Thursday, September 28, 2017

Cerita Perjalanan ke Makassar

September 28, 2017 46


"Sudah sampai mana?" tanya suara di ujung telepon pada saya yang sedang berada dalam sebuah mobil menuju bandara.

"Sudah sampai Liang Anggang, Bu," jawab saya dengan suara bergetar. Jam di pergelangan tangan saya sudah menunjukkan pukul 17.20, empat puluh menit sebelum pesawat saya berangkat.

Hari itu adalah hari keberangkatan saya ke Makassar. Seharusnya pukul 16.00 saya sudah berangkat dari rumah menuju Bandara Syamsudin Noor. Namun karena kurangnya koordinasi antara saya dan suami masalah pemesanan taksi online, pukul 16.45 kami baru berangkat menuju bandara. Perjalanan dari rumah kami ke bandara memakan waktu kurang lebih 30 menit. Namun dengan kondisi jalan yang padat karena jam pulang kerja tentu saja waktu tempuh ini bisa lebih lama beberapa belas menit. Bayangkan bagaimana paniknya saya saat itu.

"O ya sudah nggak apa-apa. Insya Allah sempat aja. Minta sopirnya lebih cepat, ya," kata suara tersebut lagi menenangkan saya.

"Iya, Bu," jawab saya lagi. Saya kemudian meminta pengemudi taksi online untuk memacu mobilnya lebih cepat. Dalam hati saya tak putus-putusnya berdoa semoga pesawat yang akan kami tumpangi tak meninggalkan saya.

Baca : Menginap di Hotel Four Points Sheraton Makassar

Setelah melalui puluhan menit yang terasa sangat panjang, tepat pukul 17.30 akhirnya kami tiba di bandara. Begitu menjejakkan kaki di bandara, terdengar suara petugas memanggil nama saya dan suami, meminta untuk segera menaiki pesawat. Dengan membawa bayi seberat 8 kg saya pun berlari menuju pintu masuk, meninggalkan suami yang mengurus barang-barang kami.

"Pak, saya harus naik pesawat ke Makassar sekarang, Sudah panggilan terakhir," kata saya pada petugas pintu masuk.

"Wah, coba ke counter 1, Bu. Semoga masih sempat," kata petugas tersebut pada saya.

Saya pun segera menuju counter yang dimaksud petugas tersebut. Petugas memeriksa tiket yang saya tunjukkan. Setelah kami pun dipersilakan memasuki pintu keluar. Masih dengan terbirit-birit saya dan suami berlari menuju bus yang akan mengantar kami ke pesawat. Dan akhirnya saya baru bisa bernafas lega setelah akhirnya bisa duduk di kursi pesawat.

***

Perjalanan saya ke Makassar kemarin sebenarnya merupakan perjalanan dinas. Saya dan beberapa rekan kerja lain mendapat tugas untuk mengikuti acara IWWEF (Indonesia Water and Wastewater Expo and Forum) yang diadakan di kota Makassar. Karena putri saya masih berusia 8 bulan, saya meminta izin untuk membawanya serta. Alhamdulillah pihak kantor memberikan izin. Tentunya untuk akomodasi suami dan anak saya ditanggung oleh saya sendiri.

Selama kurang lebih 5 hari berada di Makassar kemarin, tak banyak tempat sebenarnya yang bisa saya datangi. Meski jadwal tugas selama di sana tak terlalu padat, namun faktor keberadaan bayi mau tak mau mempengaruhi mobilitas saya dan suami. Kami tentunya harus mempertimbangkan jam tidur dan kondisi fisik putri kami.

Baca : Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

Beberapa hal yang saya lakukan selama berada di Makassar antara lain

Mengikuti acara IWWEF

Ini adalah tujuan utama saya ke Makassar. IWWEF sendiri merupakan acara tahunan yang diadakan oleh PERPAMSI (Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia). Acara IWWEF ini sendiri berlangsung dari tanggal 6-8 September 2017 dengan mengambil lokasi Hotel Four Points Sheraton Makassar. Adapun agenda acara IWWEF antara lain forum (seminar dan workshop) yang menampilkan para pembicara baik level nasional maupun internasional. Selain itu, ada juga pameran produk dan teknologi sistem penyediaan air minum dan air limbah terkini dari berbagai perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri.



