Tradisi Kirim Hampers Ramadan di Kantor dan Peluang Usaha bagi Ibu Bekerja

Tradisi Kirim Hampers Ramadan di Kantor dan Peluang Usaha bagi Ibu Bekerja



Pagi itu tampak ada yang berbeda di meja kerja saya. Meja yang biasanya diisi lembar kerja dan alat tulis tampak sebuah bingkisan hampers dengan kartu nama di bagian luarnya.

Penasaran, saya membuka bingkisan tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah tumbler dan sekotak kue nastar yang tersusun rapi. Setelah melihat kartu namanya, ternyata hampers tersebut dikirim oleh rekan kerja yang masih berada dalam satu sub departemen dengan saya. Tak lama kemudian saya langsung menghampiri meja kerjanya untuk mengucapkan terima kasih atas perhatian kecil yang membuat pagi itu terasa lebih hangat.

Memasuki pertengahan hingga akhir Ramadan, kegiatan kirim mengirim hampers kini seakan menjadi tradisi. Saya lupa sejak kapan kebiasaan dimulai. Bisa jadi ada satu karyawan yang memulai, penerima membuat story dan akhirnya diikuti oleh karyawan lainnya.

Hampers ini biasanya dikirim oleh sesama rekan kerja baik itu di departemen yang sama ataupun departemen yang berbeda. Jumlah hampers yang diterima juga bergantung pada circle pertemanan yang dimiliki. Semakin luas circle pertemanannya, biasanya semakin banyak pula hampers yang diterima.

Namun bagi sebagian orang, termasuk saya sebagai ibu bekerja, fenomena kirim-mengirim hampers ini tentu juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengeluaran selama bulan Ramadan. Semakin banyak hampers yang ingin atau perlu dikirim, maka semakin besar pula anggaran yang harus disiapkan.

Lalu muncul pertanyaan yang cukup sering dipikirkan: apakah lebih baik membuat hampers sendiri atau membeli yang sudah jadi?

Berkirim Hampers, Mending Bikin Sendiri atau Beli Jadi?

Tentunya keputusan untuk membeli hampers yang sudah jadi atau membuat sendiri hampers yang ingin dikirimkan kepada rekan kerja atau teman ini adalah keputusan pribadi setiap orang. 

Membuat hampers sendiri bagi sebagian orang terasa lebih menyenangkan karena ia bisa memilih produk yang bersifat personal dan hemat biaya. Bahkan jika memiliki brand atau produk sendiri, membuat hampers sendiri ini bisa menjadi salah satu cara mempromosikan brand kita kepada orang lain. 

Di lain pihak, ibu bekerja yang sehari-harinya sudah sibuk dengan berbagai pekerjaan juga mungkin tak punya banyak waktu mencari barang dan menghias hampers yang akan dikirim. Karena itulah membeli hampers yang sudah jadi bisa menjadi pilihan yang praktis. 

Tahun lalu, saya memilih untuk membuat sendiri hampers untuk dikirimkan pada rekan kerja. Saya membeli beberapa produk secara online, menambahkan dengan produk kreasi saya sendiri lalu membungkusnya dengan tas cantik kemudian diberikan kepada rekan kerja. 

Namun untuk tahun ini, saya memilih untuk membeli produk hampers yang sudah jadi. Kebetulan ada salah satu rekan kerja yang di bulan Ramadan menjual berbagai hampers lebaran. Jadi tanpa perlu repot saya hanya perlu memesan paket yang diinginkan dan melakukan pembayaran. Keesokan harinya hampers yang sudah dipesan tinggal saya ambil dan kirimkan kepada rekan kerja. 

Apakah Hampers Harus Dibalas dan Dibuat Story?

Pertanyaan lain yang kadang muncul terkait tradisi berkirim hampers ini adalah: apakah hampers harus dibalas dan dibuat story di media sosial? Bagaimana jika penerima hampers merasa cukup berat jika harus membalas hampers yang dikirimkan kepadanya?

Yang membuat saya semakin bingung, bahkan ada juga yang sempat mengeluhkan ketika ia mengirim hampers namun si penerima tidak mengunggah hampers tersebut di story media sosialnya. Apakah memang harus demikian?

