Pengalaman Membawa Anak Cabut Gigi di RSGM: Cerita Nyata dan Refleksi Parenting

 Pengalaman Membawa Anak Cabut Gigi di RSGM: Cerita Nyata dan Refleksi Parenting


Saat Yafiq memasuki usia empat tahun, putra saya itu mendapati kalau gigi bagian bawahnya mulai bergoyang. 

"Ma, gigiku goyang," kata Yafiq kala itu pada saya. 

Saya kemudian memintanya membuka mulut untuk mengecek gigi yang katanya goyang tersebut. Rupanya gigi seri bawahnya memang sudah goyang. Saya cek bagian bawah gusi tampak belum ada tanda-tanda gigi baru yang tumbuh.

"Ya sudah. Sambil digoyang ya giginya biar cepat patah," kata saya kemudian.

Beberapa minggu kemudian, setelah Yafiq mandi iseng saya mengecek kembali kondisi giginya yang goyang tersebut. Alangkah kagetnya saya ketika melihat di belakang gigi Yafiq sudah muncul gigi baru yang siap keluar. Duh, ternyata saya salah prediksi. Giginya keburu tumbuh sebelum gigi susu tanggal. Dalam pikiran saya ini pasti akan membuat gigi Yafiq tidak rata tumbuhnya.

Berbeda dengan kakaknya, Yafiq memang bisa dibilang memiliki gigi yang lebih kuat dan awet. Saat gigi pertama Yumna tanggal dulu, kondisi giginya sudah banyak yang gupis dan gigi bawahnya juga tanggal tanpa perlu dibawa ke dokter gigi. Semantara Yafiq hingga usianya 5 tahun semua giginya masih bagus dan tidak ada yang gupis. 

Asumsi saya sih Yafiq ini mendapat lebih banyak kalsium ketika saya hamil ketimbang kakaknya. Nah, dengan kondisi gigi Yafiq yang ternyata sudah keluar duluan, maka satu-satunya yang terpikir di benak saya adalah membawa Yafiq ke dokter gigi untuk segera dicabut gigi susunya.

Mengetahui Kapan Gigi Permanen Anak Tumbuh


Layaknya gigi susu, tanggalnya gigi susu yang digantikan dengan gigi permanen pada anak juga memiliki jadwalnya sendiri. Biasanya anak-anak akan mulai tanggal gigi susunya di usia 5-6 tahun dan digantikan dengan gigi permanen. Nah, berdasarkan informasi dari alodokter.com, berikut adalah jadwal tumbuhnya gigi permanen pada anak:
  • Gigi seri tengah rahang bawah usia 6 - 7 tahun
  • Gigi seri samping rahang bawah usia 7 - 8 tahun
  • Gigi seri depan rahang atas usia 6 - 7 tahun
  • Gigi seri samping rahang atas usia 7 - 8 tahun 
  • Gigi taring rahang bawah usia 9 - 12 tahun
  • Gigi taring rahang atas usia 10 - 12 tahun 
  • Gigi geraham pertama rahang bawah usia 9 - 11 tahun
  • Gigi geraham belakang rahang bawah usia 10 - 12 tahun
  • Gigi geraham pertama rahang atas usia 9 - 11 tahun
  • Gigi geraham belakang rahang atas usia 10 - 12 tahun
Berdasarkan dari jadwal yang saya tuliskan di atas, bisa dibilang gigi Yafiq tumbuh lebih cepat dari seharusnya yakni sebelum usianya 6 tahun. Sedangkan untuk Yumna, putri sulung saya itu juga harus dicabut gigi seri atasnya di usia 5 tahun karena ketika giginya goyang dan saya konsultasikan ke dokter, oleh dokter tersebut gigi atas Yumna malah dicabut keduanya. Sementara untuk gigi bawah, seingat saya baru tanggal di usia 6 tahun. 
 
Jadi memang bisa dibilang untuk jadwal tumbuhnya gigi permanen pada anak ini berbeda-beda untuk setiap anak, namun tentunya juga tidak salah jika kita mengetahui jadwal tumbuh gigi permanen pada anak untuk menghindarkan terjadinya gigi persisten yang bisa membuat gigi menjadi tidak rapi.
 

Dilema Orang Tua Saat Gigi Anak Goyang: Dicabut Sekarang atau Ditunda?



Setelah menyadari kalau gigi seri bawah Yafiq ternyata sudah tumbuh dan ada risiko mengalami gigi bertumpuk, saya memutuskan untuk segera mengajak Yafiq ke dokter gigi yang menjadi faskes tingkat pertama untuk asuransi pemerintah di keluarga saya. 

