Di bulan Ramadan, selain harus berjibaku dengan manajemen waktu saat berpuasa, ibu bekerja juga dituntut untuk lebih pandai mengatur anggaran Ramadan. Pasalnya, selain adanya perubahan jam kerja, pola pengeluaran pun ikut berubah selama bulan suci ini.
Di perusahaan tempat saya bekerja, jam kerja di bulan Ramadan berubah menjadi pukul 08.00–15.30. Sementara di hari biasa, jam kerja saya adalah pukul 07.30–16.30. Perubahan jam kerja ini memang bukan hal baru karena menyesuaikan dengan ritme kehidupan selama Ramadan.
Bagi saya sendiri, waktu perjalanan pulang biasanya diisi dengan berbelanja persiapan berbuka entah itu kue, buah-buahan hingga sayur matang yang tinggal disajikan. Kadang saya pulang dengan bawaan yang cukup banyak terutama jika kebetulan beberapa bahan masakan di rumah habis.
Sebagai ibu bekerja, memang akan lebih efektif jika saya membeli sayur masak ini karena kadang ketika tiba di rumah waktu sudah mepet dan saya juga tak ada energi untuk memasak. Apalagi saya juga tak
menggunakan ART untuk membantu di rumah. Namun kadang yang membuat saya sedikit resah adalah pengeluaran di bulan Ramadan yang meningkat cukup signifikan karena seringnya saya membeli masakan di luar.
Kenapa Anggaran Ramadan Perlu Disusun Khusus?
Saat bulan Ramadan tiba, salah satu hal yang kadang sulit dikontrol adalah pengeluaran untuk berbelanja di bulan tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, saya cukup menyadari kalau pengeluaran di bulan Ramadan melonjak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bahkan, saking banyaknya pengeluaran, saya pernah memilih tidak
mencatat keuangan selama Ramadan.
Kondisi ini jujur membuat saya merasa serba salah. Di satu sisi saya ingin mengurangi kerepotan dalam menyiapkan berbuka dan menyiapkan menu yang lengkap, namun di sisi lain saya juga harus siap dengan pengeluaran ekstra untuk bulan Ramadan. Karena itulah belakangan saya jadi sadar pentingnya menyiapkan anggaran khusus untuk bulan Ramadan bagi ibu Bekerja seperti saya.
Selain pengalaman pribadi, data juga menunjukkan hal serupa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan kajian Bank Indonesia (BI) tentang pola konsumsi masyarakat, pengeluaran rumah tangga selama Ramadan hingga Idulfitri umumnya meningkat sekitar 15%–40% dibanding bulan-bulan biasa.
Pos pengeluaran terbesar pada bulan Ramadan ini meliputi:
- Kelompok pengeluaran makanan dan minuman
- Pakaian dan alas kaki
- Transportasi
- Kebutuhan sosial
Jadi berdasarkan data di atas memang penting sekali bagi sebuah keluarga unutk menyiapkan anggaran khusus di bulan Ramadan.
Tantangan Keuangan Ibu Bekerja di Bulan Ramadan
Sebagai ibu bekerja, ada beberapa tantangan keuangan yang kerap saya hadapi selama Ramadan:
1. Harga Sembako yang Melonjak
Setiap kali bulan Ramadan tiba, maka para ibu harus siap dengan kenaikan harga barang pokok yang sayangnya tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan. Kenaikan harga sembako ini biasanya juga semakin meningkat saat mendekati lebaran. Bagi ibu, hal ini pastilah membuat para ibu harus memutar otak dalam mengelola keuangan di bulan Ramadan.
2. Godaan Berbelanja Saat Ngabuburit Atau ke Pasar
Belanja menu untuk berbuka atau ngabuburit juga kerap menjadi sumber bocor halus di bulan Ramadan. Apalagi jika kegiatan ngabuburit ini dilakukan di pasar Ramadan yang menyediakan banyak pilihan menu untuk berbuka. Pastinya dengan kondisi perut yang lapar, kita akan tergoda untuk membeli banyak makanan yang kadang ujung-ujungnya tidak habis dimakan saat berbuka.
