Wednesday, May 24, 2017

[Review] Snackit Pia 100 Kacang Hijau

May 24, 2017 19
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah postingan seorang blogger yang menyebutkan sebuah website yang menawarkan produk-produk untuk direview anggotanya. Situs tersebut adalah www.yukcoba.in. Penasaran, saya pun mendaftar di situs tersebut. Saat mendaftar, saya cukup dibuat tertarik dengan penawaran-penawaran yang diberikan oleh website yukcoba.in ini. Berbagai produk seperti makanan, kosmetik hingga produk untuk bayi ditawarkan untuk direview oleh anggotanya. Saya pun mencoba peruntungan dengan mendaftarkan nama pada produk-produk yang ditawarkan. Agar bisa terpilih menjadi salah satu reviewer, saya harus memberikan alasan mengapa saya pantas untuk mendapatkan produk tersebut.

Setelah beberapa kali mencoba, alhamdulillah nama saya pun terpilih sebagai salah satu reviewer. Produk yang akan dikirimkan berupa snack bernama Snackit Kue Pia 100 rasa Kacang Hijau. Sebagai ibu menyusui yang perlu banyak asupan makanan, produk yang akan dikirimkan ini tentu saja sangat bermanfaat untuk saya. Terlebih lagi dalam komposisinya ada kacang hijau yang diketahui bergizi tinggi dan memiliki banyak manfaat bagi ibu menyusui.



Dikutip dari ayahbunda.co.id, beberapa manfaat dari kacang hijau ini antara lain :
  • Kaya protein, tiamin (vitamin B1), zat besi, magnesium, fosfor, kalium dan mangan. Kacang hijau juga sumber asam folat tapi rendah kandungan natrium, lemak jenuh dan sama sekali tidak mengandung kolesterol.

  • Baik untuk sumber protein nabati. Tiamin atau vitamin B1 mengubah karbohidarat menjadi energi karena ibu menyusui butuh energi lebih besar dibanding saat hamil. Bila kekurangan tiamin Anda jadi mudah tersinggung, sulit konsentrasi dan kurang bersemangat. Mood yang baik akan memicu hormon oksitosin untuk mengeluarkan ASI.

Beberapa hari setelah konfirmasi kesediaan, Snackit Kue Pia 100 Kacang Hijau tiba di rumah saya. Segera saya buka bungkus paketnya. Ternyata saya mendapatkan 2 bungkus Snack It ini. Snack It Kue Pia 100 rasa Kacang Hijau ini diproduksi oleh PT. Morinaga Kino Indonesia. Kemasannya berwarna hijau dengan berat bersih 150 gram. Bungkusnya berukuran 25 cm x 9 cm x 5 cm. Pada bagian kiri atas, terdapat logo sertifikat halal dari MUI. Saat dibuka, terdapat 6 buah kue pia berwarna keemasan dengan diameter kurang lebih 4 cm.


Begitu digigit, tekstur kue ini terasa lembut. Jika dibandingkan dengan bakpia yang umumnya teksturnya renyah, Snackit Kue Pia 100 rasa kacang hijau teksturnya lebih lembut. Manisnya pas di lidah saya dan isian kacang hijaunya benar-benar berasa. Untuk isiannya sendiri, warnanya agak sedikit merah ya, bukan hijau seperti warna asli kacang hijau. Saya kemudian membagikan kue ini pada orang rumah. Semua setuju kalau Snackit Kue Pia 100 Rasa Kacang hijau ini enak. Kalau kata saya sih, Snack It Kue Pia 100 rasa Kacang Hijau bisa menjadi cemilan yang pas untuk menikmati waktu senggang bersama keluarga. Jangan lupa makannya ditemani secangkir teh hangat atau minuman lainnya, pasti lebih nikmat.
Si Dede kayaknya pengen nyobain juga snackit kacang hijaunya

Saturday, May 20, 2017

Memilih Popok untuk si Kecil

May 20, 2017 20
Memilih Popok untuk si Kecil


Setelah melahirkan Yumna, kehidupan saya dan suami sebagai sebagai orang tua pun dimulai. Begadang dan kurang tidur menjadi menu baru dalam keseharian kami. Yumna, bayi kami yang usianya kini hampir 5 bulan termasuk bayi yang doyan begadang. Hingga usianya 3 bulan, tidurnya selalu di atas pukul 10 malam. Sebagai orang tua, kami pun berbagi tugas dalam mengurus si kecil. Untungnya suami saya tak sungkan untuk turun tangan. Saat saya tertidur karena kelelahan mengurus Yumna, misalnya, suami bersedia menggantikan saya begadang.

