Monday, April 24, 2017

Review Claire's Breastpump

April 24, 2017 63
Bagi ibu menyusui yang bekerja, pompa ASI jelas merupakan salah satu alat tempur yang penting untuk dimiliki. Saya sendiri sejak kehamilan memasuki trimester dua sudah mulai melakukan survey terhadap pompa ASI ini. Tahu sendiri kan harga pompa ASI nggak bisa dibilang murah. Waktu itu sih pengennya beli pompa ASI sekelas Medela. Lucunya saat menanyakan harga dari pompa yang diincar, penjaga toko malah menawarkan merk lain.

"Pompa Claire's bagus juga lho, Mbak," begitu kata gadis muda tersebut pada saya.

"Oh ya? Banyak yang beli ya?" tanya saya lagi.

Gadis penjaga toko tersenyum menganggukkan kepalanya. Sayangnya karena memang belum yakin ingin membeli pompa yang mana akhirnya saya hanya menganggukkan kepala seraya meninggalkan toko bayi tersebut.

Setelah melahirkan, karena masih tak bisa kemana-mana saya minta tolong suami membelikan pompa ASI. Pada suami saya minta untuk membeli merk Pigeon. Saat pulang, dia malah membawa pompa ASI Claire's manual. "Harganya lebih murah," katanya seraya memperlihatkan struk pembelian. Di sana tertera angka sekitar 135.000 rupiah.

Gambar : Tokopedia[/caption]

Review Pompa ASI Claire's manual dan elektrik


Segera setelah dibuka dan disterilkan, saya pun mencoba pompa ASI dengan tipe BP-A90 ini. Alhamdulillah dari pertama kali menggunakan, saya langsung suka dengan pompa ASI Claire's ini. Pegangannya nyaman, corongnya yang dilapisi silikon juga pas di payudara saya dan tidak membuat saya merasa sakit saat memompa. Untuk kapasitasnya sendiri, pompa ASI manual ini mampu menampung ASI sebanyak 130 ml. Pertama kali pakai pompa ini, saya berhasil mengumpulkan 30-40 ml ASI. Seiring dengan seringnya frekuensi memompa, saya berhasil mengumpulkan 90-130 ml ASI setiap sesi memompa. Oh ya, setelah dicek bentuk pompa ASI manual Claire's ini ternyata agak mirip dengan pompa manual Phillips AVENT yang harganya berkali lipat pompa Claire's manual yang saya beli.

Merasa cocok dan nyaman dengan pompa ASI manual Claire's, saya pun memutuskan membeli pompa elektrik dengan merk yang sama. Kali ini pilihan saya jatuh pada tipe yang kisaran harganya 300 ribuan. Nah, untuk pompa elektrik Claire's yang satu ini, selain mendapatkan pompa plus alat charge-nya, saya juga mendapat valve cadangan. Sayangnya untuk seri ini pompanya tidak dilengkapi dengan penutup corong yang bisa menghindarkan masuknya kotoran/binatang ke dalam botol.



Untuk mesinnya sendiri, pompa elektrik Claire ini dilengkapi dengan dua tombol pengatur kecepatan memompa. Tombol + untuk memperkuat hisapan dan tombol - untuk mengurangi hisapan. Sedangkan untuk daya tahannya, pompa ini bisa digunakan selama 2,5 jam. Jika satu sesi memompa menghabiskan waktu 30 menit, maka itu berarti pompanya bisa digunakan sebanyak 6 kali. Lalu, bagaimana dengan masalah suara? Kalau kata saya sih pompa Claire's ini suaranya nggak terlalu berisik. Dari pengalaman mencoba Phillips Avent milik adik saya, seingat saya suaranya sebelas dua belas aja.

Selama menggunakan pompa Claire's ini, baik yang manual maupun elektrik, alhamdulillah saya bisa mengumpulkan 1,5 - 2 botol ASIP setiap kali memompa kedua payudara. Jika dibandingkan dengan ketika saya menggunakan pompa Pigeon dan Avent sebelumnya (keduanya pinjaman) hasil dari pompa Claire's ini malah lebih banyak. Tapi itu mungkin karena waktu itu saya belum rutin memompa payudara seperti sekarang. Untuk tipe elektrik, pompa ASI Claire's ini klaimnya bisa menghasilkan 120 ml selama 15 menit. Saya secara pribadi biasanya selama 15 menit paling banyak menghasilkan 90 ml, kecuali jika payudara sudah sangat penuh. Oh, ya, dari pengalaman saya, jika ingin hasil pumping selalu maksimal, usahakan memompa payudara di jam yang sama setiap harinya.

