Peran Teknologi Digital dalam Kebangkitan Dunia Literasi

 

Jika kita mendengar kata literasi, mungkin yang terpikir di benak kita hanyalah seputar dunia membaca dan menulis. Padahal ternyata literasi tak hanya mencakup membaca dan menulis. Menurut National Institute of Literacy, literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat, sejak tahun 2015 lalu pemerintah telah menggiatkan Gerakan Literasi Nasional yang merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antar unit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia. Gerakan Literasi Nasional ini kemudian memiliki 3 turunan lain yakni Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga dan Gerakan Literasi Masyarakat.

Adapun untuk cakupannya, Gerakan Literasi Nasional mencakup 6 bidang yakni:

Literasi Baca dan tulis

Literasi baca tulis adalah pengetahuan dan kemampuan membaca dan menulis, mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis, serta kemampuan menganalisis, menanggapi, dan menggunakan bahasa. 

Literasi numerasi

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

Literasi sains

Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016).

Literasi digital 

Adapun literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi finansial (keuangan)

adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Literasi budaya dan kewargaan

Literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.


Peran teknologi digital dalam dunia literasi baca tulis

Perkembangan unia teknologi sekarang ini bisa dibilang merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi dunia literasi. Bagaimana tidak? Seiring dengan semakin mudahnya akses internet bagi setiap orang, maka kemungkinan untuk meningkatkan kemampuan literasi akan semakin besar. Informasi sekarang begitu mudah didapat dan dibagikan ke banyak orang.

Khusus di bidang literasi baca tulis sendiri, era digital ini juga memberikan banyak dampak positif diantaranya:

Semakin mudah mencari referensi buku bacaan

Sebagai seorang pecinta buku, era digital di dunia buku sangat membantu dalam hal mencari referensi bacaan. Buku kini tak lagi bisa dinikmati dalam bentuk fisik namun juga dalam bentuk digital dan dibaca lewat handphone. Aplikasi gratis seperti Ipusnas juga sangat membantu bagi mereka yang gemar membaca namun mungkin terkendala biaya atau ingin mengoleksi buku dengan sadar.

Media menulis semakin berkembang

Dulu, bagi mereka yang gemar menulis maka media untuk membagikan tulisannya hanyalah media massa seperti koran atau majalah. Namun di era digital seperti sekarang, platform yang mendukung para penulis untuk membagikan karyanya sudah semakin banyak. Mulai dari blog hingga platform novel online seperti wattpadd, kbm, storial dan banyak lagi. Tentunya ini sangat memudahkan bagi para penulis untuk mengembangkan bakatnya.

 

Lebih mudah menemukan mentor untuk menulis

Berkembangnya era digital juga semakin mempermudah para penulis muda untuk menemukan mentor mereka dalam menulis. Saat ini ada banyak pelatihan menulis yang bisa diikuti secara online. Tentunya ini sangat memudahkan bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuan menulisnya dan menghasilkan karya yang bisa dibaca banyak orang.

 

Sisi negatif teknologi digital bagi literasi

Selain memudahkan bagi para penggiat literasi dalam menjalankan aktivitasnya, nyatanya kebangkitan dunia literasi di era digital ini juga memiliki efek negatif. Dengan semakin mudahnya informasi dibagi dan didapat, kadang malah membuat informasi dan berita yang didapat sulit ditelusuri lagi kebenarannya sehingga berujung pada berita hoax. 

Di era digital ini, hoax merupakan salah satu hal yang cukup sering kita temui. Lihat saja bagaimana dengan mudahnya orang-orang membagikan berita tanpa merasa perlu menelusuri kembali kebenaran berita tersebut. Asalkan beritanya sensasional, maka pasti akan cepat tersebar. Akibatnya, berita hoax ini berpotensi memecah belah pendapat orang-orang bahkan berujung permusuhan.

Tak hanya itu, era digital juga dibayangi dengan banyaknya kasus plagiasi dalam dunia tulis menulis. Ada novel yang disalin ulang dan ditayangkan di salah satu platform menulis lalu diakui sebagai tulisannya. Bagi seorang penulis, setiap kata yang dituliskannya merupakan hasil pemikiran yang berharga. Dengan adanya plagiasi sebagai efek dari perkembangan teknologi ini tentunya sangat merugikan bagi penulis tersebut.

