Review Film Bollywood Toilet : Ek Prem Katha


gambar : wikipedia

Salah satu negara yang selalu ingin saya kunjungi adalah India. Hal ini mungkin terpengaruh dari kebiasaan saya menonton film Bollywood di masa kecil dahulu, saat salah satu televisi swasta rutin menayangkan film-film Bollywood tahun 80-90an. Dalam bayangan saya, India itu adalah negara yang indah dan penuh warna. Selain itu saya tentunya juga jatuh cinta pada ketampanan dan kecantikan para aktor dan aktrisnya di masa itu.

Sayangnya seiring dengan bertambahnya umur, saya pun sadar kalau keindahan yang ditawarkan dalam film lagu-lagu di film Bollywood itu tak selalu berasal dari negara asalnya. Negara India yang asli bisa dibilang merupakan negara yang kumuh dan sangat padat penduduknya. Meski tentu saja ada beberapa tempat-tempat indah untuk dikunjungi, namun kebanyakan lagu-lagu dalam film Bollywood direkam di luar negeri. Setahu saya, baru beberapa tahun terakhir perfilman Bollywood benar-benar menggunakan lokasi asli di negaranya. Salah satunya yang terkenal adalah Kashmir yang memang sudah tak diragukan lagi keindahannya.

Belakangan, satu fakta baru juga saya ketahui. Setelah membaca tulisan para traveler yang pernah mengunjungi India, saya jadi tahu kalau di negara itu, orang-orang biasa membuang hajat sembarangan. Entah itu di pinggir jalan atau bahkan di dekat rel kereta. Awalnya saya berpikir kalau hal ini disebabkan karena kurangnya toilet dan banyaknya jumlah penduduk di India. Namun kemudian saya pun mengetahui kalau hal ini ada juga kaitannya dengan agama tradisi yang mereka anut. Dari mana saya mengetahui tentang hal ini? Dari sebuah film berjudul Toilet: Ek Prem Katha.

Review Film Toilet : Ek Prem Katha




Film Toilet Ek Prem Katha adalah sebuah film tahun 2017 yang terinspirasi dari kisah sepasang suami istri bernama Shivram Narre dan Anita Narre. Dalam film ini bercerita tentang Jaya yang seorang gadis terpelajar yang menikah dengan Keshav, putra seorang pandit yang sangat teguh memegang ajaran agama dan tradisinya.

Hanya selang sehari setelah pernikahannya, Jaya menyadari satu hal. Di rumah mertuanya tidak ada toilet. Jadi ceritanya dini hari di malam pernikahannya, Jaya dibangunkan oleh para ibu-ibu tetangga. Rupanya para ibu-ibu ini mengajaknya untuk pergi ke ladang agar bisa membuang hajat. Jaya yang di rumahnya memiliki toilet tentu saja tak bisa mengikuti apa yang dilakukan para ibu-ibu ini. Ia pun pulang dengan kemarahan dan memaksa Keshav untuk membuatkan toilet untuknya.

Keshav yang mencintai Jaya melakukan berbagai cara untuk bisa memenuhi keinginan istrinya. Sayangnya usaha Keshav terbentur dengan kepercayaan dan tradisi yang dianut ayahnya yang meyakini kalau orang tidak boleh membuang kotoran di dalam rumah. Merasa kecewa dengan suaminya ini, Jaya pun memutuskan untuk pergi dari rumah mertuanya dan tinggal di rumah orang tuanya.

Kepergian Jaya dari rumah mertuanya tentu saja menjadi sebuah skandal besar di tempat mereka tinggal. Meski mendapat tentangan dari sana sini, Keshav tetap berusaha mewujudkan keinginan istrinya untuk membangun toilet di lingkungan tempat tinggal mereka. Tak hanya berusaha membujuk tetua kampung, Keshav bahkan datang ke kantor pemerintahan untuk meminta bantuan.

Ironisnya, setelah mendatangi kantor pemerintahan ini, Keshav baru tahu kalau sebenarnya pemerintah sudah menganggarkan pembangunan toilet di lingkungan tempat tinggalnya. Sayangnya karena benturan kepercayaan agama dan tradisi ini, toilet-toilet tersebut tak berfungsi sebagaimana mestinya. Masyarakat tetap dengan kebiasaannya membuang hajat di luar rumah.

Atas saran dari kepala dari kantor yang ia datangi, Keshav pun mengajukan permohonan pembangunan toilet untuk kampungnya. Sayangnya untuk bisa merealisasikan rencana ini memerlukan waktu hampir 1 tahun. Merasa tak ada jalan lain, Jaya akhirnya mengajukan permohonan cerai. Berhasilkah usaha pasangan ini untuk membangun toilet di kampung mereka?