Dalam ranah sosial, sebenarnya tidak ada kewajiban bagi penerima hampers untuk membalas kiriman tersebut. Namanya juga bingkisan, bukan tukar-menukar hampers. Namun memang kadang muncul rasa tidak enak jika kita tidak membalas hampers yang diberikan kepada kita.

Meski begitu, menurut saya penting untuk tetap menyesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Jangan sampai urusan hampers justru membuat pengeluaran kita menjadi tidak terkendali.

Lalu bagaimana dengan urusan story di media sosial?

Jujur saja, saya sendiri juga masih belum terlalu mengerti apakah ini menjadi semacam kewajiban atau hanya sekadar tren di kalangan tertentu. Bagi saya pribadi, hal yang paling penting adalah mengucapkan terima kasih kepada pengirim hampers, baik secara langsung maupun melalui pesan singkat. 

Namun bagi saya ada satu catatan lain terkait story hampers ini. Jika pengirimnya adalah seorang pemilik brand atau memiliki usaha hampers, maka tentu akan sangat membantu jika kita membuat story terkait hampers tersebut. Selain sebagai bentuk apresiasi, hal itu juga bisa membantu mempromosikan usaha mereka.

Peluang Usaha Hampers Ramadan bagi Ibu Bekerja

Seiring dengan semakin menguatnya tradisi berkirim hampers di berbagai kalangan ini, pastinya ini juga menjadi sebuah peluang usaha yang bisa dilirik di bulan Ramadan. Contoh terdekat ada pada rekan kerja tempat saya membeli hampers. 

Sehari-harinya rekan kerja ini memang memiliki usaha sampingan memasarkan berbagai produk makanan kepada para karyawan. Biasanya ia menjual snack, kue, atau makanan ringan yang bisa dipesan oleh rekan kerja di kantor.

Nah, di bulan Ramadan, ia juga melebarkan sayap dengan membuka pre-order produk hampers bagi karyawan yang ingin mengirimkan hampers. Gayung pun bersambut karena di sepuluh hari terakhir saya lihat status whatsapp-nya yang tak hentinya menawarkan produk hampers dan banyak diantaranya yang sold out.  

Jika dilihat dari segi modal, usaha hampers juga terbilang tidak memerlukan modal yang terlalu besar. Usaha ini tidak harus menggunakan produk-produk mahal. Selain itu ada banyak pilihan produk yang bisa dijadikan produk hampers mulai dari kue lebaran, produk kecantikan, jilbab, bahkan produk herbal juga bisa dijadikan hampers lebaran. 

Tantangannya sebenarnya ada pada bagaimana kita memasarkan produk hampers ini. Untuk rekan kerja  saya yang memang sudah bertahun-tahun menggeluti usaha jualan ini, tentunya pemasaran lebih mudah karena ia sudah memiliki pelanggan setia. 

Namun jika ini adalah usaha perdana yang ingin dicoba, langkah awal yang bisa dilakukan adalah menawarkan hampers kepada rekan kerja atau teman terdekat terlebih dahulu. Selain itu, kita juga bisa meminta review dari mereka agar produk hampers yang kita buat semakin dikenal.

Penutup

Tradisi berkirim hampers di bulan Ramadan memang menjadi salah satu cara berbagi sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan rekan kerja maupun teman. Namun dalam praktiknya, kita tetap perlu bijak, terutama jika tradisi ini sudah bersentuhan dengan keuangan keluarga.

Akan lebih baik jika kita memiliki anggaran khusus untuk hampers agar pengeluaran tetap terkontrol dan tidak mengganggu kebutuhan lainnya.

Di sisi lain, tingginya permintaan hampers selama bulan Ramadan juga membuka peluang usaha yang menarik. Dengan kreativitas dalam memilih isi hampers serta kemasan yang menarik, usaha ini bahkan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi ibu bekerja. Atau bahkan jika dijalankan dengan serius, usaha ini bisa berkembang menjadi usaha hampers untuk korporat.

Kalau di tempat kerja teman-teman bagaimana? Apakah tradisi berkirim hampers saat Ramadan juga sudah menjadi kebiasaan? Dan menurut teman-teman, apakah hampers perlu dibalas atau cukup dengan ucapan terima kasih saja?

Yuk, share pengalaman teman-teman di kolom komentar.

