"Buibu, bagaimana caranya bisa legowo kalau anak
kita tidak pintar? Soalnya baru day 1 anakku sudah menunjukkan hal itu,
tidak menunjukkan tanda-tanda jadi juara kelas." Begitu bunyi utas threads yang muncul di beranda saya pagi itu.
Karena kesibukan kerja, saya
hanya membaca sekilas utas tersebut dan tidak membaca tanggapan para
pembaca. Belakangan saya tahu kalau utas ibu itu cukup viral dan
mendapat komentar negatif dari ibu-ibu yang lain. Yah, saya bisa
mengerti sih kenapa ibu-ibu lain memberikan reaksi negatif dengan utas
tersebut mengingat ibu ini sudah melabeli anaknya tidak pintar di hari
pertamanya sekolah.
Saya sendiri sebenarnya cukup mengerti dengan perasaan ibu pembuat utas tersebut. Sebagai seorang ibu, mungkin kita berharap anak kita menjadi yang terpintar di kelasnya. Bisa jadi selama di rumah, anak memang menunjukkan kemampuan yang membuat kita merasa ia lebih pintar dibandingkan anak-anak seusianya. Sayangnya begitu memasuki jenjang yang lebih tinggi, kenyataan menghantam kita ketika melihat ada banyak anak lain yang ternyata memiliki kemampuan yang tidak kalah, bahkan mungkin lebih menonjol.
Meski demikian, tentunya bukan hal yang bijak untuk menyebut anak tidak pintar hanya dari hari pertama sekolah. Bagi anak, sekolah merupakan sebuah lingkungan baru. Tidak semua anak bisa beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan baru dan menunjukkan bakat yang dimilikinya. Sebagai orang tua, mungkin kita perlu memberi anak waktu untuk beradaptasi sebelum menyimpulkan kemampuan mereka.
Ketika Anakku Ternyata Biasa Saja
Saat putri sulung saya Yumna masuk SD, saya sempat membayangkan kalau dirinya akan bisa menjadi salah satu murid berprestasi di kelasnya. Di mata saya, Yumna termasuk anak yang cukup pintar. Apalagi sebagai ibunya, saya sudah langganan masuk tiga besar saat seusianya dulu. Jadi secara tidak sadar saya juga mengharapkan prestasi yang sama pada anak saya.
Sayangnya hingga dirinya berada di kelas empat seperti sekarang, saya sementara harus mengubur harapan melihat anak saya berprestasi di kelasnya. Nilai rapor Yumna masih belum cukup untuk menempatkannya di peringkat lima besar kelas. Piala pun hanya beberapa karena Yumna tak mengikuti banyak lomba.
Hobi menggambar yang disukainya saat masih TK juga tidak mengalami peningkatan berarti. Padahal di mata saya Yumna memiliki ketertarikan pada menggambar yang masih bisa dikembangkan. Saya sempat membayangkan, siapa tahu suatu hari nanti ia bisa serius menekuninya dan menjadikannya sebagai salah satu kemampuan yang ia miliki. Siapa tahu kan anak saya bisa seperti Blogger Lolita, Mbak Tanti Amelia yang kerap membagikan ilmu soal Ilustrasi Canva bagi pemula.
Saya juga kerap mendorong Yumna untuk belajar menulis cerita-cerita seperti yang saya lakukan di blog seperti sekarang. Beberapa kali ia tampak tertarik namun sayangnya Yumna juga masih belum terlalu konsisten dengan kegiatan menulis cerita ini. Ini membuat saya kadang merasa apakah saya terlalu memaksakan anak saya untuk bisa menyukai hal yang saya sukai?
Setelah saya amati, ternyata putri saya ini memiliki karakter yang tak jauh berbeda dengan saya. Ia cenderung tenang dan tidak terlalu suka berkompetisi. Bagi Yumna, mendapatkan nilai yang cukup baik sepertinya sudah membuatnya merasa puas.
Kalau sudah begini apa yang harus ibu lakukan?
Ketika Saya Mulai Membandingkan Anak Sendiri dengan Anak Lain
Sebagai ibu, jujur kadang saya sedikit merasa iri saat melihat ibu lain entah itu yang saya kenal atau di media sosial yang memposting prestasi anaknya. Ada yang juara tilawah, juara menggambar, juara matematika, juara bercerita, dan berbagai prestasi lainnya.