Mengunjungi Festival F8 di Pantai Losari

Kedatangan kami ke Makassar rupanya berbarengan juga dengan event Makassar International Eight Festival & Forum 2017 yang disebut juga Festival F8. Acara merupakan acara tahunan kota Makassar yang berpusat di Pantai Losari. Saya sendiri baru bisa mengunjungi festival ini di malam terakhir keberadaan kami di kota Makassar. Layaknya sebuah festival besar, Festival F8 ini dipenuhi pengunjung. Jalan menuju ke lokasi acara juga macet. Stand-stand makanan berjejer di sepanjang jalan dan tentunya juga stand-stand lain yang berhubungan dengan acara. Sayangnya karena saya datangnya malam, tak banyak yang bisa saya lihat dan dokumentasikan.

Berbelanja Oleh-oleh

Tak lengkap rasanya berkunjung ke suatu daerah tanpa membeli barang-barang khas kota tersebut. Di hari terakhir keberadaan di Makassar, saya dan beberapa teman menyempatkan diri berburu oleh-oleh khas kota Makassar. Tujuan pertama kami hari itu adalah Toko Oleh-oleh Cahaya yang berada di Jalan Sulawesi. Toko Oleh-oleh Cahaya ini merupakan toko oleh-oleh pertama di Makassar yang berdiri pada tahun 1905. Toko ini menyediakan aneka ragam oleh-oleh seperti kacang disko, sari buah markisa, otak-otak, hingga aneka kerajinan tangan berupa dompet, tas dan tentunya kaos.

Setelah cukup puas berbelanja di Toko Oleh-oleh Cahaya, saya dan suami berpindah lokasi menuju toko oleh-oleh Unggul yang berada di jalan Pattimura. Jika dibandingkan dengan toko Oleh-oleh Cahaya, harga di toko Unggul ini bisa dibilang lebih murah, terutama untuk kaos-kaosnya. Karena itu tidak aneh dong kalau saya memborong kaos di toko ini. Heuheu.

Mampir ke Pasar Butung

Pasar Butung merupakan pusat grosir terbesar di kota Makassar. Kunjungan kami ke pasar ini sebenarnya juga tidak disengaja. Jadi ceritanya setelah berbelanja di Toko Oleh-oleh Cahaya, saya melihat Pasar Butung ini. Penasaran dengan isinya, saya pun mengajak suami menuju ke sana.

Pasar Butung ini terdiri dari 5 lantai. Sayangnya karena tidak fokus saya tidak mencatat setiap lantainya menjual apa saja. Tapi seingat saya, kebanyakan di setiap lantainya berjualan aneka pakaian wanita. Sulit sekali menemukan pakaian pria di hari itu. Padahal suami berencana mencari kaos untuk dirinya. Agar tidak pulang dengan tangan kosong, saya pun akhirnya memutuskan membeli beberapa bros yang dijual di lantai 1 pasar.

Mampir ke Benteng Rotterdam

Inilah lokasi persinggahan terakhir saya dan suami sebelum akhirnya kembali ke Banjarmasin. Sejak awal saya memang ingin sekali bisa mengunjungi Benteng Rotterdam ini. Untungnya pengemudi taksi online yang kami pakai jasanya bersedia menyinggahkan kami di benteng yang aslinya bernama Benteng Ujung Pandang ini.

Kesan saya sendiri akan benteng ini cukup baik. Kawasannya tertata dengan baik dan bangunannya pun masih berasa banget zaman Belanda-nya. Sejak dulu saya memang selalu tertarik dengan bangunan-bangunan zaman Belanda-nya. Dan Benteng Rotterdam memiliki ciri khasnya tersendiri di mata saya. Dalam benteng ini terdapat beberapa bangunan seperti Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro, Museum La Galigo, dan beberapa bangunan lainnya tidak sempat saya singgahi karena keterbatasan waktu.






Kesan terhadap kota Makassar

Selama berada di kota Makassar, tentunya ada kesan-kesan tersendiri yang saya dapatkan. Salah satu "AHA" moment yang saya temukan saat berada kota ini adalah saat menghadiri festival F8 yang diadakan di Pantai Losari. Jadi, festival F8 ini digadang-gadang sebagai festival waterfront terbaik. Berbagai atraksi ditampilkan di sepanjang pantai Losari. Dari segi wisata, ini tentunya sangat menguntungkan karena bisa membuat kota Makassar semakin dikenal.

