Cara Mengelola Uang THR bagi Ibu Bekerja agar Keuangan Keluarga Tetap Stabil


Cara Mengelola Uang THR bagi Ibu Bekerja agar Keuangan Keluarga Tetap Stabil


Bagi seorang ibu bekerja, Ramadan sering kali menjadi momen yang cukup menantang dalam mengatur keuangan keluarga. Di satu sisi ada berbagai kebutuhan yang meningkat menjelang Lebaran, sementara di sisi lain kita tetap harus memastikan kondisi keuangan keluarga tetap aman.

Memasuki pertengahan Ramadan, biasanya ada satu hal yang paling ditunggu oleh mereka yang berstatus pekerja, termasuk saya tentunya. Ya, itu adalah THR atau Tunjangan Hari Raya yang biasanya dibagikan oleh perusahaan kepada karyawannya. 

Besaran dari THR untuk karyawan ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 di mana untuk karyawan yang sudah memasuki masa kerja minimal 12 bulan berhak menerima THR sebesar satu kali gaji. 
 
Di perusahaan tempat saya bekerja sendiri, THR alhamdulillah sudah dibagikan sejak awal Maret lalu. Tentunya ini adalah sebuah rezeki yang patut disyukuri semua karyawan mengingat banyaknya pengeluaran di bulan Ramadan. Apalagi jika karyawan yang bekerja ini berstatus perantau, uang THR pastinya akan sangat membantu dalam urusan mudik mereka.

Saat ini sendiri posisi saya adalah ibu bekerja dengan suami yang memiliki usaha di rumah setelah berhenti bekerja saat Covid-19 tahun 2020 lalu. Secara otomatis, maka uang THR di rumah hanya dari saya. Dari situ kadang muncul sebuah pertanyaan sederhana: apakah uang THR ini menjadi milik saya sendiri atau sebaiknya dibagikan kepada suami?

Ketika THR Berasal dari Istri, Bagaimana Sebaiknya Mengelolanya?

Sebagai "manajer keuangan" di rumah, saya memiliki tugas mengelola berbagai pengeluaran keluarga. Mulai dari kebutuhan rumah tangga sehari-hari, kebutuhan anak, hingga berbagai keperluan lainnya. Uang yang saya kelola biasanya berasal dari gaji saya sendiri serta penghasilan dari usaha suami yang juga diserahkan kepada saya untuk diatur penggunaannya.

Lalu bagaimana dengan bonus dan THR? 

Sebagai wanita pekerja saya memang mendapat kelebihan dengan adanya bonus dan THR dari perusahaan. Di tahun-tahun ke belakang, penghasilan dari bonus dan THR lebih banyak saya simpan dan digunakan sebagian untuk beberapa keperluan besar seperti memperbaiki mobil ataupun rumah, keperluan anak sekolah, hingga persiapan liburan. 

Di awal tahun 2026 ini, kami memutuskan untuk melakukan renovasi dapur dan kamar mandi yang memang sudah cukup lama direncanakan. Renovasi ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, sebagian besar uang THR yang saya terima tahun ini kemungkinan besar akan ikut terserap untuk membantu menutupi biaya renovasi tersebut.

Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini mungkin terlihat tidak adil. Bukankah seharusnya sebagai istri saya berhak menikmati uang hasil kerja saya sendiri? Tidakkah seharusnya suami yang berkewajiban memenuhi kebutuhan rumah tangga? Apalagi ketika kita melihat bagaimana di media sosial begitu banyak istri yang mengeluh karena suami tak memberikan cukup uang THR pada mereka. 

Di sinilah pada akhirnya saya bersyukur bahwa saya memiliki penghasilan sendiri, termasuk THR yang bisa saya kelola tanpa campur tangan suami. Dan dari sinilah akhirnya keputusan menggunakan uang THR untuk keperluan keluarga ini berasal. 

