Beri Aku Cerita yang Tak Biasa, Bagaimana Menuliskan Sebuah Budaya dalam Cerita Fiksi




Setiap kali seseorang berkenalan dengan saya, biasanya kening mereka akan berkerut saat mendengar saya menyebutkan nama. "Antung? Unik ya, namanya. Artinya apa?" begitu biasaya pertanyaan yang keluar dari mulut mereka. Saya hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan tersebut. Memang nama Antung bukan nama yang umum digunakan oleh banyak orang terutama yang menjadi generasi saya, sehingga pastinya akan melahirkan sebuah pertanyaan.

"Itu nama gelar orang Banjar," jawab saya pendek.

"Oh, sama kayak Gusti, ya?" lawan bicara bertanya lagi sambil menyebutkan sebuah nama yang memang lebih dikenal sebagai sebutan untuk keturunan bangsawan di daerah saya. 

"Iya. Seperti itu," jawab saya lagi. 

"Wah keturunan raja Banjar dong, ya?" tanyanya lagi. 

Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan ini. Jujur meski menyandang nama yang katanya merupakan keturunan darah biru Kalimantan Selatan, saya tidak tahu banyak tentang sejarah dari nama saya ini. Yang saya tahu, nama Antung dan Gusti ini memang diwariskan oleh almarhum kakek saya kepada anak-anaknya dan kemudian anak-anak beliau juga melakukan hal yang sama pada keturunan mereka. 

Hmm, jika saja saya cukup punya data dan sumber cerita, pasti akan sangat menarik jika perihal nama saya ini dijadikan sebuah cerita fiksi. 

Menulis Fiksi Budaya, Sulitkah?



Menuliskan sebuah cerita fiksi dengan latar budaya menurut saya bukanlah hal yang mudah. Bagi saya yang terbiasa membaca dan menulis cerita fiksi dengan genre populer, fiksi dengan latar budaya merupakan salah satu genre yang paling rumit diselesaikan setelah fiksi dengan latar sejarah. Jika saat menulis fiksi dengan latar populer saya bisa dengan mudah membuat karakter dan setting ala perkotaan, maka saat menulis fiksi dengan latar budaya mau tak mau saya harus melakukan berbagai riset bahkan mungkin wawancara dengan para nara sumber.

Jum'at, 7 Oktober 2022 yang lalu saya mengikuti webinar yang diadakan oleh komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis dan juga komunitas Elang Nuswantara. Webinar yang berjudul "Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa" ini menghadirkan Mbak Widyanti Yuliandari dan Mbak Kirana Kejora sebagai nara sumber serta juga salah satu penulis dari buku "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa" yang merupakan kumpulan karya tulisan dari Elang Biru, sebutan untuk para penulis di buku ini. Acaranya sendiri dimoderatori oleh Mbak Novarty, blogger yang juga merupakan salah satu penulis di buku tersebut. 

Pada sesi pertama webinar, diisi oleh Mbak Widyanti Yuliandari yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi para blogger. Beliau adalah ketua dari Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis yang selalu melakukan berbagai gebrakan dalam program-programnya untuk komunitas IIDN. Komunitas ini memiliki banyak sekali anggota dengan berbagai latar belakang profesi kepenulisan. Dengan visi memajukan perempuan Indonesia melalui dunia menulis, Mbak Wid bersama timnya kerap mengadakan kegiatan berupa sharing kepenulisan, kelas-kelas menulis baik yang gratis ataupun berbayar  hingga partnership dengan berbagai lembaga (kementerian, NGO) dalam bentuk penulisan buku, event blogger hingga juga kompetisi blog. 

Dalam paparannya pada webinar malam itu, Mbak Wid membagikan pengalamannya sebagai salah satu kontributor dalam buku "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa." Sebagai seorang penulis yang lebih banyak menulis genre non fiksi, Mbak Wid menceritakan 3 alasan mengapa beliau tertarik untuk turut serta dalam penulisan buku "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa," ini. Alasan pertama yakni atas dasar panggilan untuk menulis budaya dengan cara yang berbeda. Alasan kedua, karena tema budaya adalah tema yang sangat menarik untuk diangkat dalam cerita. Hal ini seiring dengan visi IIDN untuk mengangkat tema-tema penting dan menarik ke dalam bentuk tulisan seperti tentang kesehatan mental yang dulu juga pernah dilakukan oleh IIDN.  

