Saturday, December 30, 2017

Yumna Turning One Year Old

December 30, 2017 10
Desember ini, Yumna putri saya berusia setahun. Selama 1 tahun menjalani peran sebagai ibu ini, jelas ada banyak hal yang terjadi pada saya. Saya jadi ingat setahun yang lalu setelah adzan Isya saya diantar ke rumah bidan karena rasa mulas yang saya rasakan sejak sore semakin menjadi-jadi. Setelah diperiksa, ternyata saat itu saya sudah pembukaan 5. Menit demi menit saya lalui dengan rasa sakit yang semakin meningkat setiap terjadi kontraksi. Alhamdulillah proses pembukaan hingga menuju bukaan 10 tak memakan waktu lama. Pukul 11 malam, lahirlah Yumna dengan berat 2,8 kg dan panjang 51 cm. 
 
Di awal kelahirannya, saya sempat kesulitan memberikan ASI karena kondisi puting saya yang datar. Saya berusaha untuk bisa menyusui dengan menggunakan nippleshield dan alhamdulillah setelah 1 bulan Yumna sudah bisa menyusu langsung pada saya. Untuk perkembangan motoriknya sendiri, alhamdulillah masih sesuai dengan panduan yang saya baca. Yumna mulai bisa duduk di usia 7 bulan dan merangkak di usia 8 bulan. Sekarang di usianya yang setahun ini, Yumna sudah mulai belajar berjalan dan mulai mengucapkan beberapa kata yang kami ajarkan padanya. 



Beberapa hari sebelum usianya 6 bulan, saya memberikan MPASI perdana untuk Yumna. Sebelumnya saya sudah mencari-cari info cara pemberian MPASI untuk bayi. Saat itu, pilihan saya jatuh pada metode MPASI ala WHO. Alasan saya memilih metode ini karena lebih direkomendasikan. Sempat sih kepikiran mencoba metode BLW namun dari beberapa kali percobaan yang saya lakukan, sepertinya Yumna tidak tertarik dengan metode ini. "Mungkin nanti setelah umurnya 9 bulan," begitu kata saya dalam hati.

Sebagai ibu bekerja, memberikan MPASI homemade bagi putri saya tentunya memerlukan manajemen dan tantangan tersendiri. Saya sempat membaca beberapa referensi MPASI homemade bagi ibu bekerja. Saya juga bertanya pada teman yang sudah lebih berpengalaman dari saya. Ada yang membuat puree dan aneka olahan MPASI dalam jumlah banyak dan dibekukan. Ada juga yang membeli bahan makanan dan membaginya wadah-wadah kecil untuk kemudian diolah. Pada akhirnya saya memilih untuk mengolah MPASI untuk Yumna tengah malam sebelum saya tidur dengan bahan apa saja yang ada di dapur.

Tantangan lain dari masa MPASI Yumna adalah GTM. Meski tak sepenuhnya tutup mulut, namun di usia 8 bulan, Yumna mulai sulit sekali disuapi dan makannya lama sekali. Saya coba mengubah teksturnya dari lembut ke kasar dan balik lagi ke lembut namun tidak ada perubahan. Yumna tetap tidak banyak membuka mulut. Bahkan pernah saat kami ke Makassar beberapa waktu lalu, dia sama sekali tidak mau makan bubur yang saya olahkan. Padahal saat itu saya sudah membawa peralatan tempur mulai dari bawang, kaldu bubuk, abon, hingga beras dan tentunya slowcooker. Sok idealis banget ya. Heuheuheu.

Baca juga : MPASI,  Antara Teori dan Praktik 

"Kasihlah gula sama garam di makanannya biar dia mau makan," begitu saran yang kerap diberikan pada saya saat itu. Memang sih berdasarkan panduan yang saya baca, bayi di bawah 1 tahun tidak disarankan untuk mengkonsumsi gula dan garam di makanannya. Saya sendiri,  pada akhirnya saya menambahkan gula dan garam pada makanan Yumna di usianya 11 bulan. Dan bisa dibilang it works sih. Entah karena memang masanya sudah berakhir atau karena makanannya sudah ada rasanya, Yumna lebih mudah makan setelahnya.

