Tips Mengatur Waktu dan Energi Ibu Bekerja Selama Bulan Ramadan

Tips Mengatur Waktu dan Energi Ibu Bekerja Selama Bulan Ramadan


Tahun ini menjadi Ramadan ke-10 saya menjalani peran sebagai seorang ibu. Sepuluh tahun yang penuh perubahan, pembelajaran, dan penyesuaian. Jika dulu saat masih lajang saya masih bisa mengandalkan ibu saya untuk menyiapkan sahur dan berbuka, kini tanggung jawab itu sepenuhnya berada di tangan saya sendiri.

Perjalanan Ramadan saya pun ikut bertumbuh, dari yang awalnya hanya makan sahur berdua bersama suami, hingga kini makan sahur berempat bersama dua anak kami. Sebuah fase kehidupan yang terasa begitu cepat berlalu, namun sarat makna.

Kedua anak saya, Yumna dan Yafiq, sudah mulai saya kenalkan pada ibadah puasa sejak usia mereka 5 tahun. Anak-anak tidak langsung berpuasa seharian, namun semampu mereka saja. Ada hari di mana anak-anak bisa berpuasa seharian, namun kadang ada juga hari di mana mereka menyerah dan membatalkan puasa di siang hari. Semua saya jalani dengan fleksibel agar anak-anak tetap belajar mencintai ibadah puasa tanpa merasa tertekan.

Bagi umat muslim, terutama yang tinggal di Indonesia, bulan Ramadan berarti perubahan pada pola kehidupan. Jam tidur dan jam kerja yang berubah hingga juga kebiasaan yang mungkin hanya ditemui di bulan Ramadan seperti berburu takjil hingga buka puasa bersama. Bahkan beberapa tahun terakhir muncul berbagai trend di media sosial saat bulan Ramadan berjalan. 

Tantangan Ibu Bekerja di Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, ibu bekerja menghadapi berbagai tantangan baru setiap harinya. Hal ini disebabkan oleh pola hidup yang berubah selama bulan Ramadan. Beberapa tantangan tersebut diantaranya:

1. Waktu Istirahat Lebih Pendek

Tak bisa dipungkiri jadwal ibadah di bulan Ramadan membuat jadwal istirahat kita menjadi semakin singkat, terutama bagi para ibu. Di pagi hari, ibu harus bangun dini hari untuk menyiapkan sahur dan salat malam. Sementara jam tidur malam juga berkurang karena ibu ingin mengejar target ibadah di bulan Ramadan. 


2. Menyiapkan Menu Sahur dan Berbuka 

Perubahan jam makan bukanlah hal yang bisa cepat diadaptasi oleh anak-anak. Bisa jadi di waktu sahur ibu harus berjuang keras membangunkan anak-anak dan juga menyuruh anak-anak untuk makan sahur. Bahkan tak hanya anak-anak, orang dewasa juga kadang harus selektif dalam memilih menu sahur karena bisa jadi ada memiliki masalah dengan asam lambung.

Sementara di waktu berbuka, ibu kadang harus berpacu dengan waktu saat menyiapkan menu berbuka untuk keluarga yang biasanya cukup banyak macamnya. Meski di bulan Ramadan biasanya jam kerja menjadi lebih pendek, tidak menjamin ibu bisa santai saat waktu berbuka tiba. 

4. Produktivitas Menurun di Siang Hari

Untuk urusan pekerjaan sendiri, tak bisa dipungkiri kondisi puasa kadang membuat energi dan semangat bekerja kita berkurang, terutama jika sudah lewat jam makan siang. Di jam-jam kritis begini, biasanya konsentrasi sudah menurun dan ibu sudah tidak bisa maksimal lagi dalam menjalankan pekerjaannya. 

