Perkara cabut gigi bagi beberapa orang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Meski di masa kecil kita pernah mengalaminya, namun kadang tetap saja ada ketakutan tersendiri saat mendengar vonis dokter kalau gigi kita harus dicabut. Bahkan jangankan untuk dicabut, mengunjungi dokter gigi juga kadang bukanlah hal yang rela kita lakukan dengan berbagai alasan.

Beberapa waktu terakhir, saya merasakan nyeri yang cukup mengganggu pada gigi saya saat makanan manis atau panas. Rasanya cukup mengganggu karena bukan sekadar ngilu namun rasa nyeri tersebut bertahan cukup lama. Saya sendiri sebenarnya sudah tahu penyebabnya, yakni gigi bungsu yang berlubang pada bagian geraham kiri saya. Namun anehnya, tak hanya di gigi bungsu tersebut yang nyeri, namun gigi lain juga ikutan nyeri dibuatnya. Membuat saya bertanya-tanya apakah ada tambalan gigi saya yang lepas?

Saat mengunjungi dokter gigi beberapa bulan sebelumnya, saya sebenarnya sudah disarankan untuk mencabut gigi yang berlubang tersebut karena sudah tidak bisa ditambal lagi. Namun layaknya orang-orang lainnya, saya terlalu takut jika harus berurusan dengan cabut mencabut gigi. Apalagi sebelumnya saya mengalami pengalaman tak mengenakkan saat harus mencabut gigi geraham di Puskesmas.
 

Pengalaman cabut gigi pertama

Pengalaman cabut gigi saya selain cabut gigi susu yang pertama terjadi sekitar belasan tahun lalu saat saya masih duduk di bangku kuliah. Saat itu mungkin pertama kalinya saya merasakan sakit gigi yang cukup mengganggu, bahkan sampai membuat gusi saya bengkak. Tak tahan dengan rasa nyeri yagn menyiksa, akhirnya saya pun memutuskan untuk memeriksakan gigi ke Puskesmas dekat rumah orang tua. 
 
Saat diperiksa, ternyata masalah sakit gigi yang saya rasakan akibat dari infeksi gigi geraham yang sudah membusuk. Gigi tersebut dulunya berlubang namun saya biarkan saja karena tidak menimbulkan rasa sakit juga. Berhubung saya dulu tidak biasa ke dokter gigi lubang tersebut semakin besar hingga akhirnya patah sebagian. Berhubung gusi saya masih bengkak, maka tidak ada tindakan yang bisa dilakukan. Saya pun diresepkan obat untuk mengurangi nyeri dan menghentikan pembengkakan. Selanjutnya saya diminta kembali beberapa waktu kemudian untuk mencabut gigi yang sudah busuk tersebut. 
 
Kurang lebih 1 minggu setelah kunjungan pertama dan bengkak di gusi sudah menghilang, saya pun kembali ke Puskesmas untuk menjalani prosedur pencabutan gigi. Saya tidak terlalu ingat dengan proses cabut gigi geraham yang pertama ini. Apakah diberi suntikan atau hanya diberi kapas yang dibubuhi alkohol. Yang jelas, saat gigi yang sudah busuk tersebut dicabut, dokter tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Berhubung gigi geraham pertama yang berlubang sudah dicabut dan tidak meninggalkan rasa sakit, saya pun berniat mencabut gigi geraham lain yang juga sudah berlubang parah dan tidak mungkin ditambal lagi. Sayangnya, tak seperti pengalaman cabut gigi pertama yang mudah, untuk cabut gigi geraham yang kedua ini saya agak trauma. 

Bagaimana tidak? Saat akan melakukan pencabutan gigi, dokter sebenarnya sudah menyuntikkan obat bius ke gusi saya. Namun ternyata gigi geraham tersebut akarnya masih kuat di gusi sehingga membuat dokter gigi yang menangani saya mengalami kesulitan mencabut gigi geraham tersebut. Akibatnya saat efek obat bius menghilang, gigi belum juga tercabut dan saya harus menahan sakit sebelum akhirnya gigi berhasil dicabut. Sejak saat itu, saya jadi berpikir dua kali untuk mencabut gigi geraham.


Cabut gigi lagi setelah belasan tahun

Meski sudah mengusahakan agar gigi saya tidak perlu dicabut lagi, rupanya Allah punya rencana lain. Suatu hari saat sedang mengunyah makanan, tiba-tiba saya merasa ada bagian gigi yang patah di mulut saya. Setelah saya cek, ternyata gigi geraham bungsu atas sebelah kiri saya ternyata sudah patah sebagian. Ini cukup membuat saya bingung karena seingat saya gigi tersebut tidak ada lubangnya sebelumnya.

