Cinta Pertama, Kedua & Ketiga merupakan sebuah film keluarga yang bercerita tentang kehidupan anak-anak yang harus mengurus orang tuanya. Di masa di mana orang-orang berteriak tentang sandwich generation dan bagaimana seseorang harusnya mempersiapkan hari tuanya, film ini hadir seolah mengingatkan kita tentang kasih sayang orang tua pada anak dan juga sebaliknya.

Film ini merupakan karya ke-dua Gina S. Noer sebagai sutradara setelah sebelumnya sukses dengan film Dua Garis Biru yang sempat memicu kontroversi dulu. Dibintangi oleh aktor kawakan Slamet Raharjo dan Ira Wibowo serta Angga Yunanda dan Putri "Kinan" Marino yang aktingnya tak perlu diragukan lagi. Bagaimana kisah lengkap dari film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga ini. Berikut review lengkapmya:


Review film Cinta Pertama, Kedua &Ketiga

review film cinta pertama, kedua & ketiga

 

Raja adalah putra bungsu dari Pak Dewa, seorang pensiunan pegawai BUMN. Di usianya yang menginjak 25 tahun, Raja belum menemukan pekerjaan yang benar-benar menjamin kehidupannya. Menjadi sopir taksi online saat ini adalah caranya untuk menjemput rezeki karena pekerjaan tersebut lebih fleksibel dibanding pekerjaan kantoran.

Ada satu alasan besar mengapa Raja memilih tak menjadi pekerja kantoran. Dua kakak perempuannya, Ratu dan Suri sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Sementara Raja yang masih lajang pada akhirnya ketiban tanggung jawab merawat ayahnya yang pernah kena stroke dan nenek yang menderita demensia. Sebuah kondisi yang double combo. Inilah alasannya mengapa Raja hanya bisa menjalankan pekerjaan yang tidak mengikatnya secara waktu.
 
Di sisi dunia yang lain, hiduplah sepasang ibu beranak, Linda dan Asia. Linda merupakan seorang penyintas kanker payudara yang berprofesi sebagai guru dansa. Sementara Asia, gadis berusia 28 tahun ini memilih menjadi dancer sebagai sumber penghasilanya. Kadang Asia juga membuka kelas menari secara online. Sayangnya dengan pekerjaan yang dilakoninya ini, Asia tetap kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya bersama sang ibu. Kondisi yang membuat Asia harus berhutang ke sana ke mari untuk menyambung hidup ia dan ibunya.
 
Takdir kemudian mempertemukan Bu Linda dan Pak Dewa di Rumah Sakit tempat mereka memeriksakan kesehatan. Begitu juga Asia dan Raja. Pak Dewa kemudian memutuskan untuk mengikuti kelas dansa yang diampu dioleh Bu Linda. Kehadiran Bu Linda dalam hidup Pak Dewa berhasil mengisi kekosongan hidupnya setelah ditinggal sang istri selama puluhan tahun. Hal yang sama juga dirasakan oleh Bu Linda yang meninggalkan suaminya saat Asia masih kecil. Pada akhirnya, Pak Dewa dan Bu Linda pun memutuskan untuk menikah.
 
Terjalinnya hubungan antara orang tua masing-masing mau tak mau membuat Asia dan Raja juga menjadi dekat satu sama lain. Apalagi jarak usia mereka juga tak terlalu jauh. Raja 25 tahun, Asia 28 tahun. Hubungan yang awalnya hanya sebagai anak dari orang tua masing-masing, kemudian menjadi saudara tiri kemudian berkembang menjadi perasaan cinta antara keduanya. 

Di lain pihak, masalah mulai muncul ketika Pak Dewa kemudian didiagnosa demensia, penyakit yang kita semua tahu secara perlahan menghapus ingatan pemiliknya dan juga kemampuan motoriknya. Tak ingin anak-anaknya terbebani dengan penyakitnya ini, Pak Dewa memutuskan untuk pindah ke panti jompo bersama dengan Bu Linda. 
 
