Tak terasa Yumna putri saya sudah berusia 7 bulan. Ini artinya sudah 1 bulan sejak pertama kali diberikan makanan pendamping berupa MPASI. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, untuk MPASI Tyas saya memilih versi WHO yang memperkenalkan berbagai jenis makanan sejak awal pemberian MPASI. Berbagai macam teori tentang MPASI sudah saya baca untuk persiapan MPASI Tyas. Lantas apakah teori yang saya baca tersebut sesuai dengan kenyataan di lapangan? Berikut adalah jawabannya.

Teori 1 : Membuat daftar menu harian

Dalam forum HHBF yang saya ikuti, sebelum memulai MPASI para ibu dianjurkan membuat daftar menu tunggal yang akan diberikan pada bayi selama 14 hari. Hal ini bertujuan agar para ibu bisa mengatur menu mana yang tinggi serat sehingga bisa menghindarkan bayi dari sembelit. Kenyataannya, saya tidak membuat daftar tersebut. Alasannya sih karena nggak sempat aja. 

Jadi selama pemberian menu tunggal, saya memberikan bahan makanan sesuai yang ada di kulkas aja sambil mengecek apakah bahan ini tinggi serat atau tidak. Bahkan sempat ada beberapa bahan makanan yang saya berikan berulang. Lalu apakah anak saya kena sembelit? Iya. Tyas sembelit setelah saya berikan pisang dua hari berturut-turut. Pisang memang dikelompokkan dalam buah tinggi serat yang kalau untuk bayi bisa memicu sembelit. Sembelitnya sampai nangis karena udah ngeden tapi nggak keluar-keluar itu pup. Untungnya cuma sehari kejadian ngeden sampai nangis ini.

Teori 2 : Menggunakan saringan kawat untuk menghaluskan makanan

Untuk menghaluskan makanan untuk MPASI, ibu disarankan menggunakan saringan kawat. Jadi bahan makanan yang sudah dikukus dibenyek-benyek di atas saringan kawat dan diambil bagian yang sudah halusnya. Tak lupa diambil juga bagian yang menempel di bawah saringan. Kenapa tidak dihaluskan dengan menggunakan blender? Karena penggunaan blender kadang memerlukan tambahan air yang bisa membuat bubur jadi encer yang beresiko membuat bayi susah naik tekstur.

Saya sendiri awalnya cukup rajin menyaring bahan makanan ini. Hingga kemudian saya menggunakan jagung untuk MPASI anak saya, dan saya pun menyerah. Duh, jagung ini susah sekali disaring sodara-sodara. Mungkin seharusnya sebelum dikukus dia diparut dulu pakai parutan kelapa biar halus.

Akhirnya setelah itu saya lebih sering pakai blender ketimbang saringan kawat. Selain lebih memudahkan dalam menghaluskan makanan, penggunaan blender juga lebih mempersingkat waktu saya membuat MPASI untuk anak saya. Jadi ya saya kagum sih sama ibu-ibu yang keukeuh tetap pakai saringan kawat untuk menghaluskan MPASI anaknya.

Teori 3: Berikan protein hewani sejak awal MPASI

Dalam panduan MPASI dari WHO yang saya ikuti, bayi sudah boleh dikenalkan pada protein hewani sejak awal atau di masa menu tunggal 14 hari. Sayangnya hingga lewat dua minggu masa perkenalan menu tunggalnya, saya belum juga memberikan protein hewani pada anak saya. 

Alasannya? Dilarang ibu saya. "Nanti pupnya bau," begitu kata ibu saya. Selain itu saya juga waktu itu agak takut memberikan protein hewani langsung di menu tunggal. Tahu sendiri kan ya ikan dan daging kadang rasanya amis. Akhirnya saya pun memberikan protein hewani langsung pada menu 4* nya Tyas. Alhamdulillah sih sampai hari ini tidak ada tanda-tanda alergi pada anak saya.