Alasan terakhir dari hadirnya buku "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa" adalah untuk membawa pesan penting terkait warisan budaya kita yang pastinya sangat beragam mengingat banyaknya suku di Indonesia. Jadi bisa dibilang, kehadiran buku "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa" ini adalah sebagai cara untuk mensyukuri, menjaga dan turut merayakan budaya luhur nuswantara. Dalam buku ini sendiri, Mbak Wid menuliskan cerita berjudul Dari Taneyan Lanjang Menuju Wageningen yang mengambil setting kota kelahiran beliau dan pastinya membuat saya cukup penasaran.

Menulis fiksi sendiri merupakan tantangan tersendiri bagi Mbak Wid yang memang lebih banyak menulis non fiksi. Memang ada sedikit perbedaan saat kita menulis cerita fiksi dan non fiksi. Saat menulis cerita fiksi, seorang penulis perlu memikirkan alur dan plot tulisannya agar bisa menjadi sebuah cerita yang menarik. Sementara saat menulis sebuah karya non fiksi, seorang penulis harus bisa mengolah data dan informasi sebaik mungkin agar bisa diterima dengan baik oleh pembacanya tanpa perlu memikirkan plot dan alur cerita. 

Untuk itu, Mbak Wid membagikan beberapa tips bagaimana beliau berhasil menyelesaikan cerita Dari Taneyan Lanjang Menuju Wageningen. Beberapa tips yang diberikan bagi mereka yang ingin memulai menulis fiksi tersebut antara lain:

Banyak membaca karya fiksi dari berbagai penulis yang baik

Hal pertama yang dilakukan bagi seorang yang baru memulai menulis fiksi adalah dengan membaca banyak referensi fiksi. Dengan membaca banyak referensi ini akan sangat membantu kita dalam belajar membuat fiksi entah dengan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) atau metode lain yang biasa digunakan saat belajar menulis. 

Lepaskan ekspektasi

Dalam hal ini maksudnya adalah lepaskan ketakutan-ketakutan yang hadir dalam proses menulis fiksi. Sebagai penulis fiksi pemula, target yang dicapai adalah tulisan bisa selesai bukan tulisan yang sempurna. Sebab jika mengejar kesempurnaan mungkin tulisan itu tidak akan bisa selesai. "Tulisan yang selesai itu lebih baik ketimbang tulisan yang sempurna," begitu kata Mbak Wid.  

Gunakan setting yang mudah dibayangkan

Tips ke tiga adalah gunakan setting yang mudah dibayangkan. Kita bisa menggunakan latar kota tempat tinggal sendiri yang pastinya sudah sangat familiar dengan keseharian kita. 

Gunakan bantuan video, foto, rekaman suara

Menggunakan bantuan seperti video, foto dan rekaman suara akan sangat membantu dalam proses penulisan fiksi yang menggunakan latar kota yang belum pernah kita kunjungi. Apalagi saat ini ada banyak sekali video dan referensi di internet yang bisa digunakan untuk menggambarkan setting suatu daerah.

Jangan lupa memohon bantuan Allah

Tips terakhir agar tulisan fiksi kita bisa selesai adalah memohon bantuan kepada Sang Pencipta. Saat sudah buntu dan putus asa dengan tulisan yang tak selesai sementara deadline sudah di depan mata, maka 

Tips membuat tulisan yang filmis dari Mbak Kirana Kejora



Setelah mendengarkan cerita seru dari Mbak Widyanti Yuliandari, sesi ke dua dari Webinar diisi oleh Mbak Kirana Kejora, seorang writerpreneur, penulis buku-buku best seller yang sudah diangkat ke layar lebar yakni  "Ayah Menyayangi Tiada Akhir" dan "Air Mata Terakhir Bunda". Beliau merupakan pendiri komunitas Elang Nuswantara yang tahun ini menerbitkan 3 buku salah satunya adalah buku antologi "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa" sekaligus produser film. 

Sebagai seorang penulis, tentunya Mbak Kirana Kejora memiliki banyak sekali ilmu yang dibagikan terutama dalam hal membuat tulisan yang filmis. Sebelum memberikan tips tentang bagaimana menghasilkan sebuah tulisan yang filmis dan menarik, Mbak Kirana yang juga dipanggil Buk' e menekankan pentingnya melakukan riset sebelum menulis sebuah karya fiksi. Karena karya fiksi bukan semata karya mengkhayal namun juga diperlukan riset yang mendalam. Bahkan para penulis besar seperti Dan Brown juga melakukan banyak riset untuk novel-novel bestseller-nya.