Tak hanya saat ngabuburit, saya juga kerap mendapat godaan belanja saat berada di pasar tradisional yang merangkap pasar pakaian. Salah belok sedikit saja uang saya bisa melayang untuk membeli baju anak baru atau jilbab baru untuk dipakai bekerja.
3. Banyak Agenda Buka Puasa di Luar
Memenuhi undangan buka puasa bersama juga menjadi salah satu hal yang membuat pengeluaran di bulan Ramadan melonjak. Bagi ibu bekerja seperti saya, undangan buka puasa ini bisa datang dari sesama rekan kerja, buka puasa divisi dan yang lainnya.
Belum kalau misalnya ada buka puasa teman kuliah, teman komunitas dan pastinya juga buka puasa keluarga besar. Dan pastinya biaya buka puasa bersama ini tidaklah murah apalagi jika diadakan di tempat mewah seperti hotel misalnya.
4. Tukar Menukar Hampers
Entah sejak kapan dimulainya, namun sekarang Ramadan dan Lebaran juga identik dengan kegiatan berkirim hampers kepada orang-orang yang dikenal. Dulu saya mengira hampers ini hanya berlaku bagi pelaku usaha, namun ternyata sesama karyawan juga saling berkirim hampers lebaran yang pastinya juga harus disiapkan anggarannya.
4. Persiapan Lebaran
Hal terakhir yang menjadi tantanhan keuangan di bulan Ramadan adalah persiapan lebaran entah itu membeli baju lebaran, berbagi THR hingga mudik bagi mereka yang merantau. Untuk pengeluaran yang satu ini biasanya juga memakan alokasi yang paling besar jika dibandingkan dengan pengeluran rutin selama Ramadan lainnya.
Prinsip Dasar Mengatur Anggaran Ramadan
Adapun prinsip yang bisa diterapkan dalam menyiapkan anggaran khusus Ramadan adalah:
1. Tetapkan Total Budget Ramadan
Seperti yang saya tuliskan di atas, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, disebutkan kalau pengeluaran selama bulan Ramadan meningkat 15%-40% dibanding bulan lainnya. Dengan perhitungan di atas, maka ibu juga sebaiknya menyiapkan anggaran pengeluaran Ramadan minimal 20% lebih besar dibanding bulan lainnya.
2. Prioritaskan Kebutuhan Wajib
Salah satu hal yang perlu diingat saat mengatur anggaran adalah memilih mana yang menjadi prioritas. Hal ini juga berlaku untuk anggaran di bulan Ramadan. Beberapa kebutuhan seperti ikan, sayur dan kebutuhan pokok lainnya merupakan kebutuhan wajib yang harus dipenuhi. Sementara untuk kebutuhan yang sifatnya rekreasional masih bisa ditunda dulu pengeluarannya.
3. Pisahkan Kebutuhan dan Keinginan
Prinsip lain yang bisa diterapkan dalam mengatur keuangan Ramadan adalah memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus segera dipenuhi dan jika tidak dipenuhi akan memberikan akibat buruk bagi kita. Sementara keinginan biasanya lebih berasal dari dorongan emosional, tren, atau sekadar ingin mencoba hal baru, yang sebenarnya masih bisa ditunda.
4. Siapkan Dana Darurat Kecil
Jangan lupa untuk selalu menyiapkan dana darurat yang bisa menjadi pegangan jika anggaran yang sudah dibuat ternyata tidak mencukupi. Bagi mereka yang mendapat THR, bisa menggunakan uang ini sebagai dana darurat.