Mengapa THR Penting bagi Keuangan Keluarga

Bagi saya pribadi dan mungkin sebagian orang lainnya, THR bukan sekadar tambahan penghasilan menjelang Lebaran. Lebih dari itu, THR adalah salah satu bentuk rezeki yang datang di waktu yang tepat. Di tengah berbagai kebutuhan Ramadan dan Lebaran yang menguras kantong, kehadirannya sering kali membantu meringankan beban pengeluaran keluarga.

Selain itu yang terpenting bukan hanya soal siapa yang menerima THR tersebut, tetapi bagaimana kita mengelola rezeki itu dengan bijak agar benar-benar membawa manfaat bagi keluarga.

Tips Menggunakan Uang THR bagi Ibu Bekerja



Mengelola uang THR bagi ibu bekerja sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mengelola gaji atau uang bulanan rumah tangga. Keduanya sama-sama perlu dialokasikan dengan sebaik mungkin. Apalagi seperti yang kita ketahui, di bulan Ramadan pengeluaran cukup besar jika dibandingkan dengan pengeluaran bulan lainnya. Bahkan tak sedikit kasus di mana setelah Ramadan berakhir, kondisi keuangan dan uang THR yang dimiliki sudah habis sementara gaji berikutnya masih belum masuk rekening.

Agar hal tersebut tidak terjadi, ada beberapa tips sederhana dalam mengelola uang THR. Tips yang saya berikan ini sendiri adalah tips untuk kondisi keluarga yang tidak memiliki rencana mudik, sehingga alokasi THR lebih banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan persiapan setelah Lebaran.

1. Buat Rencana Pengeluaran 

Berhubung THR adalah pendapatan di luar gaji, maka dalam pengelolaannya sebaiknya kita membuat rencana alokasi dari THR tersebut. Rencana pengeluaran ini tidak harus dibuat detail. Yang penting kita sudah memiliki gambaran mengenai kebutuhan apa saja yang ingin dipenuhi menggunakan uang THR.

Apakah itu untuk persiapan mudik, beli baju Lebaran, berbagi angpau, hingga mungkin memenuhi kebutuhan pokok keluarga. 

2. Memprioritaskan Kebutuhan Keluarga 

Menjelang Lebaran, biasanya kebutuhan keluarga meningkat. Harga barang pokok yang merayap naik hingga berbagai keperluan Lebaran termasuk mudik biasanya cukup menguras kantong di masa akhir Ramadan. Karena itulah uang THR juga sebaiknya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama bulan Ramadan. 

3. Gunakan untuk Kebutuhan Besar Rumah Tangga 

Selain digunakan untuk mencukupi kebutuhan pokok, uang THR juga bisa dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan besar rumah tangga. Seperti yang saya lakukan tahun ini, sebagian uang THR saya gunakan untuk menambah biaya renovasi rumah yang pastinya memakan biaya yang besar. 

4. Sisihkan untuk Investasi

Jika memungkinkan, sebaiknya sebagian uang THR tetap disisihkan untuk investasi atau tabungan masa depan. Dengan cara ini, uang THR tidak habis begitu saja dan masih bisa memberikan manfaat di masa mendatang.

5. Persiapan Dana Darurat setelah Lebaran

Dari beberapa pengalaman, biasanya kondisi keuangan setelah Lebaran itu benar-benar menipis. Dan ironisnya, kadang tanggal gajian pun masih jauh di kalender. Karena itulah, ada baiknya sebagian uang THR disisihkan sebagai dana cadangan agar kondisi keuangan keluarga tetap aman setelah Ramadan berakhir.


Contoh Tabel Alokasi Pengeluaran THR

Agar lebih mudah mengatur pengeluaran, kita juga bisa membuat gambaran alokasi penggunaan THR seperti pada tabel berikut.

KebutuhanPersentaseContoh Penggunaan
Kebutuhan Lebaran30%Belanja bahan makanan, kue Lebaran
Kebutuhan keluarga25%Baju anak, kebutuhan rumah tangga
Tabungan / Investasi20%Tabungan keluarga atau investasi
Renovasi / kebutuhan besar15%Perbaikan rumah, kendaraan
Dana cadangan10%Persiapan setelah Lebaran
 

Penutup

Sebagai sebuah penghasilan yang didapat dari luar gaji bulanan, kadang kita merasa uang THR adalah kesempatan untuk berfoya-foya dan berbelanja lebih banyak. Padahal sejatinya, sama seperti gaji bulanan, uang THR juga perlu dikelola dengan baik sehingga bisa bermanfaat bagi keluarga.