Di awal-awal kelahirannya, saya dan suami masih menggunakan popok kain untuk Yumna. Karena saya disibukkan dengan urusan menyusui, maka suamilah yang dengan sukarela mencuci popok kain yang jumlahnya menggunung setiap harinya. Setiap hari sebelum berangkat bekerja suami mencuci popok kotor untuk kemudian saya jemur jika sudah selesai menyusui Yumna di pagi hari.

Selama satu bulan saya dan suami setia menggunakan popok kain ini. Namun cuaca yang mulai berubah membuat saya dan suami mulai berganti haluan. Hujan turun berhari-hari dan popok si kecil pun habis. Maka mau tak mau kami pun membeli popok sekali pakai untuk menggantikan popok kain. Nah dalam memilih popok sekali pakai untuk anak, tentunya saya dan suami tidak mau sembarangan dong. Seperti yang kita tahu, kulit bayi itu sangat sensitif. Kalau salah pilih popok bisa-bisa kulitnya iritasi atau bahkan kena ruam popok. Duh saya kayaknya nggak sanggup ya melihat ada ruam-ruam di area kewanitaannya. Selain tak enak dipandang, si kecil pasti merasa tak nyaman dengan ruam-ruam ini yang ujung-ujungnya akan membuatnya lebih rewel.

Thursday, May 18, 2017

Cerita Di Balik Migrasi ke Top Level Domain

May 18, 2017 10


Sejak awal ngeblog, sebenarnya saya sudah bercita-cita untuk bisa memiliki blog berakhiran dotcom. Kala itu yang ada di pikiran saya keren aja kalau bisa punya blog dengan akhiran dotcom ini. Saya belum mengerti tentang monetize dan hal-hal lain yang saat ini mungkin menjadi alasan orang-orang menjadikan blog gratisannya menjadi Top Level Domain. Yah, waktu itu memang kayaknya dunia blogger belum semenjanjikan sekarang, jadilah saya ngeblog murni karena ingin mengeluarkan isi di kepala.

Seiring dengan semakin banyaknya teman-teman dunia maya yang mengganti blog gratisannya menjadi blog berbayar, keinginan saya untuk bisa pun semakin menguat. Sayangnya dengan alasan membuat blog TLD itu mengeluarkan biaya, akhirnya saya putuskan untuk tetap setia dengan blog gratisan. Selain itu, saya juga khawatir tidak akan bisa konsisten menulis saat sudah memiliki blog TLD nanti.

Setelah berbulan-bulan bersemedi, akhirnya saya pun bulat memutuskan untuk berpindah dari blog gratisan ke blog berbayar. Karena saya menggunakan blog wordpress, otomatis saya harus menyewa hosting terlebih dahulu baru bisa membeli domain. Bisa sih sebenarnya saya pindah haluan ke blogspot yang tak memerlukan hosting. Tapi yah saya sudah nyaman ngeblog di wordpress ini. Mau nggak mau harus rela bayar lebih deh.

Saya pun mulai melalukan survey pada penyedia jasa hosting. Setelah melakukan berbagai perbandingan harga, akhirnya saya pun memilih Qwords.com sebagai rumah baru bagi blog saya. Saat itu saya memilih paket Cloud Web Hosting S dengan kapasitan 1500 MB dan biaya per bulannya Rp. 19.500, namun jika memesan untuk 1 tahun, biayanya berkurang menjadi Rp. 16.500/bulan. Nah untuk domainnya sendiri, saya memanfaatkan promo yang sering diadakan oleh Qwords.com. Saat itu harga domainnya sekitar Rp. 25.000 kalau tidak salah. Jadi kalau ditotal, biaya menyewa hosting + domain yang saya keluarkan adalah Rp. 242.000.00.