Sejak awal masa MPASI-nya, saya udah niat banget mau bikinin mpasi homemade buad Yumna. Alhamdulillah sih kalau untuk makanan utamanya selalu homemade. Kalau cemilan beli aja soalnya emaknya udah nggak sanggup bikin-bikin lagi. Nah, sampai usianya jelang 1 tahun ini, sebenarnya Yumna termasuk sering GTM-nya ketimbang lahapnya kalau dikasih makan. Sesi makannya aja bisa sampai hampir 1 jam kata ibu yang jagain. Kalau sama saya, kadang malah ogah makan dan maunya nenen melulu. Akhirnya beberapa minggu ini saya sedikit mengalah dengan memberi sedikit gula dan garam di masakannya. Kalau untuk sekarang sih alhamdulillah dia sudah mulai mau makan lahap dan kadang malah suka mau nyendok dan nyuap sendiri makanannya. Teksturnya juga kayaknya sudah mulai naik lagi dari nasi lembek ke nasi. #MPASI #11monthsoldbaby
A post shared by Antung Apriana (@ayanapunya) on

Mengingat usianya sudah setahun, tentunya saya harus mengetahui hal-hal terkait perkembangan balita usia 1 tahun. Berikut adalah perkembangan balita usia 1 tahun dari beberapa sumber yang saya dapat:

Perkembangan kognitif
Si Kecil mulai memiliki kemampuan berpikir, belajar, dan mengingat perilaku orang atau kejadian di lingkungannya. Si Kecil juga mulai memahami simbol, mulai meniru, membayangkan, dan bermain pura-pura.

Perkembangan emosi
Bentuk perlekatan emosi yang kuat pada balita ditandai dengan menangis saat dipisahkan dari orang terdekat. Namun seiring waktu, balita biasanya ingin melakukan aktivitas seorang diri. Ini merupakan tahap awal ia belajar tentang konflik, kebingungan, dan kadang-kadang merusak.

Perkembangan bahasa
Menginjak usia 15 hingga 18 bulan, balita biasanya mulai memahami kosa kata yang semakin banyak, hingga 10 kali lebih banyak dari yang bisa ia katakan. Di ulang tahun kedua, di Kecil sudah bisa mengatakan setidaknya 50 sampai 100 kosa kata.

Perkembangan sensorik dan motorik
Keterampilan motorik terjadi saat otot dan saraf si Kecil bekerja bersama-sama. Balita harusnya sudah mencapai tahap kontrol dan koordinasi sehingga bisa berjalan dengan mantap. Setelah berjalan, ketrampilan berikutnya adalah memanjat, lari, dan melompat.



Selain perkembangan di atas, saya juga perlu waspada jika tumbuh kembang Yumna di usianya yang setahun ini tidak sesuai dengan standar tumbuh kembang bayi.  Hal-hal yang perlu diwaspadai tersebut antara lain:

  • Belum melangkah
  • Tidak bisa berdiri tanpa dibantu
  • Tidak mencoba menemukan benda yang Ibu sembunyikan di hadapannya
  • Belum mengeluarkan satu patah kata
  • Tidak menggunakan bahasa gerak seperti menggelengkan kepala untuk mengantikan kata “tidak mau” atau menunjuk.
Di satu tahun usianya ini, tentunya saya berharap Yumna tumbuh menjadi anak yang sehat dan baik perkembangannya. Sebagai ibu, saya berharap bisa menjalankan tanggung jawab saya dengan baik dalam membersamainya di usianya sekarang maupun yang akan datang. 

Happy birthday, my baby! 

Sumber rujukan : www.ibudanbalita.com

Wednesday, December 27, 2017

[Review] Blog It!, Aplikasi Ngeblog untuk Blogspot

December 27, 2017 89

Setelah bermigrasi dari Wordpress ke Blogspot, salah satu aplikasi yang saya cari adalah aplikasi nge-blog lewat ponsel. Mengingat frekuensi saya yang lebih banyak memegang ponsel ketimbang di depan komputer, tentunya saya perlu aplikasi yang bisa membuat saya bisa ngeblog di mana saja dan kapan saja. Ada beberapa pilihan aplikasi yang saya temukan saat itu. Mulai dari aplikasi Blogger resmi, hingga aplikasi pihak ketiga seperti bloggeroid, BlogIt! dan beberapa aplikasi lainnya. Pilihan pertama tentunya blogger for android. Sayangnya, aplikasi blogger yang dimiliki oleh Google ini sangatlah payah. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Wordpress for Android yang sangat lengkap fiturnya.

Saya pun mencoba bertanya pada beberapa teman sesama blogger yang menggunakan Blogspot. "Apa aplikasi yang kalian gunakan buat ngeblog di hape?" Tanya saya waktu itu. Eh, ternyata rata-rata teman blogger ini ngeblognya langsung di browser ponsel. Saya pun sempat mencoba ngeblog lewat browser ponsel ini. Namun mungkin karena sudah terbiasa menggunakan aplikasi saat menggunakan Wordpress dahulu, saya akhirnya tetap mencari aplikasi untuk ngeblog lewat ponsel.

Saya kemudian mencoba berbagai aplikasi yang saya temukan di playstore sebelumnya. Rata-rata aplikasinya sebenarnya masih kurang memuaskan untuk saya. Namun akhirnya setelah bolak-balik mencoba, saya putuskan menggunakan Blogit! sebagai aplikasi yang saya gunakan untuk ngeblog lewat ponsel.

