review film bollywood drishyam 2


Tahun 2015, ada sebuah film Bollywood dengan plot yang benar-benar mencuri perhatian saya berjudul Drishyam. Film yang diadaptasi dari film Telugu ini mengisahkan perjuangan seorang ayah dalam melindungi anaknya yang secara tidak sengaja membunuh putra seorang polisi. Diperankan oleh Ajay Devgn, karakter Vijay Salgaonkar sukses membuat saya terpukau, baik dari segi akting maupun jalan cerita.

Film Drishyam tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga kejutan demi kejutan yang membuat penonton terus berpikir. Karena itulah, ketika akhirnya sekuelnya hadir, rasa penasaran pun tak terelakkan. Melalui review film Drishyam 2 Bollywood ini, saya ingin berbagi kesan tentang bagaimana kisah Vijay dan keluarganya akhirnya ditutup.

Review Film Drishyam (2015)

review film drishyam 2


Cerita Drishyam berfokus pada Vijay Salgaonkar, seorang pria paruh baya yang menjalankan usaha TV kabel di Goa. Ia hidup sederhana bersama istrinya, Nandini, serta dua anak mereka, Anju dan Anu. Kehidupan keluarga ini berubah drastis ketika Anju secara tidak sengaja membunuh seorang pemuda, putra kepala polisi, akibat ancaman yang diterimanya.

Sebagai ayah dan kepala keluarga, Vijay tidak ingin istri dan anaknya mendekam di penjara. Meski hanya lulusan sekolah dasar, Vijay memiliki kecerdasan luar biasa dan kemampuan merencanakan sesuatu dengan sangat detail. Berbekal kegemarannya menonton film, ia menyusun alibi, menciptakan saksi, dan membangun skenario yang membuat polisi kesulitan membuktikan kejahatan tersebut.

Pada akhirnya, keluarga Vijay berhasil lolos dari jerat hukum karena polisi tidak menemukan bukti apa pun terkait hilangnya putra kepala polisi.

Sebagai penonton, saya sangat mengagumi kecerdasan plot film ini. Namun di sisi lain, muncul beban moral: bagaimana jika film seperti ini justru memberi ide bagi orang-orang untuk menutupi kejahatan? Konflik batin inilah yang membuat Drishyam terasa lebih dari sekadar film thriller biasa.


Review Film Drishyam 2 Bollywood



Sekuel Drishyam 2 mengambil latar waktu tujuh tahun setelah kasus Sameer Deshmukh terjadi. Vijay kini telah menjadi pemilik bioskop di Pondolim, Goa, dan bercita-cita memproduksi filmnya sendiri. Untuk mewujudkan impian tersebut, ia bahkan menjual sebagian tanahnya sebagai modal.
 

Luka Lama yang Masih Membekas

Meski terlihat menjalani kehidupan normal, keluarga Vijay sebenarnya menyimpan trauma mendalam. Anju, putri sulungnya, harus menjalani perawatan karena sering mengalami kejang akibat mimpi buruk tentang peristiwa masa lalu. Nandini pun hidup dalam tekanan batin yang berat hingga tanpa sadar kerap mencurahkan rahasia keluarga kepada Jenny, tetangga mereka.

Sementara itu, Vijay masih berada dalam pengawasan polisi dan menjadi bahan gosip warga sekitar terkait kasus yang menimpa mereka 7 tahun sebelumnya. Bayang-bayang masa lalu terus menghantui kehidupan mereka.





Kasus Lama yang Kembali Terbuka

Setelah tujuh tahun berlalu, kasus kematian putra Meera Deshmukh perlahan menemukan titik terang. Kepala polisi baru bernama Tarun Ahlawat, yang ternyata merupakan rekan Meera semasa pelatihan, diam-diam membuka kembali penyelidikan.

Meera dan Tarun bahkan menyusupkan polisi bayangan untuk memantau gerak-gerik keluarga Vijay dan menyadap pembicaraan di rumah mereka. Hingga akhirnya muncul nama David Braganza, seorang saksi yang mengaku melihat Vijay menguburkan jasad Sameer.

Penggalian pun dilakukan dan kerangka mayat ditemukan. Keluarga Vijay kembali harus berhadapan dengan polisi dan menjalani interogasi yang melelahkan.

Strategi Vijay Menghadapi Kebenaran

Bagi Meera, penemuan jasad anaknya adalah harapan terakhir untuk mendapatkan keadilan. Namun Vijay bukanlah pria tanpa rencana. Selama tujuh tahun, ia telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk jika rahasia itu terbongkar.

Meski terlihat tenang, Vijay sudah menduga bahwa suatu hari lokasi jasad Sameer akan terungkap. Dan benar saja, ia kembali menunjukkan kecerdasannya dalam menyusun strategi demi melindungi keluarganya.