Berhubung saya sudah merasa nyaman dengan pompa Claire's ini, hingga sekarang saya belum berniat mencoba pompa ASI yang lain. Yah, kalau bisa dibilang, saya langsung cocok dengan si pompa. Dan sebagai penutup, saya akan merangkum beberapa kelebihan dari pompa ASI Claire's baik yang manual maupun yang elektrik ini

Harganya terjangkau

Pompa ASI Claire's dijual dengan kisaran harga 100-600 ribu rupiah saja. Dari hasil lirik-lirik ke beberapa toko online, saya simpulkan kalau harga tertinggi dari pompa elektriknya masih di bawah satu jutaan. Bagi ibu-ibu yang punya budget rendah ini jelas bisa jadi pilihan.

Nyaman dipakai 

Pompa ASI Claire's pada bagian corongnya diberi lapisan silikon yang bisa dilepas yang bisa memberi efek pijatan pada payudara. Leher corong yang tidak terlalu panjang membuat posisi kita lebih nyaman saat pumping. Saya juga jarang merasa sakit saat menggunakan kedua tipe pompa ini.

Meski begitu, ada perbedaan antara pola silikon pada corong pompa yang manual dengan yang elektrik. Untuk pompa ASI yang manual, bulatan-bulatan yang ada pada lapisan silikonnya lebih besar sementara pola bulatan di pompa yang elektrik lebih kecil dan kurang terlihat. Mungkin karena pola bulatannya lebih besar dan terlihat, pompa ASI Claire's yang manual kadang bisa lebih cepat mengeluarkan ASI ketimbang pompa ASI elektrik. Hal ini terasa sekali saat produksi ASI mulai berkurang setelah masa MPASI anak saya.

Tidak ribet 

Untuk pompa tipe elektrik yang saya beli ini, mesinnya langsung terhubung ke badan corong. Jadi nggak ada istilah ASI masuk ke selang.  Selain itu sistem bongkar-pasangnya juga tergolong ringkas dan tidak bergantung pada colokan. Kabel charger-nya sendiri kalau saya lihat termasuk tipe kabel yang cukup mudah dicari di toko elektronik.

Kalau untuk kelemahannya sendiri, untuk versi manualnya setelah beberapa kali pemakaian entah kenapa si tuas menghasilkan suara berdecit yang cukup berisik. Jadi setiap kali memompa, akan terdengar suara ngik-ngik yang cukup menganggu jika digunakan di kantor. Sedangkan untuk versi elektriknya, mungkin ada pada sambungan mesin ke badan corong yang menggunakan sistem putar. Kadang saya takut ke depannya pengait yang ada di badan corong akan aus atau atau membrannya sobek sehingga mesin jadi tidak benar-benar terkoneksi ke badan corong yang tentunya akan mengurangi kinerja si pompa.

Demikian review singkat saya tentang pompa ASI Claire's kali ini. Semoga bisa membantu bagi para ibu yang ingin mencoba pompa dengan harga murah namun tidak mengecewakan.

Tuesday, April 18, 2017

Tarif Listrik yang Naik

April 18, 2017 30


Awal bulan ini saya sukses dibuat kaget oleh mesin ATM. Saat itu seperti biasa saya akan melakukan pembayaran tagihan listrik dan telepon lewat ATM. Lalu saat akan membayar tagihan listrik, gerakan tangan saya terhenti. Saya lihat lagi tagihan yang tertera di hadapan saya. Tiga ratus ribu? Nggak salah nih? Tanya saya dalam hati. Saya cek kembali nama dan bulan tagihan yang tertera di layar. Bukan apa-apa. Sebelumnya saya juga pernah harus membayar tagihan listrik dengan nominal yang cukup besar. Tapi itu karena saya salah masukkan nomor rekening di bulan sebelumnya. Jadinya untuk bulan berikutnya saya harus membayar tagihan untuk 2 bulan.

