Bangkit dari Luka Masa Kecil: Refleksi Seorang Ibu tentang Amarah dan Inner Child

Saya memiliki kebiasaan yang cukup buruk saat marah. Jika emosi sudah mulai menguasai hati dan pikiran, maka saya tidak akan segan-segan melempar atau membanting barang-barang yang ada di sekitar saya. Entah itu pintu, handphone, hingga mainan anak. Bagaimana dengan piring dan gelas? Untungnya saya masih cukup waras untuk tidak membanting barang pecah belah tersebut saat sedang marah. Hehe.

Kebiasaan marah yang kadang meledak-ledak ini jelas merugikan bayi saya. Apalagi saya juga sekarang sudah memiliki 2 orang anak. Efek langsung yang bisa saya lihat, anak perempuan saya sekarang kalau marah juga meniru gaya saya. Hiks. Nyess banget rasanya tiap kali melihatnya yang masih berusia 4 tahun sudah mulai bisa teriak-teriak saat marah. 

Kebiasaan Marah yang Menyadarkan Saya

Kalau melihat anak saya membuat saya bercermin pada diri saya sendiri. Apakah saya juga meniru gaya ibu saya saat marah? Apakah pola yang saya lakukan sebagai akibat dari inner child yang ada dalam diri saya? 

Di masa kami kecil, ibu saya memang termasuk tipe ibu pemarah yang bahkan tidak sungkan memukul dan mencubit anaknya di saat melakukan kesalahan. Ibu saya merupakan produk pengasuhan zaman dulu yang menganggap kalau kekerasan akan bisa membantu membuat anak lebih disiplin.

Luka Masa Lalu dan Pola Pengasuhan

Di masa kecil kita dahulu, kadang ada perlakuan orang tua yang menimbulkan trauma atau luka batin bagi seorang anak. Entah itu mendapat kekerasan fisik, dimarahi terus-terusan, dibanding-bandingkan dan juga beberapa bentuk pengabaian yang tanpa sengaja dilakukan orang tua pada kita. 

Orang tua kita sendiri mungkin tak tahu kalau apa yang mereka lakukan akan berdampak pada emosi anaknya di masa mendatang, salah satunya adalah mengulang perilaku yang dialami tersebut kepada anak sendiri seperti yang saya lakukan. 

Tentunya saya tidak ingin terus-terusan menjadi orang tua yang pemarah apalagi sampai melakukan kekerasan kepada anak. Saya ingin bisa membesarkan anak dengan bahagia dan juga membuat anak merasa bahagia berada dalam pengasuhan saya. Karena itulah sejak memiliki anak saya mulai membeli buku bertema parenting untuk membantu saya menjadi ibu yang lebih baik. 

Belajar Memahami Inner Child

Dalam webinar episode 2 Ruang Pulih dengan tema Bangkit dari Luka yang saya ikuti beberapa minggu lalu, Coach Prasetya M. Brata menyebutkan kalau manusia terlahir dengan sebagai pemimpin, terutama untuk dirinya sendiri. Karena itulah sebenarnya manusia memiliki kemampuan untuk memberi makna dan memilih apakah dikuasai oleh pikiran atau dirinya yang menguasai pikiran tersebut. 

Salah satu contoh sederhana tentang dikuasai pikiran ini adalah saat kita mencoba sebuah menu baru di tempat yang kita kunjungi. Coach Prasetya menceritakan tentang salah satu masakan yang beliau coba di sebuah kota di luar negeri yang katanya mirip dengan masakan Padang. Setelah makanan tiba di meja dan dicicipi, Coach Prasetya kecewa karena rasanya jauh sekali dengan yang beliau bayangkan. 

Kekecewaan akan rasa masakan yang kita makan ini merupakan salah satu contoh bagaimana kadang kita masih dikuasai oleh pikiran dan pengalaman di masa lalu. Untuk bisa mengatasi kekecewaan seperti ini, hal yang bisa dilakukan adalah mengosongkan pikiran dan menghilangkan pengalaman di masa lalu kemudian membiarkan panca indera kita merasakan kembali masakan yang ada di depan kita sehingga kita bisa menikmatinya sebagai makanan yang enak. 

Analogi dari rasa makanan ini juga bisa kita berlakukan pada luka yang ada pada diri kita. Luka yang dialami di masa dewasa sendiri hadir karena kita terus menyimpan luka di masa lalu.

Bangkit dari Luka dan Menciptakan Pola Baru

Tentunya bukan hal yang mudah untuk bisa bangkit dari luka, terutama luka batin yang dialami di masa kecil. Saya pribadi kadang masih teringat bagaimana pernah menangis tersedu-sedu setelah dimarahi ibu saya saat remaja dulu. Sebuah pengalaman pahit yang mungkin akan selalu saya ingat dalam hidup saya dan membuat saya selalu berkata "tidak ingin menjadi orang tua seperti ibu saya."
 
Uniknya, dalam webinar hari itu, saya mendapat sudut pandang baru dari Coach Fena Wijaya yang mengajak para peserta untuk melepaskan luka dan ketakutan kita. Contoh sederhana adalah ketika kita seseorang dibesarkan oleh ayah yang kerap memukul ibunya, maka alam bawah sadarnya menganggap suami memukul istri itu hal biasa. Pada akhirnya si anak yang dibesarkan oleh orang tua seperti ini bisa jadi akan menjalani pola pernikahan yang sama dengan orang tuanya. 
 
Contoh lainnya saat kita dibesarkan oleh ibu yang pemarah sehingga ketika dewasa kita takut akan menjadi sosok ibu yang pemarah juga dan bertekad untuk tidak mengulangi apa yang dilakukan ibu kepada kita. Kenyataannya, orang-orang malah melihat kita tak jauh berbeda dengan sosok ibu yang kita hindari, yakni ibu pemarah yang tidak bisa menahan emosinya kepada anak seperti yang saya alami saat ini.
 
Untuk bisa memutus pola ketakutan ini, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menghadirkan energi dan afirmasi positif dalam diri kita. Alih-alih berkata "Saya tidak ingin menjalani pernikahan yang terdapat kekerasan di dalamnya," maka gantilah dengan kata-kata, "Saya ingin menjalani pernikahan yang bahagia." Alih-alih bertekad, "Saya tidak ingin jadi ibu pemarah," maka bisa diganti dengan, "Saya ingin jadi ibu yang sabar.". Dengan demikian, maka energi positif yang dihasilkan dari kata-kata tersebut bisa membantu kita dalam mengatasi trauma akibat luka di masa kecil.

Penutup: Belajar Pulih Bersama

 Demikian sedikit sharing yang bisa saya bagikan dari parade Webinar Ruang Pulih yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Buat teman-teman yang ingin menonton acara lengkapnya bisa mampir ke akun youtube Ruang Pulih dan mari kita bersama-sama belajar untuk bangkit dari luka masa kecil dan menyembuhkan diri.






 
Baca Juga