Kampanye #RokokHarusMahal untuk Masa Depan Anak


Kampanye-#RokokHarusMahal-untuk-Masa-Depan-Anak

"Pokoknya kamu nggak boleh merokok di dalam rumah ya."

Begitulah syarat yang saya berikan pada suami terkait kebiasaannya merokok di awal-awal pernikahan kami. Sebagai seorang yang menikah dengan seorang perokok saya harus membuat aturan dengan jelas agar rumah yang kami tempati bebas asap rokok.

Selama 3 tahun, alhamdulillah suami menjalankan kesepakatan tersebut dengan baik. Dia hanya merokok di kantor dan di belakang rumah saat malam tiba. Bahkan karena jarang terlihat merokok ini banyak anggota keluarga saya yang tak mengira kalau suami saya merokok. Mereka baru tahu saat suami ikut mengeluarkan rokok saat kumpul-kumpul bersama para paman.

Sayangnya kebiasaan merokok di luar rumah ini mulai dilanggar suami setelah kami pindah ke rumah sendiri.

"Mas, kamu kalau merokok jangan di dalam rumah, dong," kata saya pada suami yang sedang duduk sambil merokok di dapur rumah kami selepas sahur.

Baca juga : Mengenal Penyakit TB pada Bayi dan Anak

"Di luar nggak ada bangkunya," balas suami saya dengan santainya masih tetap dengan rokok di tangannya. Memang saat ini kondisi rumah yang kami tempati masih belum benar-benar jadi sehingga

"Iya. Tapi kalau kamu merokok di dalam rumah nanti kelihatan Dede. Trus itu nanti puntung rokok dikiran makanan trus dia makan," balas saya lagi sambil mengingatkan. 

"Ya kan Dedenya masih tidur," suami masih kekeuh dengan kelakuannya. 

Saya hanya bisa menghela nafas. "Ah, susah kalau sudah ngomong sama perokok," kata saya akhirnya.

***

Tantangan menjadi istri seorang perokok 

Menjadi istri seorang perokok jelas bukan merupakan impian saya. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang bebas asap rokok. Saya juga selalu berusaha mengingatkan teman-teman yang merokok agar jangan merokok di dekat saya. Saya bahkan sangat sebal dengan para pria yang dengan santainya merokok di hadapan pasangan atau anaknya.

Namun kemudian saya ternyata memilih seorang pria perokok sebagai suami. Jelas ini adalah sebuah tantangan bagi saya. Tantangan pertama, saya harus siap dengan pakaian yang berbau tak sedap karena asap rokok. Bayangkan pakaian yang sudah kita cuci bersih lengkap dengan pewanginya begitu pulang langsung berubah wanginya karena asap rokok yang menempel. Jelas menyebalkan, bukan?

Tantangan kedua, saya harus siap jatah uang belanja saya berkurang karena sebagian terpakai untuk memenuhi kebutuhan suami akan rokok. Dengan harga sekitar Rp. 20.000,00 per bungkus, tentunya bukan harga yang mahal bagi suami untuk membeli 1 bungkus rokok setiap beberapa harinya. Nah, jika sekian bungkus rokok ini dijumlahkan dalam sebulan, mungkin jumlahnya cukup untuk menambah jatah belanja popok anak kami. Atau bisa juga tuh uangnya dipakai buat mentraktir istrinya ini makan enak biar tetap bahagia. Hehe.

Baca juga : 5 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Para Ibu Agar Tetap Bahagia

Tantangan ketiga dan yang paling menakutkan, saya juga harus siap jika kemudian saya dan anak kami jatuh sakit karena terpapar asap rokok milik ayahnya.  Tentunya bukan 1-2 kali kita mendengar anggota keluarga yang sakit paru-paru karena memiliki ayah atau tinggal di lingkugan perokok. Ironisnya, sang perokok sendiri terlihat sehat wal afiat meski sudah menghisap entah berapa ratus batang rokok selama hidupnya.

