Waspada Osteoporosis di Masa Menopause

 
Waspada Gejala Osteoporosis di Masa Menopause



Beberapa waktu lalu, ibu saya mengalami kecelakaan kecil. Saat itu beliau akan berobat jalan di sebuah klinik terkait penyakit hipertiroid yang diidap ibu beberapa bulan sebelumnya. Berhubung dokter yang ditunggu belum datang, ibu yang ditemani adik berencana untuk mengisi perut terlebih dulu. Adik saya kemudian pergi ke tempat parkir dan membonceng ibu di motornya. Tujuan mereka adalah sebuah rumah makan tak jauh dari klinik tempat ibu rawat jalan. 
 
Baru beberapa puluh meter motor melaju, insiden pun terjadi. Saat akan menyeberang jalan, motor adik saya tiba-tiba diserempet dari belakang. Helm adik saya terlepas dari kepalanya sementara bagian depat motor penyerempet terlepas dari motor. Si penyerempet sendiri langsung kabur setelah insiden itu terjadi. 
 
Mulanya, baik adik maupun ibu saya tidak merasa ada yang salah setelah insiden penyerempetan itu terjadi. Keduanya masih berada di atas motor dan mungkin hanya terkejut dengan kejadian yang baru terjadi. Baru ketika orang-orang di sekitar mulai berteriak, ibu dan adik tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

"Dik, itu kaki ibunya berdarah banyak banget," begitu kata warga yang menyaksikan insiden penyerempetan itu.

Dengan sigap warga pun memindahkan ibu saya dari motor menuju tempat yang lebih aman. Melihat jumlah darah yang keluar begitu banyak, akhirnya dengan bantuan mobil PMI ibu dibawa ke rumah sakit terdekat. Adik saya yang masih dalam keadaan panik menghubungi saya untuk memberitahukan kecelakaan yang dialaminya.
 
Malamnya, saya ditemani suami tiba di IGD Rumah Sakit tempat ibu dilarikan. Saya perhatikan kondisi ibu tak terlalu parah. Ibu berbaring di brankar dengan kaki kanannya diperban dengan tambahan kayu penahan. Tak lama kemudian, dokter yang bertugas memanggil ibu untuk dilakukan rontgen. Begitu hasil rontgen kelur diketahui ternyata bagian di atas pergelangan kaki ibu patah. 

Jujur saya agak bingung dengan hasil rontgen yang menyatakan kalau kaki ibu patah. Karena menurut ibu saya baik ibu saya maupun adik tidak ada yang terjatuh dari motor saat insiden terjadi. Ibu saya bahkan mungkin tak merasa kakinya sakit hanya saja memang ada sedikit nyeri di bagian pergelangan kakinya. Bisa jadi saat terjadi penyerempetan kaki ibu saya terantuk footstep motor sehingga membuat tulangnya patah. 

Saya pun bertanya-tanya apakah ini merupakan tanda-tanda osteoporosis? 

Osteoporosis di Masa Menopouse



Osteoporosis pastinya bukanlah istilah yang asing di telinga kita. Gencarnya kampanye pencegahan osteoporosis yang dilakukan oleh berbagai merk susu membuat saya dan mungkin pembaca lainnya cukup tahu tentang penyakit yang kerap menyerang manula ini. Namun sejauh apa kita tahu tentang osteoporosis ini? Bagaimana gejalanya dan cara mencegahnya? Untuk menambah tentang osteoporosis ini, maka saya pun mengikuti kulwap bertema "Menopouse Datang, Osteoporosis Mengintai" yang diadakan oleh hello Sehat x Combiphar dengan narasumber dr. Adrian Situmorang, SP. Ot yang merupakan dokter spesialis orthopedi & Traumatologi Eka Hospital Bekasi. 

