review film pangku

Sebagai penonton film Indonesia, jika ditanya siapa aktor Indonesia favorit saya, kemungkinan besar jawaban saya adalah Reza Rahadian. Sejak melihat aktingnya yang sangat menyebalkan namun berkelas di film Perempuan Berkalung Surban (yang membuatnya mendapatkan penghargaan FFI), nama Reza selalu menjadi jaminan kualitas. Entah itu menjadi pemeran utama atau pemeran pendukung, Reza selalu tampil total dan meyakinkan. 

Karena itu, ketika mengetahui bahwa di tahun 2025 ini Reza Rahadian hadir bukan sebagai aktor, melainkan sutradara, antusiasme saya langsung naik. Pangku menjadi debut penyutradaraannya, dan film ini langsung mencuri perhatian dengan raihan penghargaan di BIFF serta sederet nominasi di FFI 2025. Wajar jika kemudian muncul satu pertanyaan besar: sebagus apa film yang digarap Reza dari balik kursi sutradara?

Dalam berbagai wawancara, Reza menyebut Pangku sebagai surat cinta untuk ibunya, sosok ibu tunggal yang membesarkannya. Tema ini terasa personal, jujur, dan sangat dekat dengan kehidupan. Terinspirasi dari warung-warung kopi di jalur Pantura, film ini menghadirkan kisah perempuan, ibu, dan perjuangan hidup yang sunyi namun menghantam perasaan

Sinopsis Film Pangku (2025) 

review film pangku

Seorang wanita hamil besar bernama Sartika turun dari sebuah truk dan singgah di sebuah warung kopi sederhana di jalur Pantura. Ia duduk di warung tersebut sambil mendengarkan obrolan pemilik warung dengan pembelinya. Ketika warung sudah akan tutup, ia tak terlihat akan meninggalkan warung tersebut. Ibu pemilik warung pun bertanya ke mana tujuannya dan wanita ini berkata kira-kira begini, "Saya mau cari kerja, Bu. Apa aja."

Melihat kondisi wanita hamil ini, ibu pemilik warung yang bernama Maya ini kemudian mengajaknya untuk menginap di rumah kecilnya. Hanya ada satu orang pria tua yang tinggal menemani ibu pemilik warung yakni Pak Jaya yang tidak pernah terdengar suaranya. Pak Jaya diminta berpindah dan kemudian Bu Maya menyiapkan tempat tidur untuk Sartika, nama wanita hamil ini. Bu Maya kemudian menawarkan pekerjaan di warung kopinya kepada Sartika. "Siapa tahu kalau ada kamu warungnya bisa tambah ramai," kata Bu Maya. Beberapa hari kemudian Sartika pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Bayu.

Setelah melahirkan, Sartika pun mulai mencari kerja. Mulanya ia bekerja di sawah bersama dengan Pak Jaya. Namun ketika menerima upah dari pekerjaannya itu, Sartika sadar kalau upah tersebut tak cukup untuk dirinya dan anaknya. Sartika pun mendatangi Bu Maya dan bersedia untuk bekerja di warung kopi milik Bu Maya. 

Bekerja di warung kopi di Pantura, tugas Sartika tak hanya menyiapkan kopi untuk pembeli yang datang, namun juga memberikan pelayanan berupa duduk di pangkuan pembeli tersebut sambil menawarkan rokok. Kadang saat bekerja, Bayu yang diajak serta ke warung terbangun dan minta dikeloni. Bayu sendiri kerap mempertanyakan keputusan ibunya yang mau bekerja sambil dipangku. Sebagai anak tentunya Bayu tak suka ibunya bekerja seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah satu-satunya pekerjaan yang menurut Sartika bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. 
 
Satu hari seorang pria bernama Hadi dan anak buahnya datang ke warung kopi Bu Maya. Sejak awal, jelas terlihat ketertarikan antara Hadi dan Sartika. Apalagi kemudian Hadi memberikan beberapa potong ikan bawaannya kepada Sartika dan Bayu, yang membuat setitik harapan hadir di hati Sartika. Ia pun mencoba peruntungan untuk mendekati Hadi. Gayung pun bersambut, Hadi ternyata juga tertarik pada Sartika. Dan ketika Sartika mengungkapkan kegelisahannya karena kesulitan saat mendaftarkan Bayu ke sekolah karena masalah administrasi, Hadi pun menawarkan sebuah solusi. 
 
Tak perlu waktu lama, hubungan Sartika dan Hadi pun diresmikan ke jenjang pernikahan. Berkat pernikahannya ini, Sartika akhirnya bisa mengurus administrasi untuk sekolah Bayu, putra semata wayangnya. Setelah menikah, Hadi mengajak Sartika untuk pindah ke rumah kecil tak jauh dari rumah Bu Maya. Di sinilah Sartika, Hadi dan Bayu menjalani hidup yang baru bernama keluarga. Sayangnya kebahagiaan Sartika hanya berlangsung lama karena Hadi kemudian pergi dan tak kunjung kembali. Ke manakah gerangan Hadi menghilang?
 