5. Mengelola Uang Selama Ramadan

Tantangan yang mungkin paling berat dihadapi di bulan Ramadan bagi ibu bekerja adalah bagaimana mengelola keuangan di bulan Ramadan agar tidak terlalu boros. Ada banyak godaan yang harus dihadapi ibu bekerja terkait urusan berbelanja di bulan Ramadan. Kadang ada undangan buka bersama, kalap saat ngabuburit, hingga persiapan menyambut lebaran. Semuanya tentu perlu perencanaan yang baik dan sesuai dengan kondisi keuangan yang dimiliki. 

Tips Praktis Menghemat Waktu untuk Ibu Bekerja di Bulan Ramadan



Agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan maksimal, ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu bekerja di bulan Ramadan, diantaranya:

1. Melakukan Food Preparation

Salah satu cara paling mudah dalam menyiapkan Menu selama bulan Ramadan adalah dengan melakukan food preparation. Ada beberapa tipe ibu dalam menyiapkan food preparation ini. Ada yang hanya menyiapkan food preparation dalam bentuk stok bumbu dan sayur yang sudah dipilah sesuai menu. Dan ada juga yang bahkan menyiapkan menu yang sudah masak dan tinggal dihangatkan saat akan dikonsumsi. Ibu bisa memilih food preparation mana yang paling cocok untuk dilakukan. 

2. Menyiapkan Menu Sahur dan Berbuka yang Praktis 

Jika ibu bukan tipe yang terbiasa menyiapkan food preparation, maka untuk urusan sahur dan berbuka sebaiknya memasak menu yang praktis saja. Sayur bening, sop dan tumisan bisa menjadi menu yang disiapkan untuk sahur dan berbuka. Menu-menu ini bisa dimasak dalam waktu singkat dan bisa juga dibuat dalam porsi besar sehingga ibu tidak repot memasak lagi saat sahur atau berbuka. 

3. Membeli Sayur Masak

Alternatif lain untuk bisa menghemat waktu sahur dan berbuka bagi ibu bekerja adalah membeli lauk masak. Ibu bisa membeli saat pulang kerja atau membeli pada rekan kerja yang membuka jastip lauk sahur dan berbuka ini. Untuk pilihan ini, tentunya ibu harus menghitung kembali anggaran pengeluaran untuk menu sayur dan berbuka. 

3. Menyusun Jam Kerja di Bulan Ramadan

Di bulan Ramadan, kadang jam produktif ibu hanya sampai azan zuhur tiba. Setelah salat zuhur, ibu mungkin sudah mulai kehilangan konsentrasi dan bahkan sudah bersiap untuk pulang karena jam kerja yang pendek. Karena itu di bulan Ramadan ibu juga perlu menyusun jam kerja baru yang lebih efektif agar tetap produktif selama Ramadan. 

Berikut adalah tabel energi di bulan Ramadan yang bisa menjadi panduan ibu bekerja dalam menyusun jam kerja selama bulan Ramadan:

WaktuKondisi EnergiAktivitas Ideal
04.00 – 06.00TinggiSahur, salat Subuh, tilawah, dzikir
07.00 – 11.00TinggiPekerjaan berat, fokus kerja, tugas penting
11.00 – 14.00RendahPekerjaan ringan, administrasi, balas chat
15.00 – 17.30SedangUrusan rumah, masak, persiapan berbuka
19.00 – 21.00SedangTarawih, quality time, me time ringan

Bagi saya sendiri yang selain bekerja juga berprofesi sebagai blogger, adanya pengaturan waktu yang baik seperti ini juga sangat membantu dalam proses menjadi mindful lifestyle blogger

4. Menyusun Anggaran Khusus selama Bulan Ramadan

Di bulan Ramadan biasanya pengeluaran ibu bekerja membengkak karena cukup sering berbelanja di luar. Belum lagi biasanya jelang lebaran harga kebutuhan pokok meningkat. Karena itu penting bagi ibu bekerja untuk menyusun anggaran sesuai dengan pengeluaran di bulan Ramadan. Salah satu caranya adalah dengan memisahkan pos belanja harian, sosial, dan persiapan Lebaran agar keuangan tetap sehat hingga akhir bulan.