Osteoporosis merupakan bagian dari proses penuaan yang membuat tulang menjadi tidak sekuat dan sekokoh sebelumnya. Seperti yang kita tahu, tulang seharusnya berstruktur kokoh dan kuat. Nah, osteoporosis sendiri merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan menurunnya massa (kepadatan) tulang secara keseluruhan akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam tulang. Osteoporosis ini juga disertai dengan rusaknya arsitektur tulang yang nantinya akan mengakibatkan penurunan kekuatan tulang yang dalam hal ini adalah pengeroposan tulang.
 
Dikutip dari InfoDATIN (Pusat Data dan Informasi dari Kemenkes RI), penelitian terbaru dari International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia pada rentang usia 50-80 tahun memiliki risiko terkena osteoporosis. Perempuan juga ternyata 4 kali lebih berisiko mengidap osteoporosis dibandingkan pria.

Selain itu, berdasarkan data Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), 90% wanita Indonesia mengalami osteopenia. Osteopenia dapat dikatakan sebagai tahap awal dari osteoporosis di mana terjadi kondisi kepadatan tulang rendah di bawah normal. Dapat disimpulkan, mengacu dari beberapa data dan hasil penelitian tersebut, wanita terbukti lebih rentan mengidap osteoporosis terutama setelah melalui atau pasca menopause.

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis bisa digolongkan sebagai silent disease karena osteoporosis tidak menimbulkan gejala-gejala yang spesifik sehingga sebagian besar orang baru akan menyadarinya setelah patah tulang terjadi. Adapun gejala yang biasanya dirasakan pasien osteoporosis adalah nyeri pada tulang dan otot di area punggung. Di samping itu, gejala yang umum ditemukan juga di antaranya patah tulang (tulang belakang lumbal, tulang panggul, tulang pergelangan tangan, tulang bahu), tulang punggung yang membungkuk, dan menurunnya tinggi badan.

Penyebab osteoporosis adalah adanya gangguan pada metabolisme tulang. Pada kondisi normal, sel-sel tulang yang terdiri dari sel pembangun (osteoblas) dan sel pembongkar (osteoklas) bekerja silih berganti, saling mengisi dan menyeimbangkan satu sama lain sehingga tulang tetap utuh. Ketika kerja osteoklas melebihi kerja osteoblas, maka kepadatan tulang berkurang dan akhirnya keropos.
 
Metabolisme tulang sendiri dapat terganggu oleh berbagai kondisi yang terbagi atas faktor risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah.

Faktor risiko yang dapat diubah

1. Kurang aktivitas fisik
2. Asupan protein, kalsium, dan vitamin D yang rendah
3. Efek samping obat
4. Gaya hidup yang buruk, misalnya konsumsi minuman tinggi kafein, alkohol, merokok, dan sebagainya
5. Hormon estrogen rendah

Faktor risiko yang tidak dapat diubah

1. Faktor keturunan/riwayat keluarga
2. Jenis kelamin perempuan
3. Bertambahnya usia
4. Menopause

Hilangnya atau berkurangnya hormon estrogen biasanya terjadi setelah menopause. Osteoporosis memang biasanya menyerang sebagian besar wanita pasca menopause. Hal ini menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko penyakit ini. Tidak dipungkiri, osteoporosis pada wanita dipengaruhi oleh hormon estrogen.

Penyebab wanita mengidap osteoporosis setelah menopouse

Dua faktor utama penyebab wanita mengidap osteoporosis setelah menopause ialah:
 

1. Tingkat kepadatan tulang ketika menopause

Semakin padat dan kokoh tulang, semakin kecil risiko osteoporosis terjadi dan begitupun sebaliknya, semakin rendah massa tulang, semakin tinggi risikonya.

2. Seberapa cepat tulang kehilangan kepadatannya ketika menopause

Untuk sebagian wanita, berkurangnya massa tulang bisa lebih cepat terjadi. Seorang wanita bahkan bisa kehilangan massa tulang hingga 20 % selama 5-7 tahun setelah menopause. Jika terjadi dengan cepat, risiko mengidap osteoporosis semakin tinggi.
 