Baca Juga

Posting Komentar

24 Komentar

  1. Saya gak pernah ngerasain yang namanya parsel mbak. Makanya dulu pas masih pacaran, saya malah pernah iseng.. bertukar parsel, wkwkwk. Kayak kurang kerjaan.
    Tapi sejujurnya, mending bikin parsel sendiri aja sih. Gapapa cuma pake kerdus, asal isinya bermanfaat dan terpakai. Soalnya kalo beli parsel jadi, kadang apa yang dipajang itu kurang oke.. Cuma bagus tampilan aja, tp isinya murah-murah. Jadi mending bikin sendiri aja, biar enak juga budgetingnya.Dan isinya pun lebih worth, karena kita pilih sendiri

    Anak manja asalnya leuwiliang
    Geraknya malas, makannya mujaer
    Kita yang kerja membanting tulang
    Eh, malah ormas yang minta Te Ha Er

    BalasHapus
  2. Ramadan memang momen yang pas untuk saling berbagi, termasuk di dunia kerja. Senang baca ulasan tentang tradisi hampers ini, karena menunjukkan sisi humanis dalam hubungan profesional

    BalasHapus
  3. Aku yang sudah dua tahun ini kirim hampers juga bagi orang orang yang mengirim lebih dulu
    Soalnya aku tidak ingin punya hutang budi
    Makanya kalau ada rezeki aku akan usahakan tetap kirim sebagai balasan itikad baik orang orang padaku

    BalasHapus
  4. Kalo urusan kirim hampers trus minta dibuatkan story itu kok kesan nya gimana gitu ya mba klo menurutku yaa...berasa dia kirim hampers biar diliat banyak orang jadi lebih ke riya gitu gak sie mba hehehe tapi mungkin persepsinya beda2 yaa :)
    Dan untuk membalas memberikan hampers balik itu rasanya juga bukan keharusan karena takutnya nanti malah memberatkan yang kita kasih hampers jadi ya udah klo mo kirim bingkisan kirim aja tanpa kita mengharapkan kirim balik tapi beda klo memang ini sudah kesepakatan bersama misal nanti tukeran hampers atau kado gitu yaa..
    Jadi menurtuku gak ada keharusan buat bikin story ataupun kirim hampers balik karena aku sendiri juga begitu hehe..dan beda cerita kalo kita bikin story nya dalam rangka ikut mempromosikan produk teman kita yaa

    BalasHapus
  5. Baca kisah hampers di artikel mbak, bikin aku nostalgia sama momen pandemi. Dimana aku menangkap peluang bagus untuk berbisnis bolen yang di buat menjadi hampers ramadan.

    Kalau punya teman kantor yang saling berkirim hampers peluangnya emang cukup besar. Dulu pun yang beli rata-rata teman kantor. Makanya aku percaya kalau ibu bekerja bisa tambah cuan lewat bisnis hampers.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah...
    Kemarin dikirim parcel sama Kaka ipaarr.. MashaAllaah.. surprised!!

    Yang bikin surprise kalo dapet kiriman tuh karena dari orang terdekat yaa.. yang biasanya terlupakan. Kirim kiriman hampers memang terasa lebih berkesan Kalau bikin sendiri.. jadi bisa custom sesuai sama kesukaan someone special.

    BalasHapus
  7. Saya selama ini hampers selalu beli dan seringnya ngasih makanan. Kalau masalah harus diupload story atau dibalas, kalau saya yang ngasih nggak harus ya. Malah lebih senang kalau nggak perlu upload story dengan menyebut nama saya apalagi membalas. Nggak mau aja jadi beban buat yang nerima. Selain itu, upload story menurutku juga bisa memicu rasa tidak nyaman bagi pihak laij yanh tidak mendapatkan. Semacam "Ih kok dia dikasih aku enggak sih?"

    Hati manusia siapa yang tau kan hehehe...