Sebutan waterfront sendiri tentu saja langsung mengingatkan saya akan kota saya sendiri yang dulunya disebut sebagai Kota Seribu Sungai. Saat ini, meskipun nama Seribu Sungai sudah tidak terlalu pas lagi disematkan pada kota Banjarmasin, namun Banjarmasin kini juga memiliki kawasan Siring Martapura yang juga menjadikannya sebagai waterfront city,

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah kota Banjarmasin telah melakukan aneka upaya untuk memperindah Sungai Martapura yang merupakan jantung kota Banjarmasin. Salah satunya dengan membangun siring di sepanjang sungai Martapura. Siring tersebut kini menjadi salah satu pusat kegiatan-kegiatan yang kerap diadakan pemerintah Kota Banjarmasin dan tentunya juga menjadi salah satu pilihan warga untuk menghabiskan waktu bersama keluarga entah itu Sabtu-Minggu atau sore hari.

Saya berharap ke depannya Siring Martapura juga bisa menjadikan Banjarmasin sebagai salah satu waterfront city terbaik dan tentunya juga menjadi Kota Sungai Terindah seperti yang digadang-gadang dalam peringatan ulang tahun Kota Banjarmasin ke 491 tanggal 24 September lalu. Dan sebagai warganya, saya tentunya harus bisa berkontribusi dengan ikut mempromosikan aneka wisata di kota Banjarmasin.



Rencana Perjalanan Berikutnya

Selain Makassar, tentunya saya ingin kembali melakukan perjalanan luar kota, entah itu mengunjungi mertua di Tangerang atau jalan-jalan bersama keluarga. Untuk bisa melakukan perjalanan kembali, tentunya saya harus melakukan serangkaian perencanaan diantaranya adalah survey harga tiket pesawat. Saat ini ada banyak sekali website yang menawarkan jasa penjualan tiket pesawat online. Dengan begitu banyaknya situs penjualan tiket pesawat online ini, tentunya kadang kita bingung menentukan mana harga tiket yang paling murah. Nah untuk memudahkan dalam pembelian tiket pesawat ini, kita bisa mencoba Skyscanner.

Sebagai situs pencarian harga tiket pesawat, Skyscanner menawarkan fitur bulan termurah. Jadi dalam fiturnya ini kita bisa mengecek harga tiket pesawat termurah pada bulan saat kita akan melakukan perjalanan. Jadi misalnya saya akan melakukan perjalanan ke Jakarta pada bulan Oktober 2017 dengan membawa anak beserta suami saya. Melalui situs Skyscanner saya bisa menentukan tanggal berapa saya akan berangkat. Untuk memudahkan pengecekan harga, harga termurah diberi warna hijau sedang harga tertinggi diberi warna merah.



Setelah memilih tanggal keberangkatan dan kembali, kita tinggal melanjutkan ke langkah berikutnya yakni memilih jadwal penerbangan berikut maskapainya. Begitu kita menentukan maskapai dan jam penerbangan, maka Skyscanner akan mengarahkan kita ke berbagai situs penjualan tiket pesawat online. Nah selanjutnya kita tinggal pilih deh mau beli tiket lewat situs yang mana. Jadi tidak perlu bingung lagi kan ya?




Selain bisa mencari harga tiket pesawat, melalui Skyscanner kita juga bisa lho mencari harga hotel dan persewaan mobil saat sedang liburan. Dengan memanfaatkan Skyscanner, tentunya akan sangat memudahkan kita untuk mencari harga tiket pesawat atau hotel dengan harga termurah. Kita tak perlu repot lagi membandingkan harga dari satu situs penjualan tiket ke situs penjualan tiket lainnya. Selain itu, Skyscanner juga sudah digunakan oleh jutaan orang di dunia dan tentunya memenangkan banyak penghargaan. Jadi, ayo segera meluncur ke Skyscanner dan dapatkan harga tiket termurah untuk perjalanan kamu!



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #ahaskyscanner.

Tuesday, September 19, 2017

Merencanakan Liburan ke Bali

September 19, 2017 33


Sekitar 9 bulan yang lalu, suami saya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara yang katanya sosialisasi pariwisata. Undangannya sendiri disampaikan lewat telepon dan sms yang entah dari mana bisa mendapatkan nomor telepon suami saya. Untuk bisa lebih menarik minat suami, diberikan juga voucher menginap di hotel bintang 4 di Bali jika suami menghadiri acara tersebut. Mendnegar kata Bali, saya dan suami tentunya tertarik dong dengan penawaran ini. Apalagi untuk saya, yang merasa ini bisa menjadi bahan tulisan untuk blog. Dalam pikiran saya, acara yang ditawarkan ini semacam seminar atau obrolan tentang wisata.