Setelah melakukan konfirmasi pembayaran, pihak Qwords langsung mengirimkan balasan berupa akun wordpress saya yang baru beserta Cpanelnya. Dalam proses penginstalannya, alhamdulillah saya tidak direpotkan karena pihak Qwords sudah memberikan aplikasi jadi untuk saya. Jadi saya tinggal login dan menata rumah baru saya. Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan setelah berhasil login ke alamat blog yang baru.

Menginstal Jetpack dan plugin-plugin lain yang diperlukan

Saat login ke akun blog yang baru, saya sempat bingung bagaimana caranya menghubungkan akun wordpress saya yang sudah. Dari mas Febryan Lukito saya akhirnya tahu kalau saya harus menginstal plugin Jetpack terlebih dahulu agar bisa login dengan akun wordpress yang lama. Selain jetpack, saya juga menginstal plugin lain yang dirasa penting seperti SEO, Google Analytics dan plugin lainnya.

Memilih tema dan menata tampilan blog

Dari yang saya tahu, dalam memilih tema untuk blog kita harus memperhatikan apakah tema yang dipilih cukup responsif saat dibuka melalui ponsel. Selain memilih tema yang responsif, pengaturan tata letak widget yang dipilih juga cukup menentukan menarik tidaknya tampilan blog kita. Saya sendiri masih dalam tahap utak-atik untuk tema blog ini.

Memindahkan postingan lama ke rumah baru

Langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah memindahkan postingan-postingan saya di blog ayanapunya.wordpress.com. Sebelumnya saya harus meng-ekspor postingan saya di blog lama. Karena maksimal file yang bisa diunggah hanya 2 MB, maka back up dilakukan per bulan lalu kemudian diimpor ke blog baru. Untuk proses impor ini saya memerlukan beberapa kali pemindahan karena beberapa postingan gagal dipindah. Setelah postingan di blog lama berhasil diekspor, blog lama di-setting privat agar pembaca bisa dialihkan ke blog baru. Lucunya, meski sudah disetting privat, setiap saya cek statistik masih ada yang bisa membaca blog lama saya. Ini jelas mempengaruhi traffic di blog selfhosted saya. Jadi bisa dibilang meski postingan banyak, saya tetap harus mulai dari awal lagi ngeblognya.

Bicara tentang penyedia jasa hosting sendiri, bisa dibilang saya cukup puas dengan pelayanan Qwords.com ini. Di awal-awal ngeblog dengan selfhosted ini, saya sempat mengalami beberapa masalah dalam pengaturan blog. Dan setiap kali saya mengajukan permasalahan yang saya hadapi responnya bisa dibilang sangat cepat. Pernah saya menghubungi pihak Qwords dini hari saat tahu blog saya kena hack, dan mereka tetap melayani pertanyaan saya. Salut deh. Qwords juga setahu saya termasuk penyedia jasa hosting dan domain yang sering sekali mengadakan promo yang tentunya sangat menggiurkan bagi para blogger. Untuk hostingnya sendiri memang sempat beberapa kali down namun biasanya tak terlalu lama.

Setelah memiliki selfhosted blog ini tugas saya tentunya adalah mengisinya dengan konten-konten bermanfaat. Untuk hal ini jelas saya masih perlu banyak belajar. Semangat!

Friday, May 12, 2017

5 Film Bertema Penulis

May 12, 2017 24
Beberapa waktu yang lalu saya menonton film Genius yang dibintangi oleh Jude Law dan Colin Firth. Film ini bercerita tentang hubungan seorang penulis dengan editornya. Setelah menonton film ini, saya jadi ingat beberapa film lain yang juga bertemakan dunia kepenulisan yang sudah saya tonton. Beberapa diambil dari kisah nyata, namun ada juga yang murni kisah fiktif. Berikut adalah beberapa film berlatang belakang dunia penulis yang sudah saya tonton tersebut:

Genius (2016)


Thomas Wolfe, adalah seorang penulis muda yang sedang berusaha menerbitkan novelnya. Ia mengirimkan naskahnya kepada Max Perkins, seorang editor yang mengorbitkan F. Scott Fitzgerald dan Ernest Hemingway. Meski naskahnya super tebal, namun Perkins dengan insting editornya tetap berniat untuk menerbitkan tulisan Wolfe. Dengan bimbingan Max, Tom pun berhasil menerbitkan novel perdananya yang laris di pasaran.

