Mewujudkan Program Langit Biru dengan BBM Ramah Lingkungan

Mewujudkan Program Langit Biru dengan BBM Ramah Lingkungan


Setiap hari, saya menempuh perjalanan kurang lebih 10 km dari rumah menuju kantor dengan menggunakan kendaraan bermotor. Tinggal di pinggiran kota membuat perjalanan saya terbilang lancar. Apalagi di masa pandemi begini anak-anak juga sekolah di rumah membuat saya terbebas dari kemacetan jelang jam masuk di titik-titik tertentu. Dengan kecepatan 50-60 km/jam, saya bisa tiba di kantor dalam waktu 15-20 menit.

Saya cukup beruntung tinggal di kota Banjarmasin yang tingkat lalu lintasnya tidak terlalu padat. Jalan A. Yani yang merupakan jalan protokol utama bisa dilewati mulus tanpa hambatan berarti. Jikalau ada kemacetan, biasanya terjadi karena ada proyek pembangunan jembatan yang membuat rute jalan dialihkan. Atau bisa juga karena faktor lain seperti kecelakaan atau banjir.

Lalu bagaimana dengan Jakarta ibukota negara kita? Macet dan macet merupakan salah satu kata yang selalu menggambarkan kota Jakarta. Saya ingat saat dulu berkesempatan mengunjungi kota Jakarta saat mengunjungi mertua yang tinggal di Tangerang Selatan. Untuk perjalanan dari Monas menuju Tangerang saja memakan waktu hampir 3 jam. Badan yang sudah capek karena seharian berkeliling terasa semakin lecek karena kelamaan di jalan.

Dengan parahnya kemacetan yang terjadi di kota Jakarta pastinya berpengaruh pada kualitas udara di kota tersebut. Banyaknya mobil dan kendaraan bermotor yang ada di Jakarta menghasilkan emisi gas buangan yang dapat mempengaruhi bagi kesehatan karena mengandung banyak zat berbahaya bagi tubuh. Selain itu, polusi udara yang terjadi juga turut mempengaruhi warna langit di Jakarta. Salah satu bukti nyata besarnya pengaruh bahan bakar minyak pada kondisi langit ini terjadi ketika pandemi. Beberapa foto memperlihatkan selama masa pandemi, langit di terlihat Jakarta lebih biru saat dilakukan PSBB.

Sosialisasi BBM ramah lingkungan untuk mewujudkan program Langit Biru


foto : Banjarmasin Tribun News


Kamis, 25 Maret 2021 yang lalu saya mengikuti webinar dan diskusi publik yang diadakan oleh KBR bersama YLKI dengan tema "Penggunaan BBM Ramah Lingkungan untuk Mewujudkan Program Langit Biru". Webinar dan diskusi publik ini diikuti oleh berbagai kalangan diantaranya Bapak Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, Bapak Dasrul Chaniago selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), beberapa pejabat dinas lingkungan hidup di wilayah Banjarmasin, Gorontalo, Jambi dan Kupang, serta para Blogger dan influencer.

Program Langit Biru merupakan program yang sudah dicanangkan oleh KLHK sejak tahun 1996 yang lalu. Program ini bertujuan untuk mengendalikan dan mencegah pencemaran udara dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan baik dari industri bergerak maupun tidak bergerak. Selain Program Langit Biru, Presiden Jokowi juga sudah menandatangani Paris Agreement tahun 2015 yang salah satu tujuannya adalah menahan laju peningkatan temperatur global hingga di bawah 2 derajat celcius dari angka sebelum Revolusi Industri.

Dalam webinar Program Langit Biru hari itu, para narasumber saling berbagi pikiran tentang penggunaan bahan bakar premium yang masih banyak digunakan masyarakat Indonesia. Padahal sejatinya premium merupakan bahan bakar minyak yang tidak ramah lingkungan karena memiliki nilai oktan rendan dan menghasilkan gas buangan kendaraan dengan emisi tinggi. Disebutkan bahwa Indonesia merupakan 1 dari 7 negara yang masih menggunakan premium sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Untuk standar penggunaan BBM di Indonesia, berdasarkan peraturan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O), disebutkan bahwa cetus api (bensin) harus memiliki nilai minimum RON (Research Octane Number) 91. Sementara premium yang digunakan masyarakat saat ini masih memiliki RON 88 dan 89 yang berarti di bawah standar yang ditetapkan.

