Pria itu tampil lagi. Penampilannya sederhana dengan kemeja flanel dan celana jeans. Sambil duduk dan bermain gitar, dia menyanyikan beberapa buah lagu. Salah satunya adalah lagu “Kangen” dari Dewa 19 yang terdengar sangat syahdu di telinga Kayla. Ini adalah kali kedua Kayla datang ke foodcourt sejak kunjungan pertama satu minggu yang lalu. Ia datang sendiri setelah menyelesaikan sesi konselingnya dengan seorang psikolog yang tempat praktiknya tak jauh dari lokasi foodcourt.

Saat pertama kali melihat pria itu, Kayla tidak terlalu berekpektasi. Wajahnya memang cukup manis dengan tatapan mata teduh. Namun, jambang yang ada di area pipi dan dagu pria tersebut, cukup mengganggu Kayla. Ingin rasanya dia mencukur habis rambut halus tersebut. Keadaan berubah ketika pria itu mulai mengeluarkan suaranya. Entah mengapa Kayla bisa merasakan jantungnya berdesir. Pria itu menyanyi dengan cara yang tak pernah didengar Kayla sebelumnya. Ia menyanyi sambil tersenyum. Namun, makin didengar, Kayla tahu ada luka dalam suara tersebut. Mendengar pria itu bernyanyi membuat Kayla serasa terlempar ke dimensi lain hingga tak ingin beranjak dari tempat duduknya.

Atas alasan inilah akhirnya Kayla kembali lagi ke foodcourt ini meski jadwal konselingnya masih beberapa minggu ke depan. Kayla berharap bisa bertemu lagi dengan pria tersebut dan mendengarnya bernyanyi. Rupanya hari ini adalah hari keberuntungannya karena tepat saat ia datang, pria tersebut memulai nyanyiannya. Suaranya yang berbalut luka lagi-lagi membuat Kayla terpesona dan terhanyut dalam kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama beberapa bulan terakhir. Setelah menyanyikan lagu ketiga, pria tersebut akhirnya pamit dari panggung. Tepuk tangan terdengar dari para penonton, rupanya bukan hanya dia yang menikmati nyanyian pria tersebut. Tidak heran mengingat bagaimana efek yang dihasilkan dari suara yang keluar dari rongga mulut pria tersebut. Entah itu hadiah dari Tuhan atau hasil berlatih vokal, Kayla sangat terkesan dibuatnya.

***

“Ayo, lagi nonton video apa?” Sebuah suara dari belakang telinganya membuat Kayla sedikit terkejut. Rupanya Zahra, rekan kerja sekaligus teman dekatnya di kantor. Zahra mengintip dari balik telinga Kayla sambil memegang segelas kopi yang baru diseduh dari pantry.

Kayla memperlihatkan rekaman video yang diambilnya saat mengunjungi foodcourt beberapa hari sebelumnya. Video tersebut menampilkan pria bersuara luka sedang menyanyikan lagu dari Peterpan. Ya, Kayla sekarang menyebutnya sebagai pria bersuara luka karena tak tahu siapa nama pria tersebut.

“Siapa nih, Kay?” tanya Zahra setelah menonton penampilan pria tersebut.

“Itu penyanyi yang aku lihat setelah pulang dari psikolog. Suaranya bikin kecanduan banget,” ucap Kayla.

Zahra turut menonton video tersebut dari handphone Kayla. Ia terdiam sebentar seolah sedang berpikir. “Sebentar, sepertinya kok aku familier ya sama Mas ini,” cakap Zahra. Ia mengambil handphone di tangan Kayla dan menonton lagi video tersebut sambil memperbesarnya. “Wah, ini kan Adrian!” serunya setelah beberapa menit mengingat.

“Namanya Adrian? Kok kamu tahu?” tanya Kayla.

“Iya. Dia ini kakak tingkatku waktu kuliah dulu. Memang anak band sih, tapi dulu suaranya gak begini. Mereka dulu hampir ikut audisi band juga kalau gak salah, tapi batal. Terjadi kecelakaan jelang audisi hingga posisinya diganti orang lain,” celoteh Zahra. “Eh, gimana konselingnya? Lancar?” Zahra tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Kayla terdiam sejenak. Pikirannya melayang ke pertemuan terakhir dengan psikolog yang direkomendasikan Zahra padanya. Di ruangan itu dia bercerita tentang yang terjadi padanya selama beberapa bulan terakhir. Tentang lubang besar yang kini hadir di hati setelah kepergian ibunya dan bagaimana selama enam bulan terakhir ia tak lagi bisa tidur nyenyak. Selama hampir 30 tahun, Ibu adalah sosok yang paling berarti bagi Kayla. Sejak usianya 10 tahun, mereka hidup hanya berdua setelah ayahnya meninggal. Ibu tak berniat menikah lagi dan keduanya hanya memiliki satu sama lain. Selama belasan tahun Ibu berusaha keras dalam membesarkan Kayla sendirian dan menjadi sosok yang selalu mendukung Kayla dalam hal apa pun. Bahkan, saat pernikahannya yang hanya berlangsung selama satu tahun harus berakhir.