Genius merupakan film yang menarik karena melalui film ini, saya diperlihatkan bagaimana hubungan seorang editor dengan penulisnya. Max Perkins sendiri dalam film ini digambarkan sebagai seorang editor yang cukup sabar dalam menghadapi Tom yang. Hal lain yang membuat saya berdecak kagum juga adalah bagaimana seorang editor bisa sanggup membaca naskah ratusan lembar. Pantas saja ya nggak banyak editor yang jadi penulis. Mereka terlalu sibuk memeriksa naskah sehingga naskahnya sendiri terbengkalai.

Trumbo (2015)



Dalton Trumbo adalah seorang penulis skenario. Karena keterlibatannya di partai komunis, Trumbo harus menjalani hukuman beberapa tahun di penjara. Selain itu namanya juga di-blacklist dari film Holyywood. Untuk bisa menghidupi keluarganya, Trumbo kemudian menulis skenario dengan menggunakan nama temannya. Naskahnya itu berhasil memenangkan Oscar untuk kategori skenario terbaik.

Setelah menyelesaikan hukumannya, Trumbo memulai kembali karirnya sebagai penulis skenario dengan nama samaran. Ia menulis naskah yang kemudian dikirimkan kepada rumah produksi yang memakai jasanya. Selama beberapa tahun Trumbo menghidupi keluarganya dengan cara ini. Hingga akhirnya Kirk Douglas dengn terang-terangan menggunakan naskah Trumbo dalam film terbarunya.

Hal menarik yang bisa saya ambil dari film ini adalah bagaimana Trumbo sebagai seorang ayah tetap berusaha bertanggung jawab atas keluarganya di saat dirinya berada dalam kesulitan.

Saving Mr. Banks (2013)

Saving Mr. Banks bercerita tentang cerita di balik pembuatan film Mary Poppins. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana upaya Walt Disney membujuk P.L Traver, penulis Mary Poppin agar novel miliknya bersedia difilmkan. Alasan Walt Disney begitu bersikeras untuk bisa menjadikan sosok Mary Poppin menjadi nyata adalah karena putrinya yang sangat mengidolakan nanny tersebut. 

Traver sendiri awalnya bersikeras tak ingin Mary Poppin difilmkan. Namun kondisi ekonomi yang buruk pada akhirnya bersedia Mary Poppin diangkat ke layar lebar, namun dengan syarat tidak boleh ada unsur animasi dalam film tersebut. Traver pun terbang ke Amerika untuk turut serta dalam proses pembuatan film Mary Poppin. Sayangnya Traver bukanlah sosok yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Film pun akhirnya rampung dan sukses besar. Sayangnya di balik kesuksesan Mary Poppins, Traver sempat menyimpan kekecewaan karena salah satu permintaannya tak dikabulkan Disney.

Selain bercerita tentang proses pembuatan film Mary Poppins, Saving Mr. Banks juga mengulik sedikit kisah P. L. Traver di masa kecilnya dan asal usul lahirnya kisah Mary Poppins. Dari film ini, kita juga bisa melihat bagaimana sulitnya bagi seorang penulis saat karakter yang mereka ciptakan akan dijadikan nyata.

Ruby Sparks (2012)



Bagaimana jika tokoh rekaan yang kau tulis muncul di dunia nyata? Begitulah kira-kira premis yang ditawarkan dalam film Ruby Sparks. Seorang penulis best seller bernama Calvin Weir-Fields sedang mengalami kebuntuan dalan penulisan novelnya. Ia kemudian menulis sebuah cerita tentang seorang gadis yang hadir di mimpinya dengan nama Ruby Sparks. Siapa sangka Ruby ini tiba-tiba muncul dalam kehidupannya. Keduanya pun menjalin hubungan. Uniknya, meski awalnya tokoh fiktif, Ruby ini nyatanya bisa dilihat oleh orang-orang di sekitar Calvin.