Kembali lagi ke cerita tagihan bulan ini, karena nominalnya yang cukup besar akhirnya saya putuskan menunda dulu pembayaran listrik. Rencananya sih saya mau konfirmasi dulu ke pihak PLN berapa banyak pemakaian listrik di bulan Maret, sekalian mengetahui berapa kenaikan tarif yang diberlakukan di tahun 2017 ini.

Beberapa hari kemudian saya pun menyambangi kantor PLN. Saya disambut oleh petugas yang dari raut wajahnya sudah tahu maksud kedatangan saya. Setelah menyebutkan nomor rekening PLN di rumah, petugas itu pun memperlihatkan jumlah pemakaian listrik untuk bulan Maret.

"Untuk bulan ini pemakaiannya memang lebih banyak, Mbak," begitu kata petugas yang melayani saya hari itu.

Mata saya tertuju pada angka yang diperlihatkan layar. Benar kata petugas tersebut. Ternyata untuk bulan Maret kami sekeluarga menghabiskan kurang lebih 300 kwh. Padahal biasanya cuma sekitar 200 kwh.


"Trus kalau soal tarif gimana?" Tanya saya lagi.

Mendengar pertanyaan saya, petugas itu kemudian diberikan selembar brosur yang berisi informasi kenaikan tarif yang dilakukan secara bertahap yakni pada bulan Januari, Maret dan Mei.


Jadi berdasarkan tabel tersebut, untuk pembayaran bulan April saya dikenakan tarif Rp. 1.014/kwh. Jika dikalikan dengan pemakaian 300 kwh ya benar saja kalau tagihan saya mencapai 300 ribu rupiah.

"Berarti nanti saya bayar listriknya sekitar ini?" tanya saya kemudian.

"Benar, Mbak. Tapi nanti untuk bulan April ada kenaikan tarif lagi. Setelah itu tarifnya sama dengan tarif 1300 watt dan di atasnya," jawab petugas itu lagi.

Saya hanya menghela nafas. Teringat oleh saya perkataan adik saya beberapa bulan sebelumnya. Saat itu tagihan listrik di rumah masih naik 50 ribu rupiah. "Nanti tarif listrik 900 watt bakal sama loh dengan yang 1300 watt," begitu katanya waktu itu.

Saat itu sih santai saja karena saya tidak ada bayangan berapa harga tarif untuk listrik 1300 watt. Ternyata begitu melihat tagihan bulan ini, saya sukses dibuat melotot. Biasanya bayar listrik cuma seratus ribu lebih, eh sekarang malah tiga ratus ribu. Padahal alat listrik di rumah itu-itu aja. Kalau sudah begini jelas hal pertama yang harus kami lakukan adalah melakukan penghematan terhadap pemakaian alat-alat listrik di rumah. Selama ini kami di rumah memang tak terlalu peduli dengan penghematan listrik ini terutama dalam hal penerangan rumah. Bisa juga sih katanya disiasati dengan membeli peralatan listrik yang tidak banyak memakai daya listrik.

Wednesday, April 12, 2017

Pengalaman Ganti LCD Lenovo A7000

April 12, 2017 35
Pengalaman Ganti LCD Lenovo A7000

Awal tahun 2016 lalu saya membeli sebuah ponsel baru, Lenovo A7000. Saat itu ponsel ini sedang hangat-hangatnya dan saya beli dengan harga sekitar 2 juta rupiah. Selama satu tahun pemakaian, bisa dibilang saya cukup puas dengan performa ponsel buatan Cina ini. Kameranya lumayan oke, memori bisa ditambah hingga 32 GB, sudah mendukung 4G dan sinyalnya juga bagus. Sayangnya, karena keseringan jatuh, ponsel Lenovo A7000 itu pun performanya mulai melemah.

