Memahami Korban KDRT lewat Film Bollywood Darlings


Memahami Korban KDRT lewat Film Bollywood Darlings

Beberapa waktu lalu kita sempat dihebohkan dengan berita kaburnya seorang dokter bernama Qory dari suami dan anak-anaknya di sebuah media sosial. Cerita tentang kaburnya dokter Qory ini ditulis langsung oleh sang suami lewat akun twitternya yang meminta bantuan netizen untuk bisa menemukan istrinya. 

Ironisnya, setelah ditelaah ternyata dokter Qory kabur dari rumah karena adanya KDRT yang dilakukan sang suami. KDRT ini bukan hanya terjadi satu kali namun sudah terjadi sepanjang pernikahan mereka. Yang lebih membagongkan lagi, ternyata dokter Qory juga menjadi tulang punggung di keluarganya sementara sang suami tidak bekerja dan memilih menjadi konten kreator.

Setelah menghilang selama beberapa hari, dokter Qory akhirnya ditemukan. Rupanya ia datang ke rumah aman Dinas Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk meminta perlindungan. 

Publik pun menyuarakan dukungannya kepada dokter Qory dan berharap sosok suaminya itu bisa ditangkap polisi. Sayangnya netizen lagi-lagi harus kecewa karena ternyata ujung-ujungnya dokter Qory memaafkan suaminya dan kembali berkumpul dengan suami dan anak-anaknya.

Kasus yang Berulang: Ketika Publik Merasa “Dikecewakan”

Jika diingat lagi, ini bukan kali pertama para netizen seolah kena prank dari kasus KDRT yang dialami oleh para istri. Teman-teman tentu belum lupa bagaimana beberapa tahun sebelumnya kita juga dibuat heboh dengan penyanyi dangdut Lesti Kejora yang tiba-tiba melaporkan suaminya karena mengalami kekerasan saat mereka beradu mulut. Netizen beramai-ramai mengutuk tindakan sang suami. 

Namun di akhir cerita netizen balik marah-marah pada Lesti yang memutuskan berdamai dengan suaminya Rizki Billar dan kini rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja.

Review film Darlings tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga



Saat kasus Lesti dan Billar mencuat, pikiran saya langsung terbang ke salah satu film Aliaa Bhatt yang saya tonton beberapa waktu sebelumnya. Film ini juga mengambil tema tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh tokoh utama perempuannya yang bernama Badrunnisa. 

Selama kurun waktu pernikahannya dengan suami, Badru kerap mendapat kekerasan terutama saat sang suami sedang mabuk. Para tetangga tahu dengan apa yang dialami oleh Badru namun tak ada yang berani untuk bertindak.

Adalah Zulfi, seorang penjual perkakas yang kerap datang ke kediaman Badru dan ibunya yang akhirnya melaporkan kekerasan yang dilakukan Hamza suami Badru. Hamza kemudian ditangkap polisi atas laporan dari Zulfi namun akhirnya dibebaskan karena Badru bersedia menerimanya kembali.

Tentunya ada syarat yang diajukan Badru untuk bisa memaafkan Zulfi yakni suaminya setuju agar mereka merencanakan kehamilan. Memang selama ini Badru sangat ingin memiliki anak namun Hamza masih tak bersedia mengabulkannya.

Tak lama setelah berdamai dengan suaminya, Badru pun hamil. Ia sangat bahagia dengan kehamilannya ini. Apalagi Hamza juga sudah mulai berkurang mabuk-mabukan yang pastinya juga berpengaruh pada temperamennya. 

Satu hal yang tidak diketahui Badru, Hamza sebenarnya menyimpan dendam pada sosok yang melaporkan dirinya pada polisi dan terus berusaha mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. Pada akhirnya Hamza pun mengetahui sosok Zulfi yang melaporkannya dan ia pun kembali pada perangai lamanya hingga akhirnya membuat Badru harus kehilangan janin yang dikandungnya.

Kehilangan janin ini akhirnya membuat Badru sadar bahwa ia takkan bisa berdiam diri lagi. Bersama ibunya dan Zulfi, Badru pun mulai merencanakan balas dendam kepada Hamza. Berhasilkah Badru akhirnya terlepas dari Hamza yang suka melakukan kekerasan padanya?

Mengapa Korban KDRT Sulit Pergi?

Seperti yang saya tulis di atasnya, film Darlings memberikan gambaran yang cukup akurat tentang apa yang dialami oleh para korban KDRT dalam hal ini adalah perempuan. Para korban KDRT ini mendapat kekerasan namun nyatanya bisa memaafkan pelaku KDRT tersebut entah karena sudah terbiasa dengan kekerasan yang dialaminya atau memang masih cinta. Di lain pihak orang-orang di sekitar mereka sebenarnya mengetahui hal kekerasan ini namun tidak berbuat apa-apa karena tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga orang.