Hubungan Calvin dan Ruby semakin dekat. Calvin bahkan mengenalkan Ruby pada orang tuanya. Belakangan, Calvin sadar kalau Ruby bertindak sesuai dengan apa yang ditulisnya calam cerita. Hal ini kemudian dimanfaatkan Calvin saat hubungan mereka memburuk. Pada akhirnya, Calvin pun memutuskan untuk menyelesaikan kisah Ruby dalam kehidupannya.

Midnight in Paris (2011)



Midnight in Paris merupakan film karya Woody Allen. Filmnya sendiri berkisah seorang penulis bernama Gil Pender yang sedang berada di Paris bersama tunangannya, Inez. Karena merasa bosan dalam sebuah acara, Gil pun memutuskan untuk keluar. Tak lama sebuah mobil menghampirinya dan Gil pun menumpang di mobil tersebut. Siapa sangka ternyata mobil yang lewat di tengah malam ini membawa Gil ke sebuah tempat bertemunya para penulis tahun 1920-an seperti Fitzgerald, Hemingway dan para seniman lainnya. Gil yang sedang berusaha menyelesaikan novelnya ini tentunya sangat senang bisa bertemu dengan penulis idolanya. Ia bahkan berkesempatan menyerahkan naskah miliknya untuk dibaca oleh Gertrude Stein.

Selain bercerita tentang petualangn magis yang dialami Gil selama di Paris, film Midnight in Paris ini seolah memberikan sentilan pada kita yang kadang beranggapan bahwa masa lalu adalah masa yang lebih baik ketimbang masa yang sedang dijalani. Misalnya para remaja 80-an selalu berkata bahwa masa mereka adalah yang paling asyik, demikian juga remaja tahun 90-an dan berikutnya.

So, itulah 5 daftar film bertema penulis yang sudah pernah saya tonton. Semoga bisa jadi referensi bagi yang baca :)

Wednesday, May 10, 2017

My Daily Make Up

May 10, 2017 18


"Sudah siap belum?" Tanya suami pada saya yang masih berkutat di depan kaca. Tangannya sibuk menggendong anak kami yang mulai kegerahan.

"Bentar lagi, Mas. Ini benerin jilbab dulu," balas saya yang masih sibuk dengan dandanan saya yang . Hari itu ada 2 undangan yang harus kami hadiri dan berhubung sekarang ada bayi mau tak mau kami harus datang pagi agar tak kepanasan atau terjebak macet di jalan.

Sayangnya rencana tersebut gagal total. Saya dan suami baru berangkat dari rumah saat hari mulai terik dan undangan sudah membludak. Penyebabnya apalagi kalau bukan saya yang kelamaan dandan. Padahal dandannya itu cuma pakai bedak, pensil alis, lipstik sama eye shadow doang. Wkwkwk.

Bagi sebagian orang, fragmen seperti yang saya gambarkan di atas mungkin tidaklah asing. Bahkan sebuah e-comerce mengadopsinya sebagai iklan. Seorang suami menunggu istrinya dandan sampai sempat belanja online kesana-kemari. Memang sih untuk urusan dandan perempuan lebih ribet dari laki-laki. Tak cukup soal pakaian yang harus matching, wajah pun harus selalu terlihat oke. Saya sendiri selama beberapa waktu terakhir juga mulai sedikit lebih peduli soal make up. Dari yang awalnya cuma pakai bedak sama lipbalm kini sudah terbiasa pakai lipstik dan pensil alis. Bahkan sesekali juga nyoba makai eye shadow. Alasannya sih sepele. Make up membuat saya terlihat cantik. Hehe.