“Ibu sebenarnya kurang suka dengan Putra. Namun, kalau menurut kamu, dia bisa membuatmu bahagia, Ibu tidak akan menghalanginya,” kata Ibu ketika Kayla mengungkapkan keinginan Putra menikahinya.

Persis seperti yang dikatakan orang-orang tentang firasat seorang ibu selalu benar. Putra memang bukan sosok yang baik untuk Kayla. Hanya delapan bulan setelah pernikahan, seorang wanita datang ke rumah dan mengaku sebagai selingkuhan Putra. Wanita itu ingin menuntut pertanggungjawaban Putra akan bayi yang sedang dikandungnya. Sungguh ironis sekali. Kayla yang merupakan istri sah Putra bahkan belum hamil setelah hampir setahun menikah. Entah sejak kapan Putra berhubungan dengan wanita itu. Namun, setidaknya hal itu menjadi hal yang bisa disyukuri Kayla, karena dia tidak perlu repot memikirkan anak ketika menggugat cerai Putra.

Setelah bercerai Kayla kembali ke rumah ibunya. Mereka mengobrol setiap malam dan merencanakan ibadah umroh bersama di saat Kayla cuti dari pekerjaannya nanti. Ketika hari itu Kayla menemukan sosok ibunya terbaring tak bernyawa di kamar tidur, Kayla begitu syok. Siapa sangka di hari seharusnya mereka pergi untuk melunasi pembayaran ibadah umrah yang sudah diimpikan Ibu selama belasan tahun, sang ibu malah pergi untuk selama-lamanya. Tak ada tanda-tanda Ibu sakit sebelum kepergiannya. Sejak saat itulah ia merasakan kekosongan yang mendalam terutama saat berada di rumah.

“Yah, seperti yang sering kita lihat di film gitu. Aku disuruh bercerita aja apa yang terjadi selama beberapa bulan terakhir,” jawab Kayla.

“Semoga Mbak Lulu bisa bantu kamu ya, Kay. Aku kangen banget sama kamu yang dulu,” cetus Zahra.

***

Malam semakin larut dan Kayla masih terjaga di kamarnya. Ia baru saja selesai menonton sebuah drama Korea yang katanya seru namun jujur Kayla tak bisa merasakan keseruan ceritanya. Sekarang malamnya memang sudah tak seperti dulu lagi. Rasa sepi membuatnya kesulitan untuk tidur. Kadang ia tidur dini hari dan kadang ia bisa tidur cepat tetapi selalu terbangun di tengah malam. Begitulah yang ia rasakan selama enam bulan terakhir. Rumah yang ukurannya mungil ini sekarang terasa sangat sepi tanpa kehadiran ibunya.

Selama enam bulan terakhir Kayla kerap masuk ke kamar Ibu hanya untuk merasakan kehadiran ibunya di sana. Barang-barang di kamar Ibu masih tertata rapi seperti sebelum Ibu meninggal. Sampai hari ini Kayla masih belum siap untuk memindahkan pakaian dan barang berharga milik ibunya dari kamar tersebut. Ia mendadak teringat pada kata-kata Mbak Lulu saat berkonsultasi beberapa waktu sebelumnya.

“Kamu harus belajar merelakan ibumu, Kayla,” hanya itu kata-kata yang diucapkan Mbak Lulu yang sudah dipahami Kayla apa artinya. Namun, entah mengapa ia masih merasa sangat bersalah jika harus membuang atau menyumbangkan barang peninggalan Ibu kepada orang lain.

Setelah selesai melakukan ritual skincare sebelum tidurnya, Kayla kini beranjak menuju tempat tidurnya. Tak lupa handphone dibawa ke tempat tidur. Selama beberapa menit ia sibuk memilih lagu yang tepat untuk menemani tidurnya. Di saat sedang memilih lagu entah kenapa ia berubah pikiran. Tangannya bergeser ke folder video yang ada di handphone-nya dan langsung memilih salah satu video yang sebelumnya baru saja ditonton bersama Zahra. Sambil merebahkan tubuhnya Kayla pun mulai mendengarkan kembali alunan suara Adrian yang sedang menyanyikan lagu Peterpan.

Kayla mungkin agak terlambat menyadari, tetapi setiap kali mendengar Adrian menyanyi, ada rasa tenang hadir dalam dirinya. Meski hanya untuk lima menit, tetapi cukup membuat Kayla tersenyum dan melepaskan rasa hampa dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, akhirnya Kayla bisa tertidur dengan lelap.

***

Catatan:

Beberapa bulan terakhir, saya memutuskan untuk kembali mendengarkan lagu-lagu Bollywood, hal yang dulu pernah saya lakukan sebelum berkenalan dengan BTS. Dan jika bicara tentang penyanyi Bollywood favorit, maka pilihan saya tak lain dan tak bukan adalah Arijit Singh yang saya kenal suaranya di tahun 2013. Sepuluh tahun berlalu sejak lagu yang dinyanyikannya menjadi fenomenal, Arijit Singh sekarang telah menjadi penyanyi nomor 1 di India dan bahkan memiliki 100 juta followers di platform musik ternama.

Cerpen ini sendiri saya dedikasikan untuk Arijit Singh yang telah menemani saya menyelesaikan pekerjaan kantor setiap harinya.   

Baca Juga