Teori 4 : Bayi tidak mengenal rasa hambar

Sebelum usianya 1 tahun, bayi dianjurkan tidak diperkenalkan pada gula dan garam pada makanannya. Karena tidak menggunakan gula dan garam ini tentulah membuat makanan yang dibuat ibu jadi hambar. Coba deh para ibu cicipi sendiri bagaimana rasa bubur saring bikinan yang tidak pakai gulgar. Pasti rasanya ada yang kurang. Nah, kalau bayi tidak mengenal rasa hambar, tentunya mereka akan lahap terus dong dikasih apa aja. 

Kenyataanya bayi saya kalau dikasih bubur saring makannya lebih sering mingkemnya sementara kalau dikasih pure buah mangap terus. Itu artinya bayi tahu dong ya makanan yang manis dan mana yang hambar. Tapi mungkin juga ini karena di awal MPASI-nya Tyas diberi buah duluan jadinya dia sudah tahu rasa manis. Siapa tahu kan ya kalau di awalnya dikasih sayur kasusnya akan beda. Saya sendiri masih tetap berusaha tidak memberikan gula atau garam hingga usianya setahun. Konsekuensinya ya tentu saja saya harus lebih kreatif dalam membuat makanan MPASI-nya.

Teori 5 : Untuk menghangatkan MPASI cukup direndam di air panas atau ditaruh dalam magic com

Sebenarnya kalau saya sedang ada di rumah, teori ini terealisasi. Nah, berhubung anak saya dititipkan selama bekerja, tentunya yang bertugas menghangatkan MPASI-nya adalah ibu yang menjaga anak saya. Dan beliau ini ternyata menghangatkan MPASI bikinan saya dengan cara dipanaskan di atas kompor. Saya sih sudah memberitahu kalau menghangatkannya cukup ditaruh di dalam magic com.

Tapi kata si ibu rasanya kurang enak kalau dipanaskan di dalam magic com. Ya kita juga kadang kalau menghangatkan lauk pauk pilihannya biasanya di atas kompor kan, ya. Akhirnya saya pasrah deh soal hangat menghangatkan ini. Toh resiko dari menghangatkan di atas kompor cuma berkurangnya nilai gizi makanan kan ya, bukan bikin makanan jadi beracun.

Teori 6 : Bayi diajarkan minum air putih pada masa MPASI-nya 

Usai memberikan makanan pendamping, bayi diberi minum air putih untuk membersihkan mulutnya. Takaran air putih ini adalah 30 ml x berat bayi. Jika bayinya minum ASI takarannya cukup setengahnya saja per hari. Kenyataannya, ternyata susah juga mengajari bayi minum air putih ini. Bahkan saat medianya saya ganti pakai dot, anak saya tetap menolaknya. Tapi ya seiring berjalannya waktu Tyas sudah mulai biasa sih minum air putih pakai sendok meski minumnya disembur-sembur. He.

Teori 7 : Setelah menu tunggal, bayi makan 3 kali sekali dan 2 kali makanan selingan

Jadi, setelah lulus menu tunggal dan masuk menu 4*, jadwal makan bayi bertambah menjadi 5x sehari. Tiga kali menu 4* dan dua kali menu selingan/cemilan berupa puree atau kue tergatung usia bayi. Jarak antar jam makan sekitar 2-3 jam. Kenyataanya, ada masanya anak GTM yang tentunya membuat ibu harus lebih kreatif dalam memberi makan termasuk di antaranya menambah jam makan untuk anak atau malah kadang anaknya benar-benar tidak mau makan sama sejali.

Teori 8 : Bayi makan dengan rapi dan didudukkan di kursinya

Teori terakhir terkait pemberian MPASI untuk bayi adalah sebisa mungkin bayi dibiasakan makan sambil duduk, bukannya digendong atau sambil jalan-jalan. Nah, jika bayi masih berusia 6-7 bulan teori ini mungkin masih bisa dijalankan. Namun kadang ada saat di mana bayi sangat susah diajak bekerja sama sehingga agar dia mau makan emak harus mengajaknya bermain terlebih dahulu bahkan mengajaknya jalan-jalan. 

Nah, itulah dia pengalaman saya terkait teori MPASI, khususnya MPASI rumahan. Meski tidak benar-benar mengikuti teori yang diberikan tersebut, saya berharap anak saya tetap mendapat gizi yang baik dari makanan yang saya berikan padanya.
Baca Juga