Ada juga yang secara rutin membagikan kegiatan anaknya yang sangat aktif mulai dari les hingga kegiatan olahraga yang kadang membuat saya berpikir, "Wah pasti mereka benar-benar mengalokasikan waktu dan biaya untuk menggali minat dan bakat anaknya tersebut." Sementara untuk saya sendiri, sementara ini hanya bisa memfasilitasi Yumna dengan kursus mengaji dan les Bahasa Inggris untuk menunjang pelajarannya di sekolah.
Saya sendiri sempat bertanya kepada seorang teman kuliah yang cukup sering membagikan prestasi anak-anaknya di sosial media. Jawabannya sebenarnya cukup sederhanya. "Ikutkan anak di berbagai kegiatan sampai menemukan yang mana yang paling cocok," begitu katanya. Sebuah jawaban yang sangat masuk akal dan realistis.
Sayangnya bagi saya ada beberapa tantangan yang harus saya hadapi ketika memutuskan memberi anak berbagai kegiatan untuk menggali minat dan bakatnya. Sebagai ibu bekerja, saya harus memikirkan waktu, biaya, tenaga, dan berbagai urusan keluarga lainnya sebelum memutuskan mendaftarkan anak ke les tertentu.
Saya juga tetap harus memikirkan kondisi fisik anak apakah ia memang cukup kuat untuk mengikuti banyak kegiatan atau malah terbebani dan merasa lelah dengan padatnya jadwal yang harus dilalui setiap hari. Ada momen di mana Yumna mengeluh saat mengikuti sebuah kegiatan.
Dari situ saya kembali berpikir bahwa mengikuti berbagai kegiatan seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk mencoba dan menemukan hal yang disukai, bukan justru membuat mereka kehilangan waktu untuk beristirahat dan bermain.
Anak Berprestasi, Apakah Sebuah Kewajiban?
Jika dilihat dari sisi akademik, anak yang memiliki segudang prestasi memang bisa mendapat keuntungan tertentu dalam perjalanan pendidikannya. Salah satunya adalah prestasi tersebut, baik di bidang akademik ataupun non-akademik bisa membantu anak kita menembus sekolah-sekolah favorit atau jurusan tertentu.
Orang tua sendiri pastinya juga merasa bangga jika memiliki anak yang berprestasi. Deretan piala di rumah memang bisa membuat orang tua merasa bangga dan menjadi bukti bahwa anak telah berusaha mencapai sesuatu.
Meski demikian, bukan berarti anak yang tidak berprestasi tidak memiliki peluang untuk sukses. Setiap anak pastinya memiliki bakat dan minat yang berbeda. Hanya saja, tidak semuanya terlihat dalam bentuk nilai rapor, piala, atau sertifikat penghargaan.
Ada anak yang memiliki kemampuan akademik sangat baik. Ada yang menonjol dalam bidang olahraga atau seni. Ada pula yang mungkin memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, atau keterampilan lain yang belum tentu bisa terlihat dari prestasi di sekolah.
Bagi saya sendiri, daripada mengejar prestasi, lebih baik saya fokus untuk membantu menumbuhkan minat belajar dan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. Mungkin dari segi fasilitas masih jauh dari sempurna, namun saya ingin anak-anak saya tahu kalau orang tuanya akan berusaha sebisa mungkin agar anak memiliki kemampuan menghadapi dunia luar nantinya.
Hal lain yang lebih penting, saya sedang berusaha untuk tidak membandingkan prestasi anak-anak saya dengan anak lain sebayanya. Memiliki anak yang berprestasi memang membanggakan namun memiliki anak yang berperilaku baik dan tak gampang menyerah juga adalah nikmat yang patut disyukuri. Dan seperti sebuah dialog film Aku Sebelum Aku yang baru saja saya tonton, saya ingin bisa mencintai mereka apa adanya bukan karena prestasinya.
Penutup
Rasa iri ketika melihat prestasi anak-anak lain jika dibandingkan dengan anak sendiri mungkin merupakan hal yang wajar dirasakan orang tua. Saya sendiri masih mengalaminya. Namun, saya berusaha untuk tidak menjadikan rasa iri tersebut sebagai alasan untuk memberikan tekanan kepada anak agar ikut berprestasi.