Harapan dari istri perokok

Sebagai seorang istri perokok pastinya saya berharap agar suami bisa berhenti total dari merokok. Sayangnya untuk bisa menghentikan seorang perokok dari kebiasaannya ini bukanlah hal yang mudah. Setahu saya nih, seorang perokok hanya akan berhenti merokok jika dirinya jatuh sakit atau orang yang dicintainya jatuh sakit. Tidak mungkin kan saya berdoa agar suami atau anak jatuh sakit agar suami berhenti merokok? Jadi intinya mereka harus berhenti dengan keinginan sendiri.

Berhubung menunggu suami berhenti merokok atas kesadaran sendiri rasanya cukup lama, maka seharusnya nih ada langkah lain yang bisa dilakukan agar pelan-pelan para perokok mengurangi jumlah rokok yang mereka konsumsi. Salah satunya dengan menaikkan harga rokok. 

Sebenarnya nih beberapa tahun yang lalu wacana tentang dinaikkannya harga rokok hingga (kalau tidak salah seratus ribu rupiah) sudah pernah ada. Berbagai reaksi muncul dari wacana yang menghebohkan ini. Bagi para perokok jelas ini wacana yang buruk. Sebaliknya bagi para istri yang suaminya perokok jelas ini adalah sebuah harapan yang bisa membantu keinginan mereka agar sang suami berhenti merokok. Sayangnya wacana tersebut kemudian berakhir hanya sebagai wacana.

Nah, belakangan saya mendengar kalau stasiun berita KBR lewat Program Ruang Publik KBR miliknya mengadakan rangkaian diskusi terkait permasalahan rokok ini dengan tema #RokokHarusMahal. Serial #RokokHarusMahal ini digelar sepanjang 8 episode mulai dari bulan Mei dan berakhir di bulan Agustus dan disiarkan di 100 radio di Indonesia.



Sebagai istri seorang perokok, jelas dong saya mendukung sekali adaya kampanye #RokokHarusMahal ini. Apalagi dalam salah satu episodenya, Program Ruang Publik KBR mengangkat tema "Selamatkan Generasi, Perempuan Dukung Rokok 50 Ribu" dengan nara sumber ibu Magdalena Sitorus (perwakilan dari Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T)) dan Ligwina Hananto (perwakilan dari Financial Trainer). 

Rokok Harus Mahal sebagai salah satu cara mengurangi ketergantungan rokok dan menyelamatkan generasi


Nah, dalam acara diskusi ini, ibu Magdalena menjelaskan bagaimana seorang ibu berperan dalam melindungi anak-anak dari asap rokok dan mendukung rokok harga 50 ribu. Sebagai manajer keuangan dalam sebuah keluarga, seorang ibu tentunya memiliki hak untuk menentukan kebutuhan primer, sekunder dan tersier dalam keluarga tersebut. 

Apalagi jika dalam keluarga tersebut kepala keluarga menganut sistem di mana istri yang mengatur seluruh pengeluaran keluarga. Dengan dinaikkannya harga #rokok50ribu per bungkus, tentunya istri bisa menjadikannya alasan agar suami tak bisa membeli rokok lagi karena masih banyak kebutuhan pokok yang harus didahulukan. Nah cara ini juga otomatis akan melindungi anak dari asap rokok.

Bagaimana jika dalam keluarga tersebut, suami menyerahkan uang belanja saja dan uang rokok diambil duluan? Kalau begini kasusnya tinggal si suami deh yang mikir mau nggak beli sebungkus rokok seharga uang makan 3 x sehari atau malah mungkin seharga penghasilan yang diperolehnya per hari.

Baca juga :  4 Cara Berhemat di Bulan Ramadhan

Lalu kenapa dalam kampanye Rokok Harus Mahal ini harga rokoknya harus 50 ribu dan bukan angka yang lebih tinggi seperti 100 atau 200 ribu? Untuk pertanyaan ini, nara sumber Ligwina Hananto memberikan sedikit penjelasan. Sebagai seorang financial trainer, mbak Ligwina cukup sering bertemu dengan orang-orang yang tak bisa membiayai sekolah anak-anaknya, tak punya uang untuk membeli makanan sehat untuk keluarga namun masih bisa membeli rokok karena saking kecanduannya. Ironis sekali, ya?