 

Teknologi digital hingga saat ini merupakan salah satu penemuan yang sangat berguna dalam kehidupan manusia. Tak hanya dalam hal literasi baca tulis, era digital juga banyak sekali membantu dalam cakupan literasi lainnya. Sebagai pengguna teknologi digital ini, tentunya kita harus bisa menggunakan dan memanfaatkannya dengan bijak sehingga bisa menghasilkan manfaat bagi orang lain.

Baca Juga

Post a Comment

9 Comments

  1. trims mba..artikel ini membuka wawasan saya yg sebelumnya cuma tahu literasi itu untuk baca tulis saja.. ternyata mencakup 6 bidang dan masing-masing tentunya sebaiknya kita kuasai ya..

    ReplyDelete
  2. Teknologi digital membawa dunia literasi ke era baru dimana begitu banyak kemudahan dan juga keunntungan. Walaupun seperti dua sisi mata uang, teknologi digital pun bisa jadi negatif saat dipergunakan dengan tidak benar, seperti hoax dan juga plagiarisme, banyak yang suka copy paste, suka sebel kalau kejadian sama saya

    ReplyDelete
  3. Setiap literasi yang dijabarkan sampai saat ini masih sering banget digunakan, walaupun terlihat sangat dasar sekali. Tapi malah hal seperti itu sangat dibutuhkan sekali baik dalam membangun relasi dengan orang lain, mengembangkan usaha sendiri, atau bekerja didalam sebuah perusahaan.

    Hadirnya teknologi memberikan kemudahaan dalam segala hal, apalagi dimasa krisis seperti ini semua jadi bisa serba online. Namun dalam segi penggunaan tentu harus tetap diperhatikan, karena dampaknya bisa menjadi sebuah perubahan negatif ataupun positif.

    ReplyDelete
  4. literasi baca tulis tentu akan dipengaruhi sekali dengan teknologi digital ini. misalnya dulu saat saya kecil baca tulis ya hanya dengan buku dan kertas. tapi sekarang, anak-anak kita sudah akrab dengan teknologi ya mbak. mulai dari perangkat sederhana laptop dan smartphone. mulai muncul teknologi seperti smart pen, talking doll, menggambar di smartphone atau tablet. teknologi ini kaya mata uang juga, bisa jadi akselator literasi, bisa juga menghambat dan adiksi kalau tidak diarahkan ya. jadi harus bijak-bijak dengan teknologi nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemajuan teknologi mempermudah kita semua dalam menyediakan bahan bacaan, buku bacaan, dan materi yang bisa didapat dengan mudah. Hanya saja, kemajuan teknologi juga memberi efek negatif pada semakin mudahnya proses pembajakan buku bacaan.

      Perkembangan literasi di Indonesia semakin pesat berkat banyaknya program program dan seminar, belum lagi banyaknya GA perihal review buku yang mana hal ini tentu memancing dan mendorong antusiasme pengguna medsos untuk ikut serta. Brruhtungnya sebagian besar peserta nya itu kalangan muda,jadi sedikit banyak generasi muda sudah mengenal literasi dan mendorong twrciptany hobi membaca sejak dini.

      Delete
  5. setuju mba hoax ini beneran deh musuh digitalisasi dalam dunia literasi yang harus menjadi perhatian besar dari semua pihak, harusnya dengan digitalisasi dunia literasi jadi lebih dipermudah

    ReplyDelete
  6. Iya nih mbak, kebanyakan orang tahunya tuh literasi berhubungan dengan membaca saja. Padahal lebih dari itu, nah saya pun tahunya pas udah punya anak loh, wkwkwk.
    Literasi penting sekali, apalagi sekarang karena gempuran informasi dari dunia maya yang memang butuh kemampuan literasi untuk menyaringnya.
    Sayang sekali jika anak-anak kurang cakap berliterasi sedangkan sejak kecil mereka sudah akrab dengan teknologi dan internet.
    Makasih sharingnya mbak, informatif sekali

    ReplyDelete
  7. Memang salah kaprah nya begitu ya mbak literasi berarti membaca dan menulis. Padahal luas banget bukan hanya sekadar di dunia tulisan saja.

    ReplyDelete
  8. Setelah baca tulisan iini saya baru ngeh kalo bidang literasi itu cakupannya luas juga ya. Dan menurut saya tema literasi ini menarik untuk dikupas lebih lanjut. karena masih banyak orang yang belum paham akan pentingnya literasi. khususnya di bidang literasi digital yang identik dengan jaman sekarang.

    ReplyDelete