Nah, karena sudah mulai melek soal make up, tentunya ada ritual yang saya jalani setiap harinya, terutama saat akan bekerja. Berikut adalah daily make up andalan saya:

Pelembab dan Sun Block

Menggunakan pelembab untuk wajah ini kayaknya sudah menjadi hal yang wajib ya. Kalau untuk urusan merk saya masih sering ganti-ganti produk. Alhamdulillah sih kulit saya termasuk tidak rewel jadi tidak terlalu banyak masalah dalam memilih pelembab wajah. Nah, kalau soal sun block kayaknya baru beberapa bulan terakhir saya rutin menggunakannya. Selain karena teriknya matahari udah mulai nggak bisa ditolerir lagi, saya juga mulai aware sama kondisi muka yang mulai banyak flek ini. Heu.

Lipbalm

Lipbalm saya oleskan sekitar 5 menit sebelum memoleskan lipstik. Setelah dirasa meresap bibir disapu dengan tisu baru kemudian ditimpa lipstik. Hal ini baru saya ketahui setelah menonton video dari para beauty blogger.

Pensil Alis dan Celak

Saya mulai rutin menggunakan pensil alis semenjak hamil Yumna. Layaknya yang lain, awalnya saya kaku banget menggunakan pensil alis ini. Ujungnya tebal dan terlihat seperti Sinchan. Seiring dengan seringnya latihan, saya merasa alis bentukan saya mulai membaik, meski belum bisa seperti alis artis Korea seperti yang saya inginkan. Untuk urusan alis ini, selain menggunakan pensil alis, saya juga kadang bereksperimen dengan menggunakan eye shadow warna coklat. Yang saya suka dari penggunaan eye shadow ini, warnanya terlihat lebih natural.

Nah, kalau untuk bagian mata, alih-alih menggunakan eyeliner, saya memilih menggunakan celak bubuk. Ini sudah kebiasaan dari zaman kuliah kalau tidak salah. Selain agar mata terlihat lebih besar, saya meyakini menggunakan celak ini bisa menyehatkan plus menghindarkan diri dari sakit mata.

Bedak

Setelah pelembab dan sunblock meresap di kulit, biasanya saya langsung menggunakan bedak tanpa menggunakan alas bedak atau BB cream. Sebenarnya saya dulu pernah mencoba menggunakan BB Cream buatan lokal. Tapi karena shade-nya kurang pas akhirnya saya memilih tidak menggunakannya lagi. Selain itu saya juga merasa penggunaan BB Cream atau alas bedak terlalu berat dan ribet untuk sehari-hari. Alas bedak baru saya gunakan jika saya akan menghadiri acara-acara khusus seperti resepsi pernikahan. Nah karena tidak menggunakan alas bedak ini, saya memilih menggunakan bedak two way cake yang memang sudah mengandung foundation di dalamnya.

Lipstik

Lipstik menjadi langkah terakhir dalam ritual dandan saya. Pilihan warnanya biasanya disesuaikan sih dengan pakaian yang saya kenakan. Untuk jenis lipstik, saya sendiri lebih suka lipstik matte. Ini karena bibir saya tergolong tebal jadinya lebih cocok pakai lipstik matte.

***

Untuk memenuhi kebutuhan saya akan make up ini, biasanya saya membelinya di toko-toko kosmetik di kota saya. Tapi pernah juga saya membeli lewat toko online. Waktu itu sedang heboh lipstik Purbasari. Nyarinya sudah keliling kota aja kayaknya dan nggak ketemu-ketemu. Akhirnya belanjalah saya ke salah satu toko online yang menyediakan lipstik ini. Enaknya belanja secara online ini, kita tinggal leyeh-leyeh dan barang pun tiba di tangan.

Seperti yang kita tahu, ada banyak toko online dan e-comerce yang menyediakan segala printilan make up bagi wanita. Salah satunya adalah Sociolla. Di Sociolla, kita bisa membeli berbagai macam skin care atau make up, terutama kalau pengen nyoba make up atau skincare dari luar. Selain produknya yang otentik, Sociolla juga memberlakukan free ongkir untuk pembelian minimal 100 ribu rupiah. Trus jika ingin mendapat potongan harga sebanyak 50 ribu rupiah (minimal pembelian 250.000), bisa juga masukkan kode SBNLANAM sebelum melakukan check out ya! :)

Monday, May 1, 2017

Perkembangan Yumna 0-4 Bulan

May 01, 2017 9
Perkembangan Yumna 0-4 Bulan
Tanggal 21 April yang lalu, Yumna, putri pertama saya berusia 4 bulan. Beratnya sudah 6 kilo lebih dengan panjang 62 cm. Tentunya ada banyak cerita yang hadir selama 4 bulan Yumna mengisi hidup saya dan suami. Mulai dari proses menyusui yang lumayan bikin drama, hingga celotehan-celotehan yang kini mulai keluar dari bibir mungilnya. Untuk kali ini, saya ingin sedikit merangkum hal-hal yang terjadi terkait tumbuh kembang Yumna.