Penutup

Menjadi ibu bekerja di bulan Ramadan memang penuh tantangan. Namun di balik rasa lelah, tersimpan pahala yang berlipat, doa yang mengalir di setiap masakan sahur, serta cinta yang tumbuh di setiap pengorbanan. Selain itu, berbagai tantangan dan target ibadah di bulan Ramadan juga bisa menjadi bagian dari family dan personal journey bagi saya. Dengan manajemen waktu, energi, dan keuangan yang tepat, ibu bekerja di bulan Ramadan tetap bisa menjalani ibadah dan keluarga dengan tenang.

Demikian sedikit tips yang bisa saya berikan. Kamu juga bisa membaca artikel tentang tips mengajak anak salat tarawih selama bulan Ramadan agar tidak mengganggu jamaah yang lain. Semoga bermanfaat!

Baca Juga

Posting Komentar

24 Komentar

  1. perlu persiapan sayur untuk stok ya

    BalasHapus
  2. Artikelnya sangat relate dan membantu, terutama bagi ibu bekerja yang harus menyeimbangkan banyak peran sekaligus. Aku suka bagaimana tipsnya terasa realistis dan penuh empati. Ramadan memang punya ritme yang berbeda, dan tulisan ini jadi panduan yang menenangkan sekaligus praktis.

    BalasHapus
  3. Food Preparation ini bagus sih, cuman gue ngerasa kalo ada dua orang di dapur susah akur, jadi biar suasana dapur tetap namaste, bagian ini gue serahkan full ke istri. Biar berkah

    BalasHapus
  4. Memang tidak mudah menjadi ibu
    Setiap waktu akan menjadi penentu segalanya
    Makanya tuh saya salut dengan ibu bekerja
    Setelah berkutat dengan pekerjaan di luar rumah, pulang ke rumah masih berjibaku dengan urusan domestik
    Makanya harus tahu tips trik...

    BalasHapus
  5. Saya kebetulan cukup ekstrim nih mbak di bulan ramadhan. Jadi selama ramadahan ini, saya hampir gak pernah tidur malem. Tidurnya selalu pagi, ba'da subuh. (Iyaa saya tau, sebenernya mah ga boleh ya). Tapi kebetulan ya gimana, kerjaan kita memang banyak banget, dan menyita waktu kadang sampai malam. Ditinggal tidur pun rawan, karena takut kebablasan.
    Tapi so far so good sih mbak. Alhamdulillah kerjaan, ibadah dan waktu tidur keitung aman semua.

    BalasHapus
  6. Kalau menurutku tips ini cerdas, dimulai dari melakukan food preparation, itu awal mempermudah tugas-tugas sebagai Ibu. Dari sana nanti akan keliatan apa yang perlu dan bagaimana langkah selanjutnya.

    Perencanaan itu seperti peta dan itu selalu memudahkan. Selamat berpuasa Ibu sambil bekerja. Tetap semangat di dalam kondisi yang menuntut banyak waktu dan energi.

    BalasHapus
  7. Ramadhan ini, yg aku harus hati2 itu budget makanan sih, Krn pasti bengkak, secara ada beberapa acara bukber dan godaan beli takjil 😄😄😄. Mah ga mau memang sedia budget khusus.

    Tp syukurnya Krn akh udh ga kerja sih ya mba, jadi lebih santai dan time management lebih mudah aja. Krn memang fokus cuma kesini. Masalah masakan sahur, juga udah aku buat tuh, sengaja pilih menu gampang, yg ga ribet.

    Toh anak dan suami kalah sahur biasanya juga males makan, cuma sekedar syarat utk sahur aja. Jadi menu simple udah cukup. Yg penting minum banyak

    BalasHapus
  8. Beberapa teman yang berpuasa juga bilang mbak, kalau pas puasa gini malah pengeluaran lebih banyak daripada hari² biasanya. Awalnya nggak percaya, dan aku baru inget. Godaan terbanyaknya memang dari takjil² yang cukup rame menjelang berbuka. Jadi beberapa temen mesiasati mulai menabung jauh² hari untuk alokasi dana di bulan ramadhan mbak.