Baca juga : Pengalaman Migrasi Domain dari Wordpress ke Blogspot

BlogIt! ini sendiri merupakan aplikasi yang dibuat oleh Joao Correia. BlogIt! ini memiliki 2 fitur utama yakni blogpost dan komentar. Sependek pengetahuan saya, untuk bisa membalas komentar di blogspot, tidak bisa dilakukan melalui menu dashboard dan harus membuka postingan yang dikomentari. Nah, dengan aplikasi BlogIt! ini, kita tak perlu repot untuk membuka postingan terlebih dahulu. Kita tinggal klik komentar yang masuk dan di bawahnya sudah disediakan kolom untuk membalas komentar. Namun tentunya komentar yang akan dibalas ini sudah ter-publish di blog kita.


Untuk membuat postingan sendiri juga prosesnya cukup mudah. Kita tinggal klin menu + yang ada di aplikasi dan setelahnya kita bisa langsung mulai ngeblog. Beberapa menu yang ada pada fitur post ini antara lain post title, labels/tag, menu edit tulisan termasuk memasukkan gambar ke postingan. Setelah selesai membuat postingan, kita bisa memilih untuk langsung menayangkan tulisan kita atau menyimpannya sebagai draft dengan menekan menu save. Selain itu kita juga bisa membuat postingan terjadwal lewat BlogIt! ini. Nah, setelah menyimpan postingan, jangan lupa untuk melakukan refresh agar postingan yang dibuat benar-benar sudah tersimpan dan tersinkronisasi dengan blog kita.



Pengalaman saya dengan versi 2.3.8, perlu beberapa menit sebelum tulisan benar-benar tersimpan di draft. Hal yang sama juga berlaku untuk komentar yang perlu waktu beberapa menit untuk bisa menampilkan komentar terbaru yang masuk. Padahal untuk versi sebelumnya yakni 2.2.1 proses penyimpanan dan penayangan komentar ini terbilang cepat. Jadi saran saya sebaiknya kalau mau install aplikasi ini pakai yang versi 2.2.1 dulu.

Harapan saya sendiri, ke depannya aplikasi BlogIt! ini bisa lebih ditingkatkan lagi fiturnya seperti adanya notifikasi untuk komentar yang dimoderasi. Demikian review singkat saya tentang salah satu aplikasi yang saya gunakan untuk ngeblog. Semoga bermanfaat :)

Tuesday, December 19, 2017

[Review] Wardah Intense Matte 05 Easy Brownie

December 19, 2017 34
Sekitar dua tahun yang lalu, Wardah mengeluarkan seri lipstik matte yang diberi nama Wardah Intense Matte dengan 12 warnanya. Kala itu saya sempat tertarik untuk membeli salah satu koleksi warnanya. Sayangnya dulu itu saya selalu merasa tidak cocok dengan lipstik Wardah. Beberapa kali saya beli produknya selalu salah warna dan formulanya tidak nempel di bibir saya. Akhirnya dengan pengalaman ini saya pun mengurungkan niat untuk membeli lipstik Wardah Intense Matte tersebut.

Nah, belakangan saya berkesempatan mencoba lipstik Wardah Exclusive Matte yang oke itu. Setelah mencoba lipcream Wardah tersebut, saya akhirnya mulai yakin untuk membeli lipstik Wardah Intense Matte yang sudah saya idam-idamkan. Warna yang saya inginkan adalah no 5 dengan nama Easy Brownie. Saya pun mampir ke toko kosmetik langganan dan membeli lipstik tersebut. Bagaimanakah kesan saya atas lipstik Wardah Intense Matte ini?

Kemasan
Lipstik Wardah Intense Matte ini dibungkus dengan karton dengan warna sama dengan lipstiknya. Tentunya ini sangat memudahkan konsumen untuk mengetahui warna dari lipstik tersebut. Ironisnya, untuk kemasan lipstiknya sendiri malah mirip (atau malah sama) dengan lipstik Wardah seri Longlasting. Bentuknya langsing dengan warna kemasan abu-abu dan pada bagian bawah terdapat nomor lipstik.





Warna dan ketahanan Sesuai dengan namanya, lipstik Wardah Intense Matte no 05 Easy Brownie ini memiliki warna coklat dengan sedikit hint kemerahan. Di bibir saya lipstik ini jatuhnya jadi nude tapi tidak pucat. Kalau mata orang warnanya jadi my lips but better.  Tekstur lipstik ini lembut dan cukup pigmented. Cukup sekali oles sudah bisa menutupi warna bibir saya. Sayangnya mungkin karena saking lembutnya, lipstik ini jadi gampang patah.