Kepadatan Tulang

Kepadatan tulang seseorang sendiri ditentukan dari beberapa faktor antara lain: 
  1. Usia: semakin muda, semakin baik penyerapan kalsium ke dalam tulang
  2. Hormon: estrogen berperan penting dalam deposisi kalsium dari darah ke dalam tulang
  3. Level aktivitas: semakin terbebani, tulang akan semakin padat
  4. Paparan sinar matahari: merubah provitamin D alami di bawah kulit menjadi vitamin D yang berperan dalam penyerapan kalsium dari makanan dan deposisinya ke dalam tulang
  5. Asupan kalsium
  6. Kondisi tertentu yang menyebabkan hilangnya kalsium dalam jumlah banyak
  7. Atlet
  8. Patah tulang
  9. Hamil, melahirkan dan menyusui

Pengaruh Osteoporosis dalam kehidupan

Sebagai penyangga tubuh, hadirnya penyakit osteoporosis pastinya akan sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Osteoporosis juga bisa menimbulkan penurunan dalam kualitas hidup. Tulang yang keropos akibat osteoporosis bisa mengalami keretakan oleh tekanan ringan, seperti ketika membungkuk atau bahkan saat batuk atau bersin.

Itu adalah contoh sederhana dari dampak osteoporosis. Selain itu, kembali melansir dari International Osteoporosis Foundation, beberapa dampak pada kehidupan akibat osteoporosis, seperti:
  • Berkurangnya mobilitas atau terbatasnya ruang gerak
  • Lumpuh
  • Menjadi sangat bergantung pada orang lain
  • Menurunnya berat badan

Pada sektor sosio-ekonomi, osteoporosis juga memberikan dampak merugikan seperti:
  • Tingginya biaya pengobatan dan operasi patah tulang akibat osteoporosis (membutuhkan peralatan khusus karena kepadatan tulang yang lebih rendah)
  • Biaya tak terduga ketika pasien membutuhkan perawat pribadi
  • Kehilangan mata pencaharian bagi pasien yang masih aktif bekerja

Pencegahan Osteoporosis

Meski termasuk sebagai penyakit orang tua, namun kita bisa mencegah osteoporosis ini terjadi. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah osteoporosis di antaranya:
  1. Memenuhi kebutuhan harian protein, kalsium, dan vitamin D. Asupan kalsium yang cukup dapat mengurangi risiko keretakan sebanyak 34%. Lalu, suplementasi vitamin D dapat mengurangi risiko keretakan pada pinggul atau pinggang hingga 10% dan  non-vertebratal hingga 7%.
  2. Rutin berolahraga
  3. Memperbaiki gaya hidup seperti dengan berhenti merokok dan mengurangi asupan kafein dan alkohol

Pencegahan osteoporosis harus dimulai sedini mungkin agar massa tulang berada dalam kondisi maksimal dan menekan penurunannya. Bahkan pencegahan bisa mulai dilakukan sejak bayi dalam kandungan, masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa baik pria atau wanita.

 

Vitamin dan Mineral yang diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang

Adapun vitamin dan mineral yang diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang antara lain:

Kalsium

Asupan kalsium yang cukup dapat mengurangi risiko keretakan sebanyak 34%. Lalu, suplementasi vitamin D dapat mengurangi risiko keretakan pada pinggul atau pinggang hingga 10% dan  non-vertebratal hingga 7%. Indonesia sendiri ternyata termasuk salah satu negara dengan tingkat asupan kalsium yang rendah. Menurut IOF, rata-rata asupan kalsium orang Indonesia hanyalah 342 mg/hari. Angka ini masih jauh dari AKG kalsium yang direkomendasikan sebesar 1000-1100 mg/hari untuk dewasa.

Sumber terbaik dari kalsium adalah makanan. Sebagian besar orang mungkin sudah mengetahui bahwa susu merupakan salah satu di antaranya. Produk olahannya seperti keju atau yoghurt pun tinggi akan kalsium. Selain produk dairy, alternatif makanan tinggi kalsium adalah ikan seperti salmon, sarden, dan teri.

