Dari Buku Harian Menjadi Catatan Jurnal Harian



Buku harian

Jika menyebut kata ini kenangan saya langsung terbang ke masa-masa di mana saya cukup rajin menuliskan berbagai cerita kehidupan di masa sekolah dulu. Mulai dari cerita sekolah sampai cerita tentang gebetan rasanya saya tuliskan di buku berukuran A5 tersebut. Saya lupa apakah buku-buku diary di masa sekolah ini masih ada namun seingat saya benda tersebut masih ada yang terselip di lemari di rumah ibu. Mungkin jika saat ini saya membaca kembali tulisan tersebut akan terasa menggelikan dan pastinya membangkitkan nostalgia.

Tak hanya menulis diary di buku tulis, saya juga sempat menuliskan catatan harian di dokumen word di komputer. Saya ingat sekali kala itu saya sudah berstatus mahasiswa dan alhamdulillah sudah dibekali komputer sendiri oleh almarhum ayah saya. Karena memang di masa itu saya sangat suka mengetik di komputer dan tulisan tangan saya juga jelek, jadilah saya menuliskan berbagai cerita di masa kuliah di komputer tersebut. Tentunya file-nya saya beri password agar orang tak bisa membaca. Nah, untuk diary dalam bentuk word ini sayangnya filenya sudah hilang karena komputernya juga sudah ada lagi dan saya tidak sempat memindahkannya ke drive cloud.

Beralih ke dunia blog, seperti yang kita semua ketahui blog juga bisa dibilang sebagai bentuk dari buku harian kita. Bedanya sekarang menulis cerita keseharian di blog bisa memberikan tambahan penghasilan bagi kita entah itu dari job menulis atau bahkan mungkin dari mengikuti sebuah lomba. Selain bisa memberikan tambahan penghasilan, menuliskan cerita dan pengalaman hidup kita di blog juga bisa memberikan manfaat dan ladang pahala jika tulisan tersebut bermanfaat bagi orang lain. 

Di awal-awal ngeblog, saya juga cukup sering curhat tentang kegalauan saya di pertengahan usia 20-an di masa itu. Ada momen ketika saya membaca lagi tulisan-tulisan lama saya di blog dan langsung merasa, "duh lebai banget ini tulisannya." Hehe. Sekarang, seiring dengan pertambahan usia dan pergeseran fungsi dari ngeblog yang tak hanya sebagai media curhat namun juga jadi wadah promosi, porsi curhat saya semakin berkurang dan tentunya tata bahasa tulisan juga sudah berubah menyesuaikan seiring perjalanan saya dalam dunia menulis.


Mengganti buku harian menjadi catatan jurnal harian



Kembali lagi ke buku harian dalam bentuk yang sebenarnya, beberapa tahun terakhir kita juga mungkin cukup sering mendengar sebuah istilah yakni journaling yang mengacu pada sebuah kegiatan menulis di buku namun dengan format jurnal atau yang sempat populer disebut bullet journal. Berbeda dengan menulis di buku harian yang sifatnya sebagai tempat curhat, bullet journaling ini memiliki konsep yang lebih terarah dan bisa membantu kita untuk lebih produktif dan lebih fokus mencapai tujuan. Karena itulah dalam bullet journal ada yang namanya log, tracker, goal hingga juga jurnal syukur yang bisa memberikan afirmasi positif bagi kita.

Saya sendiri sempat tertarik untuk membuat bullet journal seperti yang sempat booming beberapa tahun lalu itu. Sayangnya saya bukanlah orang yang estetik sehingga bullet journal yang saya buat lebih ke catatan jurnal harian biasa yang ditulis berdasarkan tanggal untuk 1 bulan. Jadi saya membeli sebuah buku agenda berukuran A5 yang di setiap pergantian bulan akan siapkan 2 halaman untuk diisi dengan urutan tanggal selama 1 bulan dan akan saya isi dengan kegiatan atau deadline tulisan yang harus saya kerjakan.

Selain memuat kegiatan harian, di jurnal yang saya buat ini saya juga mencatat job blogger yang saya terima, ide-ide tulisan, rencana belanja dan juga kadang catatan dari webinar yang saya tonton di kanal youtube atau zoom. Tak hanya itu, kadang catatan jurnal milik saya ini juga berisi beberapa cerita penting yang terjadi setiap harinya yang tidak cukup ditulis di bagian tanggal yang memang hanya 1 baris. Jadi kalau misalnya saya ingin menulis di blog terkait perjalanan saya bersama keluarga yang sudah saya lakukan saya tinggal buka jurnal ini. 

