Istilah chilling dan healing sekarang sudah cukup sering kita dengar. Sebutan ini biasanya mengacu pada kegiatan yang dilakukan untuk mengembalikan kembali semangat atau kondisi psikis kita karena beban kerja atau kelelahan yang dialami. Sayangnya banyak yang salah kaprah dalam menerapkan istilah healing ini. Healing seolah-olah identik dengan kegiatan yang menghabiskan uang seperti belanja dan juga jalan-jalan.

Berdasarkan kamus Cambridge, healing berarti proses menjadi sehat kembali, terutama setelah mengalami luka fisik. Sementara healing. Sedangkan menurut Asosiasi Psikologi Amerika, healing adalah proses untuk meringankan beban mental melalui kekuatan pikiran. Jadi bisa disimpulkan healing adalah proses yang dilakukan oleh diri kita untuk mengembalikan kondisi diri baik fisik maupun mental.

Perlunya healing bagi OYPMK



Jika dilihat dari pengertiannya ini, proses chilling dan healing tak hanya berlaku pada mereka yang memiliki kondisi tubuh dan fisik yang normal. Orang-orang dengan keterbatasan fisik seperti penyandang disabilitas dan Orang yang Pernah Mengidap Kusta (OYPMK) juga sangat memerlukan proses healing ini. Tekanan dan diskriminasi yang harus dihadapi karena menderita penyakit kusta yang memiliki stigma buruk di masyarakat menjadi alasan utama dari perlunya healing bagi OYPMK ini. Tak hanya diskriminasi, OYPMK dan penyandang disabilitas ini juga mengalami stigma diri yang tinggi atau kehilangan rasa percaya diri dan menarik diri dari masyarakat.

Kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri/kuman kusta (Mycobacterium Leprae). Selama puluhan tahun, penyakit ini masih dianggap sebagai penyakit kutukan yang membuat penderitanya kerap menerima diskriminasi bahkan dijauhi oleh anggota keluarganya sendiri. Padahal meskipun tergolong penyakit menular, kusta bisa disembuhkan dan proses penularannya juga memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk bisa menghilangkan stigma negatif terhadap penyakit kusta ini, maka perlu dilakukan sosialisasi yang terus menerus agar masyarakat bisa lebih mengetahui tentang penyakit kusta. 

Dalam acara bincang live yang diadakan oleh Ruang Publik KBR bekerja sama dengan NLR Indonesia pada Rabu, 14 Desember 2022 lalu menghadirkan 2 pembicara yang berbagi terkait healing terhadap OYPMK ini. Pembicara pertama adalah Donna Swita yang merupakan Executive Director Institute of Women Empowerment (IWE), sedangkan pembicara kedua adalah Ardiansyah wakil dari OYPMK dan Wakil Ketua dari Konsorsium Pelita Indonesia.

IWE merupakan sebuah organisasi yang berdiri sejak tahun 2008 lalu dengan program-program terkait pemberdayaan perempuan termasuk juga para penyandang disabilitas. Salah satu program dari IWE adalah perawatan diri bagi perempuan termasuk juga perempuan yang pernah mengidap kusta. Menurut Mbak Donna sendiri, healing dan chilling berlaku bagi semua orang termasuk juga pengidap kusta.

Terkait proses healing sendiri, Mbak Donna menyebutkan ada 5 dimensi yang mencakup proses healing ini yakni:
  • Dimensi Fisik
  • Dimensi psikis
  • Dimensi mental
  • Dimensi Relasi, baik dengan keluarga dan sekitarnya
  • Dimensi spiritual
IWE sendiri memperkenalkan konsep healing yang bisa dilakukan di mana saja dan siapa saja. Dalam konsep healing ini ada beberapa nilai yang dianut seperti tidak diskriminatif, tidak menghakimi, bisa mengenal diri sendiri dan juga melepaskan. Oleh karena itu healing bisa dilakukan dengan berbagai metode seperti meditasi, menulis dan melakukan hal-hal yang membuatnya nyaman. Apalagi jika berhubungan tempat wisata, masih belum banyak tempat wisata yang ramah disabilitas jadi proses healing bagi OYPMK ini tidak harus dengan bepergian dan mengunjungi tempat wisata. 


Kisah Ardiansyah dalam proses penyembuhan diri sebagai OYPMK

Saat dirinya menjalani pengobatan kusta, Ardiansyah sebenarnya belum mengalami diskriminasi. Namun ketika Ardiansyah memutuskan untuk berterus terang tentang penyakitnya, barulah beliau menerima perlakuan yang berbeda terutama dari ibunya  padahal saat itu Pak Ardiansyah sudah sembuh. Hal inilah yang membuat akhirnya membuat Pak Ardiansyah mengalami stigma diri yang kuat dan luka batin pada dirinya sebagai akibat dari perlakuan orang-orang terdekat di keluarganya. 

Untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini, Ardiansyah memutuskan untuk keluar dari lingkungan keluarganya tersebut dan bergabung dengan organisasi pengidap kusta dan juga bekerja di lingkungan baru yang bisa mengembalikan rasa percaya dirinya yang hilang. 

Bagi Pak Ardiansyah sendiri proses healing bagi OYPMK sangatlah diperlukan karena mereka yang pernah mengidap kusta ini sangat menutup diri terhadap sekitarnya karena penyakit yang dideritanya. Mereka tidak memiliki teman untuk bercerita karena takut dengan pandangan orang. Jadi salah satu hal yang sangat diperlukan bagi OYPMK adalah teman untuk bercerita agar mereka bisa merasa ringan dalam menjalani hari-harinya. 

Selain itu, dalam hal proses penyembuhan diri bagi OYPMK ini, pertama-tama hal yang bisa dilakukan adalah penerimaan diri dan percaya kepada Tuhan atas takdir yang menimpa dirinya. Lalu langkah ke dua adalah dengan berpikir positif ke depan dan berpikir untuk bisa berubah baru kemudian kita bisa melanjutkan hidup. Intinya semua berasal dari diri kita sendiri.

Untuk OYPMK sendiri, proses healing bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan cara menulis untuk bisa mencurahkan beban pikiran seperti yang dilakukan oleh Pak Ardiansyah. Selain proses healing, hal yang penting dilakukan oleh OYPMK agar bisa diterima masyarakat adalah dengan melakukan pembuktian diri dengan meningkatkan kemampuan diri agar bisa tetap berkarya. Dengan demikian orang bisa melihat kalau OYPMK 

Pak Ardiansyah juga menyampaikan harapannya agar orang di sekitar OYPMK mau memberikan dukungan agar mereka bisa bangkit dari keterpurukan bukannya menjauhi atau menghakimi dan mau mengerti kebutuhan mereka. Pak Ardiansyah sendiri merupakan salah satu contoh dari OYPMK yang bisa menyembuhkan diri dan keluar dari stigma negatif OYPMK. Tentunya hal ini bisa menjadi contoh yang baik OYPMK yang lain untuk bisa bangkit dari keterpurukan. 

Baca Juga