    Ada juga teman yang bener² selektif untuk masalah takjil² ini. Kayak nyiapin kudapan frozen untuk takjil dan makanan sahur per minggunya. Dan dari sini saya jadi merasa ramadhan itu juga momen, para perempuan untuk belajar efektif dan efisien. 🤗🤗

    BalasHapus
  9. Food preparation membantu banget sih biar time management buka dan sahur jadi lebih efektif.Kalau ga gitu kebayang lumayan hektiknya harus nyiapain tapi baru mikir harus masak apa. Kalau di keluarga kami pun memang di luar Ramadan terbiasa food prep ini, jadi pas Ramadan datang alhamdulillah mudah adaptasinya

    BalasHapus
  10. Kebayang kerepotannya seperti apa buat ibu bekerja saat ini, yang sedang berpuasa, bekerja juga di kantornya, dan menyiapkan hidangan sahur dan berbuka puasa pula. Soalnya ada mantan rekan kerja daku yang seperti itu, alhamdulillah kuat dan tetap bahagia

    BalasHapus
  11. Aku yang IRT dengan balita juga perlu siasat untuk menghadapi bulan Ramadan, terutama untuk urusan makan. Sudah dari tahun kemarin langganan beli katering makanan matang lalu disimpan di freezer. Jadi kalau mau makan tinggal dihangatkan. Terutama saat sahur. Sulit masak di sore hari kalau suami kerja, jadi masaknya cuma weekend aja. Itu pun tetap nggak bisa lama-lama karena balitaku dikit-dikit nyari emaknya hahahaha... Beda sama kakaknya dulu.

    BalasHapus
  12. rasanya seperti sedang mengobrol santai di teras sambil menunggu waktu berbuka. Relate sekali dengan bagian "perjalanan Ramadan yang bertumbuh"—dari yang hanya berdua sampai sekarang riuh dengan anak-anak.
    Tabel pembagian energinya sangat membantu, lho. Setuju banget kalau jam 11 ke atas itu memang waktunya "mode hemat baterai" untuk urusan administrasi saja. Tips food prep juga penyelamat kewarasan ibu bekerja supaya tidak grusa-grusu menjelang magrib.

    BalasHapus
  13. Sama banget nih tipsnya, terutama di bagian ngatur jam kerja, apalagi freelance seperti aku. Masak juga yang gampang-gampang, karena keluargaku senangnya sayur yang bening-bening dan ayam goreng :)

    BalasHapus
  14. Masha Allah, keren sekali mbak. Sudah 10 tahun menjalani peran ibu bekerja. Salut dan angkat topi buat mbak.

    Makasih sudah berkenan sharing. Semoga kelak kalau aku di takdirkan menjadi Ibu bekerja, bisa menjadi sosok yang mindful dalam membersamai keluarga tercinta. Mengatur menu sahur dan buka penuh perhitungan, food preparation bikin momen sahur dan buka lebih praktis dan bijak kelola waktu serta keuangan. Barakallah, sehat dan lancar puasanya.

    BalasHapus
  15. Aku sekarang kalau nggak terlalu penting nggak bukber2an lha wkwk. Kecuali mungkin kantor yang bayarin hahahaha :P Hemat2 pengeluaran xixixi :D
    Bener2 kudu disusun anggaran supaya nggak boncos :D
    Ibu pekerja hebat2 lhooo, aku lihat tu kalau pagi pas anter anak, udah pada stand by di stasiun nungguin kereta, mana desek2an, bener2 latihan gak cuma nahan lapar dan haus tapi juga nahan emosi :D
    Food preparation emang sepenting itu yaaa, tapi kalau pun nggak sempat mengolahnya, udah bener sih mending beli makanan mateng aja ya mbak :D
    Keinget waktu masih ngantor suka ngantuk wkwk,biasanya langsung wudhu cuci muka melek =))

    BalasHapus
  16. Food preparation itu penting sih Mba, saya juga setuju. Misalnya udah motongin sayuran atau ngolah daging ayam jadi chicken katsu misalnya yang sering saya lakukan. Jadi lebih praktis pas mau masak tinggal sat set lebih cepet masaknya. Tentunya buat ibu bekerja perlu banget atur-atur waktu, istirahat, atur keuangan juga, bisa pesen atau beli jadi kalau nggak sempat masak sih.