Contoh Anggaran Keuangan Bulan Ramadan
Berikut adalah contoh tabel anggaran keuangan ibu bekerja di bulan Ramadan:
| Kategori | Anggaran (Rp) | Realisasi (Rp) | Selisih |
|---|
| Sembako | 1.200.000 | 1.050.000 | +150.000 |
| Takjil | 500.000 | 650.000 | -150.000 |
| Buka Puasa | 400.000 | 300.000 | +100.000 |
| Hampers | 300.000 | 250.000 | +50.000 |
| Lebaran | 1.000.000 | 950.000 | +50.000 |
| Total | 3.400.000 | 3.200.000 | +200.000 |
Tips Menghemat Anggaran Ramadan Tanpa Mengurangi Makna Ibadah
Agar pengeluaran di bulan Ramadan bisa dihemat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni:
1. Menerapkan Food Preparation
Cara ini menurut saya sangat efektif dalam menghemat pengeluaran selama bulan Ramadan. Dengan menyiapkan menu
food preparation, ibu tak perlu bingung lagi saat menyiapkan menu sahur dan berbuka. Selain itu, ibu juga tak perlu sering belanja makan di luar yang biasanya menjadi salah satu sumber bocor halus di bulan Ramadan.
2. Tidak Berlebihan Saat Berbuka
Tak bisa dipungkiri ada beberapa keluarga yang menyiapkan banyak sekali menu saat berbuka, tak terkecuali saya. Di keluarga saya, menu berbuka itu terdiri atas es buah, kue khas Ramadan dan juga makanan berat serta buah sebagai pelengkap. Masalahnya, kadang saya yang lapar mata membeli begitu banyak kudapan saat berbuka padahal ketika sudah waktunya berbuka makanan yang dibeli tersebut malah tidak tersentuh dan mubazir.
3. Mengurangi Agenda Buka Puasa di Luar
Berbuka puasa di luar rumah memang memanjakan lidah. Namun kalau terlalu sering dilakukan pastinya akan membuat pengeluaran membengkak selama bulan Ramadan. Dengan mengurangi buka puasa di luar ini ibu bisa menghemat ratusan ribu rupiah. Atau kalau mau buka puasa di luar bisa pilih ke masjid saja.
4. Bijak dalam Membeli Baju Lebaran
Bagi sebagian orang, Lebaran identik dengan pakaian baru. Bahkan ada keluarga yang mewajibkan mengenakan pakaian dengan tema senada untuk momen lebaran. Namun sejatinya, baju lebaran sebenarnya tidak harus selalu baru. Jika baju tahun lalu masih bisa dipakaim, maka akan lebih baik jika tak membeli baju lebaran baru.
Penutup
Mengatur anggaran di bulan Ramadan memang bukan perkara mudah, baik itu bagi ibu bekerja maupun yang berada di rumah. Namun dengan perencanaan yang matang, disiplin, dan kesadaran akan prioritas, Ramadan tetap bisa dijalani dengan tenang tanpa terbebani masalah keuangan.
Semoga tips sederhana ini bisa membantu para ibu bekerja dalam mengelola keuangan selama Ramadan. Jika kamu punya pengalaman atau tips mengatur anggaran Ramadan versi kamu sendiri, yuk berbagi di kolom komentar. Cerita kamu bisa menjadi inspirasi bagi ibu lainnya.
Catatan : infografis dibuat dengan bantuan AI
Baca Juga
32 Komentar
Bener banget mbak Antung, kalau Ramadan kadang tergoda untuk borong takjil (lapar mata). Jadi emang kudu tahan nafsu belanja. Ke pasar takjil gak tiap hari. Tips ini juga bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga, BTW. Karena kalau Ramadan saya udah capek dan seringnya beli sayur matang.
BalasHapusAnggaran ramadan emang sebaiknya dipisahkan. Kadang selama Ramadan kalap beli ini-itu eh kelupaan kalo anggaran wajib bulanan (bayar PLN, PDAM, dsb) kepake untuk lebaran padahal itu yang lebih penting. Lebih ke skala prioritas sih ya.
BalasHapusSemua catatan di atas, sangat layak disepakati.
BalasHapusAlhamdulillah, semoga saya benar-benar telah berhasil membiasakan, untuk tidak belanja takjil saat lapar mata, bukan berdasar sesuai kebutuhan. Karena, ternyata ketika berhasil sekali, seru juga kalau kemudian jadi terbiasa.