Berhubung jika mendaftar sebagai pasien asuransi pemerintah ini antrinya 2 minggu, saya memutuskan mendaftar sebagai pasien umum agar Yafiq bisa cepat ditangani. Asisten dokter kemudian mendaftarkan nama Yafiq dan meminta saya untuk datang lagi di malam hari.

Malamnya, sesuai dengan jadwal saya datang ke tempat praktik dokter untuk mencabut gigi Yafiq. Sebelum memasuki ruang praktik dokter, asisten yang bertugas bertanya lagi bagaimana kondisi gigi Yafiq yang sudah tumbuh itu. Saya pun membawa Yafiq dan memperlihatkan kondisi gigi bawahnya. Anehnya, asisten dokter ini malah menyebutkan kalau sebaiknya cabut giginya ditunda saja karena kondisi gigi yang sudah tumbuh ini masih di bawah dan menunggu gigi yang goyang patah sendiri. 

"Kalau dokter lihat juga kayaknya nggak langsung dicabut, Bu. Takutnya nanti anaknya trauma kalau dicabut sekarang mengingat ini cabut gigi pertama," begitu alasan asisten dokter tersebut. 

Jujur ya saran dari asisten dokter ini membuat saya agak bingung karena sebelumnya saat saya mengajak Yumna ke klinik ini, giginya malah langsung dicabut oleh dokter padahal baru goyang sedikit. Tapi ini mungkin karena Yumna memang sudah ada beberapa giginya yang dicabut jadi dokter tidak ragu untuk melakukan tindakan sementara Yafiq belum pernah cabut gigi dan memang dia juga agak takut dengan kenyataan kalau giginya akan dicabut. 

Akhirnya saya mengikuti saran dari asisten dokter yakni menunda cabut gigi dan kembali lagi 2 minggu berikutnya. Namun entah kenapa semakin saya memantau kondisi gigi bawah Yafiq, saya merasa waktu 2 minggu terlalu lama untuk mencabut giginya. 

Saya pun kemudian meminta adik saya untuk bertanya kepada temannya yang berprofesi sebagai dokter gigi dengan mengirimkan foto gigi bawah Yafiq. Nah, setelah mengirimkan foto tersebut saya malah mendapat saran gigi Yafiq harus segera dicabut. Setelah mengetahui hal ini saya pun memutuskan untuk segera mencabut gigi Yafiq yang sudah bergoyang tersebut.

Pengalaman Cabut Gigi Anak di RSGM Hasan Aman Banjarmasin

Sabtu pagi, saya dan Yafiq berkendara menuju RSGM untuk melakukan cabut gigi. Karena ini adalah kunjungan perdananya, maka saya terlebih dahulu mendaftarkan Yafiq sebagai pasien umum. Setelah proses pendaftaran selesai, dilakukan pemeriksaan awal terlebih dahulu mulai dari tinggi dan berat badan, pemeriksaan kondisi gigi dan riwayat kelahiran hingga riwayat sakit Yafiq.

Setelah pemeriksaan awal dilakukan, saya pun naik ke lantai 4 menuju Poli gigi umum. Di poli ini saya dan Yafiq hanya perlu menunggu beberapa menit sebelum akhirnya Yafiq dipanggil ke ruang pemeriksaan.

"Giginya yang goyang ada 2, Bu. Gigi di sebelahnya juga goyang," kata dokter setelah memeriksa gigi bawah Yafiq yang goyang.

"Jadi gimana, Dok? Apakah harus dicabut keduanya?" tanya saya kemudian.

"Bisa aja dicabut 1 dulu tapi minggu depan balik lagi buat cabut gigi satunya," jawab dokter.

Wah, kalau harus bolak-balik ke RSGM mending cabut keduanya sekarang aja, pikir saya dalam hati setelah mendengar jawaban dokter tersebut.

"Cabut keduanya aja, Dok," akhirnya jawab saya kemudian. 

Setelah mendengar jawaban saya, dokter pun mulai melakukan tindakan pencabutan kedua gigi Yafiq yang sudah goyang. Saya tidak bisa melihat prosesnya namun yang jelas Yafiq sempat menangis kesakitan saat giginya dicabut. 

Namun untungnya tangisnya hanya saat giginya dicabut dan setelahnya Yafiq sudah tenang kembali. Untuk biaya cabut gigi anak sendiri RSGM ini adalah sebesar Rp. 50.000 per gigi dan total biaya yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 173.000,-/

Sepulang dari cabut gigi, saya mengajak Yafiq ke minimarket untuk membeli es krim sesuai dengan sudah kami sepakati sebelumnya. 