Dalam penjelasan lanjutannya lagi, mbak Ligwina menjelaskan kalau dalam dunia financial itu ada 5 kategori pengeluaran dalam sebuah keluarga. Kelima pengeluaran tersebut yakni pengeluaran rutin, pengeluaran lifestyle, cicilan, menabung dan pengeluaran sosial. Bagi perokok, rokok merupakan salah satu kebutuhan utama, bersaing dengan kebutuhan utama yang lain. 

Angka 50 ribu dipilih untuk mewakili uang makan sehari-hari. Sebagai ibu bekerja, saya sendiri saja keberatan kalau harus makan siang dengan harga 30 ribu, apalagi 50 ribu. Dari segi keuangan, kenaikan harga rokok yang cukup signifikan ini (100%) dipandang cukup efektif untuk membuat  orang tua orang menyusun kembali skala prioritasnya. Ayah dan ibu bisa duduk bersama membahas bagaimana mereka harus mengatur kembali keuangan keluarga dengan harga rokok yang naik. 

Jadi bisa disimpulkan kalau ide #RokokHarusMahal dengan harga #Rokok50ribu ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:

  • Dengan harga rokok 50 ribu, istri sebagai manajer keuangan keluarga bisa melakukan negosiasi pada suami terkait pos-pos pengeluaran rumah tangga 
  • Dengan harga rokok 50 ribu, suami sebagai perokok akan berpikir 2 kali dan mengurangi konsumsi rokoknya yang ke depannya diharapkan bisa sekaligus menghentikan kebiasaan merokok
  • Dengan harga rokok 50 ribu, kita juga bisa menyelamatkan anak kita dari bahaya asap rokok dan bisa memberikan pendidikan yang lebih baik karena uang rokok dialokasikan pada pendidikan anak-anak
Nah, bagi teman-teman yang ingin mengikuti serial #RokokHarusMahal bisa mendengarkan di Power FM 89,2 atau streaming langsung di KBR.id mulai dari pukul 09.00 - 10.00 WIB dengan jadwal sebagai berikut:

1. Jumat, 11 Mei 2018 ;
2. Rabu, 16 Mei 2018;
3. Rabu, 30 Mei 2018;
4. Rabu, 6 Juni 2018;
5. Rabu, 20 Juni 2018;
6. Rabu, 11 Juli 2018;
7. Rabu, 25 Juli 2018;
8. Rabu, 15 Agustus 2018

Selain itu, bagi para blogger, bisa mengikuti lomba terkait talkshow tersebut dengan syarat sebagai berikut: 

1. Follow akun social media KBR: Facebook Kantor Berita Radio-KBR; Twitter @haloKBR dan @beritaKBR serta Instagram @kbr.id 
2. Tulisan sesuai tema pembahasan dalam talkshow.

3. Upload tulisan di blog pribadi dengan memuat frase:
* program radio Ruang Publik KBR

*#rokokharusmahal #rokok50ribu
* link back ke website KBR.ID

4. Kirim link blog ke email ruangpublikkbr@gmail.com dengan subject LOMBA BLOG, sertakan juga biodata Anda (Nama, Domisili, Akun Medsos;twitter, FB, IG dan Nomor HP )

5. Share tulisan di blog ke media sosial Anda dengan mention salah satu akun media sosial KBR dan mencantumkan #rokokharusmahal #rokok50ribu

6. Blogger diperbolehkan mengirimkan tulisan untuk semua episode talkshow (Ada 8 episode yang akan kami hadirkan hingga Agustus)

7. Pemenang akan dipilih oleh juri dari KBR

8. Ada 3 pemenang di masing-masing episode dengan hadiah total Rp 1,2 juta. Tiga tulisan terbaik dari tiap episode akan dilombakan lagi di akhir program untuk dipilih oleh dewan juri menjadi juara 1,2, dan 3. Total hadiah dari episode 1 hingga akhir program Rp 17 juta. Keputusan juri bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.


