni: 

Newborn reactive cry (usia 0-1 tahun) 

Di usia ini, bayi berada di tahap perkembangan empati yang disebut dengan nama Newborn Reactive Cry. Contoh dari empati pada bayi ini misalnya pada kasus tangisan yang menular. Misalnya saat beberapa ibu sedang berkumpul dengan bayi-bayi mereka yang seumuran, lalu ada 1 bayi nangis, dan tak lama bayi lain pun menangis sehingga terjadi nangis berjamaah. 

Hal ini terjadi karena bayi yang baru lahir bereaksi atas emosi yang dimunculkan oleh bayi atau orang lain di sekitarnya. Contoh lain dari empati pada bayi adalah saat orang tua sedang sedih atau stress, biasanya bayi akan ikutan rewel.

Egocentric empathy (usia 1-2 tahun)

Di tahap ini anak mulai dapat melihat masalah yang dialami oleh orang lain, tapi yang membedakan adalah cara mereka dalam mengatasi masalah tersebut. Jadi anak usia 1-2 tahun menunjukkan kemampuan empatinya sebatas pada kemampuannya mengenali distress atau ketidaknyamanan yang dialami orang lain tapi usaha penyelesaiannya adalah self comfort.

Misalnya melihat temannya nangis, alih-alih menenangkan teman, anak justru mencari mamanya dan minta dipeluk untuk menenangkan dirinya.

Half egocentric empathy (mulai berkembang usia 2 tahun keatas)

Untuk half egocentric ini, perilaku membantu sudah ditunjukkan, yaitu menenangkan si teman yang nangis. Tapi caranya adalah cara dia. Jadi misalnya, untuk menenangkan si teman yang nangis, anak kita justru memberikan mainan kesukaannya atau minta mamanya untuk memeluk si teman ini.

Jadi dalam tahap ini anak belum bisa membantu dengan cara atau solusi yang sesuai dengan kebutuhan orang lain tersebut. Makanya masih disebut dengan setengah egosentris.

Veridical empathy distress (mulai berkembang di usia 3 tahun ke atas)

Di tahap veridical ini, interaksi dua arah sudah mulai terjadi antar anak-anak.Dengan pengalaman belajar dan stimulasi yang sesuai, biasanya anak usia 3 tahun mulai bisa mengenali emosi diri sendiri, emosi orang lain, memiliki keinginan untuk membantu dan bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan temannya.

Jadi proses trial & error mulai dilakukan disini. Saat melihat temannya menangis, mulai ditanya kenapa dan apa yang bisa dibantu, coba-coba misalnya ajak main. Kalau tidak berhasil, beri pelukan, tidak berhasil juga, coba panggil orang lain. Dan seterusnya sampai anak merasa bahwa masalah sudah teratasi. 

Di tahap inilah terutama sekali pengalaman belajar dan mencontoh orang dewasa perlu dimiliki anak, agar ia tahu, dalam masalah tertentu, apa saja ya yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya.

Empathy beyond situation (berbeda-beda tiap anak, tergantung stimulasi lingkungan)

Kalau di tahap 1-4 sebelumnya anak bereaksi atas situasi yang secara langsung terjadi di depan matanya. Kalau yang di tahap terakhir ini, cakupan empatinya sudah jauh lebih luas. Kemampuan empati anak semakin meluas tidak hanya kepada temannya secara individu tapi juga kepada lingkungan dan komunitas secara umum. 

Misalnya melihat korban bencana alam di berita TV, lalu anak tergerak untuk memberikan bantuan sumbangan. Contoh lain seperti yang dilakukan anak Mbak Binky yang melihat ada sekolah di daerah terpencil pulau Sulawesi yang lantainya tanah, dan buku serta alat tulisnya harus bergantian. Melihat hal ini anak Mbak Binky bersama teman-temannya kemudian berinisiatif untuk membelikan alat tulis sejumlah murid di sekolah tersebut agar tidak perlu bergantian. 

Peran Orang Tua dalam Melatih Kecerdasan Emosional Anak




Sebagai orang tua, kita pastinya memiliki peran yang penting dalam melatih kecerdasan emosional anak, terutama dalam hal membantu orang lain. Seperti yang disebutkan di atas, dalam hal membantu orang lain ada tahapan yang dilalui yang disebut dengan istilah “Train of thought” untuk berakhir pada munculnya perilaku.