    Kalau untuk promosi, bisa upload story dengan menyebut brandnya tanpa perlu menyebut pemberinya. Tapi ya ini masing-masing aja sih ya. Bebas aja mau upload kaya gimana 😄

    BalasHapus
  8. Kalau di tempat kerja saya tidak ada kebiasaan bertukar hampers atau bingkisan lebaran. Yang ada kita, semua karyawan diberi bingkisan oleh lembaga tempat bekerja.
    Di luar tempat bekerja, alhamdulillah menerima hampers dari beberapa kerabat dan kenalan. Dan kalau untuk upload di media sosial memang itu kembali kepada pribadi masing-masing. Ada yang cukup dengan mengucapkan terima kasih, ada juga yang biasa mengunggahnya sebagai tanda syukur dan ucapan terima kasihnya kepada si pemberi

    BalasHapus
  9. Menarik teh urusan tentang hamper ini. Dan yang menggelitik hati saya adalah urusan posting di medsos ini niih....Kalau menurut saya, terima kasih cukup japri saja. Kalau di posting malah jadi ada 2 paham nih,,ada yg seneng tapi ada juga yang julid hehe,,,susah yaa kalau udah masuk ke ranah medsos semua bisa memiliki pandangan masing-masing. Tapi saya setuju jika hampers tersebut diberikan oleh brand besar maka saat kita memposting dan mention brand tersebut bisa jadi menaikkan brand image nya.

    BalasHapus
  10. Wah, baru tahu, kebiasaan saling berkirim hampers, ternyata malah diikuti dengan keharusan membuat story. Jadi ingat, belum bikin story tentang hampers dari wali murid.
    Tapi wali muridnya sebagian juga sdh khusus meminta utk tdk perlu diunggah ke sosmed.
    Akhirnya ya menyampaikan terima kasih secara langsung saja pas hari terakhir sekolah di minggu lalu.

    BalasHapus
  11. Nahh mengenai hampers ini malah ada anjuran untuk tidak posting di sosmed (karena bisa bikin netizen iri), hadeuhh ribet bener ya. Bagiku kalau dapat hampers dan diposting itu sebagai bentuk terima kasih kepada yg ngasih.
    yg ngasih juga kudu ikhlas (gak ngarepin balasan).

    BalasHapus
  12. di tempat kerjaku nggak ada tradisi ngasih atau membalas hampers, kalau pun misal kita dikasih juga nggak ada keharusan untuk membalas
    semuanya balik lagi ke personal dan memang harus disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing

    BalasHapus
  13. Selain bisa untuk dikirimkan ke kerabat atau rekan kerja, membuat hampers ini bisa jadi peluang bisnis juga. Tinggal buat aja sesuai musimnya. Kalau pas kayak sekarang jadi hampers lebaran.

    BalasHapus
  14. Tahun ini Alhamdulillah saya mendapat Hampers dari lomba menulis cerita mudik lebaran yang diadakan ClicKompasiana dan tayang di Kompasiana Mbak. Ada kue, sirup, gula, terigu, kecap dan lainya.
    Nah karena pemberian hampers ini sudah jadi tradisi di tempat kerja Mbak Antung, Jadi bisa sekali membuat sendiri ya Mbak. Bisa pilih produk sendiri. Tempat hampers juga sudah praktis, termasuk keranjang bambu. Tinggal diatur, lalu dibungkus. Tiap memang soal hampers ini justru bisa Mbak Antung jadikan peluang usaha tiap tahun juga hehehe.

    BalasHapus
  15. Soal Kirim dan menerima hampers ini jadi satu pembicaraan unik belakangan ini. Aku sendiri agak heran mengapa jadi soal. Mungkin aku type orang yang tidak terlalu pusing dengan kata orang.

    Sederhana saja, kalau mampu beri kalau ga ya tidak usah. Tidak perlu memikirkan yang lainnya.

    Aku suka tulisanmu khususnya bagian hampers share di story. Sepakat banget kalau menguntungkan banyak pihak, kenapa ga share. Hanya memang lihat² kondisi lagi. Aku sendiri kembali pada niat baiknya dan lihat apakah ketika share pengirimnya byaman apa ga.

    BalasHapus
  16. Hampers baik untuk kolega maupun kerabat jika tidak diperhitungkan bisa membuat boncos, saya sendiri hanya membuat hampers untuk beberapa saja, terkait isinya ya tergantung anggaran saat itu. Dan ga perlu share di story deh wkwkwk, kalau sudah niat ngasih ya sudahlah ga perlu ada embel-embel dimuat di story, itu sudah ranahnya penerima kan ya