Adapun jenis-jenis BBM yang dijual di masyarakat terdiri atas:
  • Premium, memiliki warna khas kuning terang dengan angka RON 88 dan 89 serta kompresi di bawah 9 : 1
  • Pertalite, memiliki warna khas hijau terang dan memiliki angka RON 90 dengan kompresi 9: 1 hingga 10 : 1
  • Pertamax dengan RON 92 memiliki warna biru. Bahan bakar ini memiliki kompresi 10 : 1 hingga 11 : 1.


Pertanyaannya adalah, kenapa hingga saat ini premium masih digunakan masyarakat? Menurut Bapak Komaidi Notonegoro, hal disebabkan oleh inkonsistensi dari pemerintah dalam membuat kebijakan BBM. Presiden Jokowi pada tahun 2014 sebenarnya sudah pernah menerbitkan peraturan tentang penghapusan BBM jenis premium untuk daerah Jawa, Madura dan Bali. Sayangnya di tahun 2018 peraturan tersebut dihapuskan dan premium kembali didistribusikan di wilayah tersebut.

Harga premium sendiri lebih murah dibandingkan BBM jenis lain. Untuk saat ini, harga premium di SPBU berkisar antara Rp. 6000an sementara Pertalite Rp. 7850,00 dan Pertamax Rp. 9200,00. Dengan selisih harga 3000 rupiah, masyarakat ekonomi menengah kemungkinan akan memilih premium untuk kendaraan mereka. Ironisnya, pengguna premium ini bukan hanya pemilik kendaraan bermotor namun juga pengguna mobil yang seharusnya menggunakan bahan bakar pertalite atau pertamax.

Di lain pihak, masih adanya penggunaan premium sebagai bahan bakar kendaraan bermotor bisa juga disebabkan kekurangtahuan pemilik kendaraan akan jenis BBM yang seharusnya diberikan untuk kendaraan mereka. Untuk menentukan jenis BBM yang digunakan sebuah kendaraan, bisa dilihat pada angka kompresi yang dimiliki kendaraan tersebut. Pemilik kendaraan tersebut bisa melihatnya langsung di buku panduan kendaraan atau brosur dari kendaraan tersebut.



Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan program Langit Biru

Sebagai sebuah program jangka panjang dalam upaya melestarikan bumi, program Langit Biru memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah sebagai pemilik kebijakan memegang peranan penting dalam menyukseskan program ini. Diperlukan satu ketegasan dalam hal pengadaan BBM yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Ketegasan ini bisa dalam bentuk penghapusan BBM jenis premium sehingga tak ada lagi celah bagi masyarakat untuk menggunakannya atau menghilangkan subsidi premium sehingga harganya tak jauh berbeda dengan pertalite.

Selain regulasi dan kebijakan tentang BBM, pemerintah juga perlu mengatur kebijakan dalam hal teknologi kendaraan bermotor. Perlu diketahui untuk saat ini teknologi kendaraan bermotor di Indonesia masih menggunakan standar Euro 2 sementara standar Internasional saat ini menggunakan Euro 6. Bisa dilihat memang jauh sekali ketertinggalan negara kita dalam hal teknologi kendaraan ini dibanding negara lain. Akibatnya, saat negara kita ingin mengekspor kendaraan hal ini tidak bisa dilakukan karena standar Euro negara kita yang rendah.

Adapun Pertamina selaku produsen dan distributor BBM di Indonesia, dapat melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan daya beli masyarakat terhadap BBM ramah lingkungan. Berdasarkan webinar yang saya ikuti kemarin, salah satu inovasi yang dilakukan Pertamina adalah dengan memberikan potongan harga kepada pembeli BBM Pertamax yang membayar dengan menggunakan aplikasi mypertamina.

Tak hanya melalui kebijakan dan inovasi yang dilakukan oleh pemerintah dan Pertamina, perlu juga dilakukan sosialisasi dan edukasi akan pentingnya penggunaan BBM ramah lingkungan dan sesuai dengan kompresi motor. Sosialisasi dan edukasi ini bisa dilakukan mulai dari Pertamina selaku distributor BBM, para distributor kendaraan hingga kalangan influencer dan ulama yang memiliki pengaruh cukup kuat di masyarakat.