Bagi saya, yang terpenting saat ini adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal berbagai hal, menemukan apa yang mereka sukai, dan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki sesuai dengan minat dan keinginannya.
Saya mungkin masih akan merasa gemas ketika melihat Yumna belum berusaha maksimal atau belum memiliki prestasi seperti anak-anak lain. Namun, saya juga ingin belajar menerima bahwa setiap anak memiliki waktunya masing-masing.
Pada akhirnya, saya tidak ingin anak-anak tumbuh dengan perasaan bahwa mereka harus berprestasi agar bisa membuat orang tuanya bangga. Saya ingin mereka tahu bahwa menjadi anak yang baik, mau belajar, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha juga merupakan sebuah pencapaian yang layak dihargai.
Baca Juga
27 Komentar
Aku setuju sama yang Mbak rasakan di tulisan ini. Kadang sebagai orang tua memang tanpa sadar mengukur prestasi anak dari pencapaian yang kelihatan: juara lomba, dapat piala, ranking, dan sebagainya. Padahal sebenarnya banyak hal lain yang menurutku juga layak disebut sebagai prestasi.
BalasHapusAku pribadi, ngukur prestasi anak nggak melulu dari pencapaian-pencapaiannya dalam kompetisi. Malah lebih sering melihat hal-hal sederhana yang dia lakukan sehari-hari.
Misalnya ketika anakku dipercaya menjadi ketua tim kreatif untuk sebuah event di sekolahnya. Dia mau terima kepercayaan itu, mengerjakannya, lalu menyelesaikannya dengan baik. Buatku, itu sudah sebuah pencapaian. Begitu juga ketika dia bisa mengerjakan tugas-tugas tepat waktu dan nggak menunda-nunda. Kelihatannya sepele, tapi menurutku itu justru bagian dari belajar bertanggung jawab.
Karena nanti toh anak nggak selamanya akan berada di sekolah dan ikut kompetisi. Akan ada waktunya dia dipercaya orang lain, diberi tanggung jawab, harus menyelesaikan sesuatu, dan harus bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Jadi menurutku, anak yang nggak punya banyak piala bukan berarti nggak punya prestasi. Bisa jadi prestasinya memang nggak berbentuk piala. Bisa jadi terlihat dari keberaniannya menerima tanggung jawab, kemauannya menyelesaikan sesuatu, atau dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang menunjukkan dia terus belajar menjadi lebih baik.
Dan menurutku, hal-hal seperti itu juga patut kita apresiasi sebagai orang tua. ❤️
Saya pun pernah di posisi serupa Kak, sewaktu hari kenaikan kelas di mana banyak anak di tiap kelas naik panggung untuk menerima hadiah dan penghargaan, sedangkan anak kita tidak, rasanya itu jadi campur aduk.
BalasHapusTapi setelah dirasa-rasa, memang prestasi itu tak selalu berbentuk piala. Menikmati momen-momen kecil seperti anak-anak di rumah yang biasa mengucapkan terima kasih jika menerima sesuatu bahkan minta maaf jika dirasa bersalah, ternyata bahagianya luar biasa melihat mereka menjaga adab dengan baik. What an achievement.
Pada akhirnya kita sebagai orang tua harus belajar memahami bahwa bakat dan minat setiap anak-anak itu unik dan berbeda-beda. Ada yang sudah terlihat dari kecil, dan ada pula yang masih berproses mencari mana yang membuat mereka nyaman menjalaninya. Semoga kita sebagai orang tua bisa mendampingin tanpa harus menghakimi mereka untuk menemukan passion mereka masing-masing
Iyaa sie rasanya terlalu dini kalo baru hari pertama masuk sekolah trus melabeli anak sendiri dengan sebutan tidak pintar karena ini baru hari pertama sekolah dan dia sedang dalam masa adaptasi dengan lingkungan dan suasana yang baru...
BalasHapusDan tidak semua orang juga memiliki jiwa kompetitif seperti saya pun juga bisa dibilang kurang kompetitif yang penting saya paham saya tau dan saya sudah berusaha kalo pun hasilnya dinilai kurang ya sudah hehe...