Kesan Setelah Menonton Film Toilet Ek Prem Katha

Menonton film ini, mengingatkan saya pada beberapa belas tahun lalu, saat saya menghadiri pernikahan salah satu paman. Pernikahan beliau diadakan di salah satu desa di Kabupaten Tanah Laut. Lokasinya bisa dibilang cukup terpencil mengingat ini kampung transmigrasi. Nah, di malam jelang pernikahan, saya kebelet BAB. 

Dan alangkah terkejutnya saya saat mengetahui kalau untuk untuk buang hajat di kampung tersebut dilakukan di padang rumput. Duh ya, saya asli lupa deh gimana kelanjutan ceritanya waktu itu. Untungnya sekarang di kampung istri paman saya itu sudah dibangun toilet jadi nggak perlu ke padang rumput lagi kalau kebelet.

Lain di gunung, lain pula di darat. Di kota saya sendiri, permasalahan toilet lebih kepada sistem pembuangannya. Jadi berhubung kota kami dibelah oleh sungai, maka masih banyak rumah-rumah yang pembuangan toiletnya langsung ke sungai. Ini tentunya bisa mengganggu ekosistem sungai.

Selain itu masih ada juga terdapat jamban-jamban di pinggir sungai yang tentunya riskan sekali untuk digunakan. Bayangkan saat kita sedang BAB tahu-tahu ada klotok lewat. Pasti was-was kan ya? Karena itulah saat ini pemerintah kota melalui dinas terkait getol sekali mengkampanyekan sistem instalasi air limbah untuk rumah-rumah.

Film Toilet: Ek Prem Katha sendiri merupakan film yang sangat inspiratif. Melalui tokoh Jaya, film ini memberi pesan bagi para wanita untuk memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Film ini juga memberikan pesan betapa pentingnya keberadaan toilet di sebuah rumah. Kalau untuk beberapa orang bahkan mungkin kebersihan toilet juga menjadi hal pertama yang harus diperhatikan dari sebuah rumah. Bukan hal yang salah dong ya, mengingat toilet kan tempat membuang kotoran jadi harus dijaga kebersihannya.

Sebagai penutup, saya ingin menuliskan kuote menarik yang disampaikan melalui film ini. Kuote tersebut adalah, "Jika kau ingin punya istri, kau harus punya toilet."

Judul film : Toilet: Ek Prem Katha

Produser : Aruna Bhatia, Shital Bhatia, Prernaa Arora, Arjun N. Kapoor, Arjun N. Kapoor

Sutradara : Shree Narayan Singh

Skenario : Siddharth Singh, Garima Wahal

Pemeran : Akhsay Kumar, Bhumi Pednekar, Anupam Kher, Divyendu Sharma

Durasi : 155 menit

Produksi : 2017

Rating : 4/5
Baca Juga
Reactions

Post a Comment

40 Comments

  1. Lama 2 aku bisa jadi penggemar bolywood nih baca riview dirimu terus kwkwkw. Btw bolywood sekarang Ceritanya inspiratif ya. Meski pemainnya gak seganteng jaman dulu. Kalau film dulu yang di jual drama percintaan nya hehhe

    ReplyDelete
  2. Wah saya itu penggemar film india. Apalagi filmnya shah ru khan ama amir khan. Tpi bru tau, ternyta di dalam rumah ga boleh buang hajat ya. Ttpi memang bener, india itu slh 1 yang trmasuk paling paday ya penduduknya. Pantesan juga syutingnya banyak di luar negeri

    ReplyDelete
  3. mbak ayaaa duh makasih direview-in film india yg bagus2 hahaha akika juga pecinta film india xixixi
    tapi ini bisa ditonton dimana sih mbak? aku biasanya nonton di yutub aja.. menarik nih sepertinya film ini

    ReplyDelete
  4. wah lucu juga ya mbak ceritanya ....aku juga suka film2 india yg dulu.....yg sekarang kadang ada pornonya...tp ini bagus

    ReplyDelete
  5. wah, makasih sharingnya, baru tahu nih

    ReplyDelete
  6. Iya nih, aku pernah lihat rekaman video dr salah satu turis yg memperlihatkan org2 india boker sembarangan. Waaah... Asli aku pengen muntah melihatnya mbak. Tp begitu tau ada hub sama kepercayaan baru deh aku ngerti. Ini emg PR besar pemerintah india ya, merubah keyakinan masyarakatnya. Tfs mba, walo ga begitu suka flm india, aku jadi pengen nonton filmnya.

    ReplyDelete
  7. iya, pita. malah sekarang kayaknya makin sedikit film bollywood yang full romance. kebanyakan cerita keluarga atau thriller gitu deh

    ReplyDelete
  8. saya juga baru tahu setelah nonton film ini, mbak.

