Belajar Mengenali Inner Child bersama Ruang Pulih

Saat menikah kurang lebih 5 tahun yang lalu, usia saya sudah memasuki kepala tiga. Sebuah usia yang kata orang agak terlambat untuk memulai hidup dengan seseorang. Meski demikian, saya tetap bersyukur karena bagi saya usia tersebut merupakan usia yang matang untuk pernikahan. Di samping karena di usia tersebut saya sudah terbilang matang secara emosi, saya juga merasa memiliki bekal yang cukup untuk menjalani pernikahan dengan rajin membaca buku-buku tentang pernikahan.

Setelah satu tahun menikah, saya dan suami pun dikaruniai anak pertama kami. Memiliki anak di usia 30-an, membuat saya berpikir akan bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak saya. Saya mengira saya akan bisa menjadi ibu yang sabar, penuh kasih sayang dan selalu meluangkan waktu untuk anak-anak saya. Apalagi saya juga cukup rajin membaca kiat-kiat seputar dunia parenting. InsyaAllah cukup deh bekal saya buat jadi orang tua, begitu kata saya dalam hati.

Sayangnya perkiraan saya salah. Setelah melahirkan anak kedua, yang berarti bertambah pula tanggung jawab saya dalam mendidik anak, saya mulai mengalami masalah. Saya yang dulunya bisa menahan untuk tidak memarahi anak mulai meledak-ledak. Entah berapa kali saya membentak si sulung. Bahkan pernah saya melemparkan barang padanya hanya karena dia tidak sengaja melempar mainan pada saya. Saya juga kerap membanting barang-barang yang ada di tangan kalau sudah marah. Untung yang dibanting bukan piring atau gelas kalau nggak bisa habis barang pecah belah tersebut di rumah. Hehe.

Sungguh kalau mengingat bagaimana emosi menguasai diri saya membuat saya takut dan menyesal. Saya tidak ingin anak-anak menjadi korban dari emosi yang tak terkendali ini. Apalagi dari yang pernah saya baca, anak yang dibentak maka satu syaraf di kepalanya akan putus Huhuhu.

Karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk mulai mencari bantuan dan berusaha memperbaiki masalah yang sedang saya hadapi. Saya memulainya dengan membaca buku tentang pengelolaan emosi dan bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak kita.

Alhamdullillah buku yang saya baca tersebut cukup membantu saya saat kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak. Meski demikian, jujur saya masih merasa belum benar-benar pulih. Karena meski sudah memiliki pengetahuan bagaimana seharusnya mengelola emosi dan berkomunikasi dengan anak, saya sadar masih ada sesuatu yang tertinggal dalam diri saya dan perlu penyelesaian yang sebenarnya.

Belakangan, saya memutuskan mengikuti kelas Inner Child Therapy yang diadakan oleh Ruang Pulih bersama Coach Intan Maria Lee dan pengisi acara lain yang pastinya sangat kompeten di bidangnya. Kelas ini terdiri atas parade webinar yang diadakan selama beberapa minggu dan bisa ditonton gratis di channel Youtube. Dalam para peserta akan diajak untuk memahami inner child yang ada pada dirinya dan diharapkan bisa memulihkan diri melalui terapi-terapi yang diajarkan salah satunya adalah art theraphy. Berikut adalah sedikit rangkuman dari webinar pertama yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu. 


Tentang mengenali Inner Child


Ada satu tekad yang saya tanamkan kuat-kuat saat akan memiliki anak. Saya tidak ingin menjadi ibu seperti ibu saya. Bukan berarti ibu saya ibu yang buruk. Hanya saja ada beberapa pola pengasuhannya yang membuat saya trauma sampai hari ini. Tentunya hal tersebut bukan sepenuhnya kesalahan ibu saya. Bisa jadi di masa kecilnya ibu saya juga mengalami pola pengasuhan yang tak jauh berbeda dengan apa yang saya alami dan tanpa sadar melakukannya juga kepada anak-anaknya.

Inner Child, begitu orang-orang menyebutkan, merupakan bagian dari diri seseorang yang merupakan hasil dari pengalaman di masa kecil (Lucas Cappachione). Inner Child yang hadir pada diri manusia tak selalu berupa pengalaman buruk, namun bisa juga berupa pengalaman yang menyenangkan di masa kecil kita. Namun biasanya pengalama buruklah yang paling berperan dalam membentuk inner child dan mempengaruhi perilaku dan kesehatan mental kita di masa dewasa nantinya.