Dan setuju dngan statement mba antung kalo setiap anak nanti pasti ada moment nya sendiri dimana nanti mereka akan menemukan nahhh ini dunia ku disana nanti mereka akan lebih banyak lagi berkarya dan berkembang
Setuju apa yang dituliskan oleh mba, bahwasannya tidak penting sebetulnya agar anak kita berprestasi, kita biarkan saja anak kita menjadi versi terbaiknya masing - masing.
BalasHapusTugas kita yang utama adalah mendidik, memberinya gizi yang baik, dan membekali mereka dengan kemampuan yang nantinya berguna dimasa depannya.
Prestasi kadang datang juga memalui bakatnya, bilamana bakatnya tidak ada maka akan sulit buat kita untuk melatihnya, tapi jika bakat terhadap sesuatu sudah ada sejak kecil maka poles dikit aja bisa jadi.
baru day 1 dan ibunya udah berpikir begitu, memang ga disarankan sih.... day 1 blm bisa jadi patokan apakah anak itu tidak akan jadi juara kelas atau bisa menjadi... toh dia masih adapatasi jugaaa, dengan teman, guru...
BalasHapusdan aku belajar dari pengalaman sendiri mba... zaman sekolah dulu ada temenku yg selalu jadi juara kelas.. sering menang kompetisi... ada 1 orang juga yg terkenal nakalnya... raport ga usah dtanya, 30 besar selalu hahahahahah... kdg ranking trakahir, kadang 5 tingkat di atas yg terakhir ;p
tapi skr ini, si langganan juara kelas malah biasa aja karirnya... bisa dibilang jenis kerja yang banting tulang tp yang di dapat cuma cukup utk memenuhi keperluan pokok.
sementara temenku si langganan ranking bawah, malah udh kerja di oil company di Qatar :D .
melihat dari hal itu aja, aku ambil kesimpulan, sukses tidaknya seseorang ga cuma dari akademik... banyak hal yg mensupport. bisa dari cara dia bersosialisasi, komunikasi nya bagus, atau bahasa asingnya bagus.. bisa jadi pas zaman sekolah memang masih nakal2nya, tp giliran kuliah dia mulai serius. bisa jadi dia pun rajin terlibat dalam kegiatan agama sehingga mungkin jalannya banyak dimudahkan.
jadi aku ga akan menjudge anak tidak pintar, malas dll... takutnya juga jadi doa... yg aku lakuin, support anakku melakukan apa yg dia suka, selagi tidak bertentangan agama. kayak si anak sulung passionnya itu bahasa asing... math dan pelajaran IPA lainnya, dia kurang. ya gapapa, asal dia mau fokus dalam bahasa asing, tp at least tetep berusaha belajar yg lain, buatku cukup. ada effortnya... masalah hasil, biarlah nanti dilihat.
Sedih juga, bila ada seorang ibu yang lansung bilang anaknya tidak pintar di sekolah, padahal baru hari pertama sekolah. Apa si Ibu ga sadar atau ga tahu, kalua semua butuh proses. hari pertama, ya si anak masih tahap adaptasi di sekolah. nanti seiring waktu dia akan berkembang dan berproses juga.
BalasHapusLagipula setiap anak itu istimewa, memiliki kemampuan masing-masing. Ada yang indar di akademik, tapi ada juga yang menonjol di olahraga atau seni. Dan semua itu harus mendapat dukungan dan jadi suatu kebanggaan orang tua.
sebagai orang tua kadang tanpa sadar kita suka naruh ekspektasi ketinggian ke anak. Kebawa bayang-bayang masa lalu atau malah kena imbas pamer prestasi di medsos. Padahal proses tiap anak itu beda dan nggak bisa dipatok cuma dari hari pertama sekolah atau nilai rapor.
BalasHapusmencintai anak apa adanya dan ngajarin mereka pantang menyerah jauh lebih berharga daripada tumpukan piala. Makasih sudah ngingetin ya Mbak Antung kalau anak bukan wadah ekspektasi kita, tapi jiwa yang butuh dirangkul sesuai ritme tumbuhnya sendiri.