Karena tidak ada rasa nyeri dan masalah yang muncul setelah gigi geraham patah, saya pun membiarkan saja gigi yang patah sebagian tersebut. Meski demikian, saat mengunjungi dokter untuk menambal gigi saya sempat bertanya pada dokter gigi perihal gigi bungsu saya yang hilang sebagian tersebut. "Kira-kira bisa ditambal tidak, Dok?" tanya saya. 

Dokter memeriksa gigi bungsu tersebut dan berkata, "Tidak bisa, Bu. Mending dicabut saja mumpung giginya masih kelihatan. Mau cabut sekarang?" Dokter balik bertanya kepada saya.

Mendengar pertanyaan dokter, saya langsung menggelang. Gimana dong niat hati cuma mau nambal gigi malah langsung disuruh cabut gigi? Belum siap mental saya. Heu. "Nggak dulu, Dok. Saya nambal gigi dan bersihin karang gigi aja hari ini. Nanti saja cabut giginya," kata saya kemudian dan dokter pun memakluminya.

Setelah selesai perkara tambal gigi dan membersihkan karang gigi demi mendapat gusi yang sehat, sebenarnya saya berencana untuk mencabut gigi di bulan berikutnya. Namun rencana tersebut tertunda sampai akhirnya giginya keburu sakit dan kemungkinan lubangnya semakin membesar. Akhirnya, setelah menguatkan tekad, saya pun mengunjungi dokter gigi untuk mencabut gigi bungsu saya tersebut. Alhamdulillah ketika saya tiba di klinik tersebut sepulang kerja, tidak banyak pasien yang datang jadi saya tak pelu menunggu lama.

"Dok, saya mau cabut gigi bungsu," begitu kata saya pada dokter yang menangani saya.

"Sudah pernah ke sini sebelumnya?" tanya dokter tersebut. Rupanya beliau tidak familiar dengan wajah saya padahal saya sudah beberapa kali ke sana. 

"Sudah, Dok. Waktu itu memang dokter yang mengusulkan buat cabut gigi," kata saya kemudian.

Dokter pun memeriksa gigi geraham bungsu saya yang berlubang. "Wah, agak susah ini, Bu. Giginya sudah mulai tertutup gusi. Kalau nggak bisa harus dirontgen dan terpaksa operasi kayakya," kata dokter setelah memeriksa gigi saya.

Duh, mendengar kata operasi langsung membuat kepala saya pusing. Berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan kalau harus operasi? tanya saya dalam hati.

"Saya coba dulu, ya, Bu. Kalau nggak bisa nanti dirontgen giginya," kata dokter kemudian. Kapas yang sudah dibubuhi alkohol diletakkan di gusi saya sementara dokter mulai mengorek-ngorek gigi saya yang tersisa. Saya sendiri cuma bisa pasrah sambil terus berdoa agar gigi bungsu saya bisa dicabut tanpa perlu operasi.

"Aww!" saya sempat berseru ketika dokter berusaha mencabut gigi saya. Prosedur pun dihentikan sejenak.

"Sakit, ya?" tanya dokter.

"Sedikit, Dok."

Setelah beberapa menit, dokter kembali memasukkan alatnya ke mulut saya dan tak sampai beberapa menit saya diminta berkumur dan kemudian dokter memberikan kapas perban untuk saya gigit. Saya rasakan ada bagian yang kosong di bagian belakang gusi saya.

"Ya, sudah selesai," kata dokter kemudian.

Saya kaget. What? Gigi saya sudah tercabut? Kok nggak berasa sakit?

"Sudah dicabut giginya, Dok?" tanya saya akhirnya.

"Sudah. Ini giginya," jawab dokter sambil memperlihatkan wadah berisi gigi saya.

"Wah, nggak berasa sakit. Alhamdulillah," kata saya akhirnya

"Ibu mau dicabut giginya pakai rasa sakit?" dokter balik bertanya pada saya.
 
"Nggak lah, Dok. Hehe. Makasih, ya, Dok,"

"Ini kwitansinya, ya, Bu. Silakan bayar di depan," kata dokter menutup pembicaraan kami.

Saya pun berjalan keluar dari ruangan praktik dokter. Alhamdulillah akhirnya gigi yang bermasalah sudah dicabut dan nggak perlu operasi. Saya jadinya tidak perlu bayar jutaan dan hanya mengeluarkan biaya Rp. 350.000,00 saja untuk cabut gigi bungsu ini.
Baca Juga