Untuk ketahanannya sendiri, bisa dibilang so so ya. Setelah dipulas ke bibir, perlu waktu beberapa menit sampai lipstiknya berubah menjadi matte namun tidak membuat bibir kering. Kalau tidak dibawa makan minum lipstik ini mungkin bisa tahan 3-4 jam. Pengalaman saya, saat dibawa makan, lipstik ini gampang banget hilangnya. Selain itu lipstik ini juga tidak transferproof.


Untuk kesimpulan akhir, bisa dibilang saya cukup menyukai lipstik Wardah Intense Matte ini. Meski tidak terlalu tahan lama, namun saya suka warna dan teksturnya yang lembut dan tidak membuat bibir kering. Lipstik Wardah Intense Matte ini bisa didapatkan dengan harga 46 ribu rupiah.

Friday, December 15, 2017

Resolusi 2018 : Menjadi Ibu yang Lebih Produktif

December 15, 2017 68



Tahun 2017 ini merupakan tahun yang memiliki arti tersendiri bagi saya. Di tahun ini, saya diberi kesempatan menjadi seorang ibu dari seorang putri yang kini menginjak usia 1 tahun. Tentunya ada banyak perubahan yang terjadi pada saya setelah menjadi ibu. Mulai dari perubahan fisik dan tentunya perubahan ritme kehidupan dan aktivitas sehari-hari.

Perjalanan sebagai ibu saya selama setahun ini sendiri bisa dibilang cukup seru. Mulai dari perjuangan memberikan ASI untuk Yumna, lalu menyiapkan MPASI-nya yang kekeuh pengen homemade, hingga tentunya menyeimbangkan urusan rumah tangga dengan urusan mengurus anak. Dan kalau boleh jujur sih, saya masih agak keteteran dalam urusan menyeimbangkan urusan rumah tangga dengan urusan mengurus anak ini. Hik.

Baca juga : Belajar Menjadi Orang Tua

Saat ini, kita sedang menjalani bulan terakhir di tahun 2017. Biasanya orang-orang akan melakukan sedikit review hal-hal yang terjadi pada mereka selama setahun terakhir, sekaligus membuat rencana hal-hal yang ingin dilakukan untuk tahun mendatang atau kerap disebut resolusi. Sebenarnya tak harus menunggu tahun baru juga untuk membuat resolusi ini. Ada yang membuat resolusi di tahun baru Hijriah, ada juga yang di peringatan tanggal kelahirannya. Bahkan ada juga yang membuat rencana kehidupannya setiap malam. Tahun baru sendiri dipilih karena saat ini penanggalan inilah yang digunakan untuk menandakan pergantian masa perputaran bumi.

Saya sendiri tentunya juga memiliki beberapa resolusi yang ingin dijalankan di tahun 2018 nanti. Pada intinya sih, saya ingin tahun 2018 nanti, saya bisa lebih produktif ketimbang tahun 2017. Entah itu dalam hal spiritual, karir dan juga hobi. Beberapa resolusi tersebut antara lain:

Meningkatkan Kualitas Ibadah
"Banyak-banyaklah beribadah saat masih lajang. Setelah menikah dan punya anak, belum tentu kita bisa beribadah sebanyak saat kita masih lajang". Begitulah pesan yang pernah disampaikan seorang ustadzah pada saya. Setelah memiliki anak, saya pun langsung mengerti maksud dari ucapan ustadzah ini. Menikah dan memiliki anak telah menyita banyak waktu saya sebagai individu.

Memang sih bagi seorang istri dan ibu tetap mendapat pahala yang besar jika melayani suami dan mengurus anak dengan baik. Namun tentunya akan lebih bagus dong ya kalau saya juga bisa tetap memaksimalkan ibadah harian saya. Untuk urusan ibadah ini sendiri, beberapa target yang ingin saya capai adalah saya ingin bisa lebih tepat waktu dalam menjalankan salat,  mengulang kembali hafalan yang mulai menghilang dan juga meningkatkan ibadah-ibadah sunnah.

Kembali Menulis Fiksi
Tahun 2015 mungkin adalah tahun yang membahagiakan bagi karir menulis saya. Saat itu 2 cerpen saya dimuat di majalah nasional. Satu di Femina, satu lagi di Gadis. Sebagai penulis amatiran, pastinya saya sangat bangga dengan pencapaian ini. Sayangnya, setelah itu saya tak lagi bisa menembus media. Beberapa kali saya mengirimkan karya, namun tak ada yang dimuat. Saya juga sempat belajar menulis cerpen anak namun tak cukup beruntung bisa menembus majalah anak.

Setelah melahirkan, otomatis saya semakin sulit menyisihkan waktu untuk menulis cerita fiksi. Selain itu sekarang saya juga fokus mengelola blog pribadi yang jujur lebih mudah diisi karena tak perlu memikirkan plot dan konflik. Meski begitu, jujur saya kangen masa di mana tulisan saya nampang di media cetak. Ada rasa yang berbeda jika melihat nama kita akhirnya terpilih di antara ribuan karya yang masukke redaksi. Karena itulah salah satu resolusi tahun 2018 saya adalah bisa menulis cerita fiksi minimal 1 minggu sekali.

