Surat Cinta untuk Diriku



Menulis surat terutama untuk diri sendiri merupakan hal yang jarang saya lakukan. Mungkin karena saya merasa hal tersebut terlalu personal sehingga saya enggan melakukannya. Namun ada kalanya kita perlu menulis surat untuk melepaskan emosi dan kegundahan yang ada pada diri kita. Menulis surat juga bisa menjadi wadah bagi kita untuk mengapresiasi diri sendiri. 

Berikut adalah sebuah surat yang saya tulis untuk diri sendiri di tengah kegalauan hati karena beberapa kejadian yang harus saya alami beberapa waktu terakhir. 

Surat cinta untuk diriku

Untuk diriku di masa lalu, 

Apa kabarmu di masa lalu? Apakah kejadian di hari itu sangat menyiksa dirimu karena sampai sekarang kau masih tak bisa melupakan bayangan hari di mana kau sangat terluka. Kau duduk sendiri di sudut kamar sambil menyusut air mata. Badanmu terasa sakit, namun hatimu jelas lebih sakit. Kau tidak mengerti mengapa hukuman harus diberikan dalam bentuk pukulan. Yang kau tahu orang tuamu hanya berusaha untuk menjadikanmu anak yang penurut dan baik di masa depannya. 

Lalu kini kau memandang dirimu sendiri. Berkali-kali meledak saat mengurus anakmu. Mereka kau bentak, kau lempar barang di saat emosimu tak terkontrol. Untung kau masih menahan diri untuk tidak memukul mereka. Mungkin itulah alasan mengapa kau tak suka berlama-lama dengan anak-anakmu, karena emosi yang bisa meledak bisa menyakiti anak-anakmu. Karena kau tahu mungkin kau takkan bisa sabar menghadapi tingkah mereka sehari-hari. 

Dan lihatlah kini kau merasakan sendiri akibat dari emosimu yang tidak terkontrol itu. Anakmu menjauhimu, berkata tidak sayang padamu. Rasanya sakit sekali. Kau minta maaf padanya tapi dia tak peduli anakmu hanya ingin berada di rumah yang menyayanginya tidak bersama ibu yang bisa meledak waktu-waktu. Kau kemudian bertanya apakah kau bisa memperbaiki kesalahan ini? 

Dear diriku di masa kini, 

Benarkah kau baik-baik saja? Karena ternyata ada banyak hal yang kau simpan dalam hatimu. Rasa sakit dan kecewa yang terkubur dalam memori kerap menghantui langkahmu. Apakah itu karena kenangan itu begitu melekat pada tubuhmu sehingga sulit bagimu untuk melepaskannya?

Aku tahu kau sudah berusaha untuk menyelesaikan masalah dalam dirimu. Kau membaca berbagai buku parenting, mengikuti kelas tentang inner child tentang Luka, Performa dan Bahagia dan juga belajar untuk merangkul dan memeluk masa lalumu. Namun apakah kau sudah benar-benar mempraktekkan ilmu ilmu yang kau dapat itu? Atau kau hanya membaca-baca dan lalu lupa hingga kemudian kau tersadar kalau kau belum sembuh dan masih terluka? 

Untuk diriku di masa kini, 

Mungkin kau perlu duduk sejenak menemui kembali sosok masa kecilmu dan mengasihinya kembali, memberinya pelukan, membalut lukanya mengatakan padanya kalau kau selalu dicintai. Ingatlah bahwa orang tuamu mungkin melakukan kekerasan karena mereka juga mengalaminya di masa kecil. Tugasmu sekarang adalah mengasihi dirimu sendiri agar bisa sembuh dari luka yang menyakitimu di masa kecil. 

Untuk diriku di masa kecil, terima kasih karena kau bisa tumbuh dengan baik meski ada beberapa kenangan buruk dalam hidupmu. Luka yang kau rasakan di masa lalu, semoga bisa segera terobati oleh dirimu di masa kini yang mau berusaha untuk lebih mengenali dirinya sendiri dan berusaha untuk tetap bahagia. 

Untuk diriku di masa depan, 

Aku berharap kau sudah menjadi sosok yang lebih baik dari sekarang. Kau bisa melihat anak-anakmu tumbuh dengan baik dan menyayangimu. Dan yang lebih penting, kau hidup berbahagia dan bisa menyelesaikan masalah yang ada dengan emosimu sehingga menjadi sosok yang lebih bijaksana.

Salam sayang dariku untukmu. 

Baca Juga
Reactions

Post a Comment

1 Comments

  1. *Peluk mba Ayana dari jauh 🤗. Terkadang memang luka masa kecil sangat berbekas sampai akhirnya kebawa dewasa ya mba. Ada juga luka yang hanya dikasih sekali, tapi itupun terbawa terus di minda si anak. Krn aku juga pernah ngerasain.

    Kadang nyesel udah marahin anak2, padahal kesalahan mereka ga sampai harus dimarahin segitunya 😭. Nyesel banget kok, dan akupun masih ditahap belajar utk menahan dan mengontrol emosi supaya ga lepas begitu aja. Bersyukur ya ada suami sebagai support system yg ngerti kenapa aku begitu.

    Kita sama2 nyembuhin luka lalu ya mba. Krn akupun ga kepengin hubunganku dgn mereka jadi Bener2 jauh kayak aku dan ortu sekarang

    ReplyDelete