Vitamin D

Peran penting dari vitamin D untuk tulang sangatlah besar karena vitamin ini membantu dalam penyerapan kalsium. Namun sayangnya, tidak banyak makanan yang tinggi akan vitamin D. 90% vitamin D didapatkan dengan cara berjemur di bawah sinar matahari pagi.
 
Meskipun Indonesia adalah negara tropis dengan sinar matahari yang melimpah, namun penelitian yang dipublikasikan dalam “European Journal of Clinical Nutrition” tahun 2008 menunjukkan bahwa prevalensi insufisiensi vitamin D pada pada wanita usia 18-40 tahun di Jakarta mencapai angka 63%. Wanita yang berhijab, bekerja di dalam ruangan, dan gemuk memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami defisiensi vitamin D.

Untuk mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D ini kita bisa mengkonsumsi suplemen. Beberapa hal yang perlu diingat sebelum memilih suplemen yaitu diantaranya
  1. Pilih vitamin D3 dibandingkan vitamin D2 karena lebih mudah diserap tubuh
  2. Suplemen yang beredar biasanya mengandung kalsium dalam bentuk kalsium karbonat, kalsium fosfat, atau kalsium sitrat. Masing-masing memiliki kelebihan & kelemahannya. Pilih sesuai kebutuhan.
  3. Untuk mereka yang vegan, tidak menyukai ataupun alergi terhadap susu sapi, dapat memilih kalsium fosfat karena kalsium fosfat adalah jenis garam kalsium yang terdapat pada susu sapi dan tak hanya menjadi sumber kalsium namun juga fosfor.

Magnesium dan zinc

Magnesium dan zinc berperan besar dalam membantu penyerapan kalsium dari darah ke dalam tulang dan mengurangi pengeluaran kalsium di ginjal dalam bentuk air seni. Penggunaan bersamaan magnesium dan zinc akan meningkatkan efektivitas kerja kalsium dalam darah sehingga dosis yang dibutuhkan tidak banyak. Telah disebutkan di atas bahwa suplementasi kalsium saja memiliki asosisasi dengan penyakit jantung dan batu ginjal.

Isoflavone


Isoflavone ada senyawa mirip estrogen yang juga dapat meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran cerna ke dalam darah dan deposisinya ke dalam tulang. Penggunaan suplementasi isoflavone juga meningkatkan efektivitas kerja kalsium.
 
***

Sebagai seorang wanita yang sudah berkepala tiga, pastinya saya ingin di masa menopause nanti terhindar dari penyakit osteoporosis ini. Alhamdulillah dengan adanya kulwap kemarin saya jadi semakin tahu hal apa saja yang harus saya lakukan untuk mencegah osteoporosis ini terjadi. Demikian sedikit sharing dari saya. Semoga bermanfaat buat teman semua.

Post a Comment

6 Comments

  1. Penting banget memang menjaga kesehatan tulang terutama buat wanita. Apalagi saya juga sudah akan memasuki usia 40 tahun, musti jaga banget kesehatan tulang. Thanks for sharing mbak.

    ReplyDelete
  2. stay safe and stay healthy ya kak :D

    ReplyDelete
  3. Saya juga was-was sama osteoporosis ini karena saya hamil-menyusui dan hamil-menyusui lagi secara berturut-turut tanpa jeda. Perlu asupan vitamin dan mineral juga sepertinya untuk menjaga kepadatan tulang.

    ReplyDelete
  4. Semoga ibu sudah sehat kembali mbak. Bisa berakhivitasbsepertinsedia kala

    ReplyDelete
  5. Merinding aku pas baca kata 'osteoporosis'. Di usia yang makin nambah begini harus udah prepare bahkan melaksanakan nih langkah-langkah pencegahan osteoporosis, walaupun masa menopause masih lama hehe.

    ReplyDelete
  6. Mungkin mama mulai gejala ini ya soalnya sering bgt namanya sakit dibagian tertentu loh mbaa

    ReplyDelete