Lebih banyak membaca
Beberapa tahun yang terakhir, saya memiliki kebiasaan membuat daftar buku yang berhasil saya selesaikan selama setahun dalam sebuah postingan. Untuk memudahkan pencatatan buku yang dibaca ini tentunya saya mengandalkan Goodreads dong, ya. Nah, barusan saya mengecek bacaan saya di tahun 2017 ini. Dan ternyata menurut Goodreads saya hanya menyelesaikan 7 buku saja. Ya ampun. Itu berarti saya hanya membaca 1 buku dalam 2 bulan. Padahal tahun-tahun sebelumnya saya menargetkan membaca buku di atas 30 buah :(

Penurunan kecepatan membaca ini mungkin disebabkan oleh ritme baru saya sebagai seorang ibu. Jangankan buku, kadang tabloid pun tak sempat saya baca. Padahal stok buku yang belum dibaca masih menumpuk di rumah. Selain itu saya juga memiliki "tugas" mengenalkan anak saya pada buku. Dan katanya, salah satu cara agar anak suka membaca adalah dengan memberi contoh pada si anak. Jadi, tentunya tidak ada alasan dong bagi saya untuk tidak banyak membaca.  

Menjaga Kesehatan dan Memanajemen Waktu dengan Baik
Menjaga kesehatan tentu saja menjadi salah satu prioritas utama kita semua. Salah satu cara saya dalam menjaga kesehatan keluarga adalah dengan mengurangi makan fastfoood dan memasak sendiri bekal untuk saya dan suami (meski kadang rasanya masih amburadul). Dan alhamdulillah, setelah mengikuti medical check up yang didakan kantor beberapa waktu yang lalu, hasil tes kesehatan saya termasuk normal kecuali untuk urusan gula darah yang sedikit di atas ambang batas. Oleh dokter saya disarankan untuk lebih banyak berolahraga untuk mengontrol gula darah ini. 

Apalagi dengan semakin bertambahnya umur, daya tahan tubuh juga semakin berkurang. Misalnya saja dulu saat masih berusia 20-an saya masih tahan banting kena hujan. Sekarang kena gerimis sedikit aja langsung kumat flu saya. Nah, biasanya kalau sudah kena flu, saya ini tipe yang tidak langsung minum obat. Apalagi saya masih menyusui, salah minum obat bisa-bisa ASI saya seret. Karena itu saya lebih memilih banyak istirahat dan minum vitamin untuk meredakan flu yang saya alami.

Baca juga : Wanita Bekerja dan Risiko Terkena Infeksi Saluran Kemih



Bicara soal vitamin, belakangan saya mengenal Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Seperti yang kita ketahui, kekurangan vitamin dan mineral dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh serta timbulnya berbagai penyakit. Nah, kombinasi Multivitamin (Vit A, Vit B, Vit C, Vit D, Vit E) dan Mineral esensial (seperti Magnesium dan Zinc) di dalam Theragran-M terbukti meningkatkan, mengembalikan dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan. Pas banget untuk para ibu yang sering kena doktrin kalau sakit jangan lama-lama.

Theragran-M ini sendiri diproduksi oleh PT Taisho Pharmacheutical Indonesia dan sudah direkomendasikan selama 40 tahun oleh para dokter. Harganya sekitar 20 ribu untuk satu keping dengan isi 4 tablet salut gula. Untuk pemakaiannya sendiri, cukup sehari 1 kaplet, sewaktu atau sesudah makan, atau sesuai dengan anjuran dokter. Dengan adanya Theragran-M ini, tentunya akan sangat membantu saya dalam masa penyembuhan saat kena flu menyerang dan saya bisa selalu aktif menjalani kehidupan saya sebagai ibu bekerja.

Itulah dia resolusi saya untuk tahun 2018 nanti. Semoga saja saya bisa konsisten dalam menjalankan resolusi saya ini sehingga benar-benar bisa menjadi ibu yang produktif.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Thursday, December 7, 2017

Pengalaman Terjebak Rekrutmen Club Wisata

December 07, 2017 107


"Aku dapat undangan buat menghadiri acara nih," kata suami pada saya.

"Undangan apa?"

"Nggak tahu. Dia tahu-tahu nelpon dan mengundang buat acara sosialisasi pariwisata gitu," jawab suami lagi. Tak lama sebuah pesan masuk ke ponsel suami. Beliau kemudian membuka pesan tersebut.

"Nih aku dapat lagi SMS undangannya. Katanya kalau datang dapat voucher menginap di Bali," kata suami lagi.