Tulisan disebut filmis sendiri artinya kalimat yang ada dalam tulisan kita bergambar layaknya menonton film. Untuk bisa menghasilkan cerita yang filmis ini, setidaknya ada 4 unsur agar tulisan yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Possible atau masuk akal. Sebuah cerita haruslah dibuat masuk akal karena itulah dalam menuliskan cerita fiksi penulis juga harus punya data
  • Suspense, ada unsur yang menggetarkan tapi tidak selalu horor
  • Surprise, ada unsur kejutan. Surprise ini bisa berupa plot twist yang membuat pembaca terkejut saat mengetahuinya
  • Melibatkan unsur cerita keluarga, cinta, religi dan juga satir yang disukai banyak orang
Nah, selain 4 unsur untuk menghasilkan tulisan yang filmis, Mbak Kirana juga membagikan formula untuk memulai sebuah tulisan agar kita bisa menyelesaikannya, yakni: 
  1. Tentukan premis, yakni satu kalimat inti dari cerita, misalnya cinta yang tak selesai
  2. Membuat logline , yakni paragraf yang menggambarkan keseluruhan isi cerita. Selain contoh loglibe untuk cinta yang tak selesai adalah "Tentang Beti gadis Makasar yang dijodohkan dengan Beni tapi kandas" 
  3. Membuat sinopsis yang merupakan perpanjangan dari logline 
  4. Menyusun outline yang menjadi panduan kita dalam menyelesaikan alur dan plot cerita kita
  5. Melakukan riset mulai dari setting cerita hingga juga riset pasar dan post produksi setelah cerita selesai dibuat
  6. Membuka tulisan dengan kalimat yang menggetarkan dan menggiring pembaca untuk melanjutkan ceritanya
  7. Jika tulisan sudah berhasil diselesaikan, kita bisa mulai mempromosikannya dengan membuat book trailer atau book teaser menarik perhatian pembaca
Tips terakhir yang diberikan Mbak Kirana Kejora untuk menghasilkan tulisan yang filmis adalah dengan menonton banyak film sebagai referensi dan pastinya bisa menjadi bahan pembelajaran kita dalam membuat alur dan plot dalam cerita yang ditulis.

Sharing bersama salah satu penulis buku

Sesi ke tiga webinar diisi dengan wawancara dengan salah satu penulis di buku Beri Aku Cerita yang Tak Biasa yakni Rahmi Aziz (Rahmi C. Manti) yang menulis cerita berjudul Mappasikarawa Ati. Istilah Mappasikarawa Ati merupakan salah satu budaya Bugis dalam proses tahap-tahap pernikahan di mana puncaknya adalah pertemuan pertama mempelai laki-laki dan perempuan setelah menikah dengan berbagai prosesi yang ada di dalamnya. 

Salah satu prosesi yang dilakukan pada Mappasikarawa Ati adalah saat mempelai pria menyentuh beberapa bagian tubuh istrinya seperti menggenggam jemari hingga juga mencium ubun-ubun istrinya. Prosesi ini sendiri merupakan simbol dari bagaimana laki-laki bisa menggenggam hati istrinya dalam menjalani pernikahan seumur hidup. Proses di mana pertemuan suami istri dalam prinsip-prinsip yang dipegang bersama yakni kejujuran antara suami dan istri terkait kondisi masing-masing. 

Untuk bisa menuliskan cerita tentang prosesi adat seperti ini tentunya bukan hal yang mudah karena seiring perkembangan zaman mungkin sudah mulai banyak yang meninggalkan prosesi adat pernikahan. Untuk bisa mendapatkan data dan informasi yang tepat terkait tema yang diangkatnya, Mbak Rahmi melakukan serangkaian wawancara dengan dengan para sesepuh di keluarganya yang pastinya lebih banyak mengetahui tentang adat dan prosesi pernikahan suku Bugis. Selain harus melakukan riset, tantangan lain dari menulis fiksi ini adalah bagaimana cara menyajikan konflik dan mengemasnya agar pesannya tersampaikan dengan baik. Hmm jadi penasaran nih saya dengan cerita yang diangkat oleh Mbak Rahmi ini.