Beberapa pakar ataupun influencer sendiri juga sudah mengungkapkan pendapatnya terkait korban KDRT yang memaafkan pasangannya. Dalam sebuah hubungan yang toksik dan mengandung KDRT di dalamnya, korban menjalani sebuah hubungan yang sangat kusut sehingga sangat sulit untuk bisa keluar dari hubungan tersebut. Selain itu terdapat beberapa faktor lain juga yang menjadi pertimbangan seperti anak, finansial dan juga harapan agar pasangan bisa berubah.

Peran Lingkungan: Diam atau Peduli?

Lalu bagaimana dengan lingkungan sekitar yang cenderung tak mau mencampuri kasus KDRT ini? Jujur saya sendiri juga bingung ya. Bahkan jika saya berada di posisi tetangga dari kasus KDRT mungkin juga tidak bisa langsung ikut membantu korban karena merasa bukan urusan rumah tangga.

Namun tentunya alangkah bagusnya jika kita memiliki lingkungan dan tetangga yang peduli bukan hanya dalam bentuk bergosip di belakang namun mau membantu saat tetangga lain dalam kesulitan terutama kasus KDRT ini.  

Penutup

Kasus KDRT bukan sekadar berita yang datang dan pergi. Di baliknya, ada luka, ketakutan, dan dilema yang tidak selalu bisa dipahami oleh orang luar. Melalui film Darlings, kita diingatkan bahwa keluar dari hubungan yang tidak sehat bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan keberanian, dukungan, dan waktu yang tidak sebentar.

Karena itu, alih-alih menghakimi keputusan korban, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah empati. Sebab setiap orang memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat dari luar. Semoga tulisan ini bisa memberikan sudut pandang baru dan membuat kita lebih bijak dalam menyikapi kasus serupa di sekitar kita.

Kalau kamu suka cerita tentang hubungan yang realistis dan penuh emosi, kamu juga bisa lanjut baca review film Marriage Story—kisah tentang pernikahan yang berada di titik paling rapuh dan keputusan sulit yang harus diambil.



Baca Juga

Posting Komentar

8 Komentar

  1. Wawasan tentang KDRT emang harus disebarkan lewat film gini juga ya mbak. Biar makin banyak yang tertarik buat nonton dan akhirnya bisa meningkatkan kesadaran tentang KDRT.

    BalasHapus
  2. Sedih sih lihat korban KDRT itu. Kadang lingkungan juga diam saja dengan alasan itu urusan rumah tangga yang bersangkutan. Semoga makin banyak orang yang lebih peduli

    BalasHapus
  3. Berbicara tentang KDRT ini always bikin daku mules Mbak, ada banyak kasus kepada perempuan dan memang tak mudah melaporkan hal ini. Semoga semua perempuan paham bahwa ia harus segera lapor ketika mengalami kdrt.

    BalasHapus
  4. Memang, bahasan KDRT ini seolah gak ada habisnya ya, Mbak. Kalau dari segi undang-undang, pihak lain (orang luar seperti tetangga, teman, dll) ternyata bisa juga melaporkan KDRT ini karena kategorinya sebagai delik aduan.

    BalasHapus
  5. Perempuan memang dikaruniai hati yang lemah, Mbak. Kadang timbul rasa benci teramat sangat, tapi pada akhirnya, dengan alasan anak-anak, banyak yang akhirnya memilih berdamai kembali.

    Masalahnya adalah, kalau gak terulang lagi sih gak papa. Yang ditakutkan itu kalau sampai terulang, bahkan anak-anak sampai melihatnya. *sedihhh

    BalasHapus
  6. Kalau bahas tentang KDRT rasanya gak ada ujungnya ya. Meski sudah banyak sosialisasi tentang KDRT tapi kok ya malah makin banyak pula korban yang berjatuhan prihal KDRT ini :(

    BalasHapus
  7. KDRT memang nggak bisa dianggap sepele. Hal itu menunjukkan kondisi pasangan yang tidak sehat dan tidak baik untuk menjadi contoh anak. Bagus jika isu KDRT ini diangkat dalam cerita film, supaya banyak orang tahu bahwa KDRT bukan hal yang wajar

    BalasHapus
  8. Inginnya menolong ya mbak ketika melihat kasus KDRT di depan mata. Sedih banget sekarang makin banyak kita mendengar kasus KDRT melalui media sosial

    BalasHapus