"Di mana acaranya?" tanya saya yang mulai tertarik sejak mendengar kata sosialisasi pariwisata. Bisa jadi bahan tulisan di blog nih, begitu pikir saya.

"Mercure," suami menyebutkan nama sebuah hotel bintang 4 di kota kami.

"Oke, nanti kita ke sana," kata saya akhinya.

Percakapan di atas terjadi sekitar satu tahun yang lalu, saat saya masih hamil 9 bulan. Saya dan suami mendapat undangan untuk mengikuti sebuah acara yang katanya adalah sosialisasi pariwisata. Untuk bisa lebih menarik minat suami, diberikan juga voucher menginap di hotel bintang 4 di Bali jika suami menghadiri acara tersebut. Mendengar kata Bali, saya dan suami tentunya tertarik dong dengan penawaran ini. Apalagi untuk saya, yang merasa ini bisa menjadi bahan tulisan untuk blog. Dalam pikiran saya, acara yang ditawarkan ini semacam seminar atau obrolan tentang wisata.

Baca juga : Merencanakan Liburan ke Bali

Maka dengan penuh persiapan saya (yang saat itu hamil tua) dan suami pun berangkat ke lokasi acara. Begitu tiba di hotel, saya langsung bingung. Alih-alih menemui acara semacam seminar, saya malah menemui format acara wawancara. Meski begitu, saya dan suami tetap melangkahkan kaki menuju ruangan tempat acara akan dilaksanakan. Oh ya, sebelum masuk ke ruangan, terlebih dahulu kami melakukan pendaftaran dan diminta menunggu sampai dipanggil ke dalam ruangan.

Begitu memasuki ruangan, kami disambut oleh seorang pria dengan gaya metroseksual. Kami dipersilakan duduk dan seketika itu sadarlah saya kalau acara yang kami hadiri ini ternyata program rekrutmen sebuah klub wisata. Si Mas yang sebut saja namanya Doni memperkenalkan nama sebuah club wisata yang tergabung dalam jaringan sebuah hotel. Dalam promosinya ke saya, club wisata ini bisa mengakomodasi anggotanya untuk berlibur tanpa pusing memikirkan biaya dan tempat menginap.

Jadi dalam programnya ini, anggota yang berhasil direkrut diiming-imingi akan bisa berlibur ke berbagai tempat dengan cara mengumpulkan poin-poin tertentu. Nah poin-poinnya ini diambil dari uang yang diangsurkan setiap bulan. Yah intinya nabunglah. Jadi kalau si anggota ingin berlibur ke mana, mereka tinggal menghubungi club wisata ini dan club akan mengurus akomodasi mereka. Dengan poin yang dikumpulkannya, setiap tahun anggota akan mendapat poin untuk jatah liburan yang mana poinnya bisa digabung dengan tahun sebelumnya.

Baca juga : Menginap di Hotel Four Points Sheraton Makassar

Saya sendiri sebenarnya sejak awal sudah tidak terlalu berminat dengan penawaran yang diberikan. Alasannya karena paket yang ditawarkan mahal banget kalau untuk ukuran saya dan suami. Meski begitu, rupanya para marketing ini selalu punya banyak cara untuk menggaet "korbannya". Jadi setelah saya menolak paket yang termurah, tiba-tiba saja ada lagi satu penawaran khusus yang hanya diberikan hari itu. Harganya memang miring banget sih. Dan ternyata jurus terakhir ini sukses menggaet saya dan suami menjadi anggota si club wisata.

Begitu pulang ke rumah, saya kembali membaca kontrak kerja sama yang sudah kami tanda tangani. Begitu membaca kontrak ini, saya baru sadar kalau saya dan suami tidak mendapat banyak keuntungan dari club ini. Pertama, club ini tidak meng-cover harga tiket pesawat. Padahal saya berharap dengan untuk tiket pesawat bisa dipotong dari poin-poin yang ditabung. Saya lupa apakah ini karena paketnya yang berbeda atau memang si club tidak meng-cover tiket pesawat. Namun yang jelas hal ini cukup mengecewakan untuk saya. Alasan kedua, poin yang dimiliki hanya berlaku untuk hotel yang masuk dalam jaringan hotel mereka, dan beberapa tempat wisata. Kalau misalnya saya mau coba hotel lain, harus pakai uang sendiri dong.

Karena merasa kecewa, saya mengajak suami untuk membatalkan keanggotaan kami di club itu. Risikonya sih ya pastilah uang yang sudah disetorkan hangus. Padahal kemarin itu lumayan banget uang setoran itu untuk biaya persalinan saya. Suami minta saya pikir-pikir lagi. Namun saya sudah bulat tak ingin melanjutkan keanggotaan di club itu. Toh kami juga kayaknya tidak bakal sering liburan, kata saya pada suami. Akhirnya suami pun setuju untuk membatalkan keanggotaan kami di club itu.