Beli baju lebaran ini memang godaan terberat banget ya Kak, karena bisa bikin boncos juga kalau gak di-rem hehe.
BalasHapusApalagi buat Kak Antung sebagai ibu bekerja ya, tentunya harus mikir berulang kali
Saya pernah dengar dari banyak teman saya yang berpuasa tuh, salah satu godaan terbesar adalah pengelolaan keuangan pas ramadhan. Nyatanya godaan terbesaenya adalah godaan jajan takjil. 🥲
BalasHapusMakanya beberapa teman jauh² hari banyak yang menabung khusus momen ramadhan ini. Termasuk membuat perencanaan gimana pengeluaran takjil ini nggak membengkak dari harapan.. 😍😍
Bener banget lagi...selama ramadhan ini sepertinya kebutuhan belanja memang melonjak yaa..saat buka puasa dipastikan kebutuhan gizi tercukupu protein hewani dan buah serta sayurnya,,kalo aku biasanya sedia nya lengkap tapi jumlahnya per item gak banyak mbaa jadi gak mubazir kan..kalo buka puasa di luar kami tim yang lebih prefer dirumah sie soalnya demi kenyamana juga dan buat menjada shalat kalo diluar pasti dehh ruameee hehe
BalasHapusWOW banget yaa sampai 40% kenaikannya. Tahu sih kalau secara dari perubahan aktifitas aja pasti biaya hidup akan berubah. Tapi tidak menyangka aja kalau sampai ada 40%. Luar biasa berarti perputaran ekonomi di bulan Ramadhan. Aku melihatnya mungkin terkurasnya itu di bukber dan hampers.
BalasHapusTetapi di saat ini dalam ekonomi yang perlu banyak bertahan, perlu banget mengatur keuangan dengan baik ya. Semua informasinya sangat bermanfaat dan bisa lebih menjaga keuangan dengan baik. Thanks yaa.
Nah, yang bikin pusing itu sebenernya di lonjakan harganya sih mbak. Karena sekarang tuh ada 2 efek combo. Pertama, yaa efek naik permintaan aja yang bikin harga naik. Lalu kedua, ada juga perkara MBG yang bikin harga kian melonjak. Hadehhh.. bayem seiket aja mahal banget mbak.
BalasHapusMemang terbaik itu harus ada plan ya. Jangan sampe nantinya kita bablas, gak pake perhitungan. Yang ada nanti kita malah boncosss di bulan berikutnya.
Bener banget, mas Fajar. Aku aja nggak jadi beli bayam karena harganya 4000 ya ampun keselnya
HapusDulu saya juga ngiranya kalau Ramadan itu waktunya berhemat, karena akan sangat berkurang konsumsi di siang hari. Ternyata setelah berkeluarga, terasa juga vibe Ramadan yang pengeluarannya lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ibaratnya kita 0 rupiah di siang hari, tapi beratus-ratus ribu di malam hari.
BalasHapusAkan sangat bijak memang jika kita membuat pembukuan anggaran khusus Ramadan untuk bahan kontrol pengeluaran kebutuhan keluarga. Ya, harapannya agar para keluarga lebih bijak dalam mengatur keuangan tentunya.
Sebagai ibu bekerja, memang akan lebih efektif jika saya membeli sayur masak ini karena kadang ketika tiba di rumah waktu sudah mepet dan saya juga tak ada energi untuk memasak geometry dash 2
BalasHapusSangat bermanfaat sekali mbak. Mengatur keuangan saat Ramadan emang krusial. Maklum banyak bahan pokok melonjak naik dan iya godaan diskon dimana-mana hingga acara tukaran hampers. Kalau nggak punya strategi, bisa boncos.
BalasHapusUntung di artikel ini kupas tuntas semua part, detail serta lengkap.
Kalau aku banyak di beli takjil sama persiapan lebaran. Mulai dari THR, beli baju, kue, zakat, dan jalan-jalan. Hehehe...