Punya anak yang berprestasi tentu akan sangat membanggakan. Tapi, jangan lantas kita memaksakan dia untuk berprestasi. Biarkan dia berkembang dengan minat dan bakatnya sendiri.
BalasHapusAku setuju dengan kata teman kakak. Bahwa anak sudah sewajarnya diikutkan banyak aktivitas. Biar ketemu minat dan bakatnya di mana.
Waktu saya usia 20an, kerja di majikan ada anak sekitar setahun dan tiga tahun. Ayah ibunya ketat dan disiplin banget kepada anaknya itu. Dengan harapan saat besar nanti karakternya sudah terbentuk
BalasHapusWalaupun prestasi mereka tidak sempurna
Ini jadi cermin buat saya kalau orang tua bijak dan berpikiran terbuka yang terpenting saat demikian adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal berbagai hal, menemukan apa yang mereka sukai, dan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki sesuai dengan minat dan keinginannya. Jadi tidak ada paksaan tapi kita arahkan dan mendukungnya ya...
Dulu sebelum punya anak suka mikir gini: Keren ya anaknya berprestasi. Besok kalau jadi orang tua mau dong punya anak kayak gini. Sekarang pas jadi orang tua, justru kudu mengurangi ekspektasi sambil terus mendampingi anak.
BalasHapusKita mungkin punya bayangan anak akan unggul di bidang tertentu, dapat nilai bagus, menang lomba, atau terlihat menonjol dibanding teman-temannya. Padahal setiap anak punya ritme, minat, dan waktunya masing-masing untuk berkembang.
Aku juga pernah merasa khawatir ketika melihat anak lain tampak lebih cepat menguasai sesuatu. Rasanya refleks banget membandingkan, meskipun sebenarnya kita tahu itu nggak adil. Dari tulisan ini aku jadi diingatkan lagi bahwa prestasi anak seharusnya nggak cuma dilihat dari piala, ranking, atau nilai akademik. Bisa jadi keberanian mencoba, mau bertanggung jawab, punya empati, mampu berteman, atau tetap berusaha meski belum berhasil juga merupakan bentuk pencapaian yang sering luput kita lihat.
Yang paling aku rasakan dan masih kuupayakan sampai sekarang sebagai orang tua adalah menyediakan ruang agar anak bisa mencoba banyak hal tanpa selalu dibebani kewajiban untuk menjadi hebat di sana.
Jadi engeh daku bagaimana cara orangtua melihat anaknya sendiri dan anak orang lain, bahwa rasa iri itu memungkinkan ada ya, tetapi bagaimana bijaknya orangtua menyikapinya sehingga tidak menghakimi/menyombongkan anaknya sendiri karena perbandingan yang bisa saja tidak sesuai
BalasHapusHidup di dunia yang penuh kompetisi memang membuat kita sadar nggak sadar menilai prestasi dengan membandingkan dengan manusia lain. Misal juara kelas, juara lomba atau apapun itu pasti perbandingannya orang lain.
BalasHapusJadi wajar saja kalu kita lihat orang lain meraih sesuatu, rasa membanding-bandingkan itu selalu muncul. Jarang banget kita ini membandingkan dengan diri sendiri. Misal dulu nggak bisa ini, terus sekarang bisa, berarti kita sudah berkembang. Sayangnya berkambang saja nggak pernah dianggap sebuah prestasi.
Aku punsebisa mungkin nggak memnadingkan anak dengan orang lain. Selama anak terus berkembang itu sudah cukup.
Setiap anak itu unik dan mereka istimewa dengan caranya masing-masing. Daripada sibuk menutupi kekurangannya lebih baik menumbuhkan minatnya dan kelebihannya. Meninggikan gunung bukan meratakan lembah.
BalasHapusSaya sendiri tidak suka dibandingkan dengan orang lain, begitu pula dengan anak-anak, mereka pun tidak suka dibandingkan dengan orang lain
Salut nih buat bunda yang ga mau atau terlalu menekan kehidupan anak utk bs bagus dlm nilai rapor. Bs jadi tuh ibunya dendam ama masa lalu. Pokoknya hrs dpt ranking atau menang lomba biar banyak piala dipajang di sekolah atau rumah.