Kurang lebih 1 bulan setelah mendaftar, saya melayangkan pengajuan pembatalan keanggotaan. Dan ternyata permohonan saya langsung diterima tanpa ditanyai ini itu. Saya hanya perlu mengisi formulir pembatalan dan mengirimkannya kembali ke club itu. Mudah dan ironis sih kalau kata saya sih. Kenapa? Karena seolah-olah pihak club wisata ini targetnya adalah merekrut anggota sebanyak-banyaknya di proses rekruitmen mereka. Kalau misalnya ternyata ada yang mengundurkan diri, mereka tidak rugi karena sudah mendapatkan uang pendaftaran dari si anggota itu :(

Hingga saat ini, meski sudah tidak terdaftar lagi sebagai anggota, saya masih sesekali mendapat beberapa email dari club wisata ini. Isinya tentu saja tentang jadwal tour-tour dan promo yang akan mereka adakan dan beberapa informasi terkait iuran anggota. Bagi saya pribadi, mengikuti club wisata semacam ini bisa jadi bermanfaat bagi mereka yang ingin jalan-jalan namun tidak ingin ribet soal akomodasi. Selain itu sistemnya yang nabung lumayan menggiurkan dan masuk akal sih.

Namun di jaman yang serba canggih kayak sekarang, kok kayaknya lebih asyik jalan-jalan dengan itinenary sendiri ya? Toh sekarang sudah banyak sekali aplikasi yang bisa membantu kita kalau ingin ke suatu tempat. Selain itu Mbah Google juga pastinya siap membantu kalau kita perlu informasi apapun selama dalam perjalanan. Betul begitu?

Monday, December 4, 2017

5 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Para Ibu Agar Tetap Bahagia

December 04, 2017 56

Beberapa hari terakhir, saya menonton sebuah drama berjudul Go Back Couple. Drama dengan 12 episode ini bercerita tentang pasangan yang sudah 14 tahun menikah dan akhirnya memutuskan bercerai. Alasan dari perceraian mereka adalah karena keduanya merasa tidak bahagia. Sang istri yang menjadi ibu rumah tangga merasa tidak bahagia dengan kondisi keluarganya. Sementara suami yang bekerja sebagai sales obat juga merasa tertekan dengan pekerjaannya yang kadang memaksanya melakukan hal yang tidak ia sukai.

Setelah bercerai, mereka kemudian tiba-tiba terlempar ke masa 18 tahun yang lalu saat mereka pertama kali dipertemukan. Berkaca dari kegagalan berumah tangga yang mereka alami, keduanya bertekad untuk tidak terlibat lagi satu sama lain. Namun rupanya kembalinya keduanya ke masa lalu ini menjadi sebuah cara bagi mereka untuk memperbaiki kembali hubungan mereka.

Selain Go Back Couple, drama Korea lain bertema kehidupan rumah tangga yang saya tonton adalah My Wife's Having An Affair This Week. Nah dalam drama ini, dikisahkan seorang suami yang tanpa sengaja mengetahui kalau istrinya akan bertemu dengan pria lain di sebuah hotel. Keduanya sudah menikah selama 7 tahun dan dikaruniai seorang putra. Mengetahui hal ini, sang suami pun merasa bingung. Selama ini dia merasa kalau rumah tangganya baik-baik saja. Mereka adalah pasangan yang menikah karena saling mencintai. Lalu kenapa sang istri tiba-tiba selingkuh?

Baca juga : Belajar Menjadi Orang Tua

Berbeda dengan Go Back Couple yang tokoh sang istri adalah ibu rumah tangga, maka dalam  My Wife's Having An Affair This Week ini sosok istri digambarkan sebagai seorang wanita karir. Meski bekerja, namun ia masih sempat mengurus rumah tangga dengan baik. Sayangnya, terlepas dari karir yang lumayan sukses dan urusan rumah yang beres, si istri tetap merasa kosong.

Setelah memiliki anak, si istri dia merasa dia bukan lagi dirinya. Kesibukannya sebagai istri, ibu dan karyawan telah memakan sebagian besar waktunya. Si istri bahkan tak sempat menyelesaikan buku yang dibacanya. Nah, si pria yang juga adalah rekan kerja sang istri datang di saat yang tepat. Sang istri pun merasa nyaman dengan kebersamaannya dengan si pria dan mulai sering bertemu di luar jam kantor.

***

Sebagai seorang pecinta drama Korea, menonton drama dengan tema kehidupan rumah tangga selalu memberikan kesan tersendiri bagi saya. Melalui drama bertema rumah tangga ini saya mendapat cukup banyak pemahaman baru seputar kehidupan setelah pernikahan. Bagi mereka yang sudah menikah, pastinya tahu kalau pernikahan tak semudah yang dibayangkan, bukan? Dua orang yang berbeda bertemu dan hidup bersama. Tak cukup hanya cinta, ada berbagai kompromi dan kesabaran yang harus dimiliki dalam menjalani sebuah pernikahan. Karena itulah seperti kata orang, kita perlu terus menumbuhkan cinta dalam sebuah pernikahan.