Usia 0-1 bulan

Bulan pertama kelahiran Yumna merupakan masa di mana saya berjuang untuk bisa memberikan ASI padanya. Berhubung saya memiliki puting datar, maka proses pemberian ASI memerlukan waktu dan usaha yang sedikit lebih lama dibanding. Kala itu, agar Yumna bisa tetap mendapat ASI saya rutin memompa payudara dan memberikan ASIP tersebut melalui media dot. Saya juga menggunakan nippleshield agar Yumna bisa menyusu ke payudara dan tak menjadi terbiasa dengan dot. Youtube menjadi sahabat saya dalam usaha bisa menyusui Yumna secara langsung kala itu. Entah berapa puluh kali saya memutar video cara menyusui bayi dari berbagai channel di sana.



Alhamdulillah, setelah satu bulan usaha saya membuahkan hasil. Yumna berhasil menyusu langsung ke payudara saya (tanpa perantara nipple shield) di usianya yang 1 bulan. Yah, masih belum terlalu benar sih pelekatannya. Tapi bagi saya hal tersebut adalah sebuah pencapaian tersendiri. Oh, ya, saat tiba masa dilakukan pemeriksaan bulanan dan imunisasi, berat Yumna setelah satu bulan naik dari 2,8 kg menjadi 4,1 kg!

Usia 1-2 bulan

Memasuki bulan ke-2 usianya, Yumna memasuki masa growthspurt yang cukup panjang. Jika rata-rata bayi mengalami growthspurt 1 hari hingga 1 minggu, maka anak saya mengalaminya selama 1 bulan. Entah ini memang growthspurt atau karena sistem pencernaannya yang belum sempurna. Yang jelas masa-masa growthspurt ini merupakn masa-masa yang membuat frustrasi. Setiap hari saya harus menyusui Yumna selama berjam-jam tanpa henti. Pekerjaan rumah terbengkalai. Saya bahkan nyaris tak sempat makan. Beruntung saya masih tinggal bersama ibu saya. Jadi setidaknya ada yang membantu . Selain itu saya juga punya stok ASIP yang bisa diberikan saat saya sudah benar-benar kelelahan di malam hari.

Jika di siang hari Yumna terus-terusan menyusu, maka malamnya, Yumna juga sangat sulit untuk ditidurkan. Jika katanya bayi berusia 2 bulan tidur sampai 16 jam sehari, maka Yumna kalau dihitung tidur hanya 8-10 jam. Saya bahkan sempat bertanya pada teman yang usia anaknya berbeda 1 minggu dengan anak saya.

"Anakmu tidurnya gimana?" tanya saya kala itu.

"Anakku kalau pagi habis mandi tidur sampai jam 12. Trus kalau siang jam 2 sudah tidur lagi. Kalau malam habis magrib dia juga sudah tidur," begitu jawab teman saya. Dan saya pun galau dibuatnya.

Masa-masa growthspurt ini sempat membuat saya merasa kalau ASI saya kurang. Apalagi kadang lingkungan terdekat juga secara tanpa sengaja mengucapkannya pada saya. Untungnya ada satu teman yang mengalami hal yang sama seperti yang saya alami. Dari ceritanya itulah saya berusaha meyakinkan diri kalau masa itu pasti akan berakhir. Dan alhamdulillah memasuki usia 3 bulan frekuensi menyusu Yumna mulai berkurang. Lucunya, saat ditimbang bulan berikutnya, berat Yumna cuma naik 600 gram! Duh ya, kemana itu larinya ASI yang disedot berjam-jam selama 1 bulan?