Baca juga : Menginap di Hotel Four Points Sheraton Makassar

Maka dengan penuh persiapan saya (yang saat itu hamil tua) dan suami pun berangkat ke lokasi acara yang lokasinya juga di hotel bintang 4 di kota saya. Begitu tiba di hotel, saya agak bingung kenapa kok formatnya kayak orang wawancara atau konsultasi begitu? Jauh sekali dengan bayangan saya akan sebuah seminar. Begitu memasuki ruangan, barulah saya ngeh kalau undangan yang kami hadiri ini adalah program rekrutmen sebuah klub wisata. Jadi dalam programnya ini, anggota yang berhasil direkrut diiming-imingi akan bisa berlibur ke berbagai tempat dengan cara mengumpulkan poin-poin tertentu. Poinnya sendiri tentunya dihitung dari uang yang diangsurkan setiap bulannya. Yah intinya nabunglah.

Dengan kemampuan marketing mereka yang mumpuni, para marketer ini berhasil membuat saya dan suami menjadi anggota klub wisata mereka. Yah, iming-iming bisa liburan memang cukup berhasil menggoda iman kami. Namun kemudian saya sadar kalau keuntungan yang kami dapatkan sangatlah sedikit. Akhirnya setelah berdiskusi dengan suami, saya putuskan untuk keluar dari klub tersebut meski voucher menginap di salah satu hotel Bali sudah ada di tangan kami. Dengan demikian, hilang juga kesempatan saya untuk mengunjungi Bali di tahun ini.

Bali memang merupakan salah satu pesona terbesar di negara kita. Saking terkenalnya, dia bahkan lebih terkenal dari negaranya sendiri. Saya sendiri juga selalu memimpikan bisa mengunjungi Pulau Dewata ini. Apalagi beberapa anggota keluarga di rumah juga sudah pernah mengunjungi Pulau Dewata. Adik saya waktu dia SMA, trus suami juga sudah pernah waktu di tempat kerjanya yang lama. Terakhir, ibu saya yang berkesempatan ke Bali dalam rangka ziarah. Tinggal saya doang dan adik laki-laki yang belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

Untuk bisa merealisasikan rencana liburan ke Bali, tentunya ada beberapa hal yang harus dilakukan. Untuk saya beberapa hal tersebut antara lain:

Menyiapkan dana

Namanya liburan, pastinya perlu biaya. Kalau jaman saya masih lajang kemarin sih rasanya santai aja menghabiskan sekian juta buat jalan-jalan. Lain halnya dengan setelah memiliki keluarga. Tentunya ada banyak hal (
pengeluaran)yang harus dipertimbangkan. Nah, dari beberapa artikel yang saya baca, untuk bisa berlibur sebuah keluarga sebaiknya menyimpan dana khusus untuk itu.

Menentukan jadwal liburan

JIka dana sudah terkumpul. hal berikutnya yang bisa dilakukan adalah menentukan jadwal liburan. Untuk saya, biasanya jadwal liburan yang dipilih adalah saat dekat-dekat akhir minggu. Alasannya jelas dong biar nggak banyak izin dari kantor. Lalu untuk durasi liburan saya memilih 4 hari 3 malam. Nah, berhubung untuk tahun ini saya sudah 2 kali terbang ke luar Kalimantan, maka untuk rencana liburan ke Bali saya rencanakan untuk tahun depan saja sekitar bulan Februari.

Baca juga : Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

Menentukan destinasi tujuan

Setelah tanggal keberangkatan ditentukan, maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menentukan destinasi mana saja yang ingin dikunjungi. Dengan sempitnya waktu rasanya tidak mungkin bisa mengunjungi banyak tempat di Bali. Apalagi saya juga membawa anak saya masih berusia balita. Pastinya perlu dipertimbangkan lokasi mana saja yang cocok untuk balita. Beberapa tempat yang ingin saya kunjungi saat berada di Bali antara lain:

Pantai

Sumber gambar : Traveloka


Taman Rekreasi
Sumber gambar : Traveloka
Tempat berbelanja
Sumber gambar : Traveloka
Baca juga : Mengunjungi Kebun Binatang Ragunan