Lalu, mampukah Vijay sekali lagi mengecoh polisi? Atau justru kebenaran akhirnya benar-benar terungkap?

Kesan setelah menonton film Bollywood Drishyam 2

Puas! Begitulah kesan yang saya dapatkan setelah selesai menonton film Drishyam 2 ini. Bagi saya film Drishyam 2 ini benar-benar menutup kasus yang terjadi 7 tahun sebelumnya dan memberikan banyak pelajaran bagi penontonnya. 

Meski mungkin tak seintens film pertamanya, sekuel dari Drishyam ini berhasil membuat kita terkaget-kaget dengan bagaimana Vijay menyusun rencananya. Terkait pesan moral sendiri, setidaknya ada 3 pelajaran yang bisa kita ambil setelah menonton film Drishyam 2 ini yakni:

Rasa bersalah akan selalu menghantui seseorang yang melakukan kejahatan

Dalam film Drishyam 2, kita bisa melihat bagaimana perubahan kondisi psikologis keluarga Salgaonkar setelah kasus Sameer menimpa mereka. Meski dibebaskan dari tuduhan, keluarga ini hidup dalam bayang-bayang kejahatan mereka di masa lalu. 

Vijay selama 7 tahun terus sibuk membuat rencana agar kejahatannya tak terungkap, sementara istri dan anaknya juga harus menanggung beban psikologis yang berat karena harus menyimpan rahasia kejahatan mereka.

Pentingnya Antisipasi dan Perencanaan

Pelajaran ke dua yang bisa kita ambil dari film Drishyam 2 adalah pentingnya menyusun rencana dan mengantisipasti kemungkinan terburuk. Seperti yang saya tuliskan di bagian review, setelah 7 tahun ternyata lokasi mayat Sameer terungkap yang akhirnya menyeret kembali Vijay berurusan dengan polisi dan pengadilan. Namun rupanya Vijay sudah mengantisipasi hal ini dan menyusun rencana baru untuk bisa kembali meloloskan keluarganya dari jeratan hukum. 

Kekuatan Relasi Sosial

Untuk bisa menjalankan rencananya, Vijay menjalin relasi yang baik dengan banyak orang. Sebagai penonton mungkin kita takkan menyadari apa hubungan orang-orang ini dengan Vijay dan menganggap mereka sebagai relasi biasa. Sampai kemudian ketika Vijay ditangkap dan diadili barulah kita tahu orang-orang ini sengaja didekati Vijay untuk mewujudkan rencananya.

Refleksi Ibu Bekerja dari Film Drishyam 2

Setelah menonton film Drishyam 2, saya jadi banyak merenung sebagai seorang ibu bekerja. Meski konteks ceritanya adalah keluarga Vijay Salgaonkar, beban mental yang digambarkan dalam film ini terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak ibu, khususnya ibu yang harus membagi peran antara pekerjaan dan keluarga.

Nandini, istri Vijay, digambarkan memikul tekanan psikologis yang berat. Ia harus menyimpan rahasia besar, menjaga stabilitas keluarga, sekaligus tetap menjalani peran sebagai ibu dan istri. Situasi ini mengingatkan saya pada mental load ibu bekerja, di mana banyak hal dipikirkan, disimpan sendiri, dan jarang benar-benar diceritakan ke orang lain.

Sebagai ibu bekerja, sering kali kita merasa harus selalu “baik-baik saja”. Tetap profesional di tempat kerja, tetap hadir secara emosional untuk anak, dan tetap menjadi penopang rumah tangga. Ketika ada masalah, rasa bersalah sering kali muncul—apakah kita sudah cukup hadir untuk anak, apakah keputusan yang kita ambil sudah benar, dan apakah kita terlalu egois karena memilih bekerja.

Drishyam 2 juga menunjukkan bagaimana sebuah keputusan yang diambil demi melindungi anak bisa berdampak panjang pada kondisi mental keluarga. Bagi ibu bekerja, ini menjadi pengingat bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan kuat dan bertahan, tetapi juga dengan berbagi beban, mencari dukungan, dan memberi ruang untuk diri sendiri.

Film ini secara tidak langsung mengajak saya untuk lebih jujur pada diri sendiri sebagai ibu bekerja. Bahwa lelah itu wajar, rasa bersalah itu manusiawi, dan meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan. Justru dengan menjaga kesehatan mental, kita bisa menjalani peran sebagai ibu dan pekerja dengan lebih utuh.

Untuk kamu para ibu bekerja yang sedang lelah tapi tetap bertahan, peluk hangat dari saya. Semoga tulisan ini menemani, menguatkan, dan mengingatkan bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik.

Baca Juga