Usia 2-3 bulan

Seperti yang saya tulis di atas, memasuki usia 3 bulan frekuensi menyusu Yumna mulai berkurang. Jika sebelumnya dia menyusu 15 menit sekali, maka di usia 2 bulan jeda waktu menyusunya mulai melebar menjadi 30 menit sekali. Yah, lumayan lah ya, saya jadinya bisa istirahat barang setengah jam. Jelang usia 3 bulan ini juga saya berusaha mengumpulkan kembali stok ASIP buat Yumna. Mengingat selama masa growthspurt stok ASIP-nya dipakai untuk malam hari, jadinya stok ASIP-nya cuma berjumlah belasan. Untuk itu, saya pun rajin pumping di tengah malam setelah Yumna berhasil ditidurkan. Oh, ya, di usia 2-3 bulan ini Yumna masih doyan begadang! Dia baru bisa tidur di atas pukul 9 malam. Atau pernah juga tidur cepat tapi tengah malam bangun dan ogah tidur lagi. Bahkan pernah Yumna ngajakin ortunya begadang dari pukul 12 sampai subuh. Luar biasalah pokoknya. Heu.

Memasuki usia 3 bulan ini, saya sudah mulai bisa memantau perkembangan motorik Yumna. Beberapa perkembangan motorik yang saya lihat antara lain:
  • Yumna mulai memasukkan jarinya ke mulut
  • Sudah bisa mengangkat kakinya
  • Mulai mengeluarkan suara dan bisa diajak ngobrol
A post shared by Antung Apriana (@ayanapunya) on


Di usia 2-3 bulan ini saya juga mulai melatih Yumna agar bisa tengkurap. Jadi selama beberapa menit setiap harinya Yumna letakkan dalam posisi tengkurap. Tentang stimulasi ini sebenarnya merupakan pelajaran baru buat saya. Selama ini saya pikir bayi bakal tengkurap sendiri. Ternyata bahkan di usianya yang masih beberapa minggu, bayi sebaiknya sudah harus dilatih untuk bisa tengkurap.Tak hanya soal tengkurap tentunya, untuk kemampuan yang lain juga perlu dilakukan stimulasi agar perkembangan bayinya tidak terhambat. Untuk bulan ke-3 ini, berat badan Yumna naik 900 gram menjadi 5,5 kg.

Usia 3-4 bulan

Satu minggu jelang usianya yang ke 3 bulan, masa cuti saya habis. Alhamdulillah saat itu saya sudah berhasil mengumpulkan sekitar 30 botol ASIP. Nah, karena Yumna termasuk banyak menyusunya, maka setiap harinya saya menyiapkan 6 botol ASIP untuk dia minum. Saya juga rutin pumping 2 kali selama di kantor dan pulang di jam makan siang untuk menyusui Yumna.

Saat usianya kurang lebih 3,5 bulan, Yumna sudah bisa tengkurap sendiri (horee!) Jadi di awal-awal masa bisa tengkurap, Yumna masih kesulitan mengangkat kepalanya. Pelan tapi pasti  kepalanya mulai bisa terangkat dan tangannya sudah mulai bisa menopang dadanya. Lucunya, setiap kali berhasil tengkurap, Yumna akan berusaha mengangkat pantatnya kemudian marah-marah bahkan kadang sampai nangis. Saya jelas bingung dong ini bayi maunya apa? Masa baru bisa tengkurap beberapa minggu sudah pengen duduk? Tapi mungkin bisa juga maksudnya dia ingin merayap tapi tak kunjung berhasil.


Di usia 3 bulan ini, Yumna juga sudah mulai bisa memegang baju saya saat sedang menyusui. Dia juga makin responsif jika diajak ngobrol. Saking responnya, Yumna bisa menghentikan kegiatan menyusunya jika mendengar orang tuanya ngobrol. Xixixixi. Untuk jam tidur, ini PR banget kayaknya. Sampai sekarang Yumna masih sulit diatur jam tidurnya. Siang kadang cuma 1 kali tidur siangnya dan malam susah banget diajak tidur :( Semoga dengan semakin bertambahnya umurnya nanti, Yumna bisa lebih teratur tidurnya.