BalasHapusPdhl kita tahu, setiap anak itu unik. Punya karakter masing2. Ga bs disanaratakan.
Akan lbh baik tuh anak mendapatkan pengalaman belajar yg bgs. Atau mereka punya semangat belajar lebih meski tdk ditunjukkan dgn nilai yg bgs.
Soalnya, masa depan seseorang tdk ditentukan dr nilai rapor. Tapi skill apa yg bs bermanfaat utk menunjang kehidupannya kelak.
Suka banget sama pola pikir mbak. Meski sempat dilanda rasa iri terhadap prestasi anak lain, mbak tidak egois dan nggak memaksa anak harus berprestasi.
BalasHapusTekanan dari ortu itu bisa menyebabkan banyak trauma soalnya. Langkah yang mbak pilih bijak dan tepat. Cukup ketahui apa potensi anak, optimalkan, arahkan, semoga saja kesuksesan jalur passion bisa ia raih kelak.
Mungkin ini pandangan ku yang belum punya anak ya. Kalau punya anak, aku belum bisa memastikan dapat berpikir bijak kayak mbak.
Mbak Antung tulisannya sangat mewakili aku juga sebagai orang tua. Memang nggak bisa dipungkiri rasa iri atau khawatir itu kadang suka datang halus-halus ya, apalagi kalau lihat anak lain. Tapi kembali lagi, anak bukan wadah ekspektasi kita. Menghargai proses, karakter, dan usaha anak itu jauh lebih berharga daripada tumpukan piala.
BalasHapusDi era gempuran sosmed yang sering membuat kita overthinking sama pencapaian anak, pengingat seperti ini beneran berharga banget. Setiap anak punya ritme dan waktunya sendiri ya, Mbak. Yang terpenting anak merasa dicintai, mau berusaha, dan punya karakter yang baik.
Dulu aku pas kecil pernah ngalamin nuh tuntutan macem begini. Jadi kalo rankingku biasa-biasa saja, orangtuaku bisa ngoamoookkkk luar biasa. Sampe gurunya disamperin segala lho, heuheu.
BalasHapusMakanya sekarang pas udah punya anak, aku berikrar bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan prestasi, tidak akan lagi aku paksakan. Biarlah, dia sendiri yang kelak menentukan arah hidupnya, dan apa yang masuk ke dalam minatnya. Tugas saya, cukup sampai mengarahkan saja.
Jangan sampai obsesi untuk memiliki anak berprestasi, justru jadi pisau bermata dua. Akhirnya anaknya malah stress. dan makin terbebani. Sekalinya berprestasi, malah nggak bahagia.
Sepakat mbak, tiap anak itu unik dan istimewa dengan caranya masing-masing
BalasHapusDaripada membandingkannya dengan anak lain lebih baik membandingkannya dengan dirinya dulu dan sekarang, karena kita sendiripun tidak mau dibandingkan dengan orang lain bukan
Daripada meratakan lembah aka sibuk menutupi kekurangan lebih baik meninggikan gunung aka mengasah kelebihan agar menjadi lebih baik. Tidak perlu sama dengan orang lain kok karena kan tiap anak memang beda
Sepakat banget mb, mengasah minat dan bakat lbh oke dibanding prestasinya. Malah hepi banget kl bisa berprestasi d hal-hal yg bikin anak hepi. Cuman tdk smua ortu paham kl anak punya minat, bbrp ortu masih mngejar prestasi anak2 yg kadang anak kekurangan waktu bermain..
BalasHapusNaah ini banyak terjadi di masyarakat...biasanya orang tua mengestafetkan cita² dan mimpinya yang tak kesampaian pada anaknya. Alhasil anaknya kasian stress harus mengikuti impian ortunya. Asli saya sendiri pernah melihat hal ini terjadi. Anak gak berhasil atau tidak juara ortu kecewa , marah.
BalasHapusPadahal saat anak berjuang dan berproses melewati semua yang harus ditemui saat melakukan suatu hal atau saat berkompetisi itu sudah lebih dari prestasi. Meski tidak membawa piala tapi anak sudah berjuang dan membangun mental juara.itu lebih dari sebuah piala...ortu harus menghargai sekecil apapun pencapaian anak.