Awalnya saya tanpa sengaja menemukan retak pada bagian kamera depan ponsel. Berhubung jarang selfi, saya membiarkan saya retak yang ada pada kamera depan itu.  Beberapa waktu berlalu, ponsel saya semakin sering terjatuh. Untuk kali ini, bukan hanya bagian kamera yang jadi korban, namun juga bagian layar sentuh pada ponsel. Jadi khusus untuk bagian kanan ponsel tidak terlalu respon jika disentuh. Akibatnya saya jadi agak kesulitan untuk mengetik terutama untuk huruf P, L, tombol delete, dan send. Puncaknya, saya baru bisa mengetik dengan maksimal jika posisi ponsel diubah menjadi mendatar. Jujur ini bukan posisi yang enak bagi saya dalam memegang ponsel dan mengetik. "Hmm.. kayaknya memang sudah waktunya ganti LCD," kata saya akhirnya.

Saya pun mulai melakukan survey harga LCD untuk Lenovo A7000 milik saya ini. Dari beberapa toko online saya dapatkan kisaran harga 190-300 ribu untuk LCD ponsel saya. Yah, kalau dibanding beli baru jelas masih murah dong. Tapi setelah dipikir lagi kalaupun saya beli LCD online gimana cara saya masangnya? Trus yakin nggak LCD yang dibeli benar-benar pas dengan ponsel saya? Dengan pemikiran ini akhirnya saya pun memutuskan untuk membawa ponsel saya ke tempat perbaikan ponsel di dalam kota saja. Sebelumnya, saya bertanya kepada salah satu rekan kerja perihal biaya penggantian LCD di kota Banjarmasin.

"Mahal, Kak. Sekitar 400an," jawab rekan kerja saya saat itu.

Saya pun mulai menyambangi beberapa tempat perbaikan ponsel di Banjarmasin. Tempat pertama, di daerah Sutoyo memasang harga 450 ribu, lalu tempat kedua yang saya datangi, sebuah toko asesoris di jalan A. Yani juga memasang harga 450 ribu. Tempat ketiga yang saya datangi masih di daerah Sutoyo memasang harga 425 ribu rupiah. Sebenarnya saat itu saya sudah berpikir memperbaiki ponsel di tempat ke-3 saja. Namun rupanya saya masih berharap ada tempat yang memasang harga lebih rendah lagi. Saya kemudian berinisiatif ke tempat perbaikan ponsel di Jalan Perintis Kemerdekaan. Di tempat ini, pemiliknya memasang harga 400 ribu rupiah. Lebih murah dari 3 tempat lain yang saya datangi. Masih belum puas dengan hasi, terakhir saya bertanya ke sebuah toko asesoris di jalan Veteran. Nah di sini malah lebih mahal lagi harganya. 485 ribu untuk beli LCD plus pasang. Dengan hasil ini, otomatis saya memilih tempat keempat untuk memperbaiki ponsel saya.

Saat akan menitipkan ponsel saya iseng saya bertanya kepada pemilik toko. "Sebenarnya berapa sih harga LCD untuk Lenovo ini?" tanya saya.

"Harga LCD-nya sih 200-an. Tapi biaya masangnya yang mahal," jawab pemilik toko pada saya.

Saya pun menganggukkan kepala tanda mengerti. Saya kemudian menyerahkan ponsel Lenovo pada salah satu teknisi. Janjinya sih malam sudah selesai penggantian LCD-nya. Namun karena malas keluar malam, saya putuskan mengambil ponsel keesokan harinya. Besoknya, saat saya kembali ke tempat perbaikan ponsel itu, alhamdulillah layar LCD ponsel saya sudah berganti dengan sebuah pelapis biru pada permukaannya. 

"Itu tanda kalau LCD-nya baru," kata teknisi pada saya.

Saya pun segera mencoba LCD baru ponsel saya. Bisa dibilang performanya tidak senyaman LCD bawaan sih. Tapi ya ini mungkin masalah waktu aja sampai saya terbiasa dengan LCD baru ini. Yang penting sekarang saya sudah bisa aktif lagi mengetik di ponsel. Hehe.

Monday, April 3, 2017

[Review] Just Miss Ultimatte Lip Cream No. 12

April 03, 2017 12
"Aku beli lipstik baru, nih!" kata adik perempuan saya saat ke rumah beberapa waktu lalu. Saat itu dia baru pulang dari mall sambil menunjukkan beberapa buah lipstik yang baru dibelinya. Just Miss, merk lipstik itu, sebuah merk kosmetik lokal yang dikenal karena harganya yang sangat terjangkau.