    ReplyDelete
  9. ini aku donlot filmnya, mbak. hehe

    ReplyDelete
  10. iya kalau sekarang kadang kehidupannya digambarkan terlalu bebas, mbak.

    ReplyDelete
  11. semoga bermanfaat ya, mbak :)

    ReplyDelete
  12. iya, mbak. padahal aku pengen banget euy ke India. tapi tiap kali baca bagian itu langsung keder :D

    ReplyDelete
  13. Aku pernah liat di film dokumenter, di India malah ada orang yang profesinya ambilin pup orang. Dia diupah untuk itu oleh pemilik rumah. Padahal klo liat rumahnya ya gak kumuh banget Mb. Cuman gang aja. Rumah model India lama gitu

    Abis baca review ini, aku malah penasaran filmnya Mb... Hahaha. Mudah2an gak "horor" banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh pupnya diambil dalam bentuk gimana ya kira-kira? Jadi horor sendiri.
      Tapi film ini nggak "horor" kok, mbak. Hehw

      Delete
  14. Antara seru sama jijik ini kebayang filmnya penuh dg pup manusia dimana2 . Smpai skrg tradisinya msh ada itu di India? Duuh kok horor yaa klo lg jalan2 keinjek pup manusia

    ReplyDelete
  15. Kalau di filmnya ya nggak diliatin, mbak itu pup. Ada adegan jongkok doang. Hehe. Kalau yang saya baca dari tulisan traveller sih kayaknya masih ada mbak

    ReplyDelete
  16. Waduh.. Iti serius di TA-LA? Daerah manaaa yg msh bgt y.. Jangan2 masuk daerah trans di Tampang.. Hihi..
    Tahun brp it y mb antung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daerah gunung makmur. Tapi sekarang kayaknya dah pada punya toilet semua kok

      Delete
  17. Bagus ni kayanya. Mengangkat ttg tradisi. Tp kayanya film ini belom ada di tv ya mba antung. Kalo baru keluar tahun ini mgkn thn dpn baru ada di tv

    ReplyDelete
  18. Walah, aku jadi tertarik untuk nonton film ini Mba. Unik aja tema yang diangkatnya.

    ReplyDelete
  19. Gak nyangka banget awalnya bingung sama judulnya tapi waktu baca sampe habis nilai moralnya dpt bgt yaa.. toilet memang kebutuhan hakiki hho

    ReplyDelete
  20. Pemerannya Akshay Kumar? Pangling ih gara-gara kumisnya tebel banget. Wkwkwkwk...

    Kalo sudah menyangkut kepercayaan dan tradisi, memang bakal susah sih urusannya ya. Jadi penasaran kepengen nonton film-nya juga nih. Kepo sama akhirnya.

    ReplyDelete
  21. Selalu suka dengan bollywood menggali ide-ide segar untuk pembuatan film.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekarang film bollywood idenya mulai unik-unik

      Delete
  22. Pernah baca judul film ini juga, entah dimana gitu. Eh ala di toko kaset dvd yak hahaha.
    Coba ntar dicari ah dvdnya, kmren ke toko kaset adanya Sanam Teri Kasam dan udah kelar di tonton 5 x.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh sampai 5x? Memang romantis sih filmnya itu. Hihi

      Delete
  23. Suka banget sama film ini Mbak... Suamiku udah downloads hehehe. Baru nonton sekali tapi hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku paling terharu sama adegan pas suaminya marah-marah gara-gara wc yang dia bangun dihancur warga. Segitunya banget euy

      Delete
  24. ini artikel transferan ya mbak, komennya berantakan. Persis kayak punya saya dulu :D
    Emang lho, katanya perceraian banyak juga berasal dari hal-hal kecil, yang sebenarnya bagi pasangan itu besar. Mungkin kayak toilet ini ya.
    Di samarinda rasanya kurang lebih banjar dulunya, karena sama2 ada sungainya. Saya masih ingat waktu kecil kegirangan sambil tepok tangan ngeliat benda2 'ituh' mengapung di sungai. Manalah kalau saya tahu kalau itu bisa mengapung, karena di rumah (balikpapan) udah ada wc tersendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak ini artikel impor. Heu
      Kalau di belakang rumah saya masih bisa tuh mbak melihat yang mengapung-apung gitu soalnya masih sungai. Hehe

      Delete
  25. Wahh... Ternyata kalo kita tau, alasan orang melakukan sesuatu, kita jadi ga mudah untuk menghakimi ya. Baru tau, klo ada orang yang percaya, 'ga boleh buang hajat di dalam rumah'.

    Bisa jadi film untuk malming besok nih. Secara anak ke 2, 6th, sukaaa banget sama yang namanya Film India.

    ReplyDelete
  26. Film india memang otentik banget ya ide ceritanya..aku mau download ah penasaran hehehe

    ReplyDelete