BalasHapusNggak pake mudik karena emang udah tinggal bersama orang tua. Hehehe
Emang bulan puasa perlu pandai-pandai mengatur keuangan ya karena godaannya banyak banget. Apalagi menjelang lebaran. Kalau nggak bijak, bisa jebol keuangan. Saya sendiri tahun ini membatasi jajan takjil hanya di akhir pekan dan tidak buka puasa di luar rumah.
BalasHapusTahun ini kalau aku pribadi tu Ramadannya jadi lebih simple dibandingkan tahun2 sebelumnya, soalnya kebetulan diet jadi pas Ramadan kesempatan baik buat ngurang2in jajan haha. Kyknya udah berapa hari puasa ini baru berapa kali ya beli takjilnya sekali dua kali aja. Sisanya makan apa yang emang disediakan di rumah :D
BalasHapusSemoga konsisten nih gini terus wkwk.
Emang bener sih, kalau Ramadan seringnya malah banyak kebutuhan tak terduga. Tiba2 ada undangan bukber, tiba2 mau takjil. Belum lagi harga sembako naik hiks. Kudu bener2 bisa mengerem dan mempertimbangkan mana yang penting mana yang sebaiknya nggak dilakuin :D
Apalagi biasanya setelah lebaran akan masih ada aja kebutuhan lain yang membutuhkan uang nggak sedikit yaa. Mencatat keuanan sangat penting, nggak cuma saat Ramadan tetapi sebaiknya juga selalu dilakukan di keseharian kita ya.
Jujurly aku tahun ini nggak mau ke pasar ramadhan karena kadang khilafnya nggak main2 apalagi sedang dalam posisi ngerem gula buat anak2. Budget hampers jg dikurangi secara signifikan ni
BalasHapusWihihiii ini mantab mbaaa
BalasHapuskarena uang seberapapun, kalo ngga diatur dengan baik, yhaaa pasti BABLAASSS ANGINE alias kagak ada wujud manfaatnya.
Baik ibu rumah tangga dan ibu pekerja perlu mengatur keuangan selama ramadan ini biar keuangan tetap terjaga, nggak besar pasak daripada tiang. Bikin perencaan keuangan di Bulan Ramadan dan jelang idul fitri perlu disesuaikan soalnya pasti banyak pengeluaran dibanding bulan-bulan sebelumnya
BalasHapusSaya udah bertahun tahun lebaran gak pernah beli baju mbak, entahlah rasanya di usia saya saat ini membeli baju bisa kapan saja tidak harus lebaran. Tapi memang saya gak pernah beli baju karena dafi kantor udah mendapat beberapa setel gamis buat seragam. Jadi yaa cukup iru saja.
BalasHapusNaah perkara bukber ini, kalau sering² bukber kan jadi boros yaa. Jadi dipilah dan dipilih saja mana yg mau diiyain mana yang bisa di skip. Biar kantong tetap tersenyum.
kemarin saya baru saja mengikuti seminar yang diadakan Bak Indonesia Mbak. Memang kenutuhan terbesar selama Ramadan ini ada pada makanan. Apalagi harga-harga juga naik. Yan biasanya uang sekian bisa cukup seminggu, kini hanya beberapa hari. Jadi memang lankah paling bijak menyusun anggaran Ramadan. Jangan sampai boncos. Apalagi kadang kita lapar mata menjelang buka puasa nafsu beli makanan dan minuman ini itu, padahal tidak dimakan juga karena sudah kenyang. akhirnya jadi mubazir.