"Wih Just Miss lip cream. Sudah ada, yak? Berapaan?" tanya saya saat melihat barang yang dibawanya. Ada 3 buah kalau tidak salah. Saya sendiri juga memiliki beberapa produk Just Miss berupa lipstik dan pensil alisnya. Nah, kalau jenis lipstik terbaru ini saya baru tahu dari baca komentar di Youtube Beauty Vlogger kesayangan. Dari yang saya lihat di review para beauty vlogger, warna yang dikeluarkan Just Miss Ultimatte Lip Cream ini cantik-cantik.

"Tiga puluh ribuan aja," jawab adik saya. Ia kemudian memulas salah satu lipstik yang dibelinya tersebut.

"Wah, bagus tuh warnanya," kata saya saat melihat hasilnya. Saya pun ikut mencoba lipstik yang dikenakan adik saya, dan ternyata warnanya juga bagus di bibir saya.

"Mau nitipkah?" tanya adik saat melihat saya begitu antusias dengan lipstik di tangan saya.

"Iya, dong. Nanti kalau kamu ke DM lagi aku titip, yak," kata saya kemudian.
Tampilan fisik
 Hanya satu hari berselang, adik saya mengabarkan kalau dia ke mall lagi. Saya tentu saja menagih janjinya untuk membelikan lipstik terbaru Just Miss ini. Sayangnya karena warnanya lumayan banyak dan cantik-cantik semua, saya jadi galau mau beli lipstik yang mana. Sebenarnya pengennya beli lebih dari 1 mengingat harganya yang murah. Tapi kemudian saya pikir-pikir lagi dan akhirnya cukup membeli satu lipstik saja. Nanti kalau saya benar-benar suka toh bisa beli lagi. Dan inilah sedikit review saya tentang Just Miss Ultimatte Lip Cream No. 12 Dessert Rose

Kemasan

Just Miss Ultimatte Lip Cream ini ukurannya terbilang kecil. Hanya sekitar 12 cm dengan isi 5 ml. Tempatnya berbentuk silinder transparan dengan logo ULTIMATTE di badannya.Nomor seri lipstiknya ada pada bagian segel lipstik yang tentunya sudah saya buka. Ini tentunya agak menyulitkan jika ingin mengetahui lipstik nomor berapa yang sedang kita pakai.

Tekstur dan Warna

Just Miss Ultimatte Lip Cream ini memiliki wangi seperti permen. Saat dipulaskan, lipstik ini cukup cepat keringnya. Mungkin kurang dari satu menit. Hasil akhirnya juga kering sekali dan cukup menutupi warna bibir. Sayangnya kalau kita tidak benar-benar rapi memulaskan aplikatornya, hasil akhir lipstik ini juga bisa terlihat berantakan. Tapi itu mungkin karena sayanya aja kali ya yang nggak jago makai lipstik. Selain itu lipstik ini juga memperjelas garis bibir.

Kelebihan lain dari lipstik ini adalah dia transferproof alias nggak nempel. Kena air juga susah banget hilangnya. Ini terbukti ketika saya oleskan di punggung tangan, lipstik ini nggak hilang-hilang meski sudah digosok berkali-kali pakai air. Saya secara pribadi kurang suka lipstik terlalu nempel kayak gini. Ya, soalnya kan kalau kena wudhu nggak bisa hilang. Untungnya lipstik ini masih bisa hilang kalau kena minyak. Beberapa kali saya pakai lipstik ini trus dipakai makan langsung deh si lipstik mulai hilang warnanya terutama di bagian dalam.

Swatch di punggung tangan



So far, saya hanya bisa memberi nilai 3 dari 5 untuk Just Miss Ultimatte Lip Cream ini. Tekstur yang super kering, ketahanan dan harga yang murah jelas merupakan kelebihan dari lipstik terbaru Just Miss ini. Namun untuk saya pribadi, lebih menyukai lipstik yang masih menyisakan rasa moist di bibir saat memakainya. Oh, ya, Just Miss Ultimatte Lip Cream ini bisa didapat di counter Stroberi dengan harga Rp. 36.000 saja.

Penampakan di bibir