Hihihi aku juga merasakan hal yang sama kok mbak. Anak2ku kalau soal prestasi akademis atau apalah belum terlalu menonjol. Tetapi ya sudah sih, aku fokes ke anak2ku sendiri, nggak mau lihat anak orang lain. Biasanya aku nyari2 info kegiatan2 yang bisa mereka ikuti, kalau emang mereka Ok dan ada dananya ya ayok kita join.
BalasHapusSekarang kami homeschooling dengan PKBM, lumayan sih, dari segi kek melihat persaingan antar orang tua, kami jauh dari drama2 itu.
Aku sebenarnya suka aja lihat anak2 lain berprestasi, cuma di zaman now sayangnya prestasi itu kek "cuma" buat masuk sekolah nggak sih? Padahal di balik itu ada banyak hal yang lebih penting.
Tapi ya gimana, sistem pendidikan kita yang kacau membuat ortu begitu. Selama anak mereka happy yawda ikut seneng aja.
Sementara ke anak2 sendiri juga kita fokus bangun portfolionya, mulai akademis sampai non akademis. Ntar gedean dikit bisa kita dorong join kegiatan volunteering yang sesuai sama minatnya aja.
Kalau ada prestasi ya alhamdulillah, kalau belum ada mari kita semangati. Pokoknya ortunya nggak putus asa menyemangati dan mendoakan :D
Boong kalo ga iri yaa..
BalasHapusAnak ku pun biasa biasa aja.. hihii.. even ikutan OSIS pun, ga mau. Istilahnya di sekolah anakku OSMIB.
Kata anakku "Aku Uda cape belajar, mah.. harus banget ngelayanin orang lagii??"
Hihi..yauda laah.. aku dulu juga engga ikutan siih.. tapi kadang pan kepo yaa . Gimana rasanya berorganisasi.
Bener bener turunin standar dan ga perlu ngliat anak orang. Semoga anak-anak bahagia punya orangtua ga sempurna kaya aku.. dan masih sadar betul kalau belajarku kurang... Jadi perkuat dengan jalinan komunikasi agar anak-anak punya prinsip hidup yang benar menurut Allāh dan RasulNya.
Barakallahu fiikunna buat kita semua para pendidik.
sebaiknya tidak terlalu berekspektasi tinggi namun tetap berdoa untuk yang terbaik :') semangat para orang tua
BalasHapusEh masih ada sistem ranking mbak? Soalnya rata-rata di sekolah-sekolah di Jawa udah gak ada ranking. Malah rapornya deskripsi.
BalasHapusYumna berarti tipe melankolis apa plegmatis Mbak?
Setuju sih Mbak, lebih penting untuk memotivasi anak agar suka belajar. Dihargai, disemangati, bukan dipaksa berprestasi.
sebenarnya memang nggak ada lagi sih sistem ranking cuma kadang ada guru yang punya daftar peringkat muridnya di kelas yang nggak diumumkan jadi bisa ditanya pas pembagian rapor
HapusBerasa banget yaa, ka Antung... akupun kalo ada pengumuman dari sekolah anak-anak suka kepo, adakah nama anakku?
BalasHapusSaat gak berharap, malah ada.
Itulah yaa.. kalau kita bersyukur, in syaa Allah akan Allah tambahkan nikmatNya.
Meski gak berupa prestasi, tapi bisa berupa critical thinking ananda ketika menghadapi sebuah masalah.
Semua ortu pastinya ingin punya anak berprestasi. Tapi gak baik juga jika kita terlalu ngepush si anak untuk berprestasi seperti yang kita mau. Dulu aku sama anak pertama dan kedua, agak ngotot kepengen mereka berprestasi secara akademik di sekolahnya. Tapi lalu lihat mereka sangat kepayahan dan kelihatan stres, jadinya aku minta mereka lakukan yang terbaik, hasilnya gimana itu terserah. Karena bakal nyesel kalo gak do the best. Dan akhirnya balik lagi, mereka punya kelebihan masing2. Tidak di akademik, ternyata ada yg di seni, olahraga, dan yang lainnya. Alhamdulillah sekarang ke anak ke-3 dan ke-4 aku gak terlalu maksa. Yang penting mereka do the best. Perkara hasil nanti akan kelihatan sendiri. :D
BalasHapus