BalasHapusEntah kenapa ya Kak, judulnya si puasa tapi kok pengeluaran malah membengkak di bulan ini? Bener sih, harus ada strategi mengatur keuangan secara di bulan ramadan itu tricky. Banyak bukber yang cukup menguras anggaran, sementara harga bahan-bahan pokok malah naik. Belum lagi nyari hampers buat saudara-saudara. Kalau nggak diatur, bisa-bisa habis lebaran kita puasa lagi sebulan :D
BalasHapusTerima kasih pencerahannya, memang kebutuhan di bulan puasa sering melonjak naik karena kita suka lapar mata belanja takjil dan makanan terus ada agenda buka bersama yang cukup menguras kantong ya
BalasHapusKalau ga atur keuangan memang akan sulit untuk survive
BalasHapusMakanya puasa ga boleh boncos
Rugi sudah menahan diri
tips ngatur anggarannya tuh bener-bener kena banget buat ibu bekerja ya mba,, ..bagi pengeluarannya praktis dan gampang diikutin. baca ini jadi dapet insight dan jad nggak bikin pusing lagi buat ngatur anggaran, gak cuma pas ramadan. tapi seterusnya. semoga kita jadi terus semangat.
BalasHapusBulan puasa itu kesannya lebih hemat karena nggak jajan makanan seharian. Tapi aktualnya lebih boncos karena seperti yang udah dijelaskan di blog ini. Emang harus dibikin anggaran keuangan, terutama untuk yang sudah berkeluarga.
BalasHapusBeberapa teman saya pun merasa malah ramadhan tuh lebih banyak pengeluaran dari hari² biasa. Saya pun awalnya nggak percaya, tapi setelah teman saya cerita kalau ramadhan tuh malah njajan buat takjil lebih banyak, saya pun merasa masuk akal. Makanya teman² saya yang menjalankan ramadhan seringkali pakai teknik selang seling takjil. Satu minggu hanya beli takjil 2 atau 3x saja dengan budget tertentu.. 🥰
HapusBagi Ibu - ibu yang pasangannya menjadi pengusaha UMKM justru menjelang hari raya adalah tantangan tambahan karena faktor tidak mendapatkan THR selain itu memberi sedikit bonus bagi pelanggan loyal.
BalasHapusWah terima kasih tipsnya mba. Harga sayur, sembako pada naik. Duh pusing dah. Sehari bisa masak berbagai menu. Sayur, lauk, makanan buka puasa (kolak, dkk), es buah. Sebenarnya ga terlalu esensial. Tapi pengen aja. Haha
BalasHapusKerasa banget ya Ramadan kali ini semua harga pada melambung naik, sementara penghasilan tetap aja segitu malah kerja sampingan juga semakin sepi. Semoga ya Allah kita semua dicukupkan dalam memenuhi kebutuhan baik Ramadan maupun di bulan selanjutnya
BalasHapusTopiknya relate banget, apalagi untuk ibu bekerja yang harus mengatur banyak kebutuhan selama Ramadan. Tips mengatur anggaran seperti ini penting supaya pengeluaran tetap terkontrol tapi kebutuhan keluarga tetap terpenuhi
BalasHapusBulan Ramadhan dan Lebaran ini pengeluaran tak terduganya yang banyak mbak. Misal kita sudah budget kan sekian untuk hampers tapi ternyata nanti yang mengantar ke rumah ada saja dari teman atau kolega yang tadinya tak dihitung untuk 'dibalas'. Belum lagi di daerah saya ada kebiasaan anak-anak mendatangi rumah ke rumah mencari amplop lebaran, kalau mau diturutin semua bisa gawat juga meski mengisi dengan nominal tak seberapa.
BalasHapusMenurut saya artikelnya cukup relate dengan kondisi ibu bekerja saat Ramadan. Banyak yang mengira pengeluaran akan turun karena tidak makan siang, padahal justru sering naik karena ada takjil, bukber, zakat, dan persiapan Lebaran.
BalasHapusKalau dari sisi teknis pengelolaan keuangan, menurut saya cara yang efektif adalah memisahkan anggaran Ramadan dari anggaran bulanan biasa, lalu dibagi lagi per kategori seperti kebutuhan sahur–buka, bukber, sedekah, dan dana Lebaran. Saya pribadi juga biasanya membuat batas pengeluaran mingguan supaya lebih terkontrol dan tidak “bocor halus” di tengah bulan.
Dengan struktur anggaran seperti ini, Ramadan tetap terasa berkah tanpa membuat kondisi keuangan kaget setelah Lebaran.