Memesan tiket pesawat dan hotel

Langkah terakhir yang harus dilakukan sebelum liburan adalah memesan tiket. Beberapa tahun yang lalu, untuk bisa mengunjungi sebuah tempat wisata, orang-orang kita memilih ikut paket tur dari travel. Nah, di jaman serba digital ini, liburan ala flashpacking kerap menjadi pilihan. Itu artinya kita memesan sendiri tiket pesawat maupun hotel tempat kita menginap nanti. Selama ini saya juga terbiasa memesan tiket lewat aplikasi Traveloka. Nah, saat akan mengecek harga tiket untuk bulan Februari 2018, saya baru ngeh kalau ternyata ada paket pesawat+hotel di Traveloka. Maka saya pun mencoba paket wisata traveloka ini untuk tanggal 8 Februari - 11 Februari 2018.


Saya kemudian memilih hotel Atanaya by Century Park sebagai tempat menginap. Hasilnya, untuk paket wisata ke Bali selama 3 hari 3 malam, perkiraaan dana yang harus siapkan untuk pesawat dan hotel adalah 5 juta rupiah dengan hotel bintang 4. Kalau dibandingkan jika saya memesan tiket pesawat dan hotel secara terpisah, angka ini lebih murah loh! Selain itu dengan adanya paket wisata ini juga bisa menghemat waktu saat memesan tiket pesawat. Tahu sendiri kan, kadang kita suka galau mau pilih penerbangan jam berapa.

Jadi, bagi teman-teman yang berencana berlibur ke Pulau Bali, bisa banget nih mencoba paket terbaru yang ditawarkan Traveloka. Disamping bisa lebih hemat uang, juga hemat waktu saat melakukan pemesanan. Oh, ya, selain paket wisata ke Bali, juga ada paket wisata ke kota-kota lain seperti Bandung, Lombok, Jogja, hingga Kuala Lumpur. Dengan adanya paket wisata Traveloka ini, merencanakan liburan tentunya jadi lebih menyenangkan, bukan?

Friday, September 15, 2017

Belajar Menjadi Orang Tua

September 15, 2017 33


Delapan bulan sudah saya menyandang status baru sebagai ibu. Ada banyak hal yang saya pelajari selama 8 bulan ini. Mulai dari usaha menyusui, menyiapkan MPASI dan tentunya memantau perkembangannya baik motorik maupun perkembangan lainnya. Alhamdulillah hingga usianya yang hampir 9 bulan ini, anak saya perkembangannya cukup baik. Dia sudah bisa merangkak dan mulai mengucapkan beberapa kata random. Dia juga sudah mulai memahami beberapa instruksi yang kami berikan. Adapun untuk urusan makan, saya masih kesulitan karena anak saya kadang masih menolak makanan yang saya buatkan untuknya.

Tentang perkembangan motorik bayi ini, saya juga sempat dilanda masa galau. Jadi ceritanya saat itu saya mem-follow instagram Andien yang kebetulan usia anaknya tak jauh dari saya. Nah, di instagramnya ini Andien kan cukup sering memposting perkembangan Kawa, putra itu. Awalnya saya merasa termotivasi dengan postingan-postingannya. Beberapa stimulasi yang dilakukan menjadi inspirasi bagi saya untuk diberikan pada putri saya.

Tapi kemudian lama-lama saya jadi frustrasi sendiri. Apa pasal? Perkembangan Kawa sangat pesat sementara perkembangan anak saya terbilang biasa saja. Bayangkan saja si Kawa sudah bisa merayap di usia 5 bulan sementara anak saya cuma bisa nungging-nungging doang. Jadilah setiap kali melihat video perkembangan Kawa saya jadi merasa kecewa pada diri sendiri (atau anak saya?).

Tak mau terus-terusan terintimidasi dengan perkembangan bayi lain, akhirnya saya putuskan untuk berhenti mem-follow instagram Andien. Saya meyakinkan diri setiap bayi memiliki perkembangannya masing-masing. Lagipula kalau berdasarkan panduan yang saya baca, perkembangan anak saya juga masih termasuk sesuai usianya. Alhamdulillah setelah berhenti mengikuti instagram Andien ini, hidup saya lebih tenang dan saya lebih bisa menghargai setiap perkembangan yang ditunjukkan anak saya.