Jadi untuk bisa membantu orang lain yang dibutuhkan (1) anak lihat ada situasi bermasalah. Lalu (2) menilai situasi bermasalah tersebut sebagai sesuatu yang perlu dibantu dan (3) melihat dirinya bisa membantu. Kemudian (4) tahu apa yang bisa dilakukan untuk membantu. Dan akhirnya (5) membantu. 

Contoh paling sederhana sebenarnya ketika kita ingin memberikan uang kepada pengemis yang kita lihat di jalan. Kemudian ada orang yang berkomentar “Ngapain kamu kasihnya ke dia?" Komentar orang itulah yang disebut dengan konsekuensi negatif.

Contoh lain bisa kita lihat dari Melati Wijsen (di Bali) yang pada usia 12 tahun membuat gerakan Bye Bye Plastic Bag. Dari usia sangat muda sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama hingga mendapat penghargaan Bambi di Jerman. 

Bayangkan apa yang terjadi ketika niatnya untuk melakukan kebaikan Bye Bye Plastic Bags tidak disetujui dan didukung orangtuanya? Mungkin pengalaman belajar seperti diundang berbicara TedTalks di London dan berbicara di event PBB saat World Oceans Day di New York tidak akan pernah didapatkan Melati. 
Jadi, peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Melati bisa menginisiasi gerakan Bye Bye Plastic Bag di usia 12 tahun, pastinya bukan terjadi begitu saja. Sejak kecil kecerdasan emosionalnya pasti sudah terbiasa dilatih dan diasah oleh orang tuanya dan membantu juga dalam mengembangkan daya pikirnya. Sehingga muncul perilaku besar atau “grand gesture” di usia 12 tahun tersebut.

Bayangkan kalau dari kecil Melati pun tidak dibiasakan orang tua untuk melihat kesulitan yang terjadi di lingkungan, tidak dibiasakan turun tangan langsung dalam membantu orang lain, sepertinya akan sulit juga bila kemudian di usia 12 tahun dia muncul ide kebaikan sebesar itu.

Nah, untuk melatih dan membiasakan anak agar bisa cepat tanggap terhadap lingkungan, maka orangtua bisa lakukan hal-hal dibawah ini:
  • Children see, children do. Orangtua menjadi panutan anak agar muncul keinginan dari dalam diri anak untuk membantu.
  • Asah kemampuan menyelesaikan masalah dengan stimulasi kemampuan berpikir anak agar kecerdasan akal dan kreativitasnya terus meningkat.
  • Berikan pujian dan penghargaan atas usaha anak membantu orang lain agar ia semakin percaya diri dalam berinteraksi dan membantu orang lain.
  • Konsistensi dalam memberikan kesempatan, pengalaman, dan penghargaan agar pengalaman belajarnya bisa terus terjadi.
Selain 4 hal di atas, tentunya kita juga harus memastikan kebutuhan nutrisi anak tercukupi agar anak bisa sehat belajar. Ketika kebesaran hati dan daya pikir saling terhubung, maka anak pun dapat tumbuh menjadi cepat tanggap, punya rasa peduli, dan tanggap bersosialisasi. 

Itulah dia rangkuman dari kulwap tentang melatih kecerdasan emosional anak yang saya ikuti. Semoga bermanfaat :) 

Post a Comment

4 Comments

  1. Wah makasih sharingnya mbak, aku sekarang suka banget sama bacaan parenting kaya gini, nambah pengetahuan sebelum punya anak ehhehe

    ReplyDelete
  2. Suka dng ide menstimulasi anak untuk mbiarkan mereka melihat dan mengamati masalah di lingkungan sekitar. Karna kadang kita ortu malah cenderung mereka steril dari masalah. Melihat pun kalo bisa jangan.Padahal itu tidak selalu baik yaa

    ReplyDelete
  3. Saya rada cemas-cemas gimana gitu kalau diingatkan tentang children see, children do ini. Semoga bisa konsisten untuk bisa memberi contoh yang baik kepada anak. Terutama dalam hal cepat tanggap terhadap lingkungan itu ^^

    ReplyDelete