Trauma Sesudah Cabut Gigi

Pengalaman cabut gigi Yafiq di RSGM sebenarnya memberikan sebuat trauma tersendiri bagi putra saya tersebut. Selain karena proses cabut giginya yang lumayan sakit, Yafiq juga tidak terima ketika saya memutuskan untuk langsung mencabut kedua giginya di waktu bersamaan. Akibatnya selama berbulan-bulan Yafiq selalu mengungkit saya yang katanya berbohong mengatakan hanya akan mencabut satu giginya saja.

Rasa trauma dari cabut gigi secara paksa hari itu juga membuat Yafiq akhirnya selalu menolak jika diajak ke dokter gigi saat giginya mulai bergoyang. Terakhir kali saya membawanya ke dokter gigi, Yafiq nyaris tidak berani masuk ke ruang dokter dan harus digendong agar mau diperiksa. Dan memang ternyata untuk dokter yang saya kunjungi ini selalu menunggu gigi anak benar-benar goyang baru bersedia mencabut gigi anak saya.

Pada akhirnya sekarang gigi Yafiq lebih banyak copot sendiri tanpa saya perlu membawanya ke dokter gigi. 
 

Penutup dan Pelajaran untuk Ibu 

Dari cerita dan pengalaman saya dalam membersamai Yafiq cabut gigi pertamanya, saya pun belajar bahwa sebagai orang tua kita seharusnya konsisten dalam menjelaskan sesuatu. Saat saya memutuskan mencabut dua gigi Yafiq sekaligus, di saat itu pula anak saya merasa dibohongi dan menimbulkan rasa trauma pada dirinya.

Untungnya sekarang Yafiq sudah tidak lagi membahas terkait pengalaman cabut gigi pertamanya tersebut dan tak lagi takut jika giginya goyang dan harus segera dicabut. Selain pengalaman cabut gigi anak, saya juga menuliskan pengalaman rontgen gigi anak saya. Buat teman-teman yang penasaran bisa langsung meluncur ke artikel tersebut yaa!


Disclaimer Medis

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan bertujuan sebagai informasi edukatif. Untuk diagnosis dan tindakan medis pada anak, selalu konsultasikan dengan dokter gigi atau tenaga kesehatan profesional.



Baca Juga

Posting Komentar

23 Komentar

  1. Kok aku yg deg-degan ya baca pengalaman pertama yafiq cabut gigi, tp syukurlah ya nggak banyak drama yg berarti.

    Aku ngerasain sendiri sih kalau mau ke dokter gigi itu overthinkingnya minta ampun. Tp kalo sakit gigi, rasanya kayak pengen dicabut sekarang aja. Tp gabole kan yaaa. tp kalo cabut gigi pas lagi baik baik aja malah kayak nunda-nunda terus huhu

    BalasHapus
  2. Ikut deg-degan eh membaca proses ya, pengalaman gigi tanggal ternyata memang memiliki kesan tersendiri ya. Twins dulu malah lucu saking semangatnya mau cabut gigi, dokter baru ambil peralatan, giginya sudah dicopot sendiri sama anaknya, usut punya usut mau ke dokter gigi karena mau berbaring di kursi astronot (tempat praktik dokter) he..he..

    BalasHapus
  3. Wah sama Mbaaak, anak saya juga gigi tetapnya udah tumbuh sebelum gigi susunya lepas. Emaknya jadi auto khawatir kalau tumbuhnya nanti tak rata. Terus sama juga dicabutnya ternyata langsung dua gigi sekaligus 😹

    BalasHapus
  4. Bagian cabut gigi ini memang sangat menenganggakan yaa, semacam ada rasa deg deg an. Untungnya si yafiq cuma menangis sebentar. Bdw aku baru tahu ternyata di rsgm cabut gigi semurah itu

    BalasHapus
  5. Pinter ya Yafiq cabut gigi ga rewel pas cabut gigi. Nangis sebentar itu wajar karena cabut gigi pasti ada sakit-sakitnya.