Bicara tentang menjadi orang tua, saya yakin setiap orang tua melalui proses belajarnya sendiri-sendiri. Seperti tulisan mak Inna Riana yang berjudul Belajar Parenting dari Sekitar Kita dalam #KEBloggingCollab, ada banyak sekali jalur yang bisa kita tempuh untuk bisa belajar menjadi orang tua. Mulai dari internet, buku-buku parenting, ikut seminar, film, hingga belajar dari pengalaman orang lain. Saya sendiri, sebelum resmi menjadi seorang ibu, sudah mengikuti beberapa seminar parenting. Hal ini saya lakukan tentunya untuk membekali diri dalam menghadapi anak saya nantinya.

Dalam proses belajar menjadi orang tua sendiri, ada beberapa hal yang ingin saya capai, yakni:

Mendidik anak menjadi anak yang soleh/solehah

Ini tentunya menjadi tujuan utama saya sebagai seorang ibu. Sebagai madrasah pertama bagi anak saya, saya haruslah bisa mendidik anak saya menjadi anak yang soleh sesuai agama yang saya anut. Jika saya ingin anak saya bisa hafal qur'an, maka setidaknya saya cukup fasih membaca al qur'an. Karena itu penting bagi saya untuk membekali diri dengan ilmu agama yang cukup.


Menjadi sahabat bagi anak-anak saya

Ibu saya, termasuk tipe ibu yang tak terlalu menampakkan rasa sayangnya pada anak-anaknya. Sementara almarhum ayah saya adalah orang yang jarang bicara. Hal ini otomatis membuat saya tidak terlalu dekat dengan ayah dan ibu saya. Bahkan saya nyaris tak pernah curhat pada ibu saya. Karena itulah kadang saya merasa iri pada anak-anak yang sangat dekat dengan orang tuanya, bahkan bisa sampai curhat. Dengan menjadi sahabat bagi anak, saya berharap bisa menghindarkan anak-anak saya dari hal-hal negatif yang kerap kita temui di dunia remaja nantinya.

Menjadi orang tua yang memberikan kenangan baik bagi anaknya

Dalam sebuah seminar parenting yang saya ikuti, pembicara bercerita mengenai ibunya. Dalam ceritanya ini, beliau menceritakan kebiasaan ibunya yang selalu diingatnya hingga dewasa. Kebiasaannya sederhana saja. Sang ibu selalu menyiapkan air minum yang sudah dibacakan doa untuk anak-anaknya. Berkaca dari cerita ini, saya pun berharap bisa memberikan kenangan baik bagi anak-anak saya yang tentunya juga berpengaruh pada kepribadiannya nanti.

Itulah dia beberapa hal yang ingin saya capai dalam hal belajar menjadi orang tua. Perjalanan saya insya Allah masih sangat panjang mengingat anak saya masih berusia 8 bulan. Saya berharap seiring bertambahnya umur saya bisa semakin memperbaiki diri dan banyak belajar agar bisa menjadi orang tua yang saya inginkan.

Wednesday, September 13, 2017

Menginap di Hotel Four Points Sheraton Makassar

September 13, 2017 17
A post shared by Antung Apriana (@ayanapunya) on

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat tugas dinas untuk mengikuti pameran IWWEF (Indonesia Water Wastewater Expo and Forum) yang diadakan di kota Makassar. Berhubung anak saya masih berusia 8 bulan, saya pun meminta izin untuk mengajaknya serta dalam tugas dinas ini. Alhamdulillah permintaan saya dikabulkan. Jadilah kemudian saya berangkat ke Makassar bersama anak dan suami, tentunya dengan biaya tiket dan kamar yang saya tanggung sendiri.

Dalam mengikuti acara ini, pihak kantor saya mengutus 17 orang untuk bertugas menjaga stand perusahaan dan mengikuti beberapa seminar yang dilaksanakan selama IWWEF berlangsung. Karena hotel tempat acara diadakan sudah penuh, maka beberapa orang diinapkan di hotel yang terletak tak jauh dari pusat acara. Saya sendiri beserta beberapa karyawan yang lain menginap di tempat IWWEF berlangsung, yakni Hotel Four Points Sheraton Makassar.

Hotel Four Points Sheraton Makassar merupakan salah satu hotel bintang 4 yang terletak di Jl. Landak Baru No.130, Banta-Bantaeng, Rappocini, Kota Makassar. Saat pertama kali tiba di hotel, saya disambut oleh lobby yang sangat luas dengan banyak kursi di dalamnya. Bagi yang ingin duduk-duduk santai lobby ini termasuk nyaman sekali. Oh, ya, sebelum memasuki pintu hotel, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan atas barang bawaan kita.