Raja sendiri kemudian mendapat tawaran pekerjaan yang lebih menjanjikan namun mengharuskannya untuk bekerja di kantor cabang selama 3 tahun. Sebagai sosok yang kini menjadi kepala rumah tangga, Raja merasa bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga termasuk membayar hutang Asia. Sayangnya keputusan ini ditentang keras oleh Asia yang sebenarnya tidak ingin berpisah dari ibunya. Apakah akhirnya Raja akan benar-benar mengambil tawaran tersebut?   


Pesan yang disampaikan film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga

Saat menonton film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga ini, jujur pikiran saya langsung melayang ke sosok adik bungsu saya. Kahfi, adik laki-laki saya itu kini berusia 25 tahun dan tinggal berdua saja dengan ibu saya karena kami kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. Kondisi Raja dalam film ini bisa dibilang 11-12 dengan kondisi adik saya. Meski ibu saya masih terbilang aktif, adik saya tidak bisa bekerja jauh karena harus menjaga ibu saya yang sempat sakit hipertiroid dan mengalami patah kaki karena kecelakaan.  
 
Sebagai seorang penonton, saya melihat Gina S. Noer ingin menyampaikan pesan tentang merawat orang tua lewat film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga. Lewat karakter Raja dan Asia kita bisa melihat bagaimana rasa cinta pada orang tua membuat kita bisa mengalahkan ego diri sendiri. Berat pastinya terutama jika seorang anak ingin mengepakkan sayapnya. Orang tua sendiri juga bukannya ingin mengekang anak dengan kondisinya. Mereka sebenarnya juga menginginkan anaknya bisa terbang tinggi menggapai impiannya. Seperti Pak Dewa yang terus mendorong Raja untuk bekerja kantoran dan Linda yang berharap Asia bisa mewujudkan impiannya.

Menemani dan merawat orang tua sendiri sempat menjadi kisah yang viral saat sebuah surat dari sebuah Panti Jompo muncul di dunia maya. Surat tersebut berisikan pernyataan seorang anak untuk menyerahkan ibunya untuk diurus oleh Panti Jompo bahkan hingga ke pemakamannya. Setelah viral dan dikomentari sana sini, baru ketahuan kalau surat yang diposting tersebut merupakan salah satu upaya Panti Jompo dalam mendapatkan bantuan. Di lain pihak, ibu yang dititipkan ke Panti Jompo ternyata juga termasuk dalam kategori orang tua yang bermasalah.
 
Perkara merawat dan menemani orang tua di masa senja saat ini memang menjadi sebuah topik yang cukup sering dibicarakan generasi millenial. Kita sebagai bangsa Asia memang memiliki semacam tradisi kalau anak seharusnya merawat orang tuanya sendiri. Sementara di belahan bumi barat sana, orang tua malah terlihat mandiri secara finansial dan ada juga yang tinggal di panti jompo dengan fasilitas yang mumpuni.

Berbeda dengan merawat anak, bisa dibilang merawat orang tua memiliki kesulitannya tersendiri. Saat kita merawat anak yang masih tidak bisa apa-apa, pipis sembarangan dan kerap merepotkan kita mungkin akan maklum dan secara berusaha menahan diri. Namun bayangkan jika yang diurus adalah orang tua, maka lelah yang dirasa bisa menjadi 2 kali lipat karena yang harus kita hadapi adalah orang dewasa yang keras kepala dan kalau kita salah perlakuan jatuhnya malah bisa dibilang durhaka.
 
Dalam agama Islam sendiri, birrul walidain atau berbuat baik kepada orang tua merupakan salah satu hal yang diperintahkan Allah secara langsung kepada umatnya. Ini bisa dilihat pada beberapa ayat dalam al qur'an yang menyebutkan perintah berbuat baik kepada orang tua seperti QS. An Nisaa : 36, QS. Al An'am : 151 serta QS. Al Isra : 23. Tentunya ada banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan dari birrul walidain ini salah satunya adalah mendapat ridho Allah SWT.   
 
Sebagai sebuah film keluarga, Cinta Pertama, Kedua & Ketiga ini menurut saya pribadi merupakan film yang sangat menarik untuk ditonton. Di tengah isu sandwich generation dan cerita tentang orang tua toxic yang saat ini sangat digembar-gemborkan, kita seolah diingatkan kembali bahwa orang tua sejatinya adalah salah satu sumber kebahagiaan kita.
Baca Juga