    BalasHapus
  6. Btw, entah kenapa aku pas di usia sekarang kalau cabut gigi malah excited, wkwkwk. Ada-ada aja ya

    BalasHapus
  7. Pasti waswas ya pas tau gigi dewasa udah tumbuh sementara gigi susunya belum copot. Pilihan terbaik langsung dibawa ke drg, jd penanganannya tepat. Selamat adik udah punya gigi dewasa 😆

    BalasHapus
  8. Cepet banget ya di usia segitu sudah tumbuh gigi dewasa. Kalo pake asuransi pemerintah biasanya antri lama...jadi menurutku langkahnya mbak untuk pake pasien umum sudah betul. Ternyata harga juga gak terlalu mahal sih. Bayar gak sampai 300.000.

    BalasHapus
  9. Kok bisa beda gitu mba sarannya, ada dokternya menyarankan nanti ada yang lgsg dicopot saja...kita yang jadi pasien jadi bingung donk yaa..tapi alhamdulillah akhirnya proses copot gigi lancar yaa dan yafiq bisa tersenyum ceria lagi ;)

    BalasHapus
  10. Suka gitu ya kalau ke Drg pertama kali buat cabut gigi. Pernah kejadian gitu juga, belum dicabut, takut anaknya trauma. Lah...ini Emaknya yg trauma, karena kan tetep bayar euy, buat konsul, walaupun belum dicabut...wkwkwk...Alhamdulillah, problem solved yah, udah dicabut dua-duanya...Cukup murah yah kalau di RSGM...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya, mbak. salah satu alasan orang takut ke dokter gigi kemungkinan karena biayanya mahal

      Hapus
  11. Masya Allah keren Yafiq ..anak anak Umma juga langganan ke dokter gigi nih..emang jadi Pr Banget masalah gigi anak-anak

    BalasHapus
  12. Keren putranya Mbak. Gak ada kesulitan ya diajak cabut gigi. Saya pun jadi teringat peer gigi anak kedua. Ada beberapa gigi yang memang sudah grepes dan perlu dicabut. Perawatan gigi ini penting sekali ya karena berkaitan dengan kesehatan tubuh lainnya.

    BalasHapus
  13. MashaAllaa.. ananda Yafiq berani sekaliii..
    Ikutan deg-degan karena biasanya secara prosedural dokter gigi gak pernah mau nyabut 2 gigi anak sekaligus. Karena takut trauma dan pasti kemeng ((pegel)) selama beberapa hari..

    Tapi karena Yafiq berani.. dan dokternya gercep, jadi bisa dilakukan dengan aman.
    Alhamdulillah, legaa..

    Sehat-sehat selalu, shaliih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah gitukah, mbak? baru tahu aku. hehe. soalnya anakku yang pertama juga dulu giginya langsung dicabut 2 sama dokter giginya

      Hapus
  14. Hahaha selalu andalannya es krim ya mbak.. dulu zaman saya masih kecil selalu dikasih hadiah sama ibu kalau habis cabut gigi. Sekarang udah punya anak juga pasti ngasih hadiah es krim kalau mereka berani cabut gigi. Dan memang es krim bikin nyess di mulut, jadi ilang sakitnya hehe.

    BalasHapus
  15. Wah Alhamdulillah ya permasalahan gigi Yafiq teratasi. Bisa jadi catatan juga nih buat anakku besok kalau giginya mulai goyang

    BalasHapus
  16. Saya dulu enggak seberapa mengerti tentang kapan waktu yang tepat untuk cabut gigi susu ini, Saya biarkan aja karena pikir saya nanti juga kan tanggal sendiri tahunya malah bertumpuk-tumpuk. Akhirnya harus bolak balik dokter gigi untuk mencabut enam gigi susunya.

    BalasHapus
  17. Mas Yafiq keren lo berani cabut gigi dan ga pakai drama ya
    Btw biayanya terjangkau banget itu untuk cabut gigi, apa itu sudah termasuk admin ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak itu sudah termasuk pemeriksaan tapi sebelumnya bayar pendaftaran dulu 55 ribu jadi sekitar 200 ribuan totalnya

      Hapus
  18. Kalau gigi permanen keburu tumbuh padahal. Gigi susu belum tanggal memang bikin hectic ya bun. Alhamdulillah sih kalau anak saya selalu bisa dicabut sendiri giginya.

    BalasHapus
  19. Jadi ingat waktu kecil dulu cabut gigi susu sendiri. Klo ada gigi yang terasa goyang, tiap hari tuh di goyang-goyang sampai akhirnya tanggal sendiri. Apalagi dulu di desa cari dokter gigi yak segampang sekarang. Jatang banget ada yang ke dokter gigi cuma untuk cabut gigi susu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa. Dulu mana kepikiran juga kan ya ke dokter gigi buat cabut gigi. Paling banter ya ke puskesmas aja

      Hapus