Setelah melakukan registrasi, saya pun diantar menuju ke kamar tempat kami akan menginap. Kamar saya terletak di lantai 5 dengan sebuah tempat tidur ukuran king size dan beralas karpet yang tebal dan lembut. Untuk ukuran kamarnya sendiri terbilang luas dengan fasilitas yang cukup lengkap mulai dari lemari pakaian plus setrika, kulkas mini, televisi, hingga teko listrik lengkap dengan minuman sachet-nya.

Bagi mereka yang ingin bekerja, di kamar yang saya tempati juga menyediakan sebuah meja kerja lengkap dengan lampu baca dan dan kursinya. Sebuah kursi lain ditempatkan tak jauh dari tempat tidur yang bisa digunakan untuk bersantai sambil membaca buku atau menonton televisi. Di kiri kanan tempat tidur terdapat buffet untuk meletakkan barang-barang kecil seperti ponsel atau buku yang sedang kita baca.



Kamar mandinya sendiri juga cukup luas. Dua buah gelas diletakkan di dekat wastafel lengkap dengan beberapa peralatan mandi dan gosok gigi. Sabun, sampo dan kondisioner diletakkan langsung di sebuah wadah di samping shower sementara closet-nya tersembunyi di balik pintu.



Untuk menu sarapannya sendiri, ada banyak menu yang bisa kita coba di pagi hari. Ada menu tradisional seperti bubur ayam, coto makassar, nasi goreng hingga menu barat seperti roti-rotian dan omelet. Dengan ukurannya yang cukup luas, restoran di hotel Four Points ini bisa menampung kurang lebih 100 tamu setiap harinya. Bagi tamu yang membawa anak kecil juga tak perlu khawatir karena di restoran di sediakan sebuah ruang bermain mini untuk anak-anak dan tentunya high chair bagi yang membawa bayi.



Karena saya mengajak anak saya yang masih berusia 8 bulan, tentunya saya penasaran dong dengan fasilitas ruang bermain yang katanya disediakan di hotel Four Points ini. Saya pun bertanya pada resepsionis di mana gerangan letak ruang bermain anak yang dimaksud. Rupanya, ruang bermain anak terletak di lantai 9, satu lantai dengan kolam renang. Saat saya sambangi, ruang bermain tersebut ternyata cukup luas dan dilengkapi beberapa mainan edukatif. Sayangnya karena tidak membawa peralatan renang, saya jadi tidak bisa deh mencoba kolam renang yang dibuka dari pukul 6 pagi ini.



Setelah menginap selama kurang lebih 4 hari di hotel Four Points Sheraton ini, bisa dibilang saya cukup puas dengan pelayanan hotel ini. Kamarnya nyaman ditempati, makanannya enak-enak dan fasilitasnya lengkap pula. Berikut adalah video singkat yang saya buat selama berada di hotel Four Points Sheraton. Semoga bermanfaat, ya :)


Tuesday, September 5, 2017

Hindi Medium, Cerita tentang Pencarian Sekolah Terbaik untuk Anak

September 05, 2017 36


Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah film Bollywood berjudul Hindi Medium. Sebuah film menarik yang dibintangi oleh Irrfan Khan dan Saba Qomar. Filmnya sendiri bercerita tentang usaha sepasang suami istri, Raj dan Mita Batra mendaftarkan putri mereka ke sebuah sekolah bergengsi di kota mereka. Alasan utama sang istri sangat ingin putrinya bisa bersekolah di sekolah elit tersebut karena dia yakin kalau di sekolah elit sang putri akan mendapatkan banyak fasilitas yang lebih baik dari sekolah negeri.

Pasangan Raj dan Mitra Batra sendiri berasal dari keluarga yang cukup berada. Raj sebagai kepala keluarga memiliki bisnis pakaian yang cukup besar di Chandni Chowk. Atas desakan sang istri, Raj akhirnya setuju untuk pindah dari Chandni Chowk ke kawasan perumahan elit agar bisa beradaptasi dengan kehidupan orang-orang kaya. Selain itu mereka juga mengikuti semacam bimbingan agar anak mereka bisa diterima di sekolah elit yang dimaksud.