    BalasHapus
  17. aku tim yg jrng kirim hampers karena biar adil gak dpet semuaa haha khususon temen kerja. Dulu aku termasuk jrg kirim hampers, jadi nya baahan gibah astagfirullah. Jadi biar aman dan damai enggk kirim dan engga dpt its okay.
    tradisi kirim hampers sekrg emng lgi hype aplagi bentuk bentuknya lebih modern. Dulu mungkin parcel ya teh sekrng hampers,bisa isinya tumbleer juga kan seru. Bisnis hampers mungkin kalau di seriusin bisa cuan juga ya

    BalasHapus
  18. Mungkin kalo daku masih jadi corporate slave, ya bakal kirim mengirim hampers kek gini...

    tapi karena sekarang udah jd IRT😅 keknya ga ada acara bertukar hampers. Bener² kudu frugal living qkwkwkaka

    BalasHapus
  19. Saat jadi budak korporat dulu, momen Lebaran hingga akhir tahun tuh kantor melimpah hampers. Nanti akhirnya diundi pake kertas atau paling jelek ya tinggal ambil aja tuh yg mau. Kan kebanyakan kue kering/kue basah. Yg udh muak kue, pasti ngebiarin tuh kue meringkuk di atas meja. Haha. Dasar org2 kantorku tuh gitu dulu.

    Btw, etika kirim hampers kantor ini sering kali kita terjebak di antara pengen menjalin silaturahmi tapi takut malah terlihat "cari muka" atau melanggar aturan gratifikasi perusahaan.

    Tapi aku suka bagaimana kak Antung menekankan kalau isi hampers itu nomor dua, yang utama adalah ketulusan dan ketepatan waktu pengirimannya. Memang benar, di lingkungan kerja, hampers yang paling berkesan itu bukan yang paling mahal, tapi yang paling personal atau setidaknya menunjukkan kalau kita menghargai kolaborasi selama ini.

    Tulisan ini beneran jadi pengingat biar kita nggak cuma asal kirim paket, tapi tetap menjaga profesionalitas di tengah hangatnya suasana Ramadan. Strategi "berbagi" yang cerdas memang selalu berbuah hubungan kerja yang lebih solid!

    BalasHapus
  20. Soal parcelnya memang menjadi sebuah peluang bisnis yang sangat segar dan juga menggairahkan bagi para Ibu di rumah karena biasanya para ibu itu kreatif dan juga banyak idenya akan tetapi sayangnya akhir-akhir ini memang soal kirim mengirim parcel ini agak berkurang sehingga mungkin bisa dipikirkan kira-kira kiriman apa yang bisa menjadi tren baru sebagai hantaran disaat hari raya

    BalasHapus
  21. Setuju banget kalau hampers bisa dijadiin usaha sampingan. Soalnya kalau produk sama target marketnya pas bisa dapat cuan banyak menjelang Lebaran... Lumayan banget kan ya :D

    Nah, aku pun sempet bertanya-tanya kok pemberian hampers dipermasalahin ya karena nggak di post di story.. Padahal kalau ikhlas ya ngasih-ngasih aja tanpa berharap dibalas atau bahkan tanpa berharap di-story-in...

    BalasHapus
  22. Aku sendiri sering japri ke penerima Hampers yang kukirim supaya gak upload di stories. Buat aku, ada rasa gak nyaman aja pemberian ini disebarluaskan gituu. Tapi kalau gak tau, ya itu hak penerima hampers sih.

    Nah, kalau memang pengirim nya dari brand tertentu, aku sendiri juga bakal up di stories. Betul, selain untuk menghargai, juga bisa sebagai wadah untuk promosi brand nya. Jadi ucapan terima kasih gak hanya berbentuk pesan WA, tapi juga bantuan promosi (semoga aja yang lihat banyak dan jadi terinspirasi untuk ngirim2 hampers yang sama gitu kan yaa, hehe.

    BalasHapus
  23. Memang klo lebaran ada juga ya tradisi berkirim hampers
    Aku sih nggak banyak dapat, cuma satu dari sesama wali murid dan 3 dari kantor suami
    Klo aku tim beli aja sih, nggak telaten bikin sendiri

    BalasHapus
  24. Daku pribadi tipe yang suka berkirim hampers dan dapet hampers Mba.. seneng aja gitu unboxing kado atau kiriman tuh.. dan kalau dikasih memang biasanya upload story. Pure karena berbagi kebahagiaan aja. Tapi akhir akhir ini keuangan lagi diperketat jadi belum bisa kirim kirim lagi..

    BalasHapus