9. Pendaftaran tiap episode kami tunggu paling lambat 7 hari setelah talkshow

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita dukung #RokokHarusMahal ini dan berharap bisa segera direalisasikan.
Baca Juga
Reactions

Post a Comment

40 Comments

  1. Kalau aku sih yes, dukung harga rokok 50 rb hehehe.
    Aku sebel bgt ngliat anak sekolah ngrokok, cari duit aja belum bisa udah sok2an ngrokok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Makanya harusnya dimahalin aja ya harga rokoknya

      Delete
  2. Saya juga mantan perokok berat, berkali-kali kumat hingga akhirnya berhenti sama sekali sejak 20 tahun lalu. Berhenti karena berbagai alasan, salah satunya karena pertimbangan kesehatan. Selama merokok, saya selalu bersin terutama di siang hari sehingga mengganggu tugas sehari-hari kalau wawancara dengan orang (maaf, saya kerja sebagai wartawan). Gangguan kedua, sesak napas. Ketiga, kalau sudah merokok akan lupa makan hingga saya terkena penyakit maag kronis. Alhamdulillah begitu berhenti merokok, makan melulu hingga berat badan meningkat hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya pak akhirnya bisa melepaskan diri dari rokok

      Delete
  3. Pasti mangkel ya mba kalo harus mencium bau rokok tiap hari karena itu nempel banget dimana2 apalagi kita terbiasa dengan lingkungan bebas rokok. Semoga usaha mba jadi ladang pahala dan abah Yumna segera berstatus sebagai mantan perokok. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Semoga aja nih nanti abahnya sadar dan mau berhenti merokok

      Delete
  4. Wah menantang ya mbak punya suami perokok. Kesel pula karena suami melanggar janjinya sendiri. Semoga rokok 50 ribu terwujud ya mbak jadi makin banyak yang berhenti merokok.

    ReplyDelete
  5. kalau saya setuju rokok harus mahal karena dengan mahalnya harga rokok,, para perokok juga akan pikir - pikir lagi untuk membeli rokok yang notabenenya bukan kebutuhan pokok tetapi karena ketergantungan ,, rokok seolah - olah menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari - hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Setidaknya mereka jadi lebih sayang sama uangnya

      Delete
  6. Semoga memang benar dimahalkan saya setuju banget Mba. Sebel sama perokok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Semoga nanti bisa terwujud rokok mahal ini

      Delete
  7. Tapi sepertinya realisasi program harga rokok jadi naik mahal, hanya sebatas wacana saja ya sampai sekarang.
    Berita kenaikan harga rokok saat itu gencar banget beberapa tahun lalu, realisasinya tidak terlaksana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin terkendala banyak hal mas jadinya masih belum bisa diwujudkan

      Delete
  8. Kalau perlu harga rokok jadi 150rb rupiah satu bungkusnya.. aku jg benci bgt sm perokok. Yg sabar dan semangat ya Mbak smoga suami Mbak bsa berhenti merokok.

    Salut sm KBR mengkampanyekan #rokokharusmahal smoga banyak media lain terutama tv2 yg mendorong utk mengurangi perokok. Agak miris saat ini perusahaan rokok merupakan salah satu perusahaan terkaya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Miris banget yaa. Mana ada beasiswanya juga

      Delete
  9. Suamiku jg perokok tp nggak sering2 bgt. Dan kalo merokok pasti di luar rumah, krn kalo didalam rumah aku pasti ngedumel. sering diingatkan tapi kadang kasian juga lihat dia nahan2 utk merokok huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suamiku dulu juga di luar rumah. Sekarang aja nih lagi bandel pas puasa

      Delete
  10. Kampanye yang inovatif. Karena menampilkan gambar penyakit di kemasan rokok sepertinya belum efektif. Saya pernah merokok. Tapi cuma sebentar karena nggak bisa menikmati enaknya merokok. Jadi saya benar-benar nggak merokok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Gambar penyakit itu nggak mempan buat para perokok kayaknya. Kecuali mereka mengalaminya sendiri