Sayangnya dengan segala usaha yang telah dilakukan, Pia, sang putri tercinta tak lolos seleksi. Ironisnya, putri dari salah satu karyawan mereka malah berhasil diterima. Rupanya di sekolah elit tersebut ada jalur khusus bagi mereka yang tidak mampu. Demi bisa menyekolahkan putri tercinta, Raj dan Mita pun mencoba mendaftarkan Pia lewat jalur ini, tentu saja dengan memalsukan beberapa dokumen.

Sialnya tak berapa lama pihak sekolah mengetahui adanya pihak-pihak yang memalsukan dokumen hanya untuk bisa diterima di Delhi Grammar School, sekolah yang mereka tuju. Pihak Delhi Grammar School kemudian mengutus salah satu perwakilannya untuk melakukan survey lapangan pada orang tua yang mengajukan lamaran dengan jalur tidak mampu.

Tak hilang akal, Mita pun mengajak Raj untuk berpura-pura hidup sebagai orang miskin. Mereka menyewa sebuah rumah di perkampungan kumuh, dan tentunya mengubah total penampilan mereka. Tak mudah awalnya bagi Mita untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan orang miskin. Bahkan di hari pertama kedatangan tim survey, pasangan ini nyaris saja terbongkar kedoknya. Untungnya Mita dan Raj bertemu dengan Shyam Prasad dan istri yang bersedia membantu mereka. Kepolosan Shyam berhasil membuat penyurvei percaya kalau Raj dan Mita benar-benar orang miskin. Belakangan baru diketahui kalau Shyam juga mendaftarkan Mohan, putranya untuk bersekolah di Delhi Grammar School. 

Ketulusan persahabatan yang ditawarkan Shyam dan istrinya mau tak mau membuat Mita dan Raj tersentuh. Hari pemilihan pun tiba. Para orang tua dari golongan tidak mampu pun berkumpul mencoba peruntungan mereka. Ya, alih-alih dipilih berdasarkan survey, proses penerimaan pada jalur tidak mampu ini dilakukan dengan sistem undian. Lalu apakah keberuntungan akan berpihak pada kedua pasang orang tua ini?

Setelah menonton film ini, saya rasa ada beberapa nilai moral yang bisa diambil dari film Hindi Medium ini, yakni:

Orang tua pasti menginginkan sekolah terbaik untuk anaknya


Dalam film ini digambarkan Raj dan Mita sebagai pasangan suami istri dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Raj yang pedagang sementara Mita yang lulusan universitas. Dengan latar belakang pendidikannya yang baik, Mita tentu saja ingin putrinya bisa bersekolah di tempat terbaik. Dan dalam pandangannya, sekolah terbaik adalah sekolah swasta yang memiliki banyak fasilitas dan tenaga pengajar mumpuni.

Suami bisa saja mengikuti keinginan istri, namun jangan lupa untuk mendengarkan kata hatinya


Raj sangat mencintai istrinya. Karena cintanya ini, ia bersedia melakukan banyak hal untuk Mita. Mulai dari mengubah penampilannya, hingga melakukan kebohongan agar putri mereka bisa diterima di sekolah elit. Namun kemudian ia disadarkan kalau kecintaannya pada Mita telah membutakan mata hatinya. Di saat inilah Raj akhirnya harus mengambil keputusan akan bertahan dengan hal yang salah karena cinta atau meluruskan kesalahan tersebut.

Ketulusan bisa datang dari siapa saja


Ketika menjalani kehidupan mereka sebabai orang miskin, Raj dan Mita bertemu pasangan Shyam Prasad dan istri yang kemudian menjadi sahabat mereka. Meski miskin, namun Shyam Prasad dan istri sangat tulus dalam berteman dengan Raj dan Mita. Keduanya juga tak sungkan untuk mengulurkan bantuan pada Raj tanpa mempedulikan kondisi mereka yang juga kesusahan.

Berbuat curang takkan memberikan ketenangan


Siapapun setuju kalau berbuat curang bukanlah hal yang baik. Inilah juga yang dirasakan Raj setelah melakukan kecurangan agar putrinya bisa diterima di sekolah elit. Untuk mengurangi rasa bersalah tersebut, Raj dan Mita pun melakukan banyak hal yang dirasa bisa membayar kecurangan yang telah mereka lakukan. Namun meski sudah berbuat banyak, tetap saja ada ganjalan di hati Raj saat mengingat kecurangan yang telah dilakukannya.

Itulah dia review film Hindi Medium yang sudah saya tonton. Semoga bisa menjadi referensi bagi para pembaca sekalian.