Dalam tulisannya yang berjudul Laki-laki Hidup Lebih Bahagia, Kok Bisa? Mbak Nurin Ainistikmalia menyebutkan sebuah fakta menarik. Jadi berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, disebutkan kalau Indeks Kebahagiaan Indonesia penduduk laki-laki sebesar 71,12, nilainya lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan yang sebesar 70,30. Hal ini didasarkan pada hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang sudah dilakukan oleh BPS.

Baca juga : Mengontrol Tontonan Anak bagi Ibu Bekerja


Menurut mbak Nurin lagi, salah satu alasan kenapa wanita bisa kurang bahagia adalah karena kehidupan mereka yang penuh tekanan, kecemasan, kekhawatiran. Bisa jadi benar tuh. Sebagai seorang ibu saya sendiri juga cukup mendapat tekanan seputar perkembangan bayi sendiri. Dan itu tekanan dari diri sendiri loh, bukan orang lain. Selain itu, alasan lainnya juga mungkin karena wanita memiliki kemampuan multitasking-nya mampu memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Bisa jadi bukan hal itu turut berpengaruh dalam kadar kebahagiaan yang mereka rasakan.

Lalu, dengan berbagai tekanan yang harus dihadapi, bagaimanakah caranya agar ibu tetap bahagia? Nah, saat ini, cukup sering kita dengar istilah Me Time untuk para ibu, terutama mereka yang berstatus ibu rumah tangga. Me Time ini bertujuan agar para ibu bisa tetap "waras" di tengah kesibukannya di rumah. Saya sendiri cukup setuju dengan adanya Me Time ini. Kesibukan mengurus keluarga dan tetek bengeknya pastilah sangat menguras energi dan emosi.

Nah, bagi saya pribadi, ada 5 hal yang bisa dilakukan agar bisa tetap bahagia. Hal tersebut antara lain:

Berkumpul bersama teman dekat
Dalam drama Korea yang kerap saya tonton, tokoh utamanya biasanya memiliki satu atau sahabat yang menjadi tempat curhat si tokoh utama. Dalam kehidupan nyata, kita juga pastinya memiliki sahabat yang kerap menjadi tempat curhat dong, ya. Entah itu di dunia nyata atau di dunia maya. Nah, jika sahabat yang dimiliki ini berada satu kota dengan kita, tentunya tak salah dong kita sesekali berkumpul dengan mereka untuk saling bercerita atau sekadar ngopi bareng.  

Menjalani hobi
Setiap orang pasti memiliki hobi. Ada yang suka memasak, merajut, berkebun. Nah, bagi para ibu, menjalani hobi ini juga bisa menjadi sarana Me Time yang bisa menenangkan pikiran. Tambahan lagi, kalau hobi tersebut bisa mendatangkan rezeki buat ibu. Pastinya semakin membuat senang dong, ya?

Melakukan perawatan tubuh dan kecantikan
Salah satu kegiatan lain yang juga bisa membuat rileks adalah melakukan perawatan tubuh dan kecantikan. Sekarang ini, perawatan tubuh juga tak harus dilakukan di salon. Sudah ada jasa salon yang bisa datang ke rumah. Tak hanya membuat rileks, perawatan tubuh juga membuat para ibu merasa lebih cantik dan bersinar. Dan percaya atau tidak, menjadi cantik itu bisa membuat bahagia loh.

Mengunjungi pasar atau pusat perbelanjaan
Meski kedengarannya konsumtif, namun kadang mengunjungi pasar atau pusat perbelanjaan ini cukup efektif dalam memberikan rasa bahagia bagi para wanita. Saya sendiri kadang kalau sedang suntuk memilih pergi ke toko buku untuk sekadar window shopping. Senang saja rasanya melihat deretan barang-barang yang disusun rapi di etalase toko. Namun mungkin ada baiknya saat berbelanja ini ditemani oleh teman yang bisa mengontrol agar kita tak belanja berlebihan.

Rekreasi
Rekreasi juga bisa menjadi sarana Me Time bagi para ibu agar tetap bahagia. Rekreasi ini bisa dilakukan bersama keluarga atau juga sendirian. Tentunya tak perlu memikirkan tempat yang jauh-jauh dulu kalau mau rekreasi. Bagi saya sih, jalan-jalan di taman kota juga sudah bisa disebut rekreasi. Hehe.

Itulah dia 5 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Para Ibu Agar Tetap Bahagia versi saya. Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan mbak Nurin Ainistikmalia dalam dalam KEBloggingCollab untuk grup Mira Lesmana.