    BalasHapus
  17. Iya juga sih, buat ibu-ibu apalagi yang bekerja perlu perhatian khusus soal manajemen waktu dan berbagai hal yang berkaitan dengan urusan dapur dan pekerjaan. Udah paling pas itu mbak dengan food preparation untuk urusan masak memasak jadi lebih sat set,,,,hemat waktu dan hema tenaga.

    BalasHapus
  18. Salut deh pada ibu bekerja yang aktivitasnya makin banyak saat Ramadan tapi tetap bersemangat dan full power karena ya nilai ibadahnya tinggi makasih pencerahannya say.. food preparation membantu banget ya..

    BalasHapus
  19. Saya memahami sekali tantangan sebagai ibu bekerja saat bulan ramadan Mbak. Bagaimana mengatur waktu dan menu untuk buka puasa dan sahur. Apalagi saat bulan puasa harus juga naik. Tapi insya Allah selalu ada rezeki di bulan Ramadan yang penuh. Berkah ini. Intinya disesuaikan semua dengan sikon kita.

    BalasHapus
  20. Kadang kita lupa kalau kebutuhan tubuh dan pikiran ibu bekerja itu beda pas Ramadan, jadi ide kayak memprioritaskan tugas penting dulu, nyiapin baju & bekal dari malam sebelumnya, sampai jaga waktu istirahat itu bener-bener bikin harian lebih ringan. Ini kayak reminder buat kita bahwa kerja dan ibadah bisa jalan bareng kalau atur ritme dan niatnya jelas.

    BalasHapus
  21. Ah iya, bulan Ramadhan jadi tantangan tersendiri bagi ibu bekerja ya
    Harus pandai manajemen waktu dan tenaga
    Dengan food preparation, ibu bekerja nggak bingung lahi untuk menyiapkan sahur dan buka ya

    BalasHapus
  22. mbak, aku padamu deh, berasa ngaca pada diri sendiri aku baca artikelnya. beneran deh habis tarawih itu energiku dah habis bis dannnn food prep itu membantu banget supaya bisa sat set saat buka dan sahur, mikir menu itu pun juga puyeng kan ya

    BalasHapus
  23. Tantangannya memang cukup berat yaa di bulan puasa ini buat ibu bekerja. Bener-bener harus cari waktu banget supaya semuanya termanage. Aku kepikiran buat bikin meal prep, tapi beneran gak bisa juga ternyata karena meal prep pun menghabiskan energi, huhu. Akhirnya bikinnya meal plan ajah, ahaha. Yang penting tau mau masak apah, jadi tinggal beli bahan masakan yang sesuai. Alhamdulillah rumah memang deket sama pasar, jadi bisa belanja setiap hari, hehe.
    Terus bener banget ini, jam 7-11 tuh emang kayak lagi seger-segernya. Setelah dzuhur aja energi udah banyak berkurang, udah lumayan lemes. Sekarang sih aku lagi ngebiasain untuk menyempatkan olahraga tipis2 juga sore-sore, walaupun gak setiap hari ya, tapi ada lah ya. Banyak banget ya yang dipikirin. Kerjaan, anak-anak, menu sahur dan buka, olahraga, huaahh *heboh sendiri

    BalasHapus
  24. Tipsnya sangat membantu dan relevan untuk ibu-ibu yang bekerja selama Ramadan. Terima kasih sudah dibagikan

    BalasHapus