Nah, selain catatan jurnal harian, saya juga memiliki satu lagi buku jurnal khusus untuk afirmasi positif sekaligus jurnal syukur. Ceritanya saya mau mempraktikkan Law of Attraction yang sempat saya pelajari dari kanal Youtube Tresnany. Sayangnya untuk jurnal afirmasi positif ini saya masih kurang konsisten dalam mengisinya padahal sebenarnya kegiatan ini katanya bagus sekali untuk memancing semesta dalam mewujudkan impian. Yah, semoga saja nanti saya bisa lebih rajin dalam menulis jurnal afirmasi positif dan jurnal syukur ini ya.

Manfaat yang dirasakan setelah membuat catatan jurnal harian

Seperti yang saya tulis di atas, menuliskan jurnal seperti bullet journal memberikan banyak manfaat bagi kita. Tak seperti buku harian yang lebih seperti catatan curhat, jurnal sederhana yang saya tulis ini memuat banyak informasi yang bisa membantu dalam meningkatkan produktivitas. Salah satu yang paling nyata pastinya adalah adanya adanya jadwal-jadwal dan rencana kegiatan yang harus saya penuhi pada tanggal-tanggal tertentu. Mungkin jurnal yang saya buat tidak terlalu detail seperti jadwal kegiatan harian per jam yang dibuat orang-orang namun tetap saja ini adalah sebuah kemajuan buat saya yang orangnya benar-benar santai mengikuti arus.
 
Jujur salah satu tujuan saya akhirnya memiliki jurnal harian ini adalah agar saya bisa hidup dengan lebih terfokus dan memiliki goal yang terarah. Kalau menilik ke belakang, jujur ada banyak kesempatan yang saya lewatkan karena saya yang terlalu santai menjalani hidup dan mungkin karena pengaruh kepribadian saya yang plegmatis ini. Jikalau sejak muda saya belajar tentang produktivitas, mungkin pencapaian saya bisa lebih dari sekarang. Tapi ya tidak ada gunanya untuk menyesali yang telah berlalu, bukan? Yang bisa dilakukan sekarang adalah belajar lebih banyak agar bisa lebih baik dari sebelumnya.

Sekian dulu sedikit curhat saya tentang buku harian di blog ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman sekalian!
Baca Juga
Reactions

Post a Comment

7 Comments

  1. Beberapa penulis terkenal menerbitkan buku mereka hasil dari coret-coret iseng di diary mereka. Di tangan yang tepat, suatu hal yang sia-sia seperti mencatat hal-hal kecil bisa menjadi suatu karya. Dengan memiliki jurnal pribadi, kita bisa melihat pencapaian yang sudah terjadi selama ini

    ReplyDelete
  2. Journaling dan menulis buku harian amat banyak manfaatnya ya. Saya sendiri udah lama ga journaling setiap hari. Tapi beberapa kisah tetap dituliskan di blog. Karena biar blognya aktif dan berguna. Kayaknya mau bikin journaling tipis-tipis lagi deh biar semua terdokumentasi dengan baik

    ReplyDelete
  3. Saya juga sempet pengen bikin bullet journal, tapi karena saya gak sabaran dan tulisannya jelek, saya menyerah.

    Palingan saya nulis agenda aja, itu pun kerjaan. Hihihi

    ReplyDelete
  4. Wahh aku baru follow akun IGnya Tresnany. Menarik banget emang.

    Nulis diary dan jurnal syukur emang bikin lega ya mbak Antung. Semoga makin istiqomah nulisnya.

    ReplyDelete
  5. Dengan mencatat seperti ini memudahkan banget melakukan aktivitas yang ingin dilakukan, jadi gak kelewat dan lebih tertata aja. Apalagi kek saya yang lupaan banget, jadi catatan seperti ini sangat dibutuhkan..

    ReplyDelete
  6. Saya senang membaca catatan diary orang2. Saya cukup yakin, orang yang mampu menulis catatan harian adalah orang berintelektualitas tinggi.
    Saya tidak bisa membedakan diary dengan jurnal harian, tapi keduanya tetap saya nikmati

    ReplyDelete
  7. udah lama ga nulis, jadi kangen meluapkan perasaan di buku :')

    ReplyDelete