Tema Ibu dan Perjuangan Hidup dalam Film Pangku

Tema keibuan menjadi napas utama film Pangku. Sartika digambarkan sebagai ibu tunggal yang harus bernegosiasi dengan rasa malu, lelah, dan harga diri demi masa depan anaknya. Sebagai penonton—terutama sebagai perempuan—kisah Sartika terasa dekat dan menyentuh.

Kata “pangku” dalam film ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi simbol ruang aman, tempat bergantung, sekaligus ironi. Pangkuan menjadi sumber penghidupan, namun juga sumber luka. Reza Rahadian dengan cermat menghadirkan kompleksitas ini tanpa menghakimi tokohnya.

Refleksi sebagai Ibu Bekerja

Menonton Pangku sebagai seorang ibu bekerja memberi perasaan yang berbeda. Ada rasa tidak nyaman, sedih, sekaligus paham. Sartika mungkin hidup di ruang dan waktu yang berbeda, tetapi kegelisahannya terasa akrab: bagaimana seorang ibu sering kali harus mengambil keputusan yang tidak ideal demi memastikan anaknya tetap bisa makan, sekolah, dan merasa aman.

Dalam banyak hal, ibu bekerja pun kerap berada di posisi serupa—bernegosiasi dengan rasa bersalah, menahan lelah, dan memilih bertahan meski hati tidak sepenuhnya tenang. Pangku mengingatkan saya bahwa di balik setiap pilihan ibu, selalu ada cinta yang bekerja diam-diam, tanpa tepuk tangan dan tanpa sorotan. Film ini membuat saya berpikir bahwa mungkin, sebagai ibu, kita semua pernah berada di titik “melakukan yang bisa dilakukan”, meski bukan itu yang kita impikan.

 

Kesan Menonton Film Pangku

Sinematografi dan Visual

Secara visual, Pangku adalah film yang indah dan estetik. Reza Rahadian tahu kapan harus mengambil gambar dekat dan kapan membiarkan jarak berbicara. Warung kopi, rumah kecil, hingga jalanan Pantura divisualkan dengan jujur dan membumi, tanpa romantisasi berlebihan.

Bertutur Lewat Gestur, Bukan Dialog

Film ini minim dialog. Perasaan dan konflik lebih banyak disampaikan melalui tatapan, gerak tubuh, dan keheningan. Karakter Pak Jaya bahkan tidak memiliki dialog sama sekali, namun kehadirannya terasa kuat dan bermakna.

Isu Sensitif yang Dikemas Sopan

Meski mengangkat latar kehidupan yang sering dianggap negatif, Pangku dikemas dengan sangat sopan. Tidak ada eksploitasi tubuh atau adegan vulgar. Reza memilih menyampaikan realitas dengan empati, membuat penonton memahami tanpa merasa tidak nyaman.

Ending yang Realistis

Film ini tidak menawarkan akhir yang bombastis. Justru, ending yang datar dan realistis menjadi pengingat bahwa hidup sering kali berjalan begitu saja—tanpa kepastian dan tanpa keajaiban.

Akting dan Cameo dalam Film Pangku

Claresta Taufan tampil sangat meyakinkan sebagai Sartika. Christine Hakim, seperti biasa, tampil solid dan hangat sebagai Bu Maya. Shakeel Fauzi sebagai Bayu menunjukkan akting natural yang menyentuh, sementara Devano Danendra memberi warna tersendiri.

Kehadiran cameo aktor-aktor senior seperti Arswendi Bening, Lukman Sardi, dan Happy Salma menjadi jembatan penting dalam perjalanan hidup Sartika, memperkaya lapisan cerita tanpa terasa berlebihan.

Apakah Film Pangku Layak Ditonton?

Pangku adalah film yang cocok untuk penonton yang menyukai cerita humanis, bertempo tenang, dan penuh refleksi. Ini bukan film yang ramai dialog atau penuh twist, tetapi film yang mengajak penonton diam dan merasakan.

Sebagai debut sutradara, Reza Rahadian menunjukkan kematangan visi dan kepekaan emosional. Pangku bukan hanya pencapaian baru dalam kariernya, tetapi juga persembahan penuh cinta untuk sosok ibu.

Sebagai penutup, lirik lagu tentang ibu yang mengiringi akhir film ini terasa begitu tepat—mengikat seluruh cerita dalam satu pelukan sunyi yang membuat mata berkaca-kaca.

 

Baca Juga