Tak hanya penggunaan BBM yang ramah lingkungan, hal lain yang bisa dilakukan untuk menyukseskan program Langit Biru antara lain mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menggalakkan penggunaan transportasi umum, mensosialisasikan penggunaan kendaraan dengan BBM non migas seperti motor listrik atau mobil hybrid. Di Banjarmasin sendiri, usaha untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor ini bisa dilihat dari adanya bus BRT Banjarbakula yang melayani rute Banjarmasin-Banjarbaru. 

Adapun sebagai pribadi yang memiliki kendaraan bermotor, hal pertama yang bisa lakukan untuk mendukung Program Langit Biru adalah dengan tidak lagi menggunakan Premium dan beralih menggunakan Pertalite atau Pertamax. Apalagi saat ini rata-rata motor juga sudah memiliki rasio kompresi 9 : 1 yang lebih cocok menggunakan Pertalite sebagai bahan bakarnya.

Pada akhirmya, untuk mewujudkan sebuah program melestarikan lingkungan dan menyelamatkan bumi diperlukan dukungan dan kontribusi banyak pihak terutama diri kita sendiri. Kontribusi sekecil apapun pastinya akan sangat membantu dalam menyukseskan program ini. Nah, buat kamu yang punya kendaraan bermotor, sudahkah beralih bahan bakar dari premium ke Pertamax? 

Baca Juga

Post a Comment

10 Comments

  1. Berusaha banget konsisten pakai Pertamax aku mbaa
    walopun naik motor Revo jadul wkwkw
    yang jelas, kalo pakai Pertamax tuh tarikannya lebih enak.
    Ramah lingkungan pulaaa

    ReplyDelete
  2. Wah iya nih Keren,
    Biar langit lebih Biru, Bersih dan efeknya bagus untuk manusia 😎

    Semoga dilancarkan Program Baiknya 🌹

    ReplyDelete
  3. Alasan pertama kenapa masih pada pakai Premium memang perihal harganya. Yang kelas menengah ke bawah masih hitung-hitungan soal ini. Aku sendiri milih beralih. Minimal bantu mewujudkan langit biru dan jauh dari polusi

    ReplyDelete
  4. Penasaran dengan kota Banjarmasin, ngga padat tapi mungkin udaranya panas ya?
    Program Langit biru ini pas banget karena Indonesia satu satunya negara yang masih produksi BBM beroktan rendah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Kata orang-orang Jawa yang ke sini Banjarmasin itu panas banget. heu

      Delete
  5. Saya semenjak premium sudah di dapatkan beralih ke pertalite hingga sekarang, memang awal2 berat juga karena pengeluaran bbm meningkat dari sebelumnya, tapi kabar baiknya motor saya terasa lebih nyaman semenjak pakai pertalite, terlihat saat servis karburator yg minim kotoran..

    ReplyDelete
  6. bagus banget ini programnya, memang polusi udara ini menjadi pr kita bersama. tapi sejak pandemi beruntungnya sudah mulai berkurang penggunaan kendaraan pribadi dan bahan bakar

    ReplyDelete
  7. Aku jadi ingat dulu waktu masih kerja kantoran, jarak dari rumah sampa kantor sekitar 26km dan ditempuh dengan kendaraan roda dua.
    Berasa anak jalanan haha.
    Tapi benar sih menggunakan BBM yang baik untuk kendaraan kita itu penting banget. KArena juga berpengaruh ke mesin untuk jangka waktu tertentu.
    Programnya OK juga ni.

    ReplyDelete
  8. Bener banget mbaa. Bukan cuma tanggung jawab satu pihak aja. Tapi semua orang. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang terkecil

    ReplyDelete
  9. Sebelum tahu soal Program Langit Biru ini, udah lama meninggalkan premium. Saat ini pakai dua jenis sih, buat motor pilih pertamax dan mobil pertalite. semoga pilihanku gak salah ya untuk BBM ramah lingkungan.

    ReplyDelete