      Delete
  11. betul sekali, mahalin biar yang mau beli pikir2 dulu, skrg mah kuli bangunan saja mampu beli, lihat hampir sepanjang hari ngerokok saja, pdhl kalau gak ngerokok uang yang dibawa pulang bisa lbh banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Padahal upahnya juga nggak seberapa ya, mbak. Kampanye ini memang ditujukan buat kalangan menengah dan ke bawah yang masih suka merokok sih

      Delete
  12. semoga dengan harga rokok harus mahal bakal bikin para perokok berpikir ulang untuk mengisap barang unfaedah itu, aamiin..

    Saya juga pernah berada di posisi mbak, suami perokok.
    Bedanya kami sebelum menikah sudah komitmen dia harus berhenti merokok.
    Sayang, berhenti merokok itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang BENAR-BENAR MAU berhenti.

    Sebenarnya rokok itu bukan candu, tetapi kemanjaan dan pembenaran (langsung diserbu perokok hahaha)
    Suami saya Alhamdulillah bisa lepas rokok setelah ribuan omelan, marahan, air mata dan semua sepak terjang saya yang bahkan sampai dimusuhin mertua.

    Ah kisah rokok bikin saya baper, Alhamdulillah Allah membantu suami lepas dari rokok.
    Gak pakai resep, hanya karena mau lepas saja.
    Demi kemaslahatan kupingnya kali yaa hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Perokok itu cuma bisa berhenti dengan kemauannya sendiri dan itu berat. Ada sih dulu teman di kantor yang berhenti merokok setelah melihat keluarganya sakit gara-gara rokok.

      Delete
  13. Aku setuju banget dengan rokok haus mahal, biar pada ga ada yang beli kalopun harus beli mikir 2x, terutama buat anak anak dan buibu yang dirumahan hihii

    ReplyDelete
  14. Saya setuju dengan campaign ini. Ada coba keuntungan yang didapat dari merokok?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ngerti juga nih, mbak kenapa mereka pada suka merokok

      Delete
  15. Lebih mahal lagi aku juga setuju hahahah, pokoknya babat habislah pengguna rokok karena memang nggak baik buat kesehatan. aku juga sebel sama adekku yang nyandu ngerokok gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dan perokok ini cuek aja ya mesti tahu merokok nggak baik buat kesehatan

      Delete
  16. Kampanye ini saya dukung 1000 persen! Rokok tuh emang bikin generasi muda jadi perokok dan itu tak bagus buat kesehatan mbaa

    ReplyDelete
  17. this is one thing we can try to create a healthier community! Fully support it..

    ReplyDelete
  18. Bapakku perokok sejak muda dan emang sukar berhenti hiks, makanya sejak awal pas nyari calon suami gak mau yang sama yang merokok, pas pedekate tolak2in semua yang merokok (kayak banyak yg pedekate aja wkwkwkk).
    Aku setuju kampanye ini mbak, bisa kok sebenarnya perokok itu berhenti, misalnya pas puasa, bapakku yang gak ngerokok saat puasa, masalahnya ya cuma di mindset aja kyknya. Moga ini gak sekadar wacana ya, kalau bisa harga rokok 300 rb ke atas sekalian kayak di luar negeri, jdnya yg mau merokok mikir2, mending buat susu atau camilan anak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pas puasa sanggup aja ya padahal nggak ngerokok

      Delete
  19. aku belum punya suami, tapi kalau bisa dapet suami yang nggak merokok lah, males banget, di rumah makan aja saya sampe pindah2 tempat duduk berapa kali demi menghindar yang merokok dekat saya. btw punya pacar beberapa kali semuanya nggak merokok, walau ada yang mantan perokok tapi sudah berhenti. Semoga berhenti merokok suaminya mbak. Sering2 di ingatkan soal kesehatan aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nih, mbak. Semoga aja nanti suami bisa berhenti merokok

      Delete
  20. Aku setuju rokok harus mahal malah kalau bisa ukurannya juga diperkecil dan gak bisa beli sedikit.

    ReplyDelete