Dalam webinar yang saya ikuti pada 15 Agustus 2021 lalu, dr. I Gusti Rai Wiguna menyebutkan kalau salah satu langkah awal bagi seseorang dalam upaya menyembuhkan diri adalah dengan menyadari kalau ada masalah pada dirinya. Setelah itu, kita perlu menyiapkan diri untuk proses pemulihan dan juga berlatih untuk merespon dari luka yang muncul pada diri kita. Selain itu, untuk mengetahui apakah seseorang mengalami gangguan kesehatan mental atau tidak, perlu dilakukan identifikasi dan konsultasi. Jadi seseorang tidak bisa menyebutkan dirinya terkena gangguan mental tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Terkait perkembangan emosi dan hubungannya dengan inner child sendiri, ternyata ada tahapan-tahapan psikologi dalam kehidupan manusia. Jika salah satu kebutuhan dalam satu fase tidak dipenuhi maka akan berdampak di masa depan nantinya. Tahapan yang dikenal Erik Erickson Stage ini menggambarkan 8 tahapan perkembangan psikologi manusia yang dimulai dari usia baru lahir hingga menjadi lansia. Adapun tahapan psikologi manusia tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Di masa kita kecil, bisa jadi ada pola pengasuhan orang tua yang membuat fase psikologis ini tidak berhasil dipenuhi. Misalnya, jika pada usia 1 tahun kebutuhan trust pada balita tidak dipenuhi maka anak tersebut mungkin akan tumbuh menjadi seseorang yang penakut dan sulit menjalin hubungan dengan orang lain. Begitu pula jika saat berusia 3 sampai 5 tahun fase initiative vs guilt ini tidak berjalan dengan baik maka anak akan tumbuh menjadi sosok yang takut mencoba hal baru.


Praktik mindfulness dalam mengenali inner child

Pembicara kedua pada webinar hari itu adalah Adjie Santosoputro, seorang praktisi mindfulness yang mengajak peserta acara untuk menerapkan mindfulness dalam pemulihan diri ini. Dalam pembahasannya, Adjie menyebutkan pentingnya proses belajar dalam proses pemulihan diri. Karena itu dalam prosesnya, diperlukan banyak praktik untuk bisa membantu proses pemulihan diri ini.

Selain itu, beliau juga menekankan kalau inner child merupakan kejadian yang terjadi di masa lalu yang artinya kita sedang berhadapan dengan ingatan atau memori kita sendiri. Ada kalanya di saat memori buruk muncul, kita ingin menghapus memori buruk tersebut. Ada beberapa respon yang mungkin hadir saat kenangan buruk muncul. Bisa jadi kita ingin mengusir ya, atau juga ditekan hingga tak terlihat bahkan bisa jadi kita malah merespon berlebihan ingatan buruk tersebut.

Menurut Mas Adjie, tak seharusnya kita melupakan ingatan masa lalu yang buruk tersebut. Langkah terbaik yang bisa dilakukan di saat ingatan itu datang adalah kita harus bisa menyadarinya. Dengan bisa menyadari kehadiran inner child ini kita akan mengetahui bagaimana cara menghadapinya dan berusaha memulihkan diri dari ingatan masa lalu yang buruk tersebut dan merasa lebih bahagia dalam hidup.

Dalam hidup ini sendiri, kebahagiaan tidak selalu berarti kegembiraan. Kegembiraan biasanya diartikan saat kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Sementara kesedihan merupakan kondisi sebaliknya yang mungkin tak ingin kita hadapi. Sejatinya, bahagia adalah di saat kita bisa memeluk rasa gembira dan sedih yang terjadi pada diri kita tersebut. 


 


Kesimpulan

Mengikuti webinar pertama dari parade Ruang Pulih membuat saya jadi lebih aware tentang kondisi inner child yang ada pada diri saya. Pikiran saya mulai terbuka tentang bagaimana pengalaman di masa kecil ini mempengaruhi diri saya di masa kini. Bisa jadi memang ada fase psikologis di masa kecil saya yang tidak terpenuhi yang membuat saya memiliki kepribadian seperti sekarang. 

Tentunya tulisan ini masih langkah awal dari perjalanan saya untuk memulihkan diri dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ke depannya masih banyak langkah-langkah lain yang akan saya jalani dan akan saya tuliskan di sini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman sekalian.

Baca Juga