Mbak Rahmi sendiri saat ditanya alasannya memilh jalur fiksi karena alur fiksi adalah cara yang mudah untuk menyampaikan pesan karena lebih ringan dan tak membuat kening berkerut. Sedangkan bagaimana tips agar menarik orang untuk membeli buku kita, Mbak Rahmi menyebutkan bahwa beliau berusaha memperbaiki niat menulisnya untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan selalu menjaga silaturahmi dan komunikasi dengan teman-temannya. 

Demikian sedikit ilmu yang bisa saya bagikan seputar webinar "Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa" ini. Semoga bisa memberikan manfaat bagi teman-teman sekalian. Oya, jika teman-teman penasaran dengan kegiatan yang dilakukan Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis dan Elang Nuswantara bisa kepoin akun instagram mereka di @ibuibudoyannulis dan @elangnuswantara, ya!
 



Baca Juga
Reactions

Post a Comment

14 Comments

  1. Saya juga kemarin ikutan webinarnya. Topiknya seru dan saya mendapat wawasan baru tentang kepenulisan non fiksi.

    ReplyDelete
  2. Nah, terjawab sudah nama Antung diartikel ini. Ooo ternyata ooo ternyata, gelar bangsawan untuk orang Banjar salah satunya nama itu ya, Mbak. Anyway webinar kemarin itu aku juga duduk manis menyaksikannya juga lo. Memang bener sih Mbak cerita fiksi itu sulit - sulit gampang *eh gimana. Ilmu berdagingnya dibagikan di sini, kudu nonton nih di youtube komunitas ibu-ibu doyan nulis yang kemarin belum nonton

    ReplyDelete
  3. Antologi Beri Aku Cerita yang Tak Biasa ini memang sebuah adikarya ya mbak
    Menuliskan cerita budaya yang menarik untuk dinikmati

    ReplyDelete
  4. Yesss, setuju banget sama metode ATM, memang caranya ya harus banyak-banyak membaca karena biar terserap dan mengadaptasikan dengan gaya bercerita kita sendiri

    ReplyDelete
  5. Kita jadi paham bagaimana mengemas sebuah cerita Filmis dalam bingkai yang berbeda. Bagaimana membuatnya menyentuh jiwa.

    ReplyDelete
  6. Luar biasa sekali IIDN mau down to the earth, mengangkat budaya ke dal sebuah cerita yang apik

    ReplyDelete
  7. Masyaa Allah, baru tau sy antung itu gelar bnjar, tiap derah kayak.y punya nama gelar bangswang masing, uni bnget. Btw bgus tips.y, dulusuka nulis fikitp sekrang udh jarang

    ReplyDelete
  8. Aseliikk seruuu bgt nih acara dan program IIDN.
    Selalu bikin banggaaa

    ReplyDelete
  9. aduuuh kemarin telat ikut acara ini, ehhh dapat cuplikan bahkan semangkok ilmu dari mbak, terima kasih mbaaak

    ReplyDelete
  10. Iya waktu baca nama blognya Antung langsung tahu Karena ini identik dengan nama keturunan raja berdarah biru Banjarmasin ya kak.

    ReplyDelete
  11. Uniknya nama kak Antung ternyata orang Banjar.
    Senang menyelami budaya Indonesia melalui sebuah buku "Beri Aku Cerita yang Tak Biasa". Karena menonton teaser booknya dalam bentuk videonya, bikin aku merinding, terpukau akan kekayaan bangsa ini...

    ReplyDelete
  12. Bener juga yaaa pendapat Mba Rahmi Azis, melalui fiksi kisah akan tersampaikan secara ringan. Runut ada alur ceritanya, yang baca pun jadi terikat utk membaca sampai selesai.

    ReplyDelete
  13. IIDN kalau punya gawe memang luar biasa. Itulah kenaa saya selalu gak pernah mau ketinggalan wvent antologinya. Keren pemaparannya mvak

    ReplyDelete
  14. Mbak, aku baru tahu arti nama Antung di nama lengkapmu:) Setuju jika saat menulis fiksi dengan latar budaya mau tak mau kita harus melakukan berbagai riset bahkan mungkin wawancara dengan para narasumber yang kompeten dengan temanya

    ReplyDelete