Bagi saya pribadi, THR yang saya terima bukan sekadar tambahan penghasilan menjelang Lebaran. Lebih dari itu, THR adalah salah satu bentuk rezeki yang patut disyukuri. Karena itulah, meskipun THR berasal dari pekerjaan saya, pada akhirnya uang tersebut tetap menjadi bagian dari rezeki keluarga yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan bersama.

Dengan perencanaan yang tepat, uang THR tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran, tetapi juga bisa membantu menjaga kondisi keuangan keluarga setelah Lebaran berakhir.

Bagi teman-teman yang ingin mengatur pengeluaran selama bulan puasa dengan lebih bijak, kalian juga bisa membaca artikel saya tentang cara mengatur pengeluaran selama Ramadan agar keuangan tetap stabil hingga akhir bulan.

Kalau teman-teman sendiri, biasanya uang THR digunakan untuk apa saja? Apakah lebih banyak untuk kebutuhan Lebaran, tabungan, atau justru untuk kebutuhan besar keluarga? Yuk berbagi cerita di kolom komentar.

Baca Juga

Posting Komentar

24 Komentar

  1. Alhamdulillah, sudah cair di awal Maret. Jadi bisa ikuti alokasi seperti di tabel ya.
    Tabelnya sangat bermanfaat.
    Kepake banget buat nggak kalap, dan tetap belanjakan THR ikut kebutuhan sesuai skala prioritas.
    Salam akhir pekan dari Gili Trawangan 😊

    BalasHapus
  2. Renovasi yg dikira sedikit kalau gak paham hitungnya tahu-tahu membengkak. Ini bener banget. Apalagi kl pas dibongkar kerusakan lebih parah dari yang diperkirakan. Alhamdulullah ada uang THR sebagai penyelamat ya mbak

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah dapat THRnya double dong Mba Antung kalau ibu bekerja, dari kantor dan dari suami. Wkwk.. Tapiii justru itu yang sering bikin kalap ya, tau-tau rasanya pengen beli ini itu padahal sebelumnya nggak butuh-butuh amat *eh itu mah saya. Hehe..

    Memang bener banget, THR harus diatur sedemikian rupa supaya keuangan keluarga tetap stabil 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha jadi belanjanya implusif ya mbak dan ya bener ini jadi bahaya. Ujungnya numpuk barang nggak perlu dan kalau sampe parah banget bisa jadi hoarding disorder. Emang harus tepat banget pengelolaan THR ini sih.

      Hapus
  4. Setuju Mbak Ayan, THR memang diprioritaskan untuk kebutuhan keluarga. Misalnya buat renov rumah atau nambah biaya sekolah. THR jangan dihambur-hamburkan untuk shopping barang yang gak jelas, pas butuh yang malah nangis.

    BalasHapus
  5. Aku tahun ini pun lumayan ngerem banget si dalam pengeluaran untuk THR. Untungnya kemarin sempet ada beberapa cipratan rezeki dari blog ya, macem lomba atau project berbayar, jadi lumayan nambahin saldo menyambut lebaran. Tapi sekarang, ikat pinggang kudu dikuatin lagi.
    Meskipun gak pake itung2an kayak di atas, tapi sejujurnya untuk pengeluaran mah aku hati-hatiiiii banget. Gak berani sama sekali buat bersikap impulsif, karena takutnya mendadak uangnya abis, gak bersisa.

    Bunga rampai muncul di bantaran
    Airnya bening hilang kala siang hari
    Jangan sampai setelah usai lebaran
    Dompet dan rekening kembali fitri

    BalasHapus
  6. Persentase ini bisa dikuti nih dalam penerapannya. Apalagi untuk yang sudah berumah tangga, agar proporsi mengelola THR ini bisa berjalan dengan semestinya, dan terutama juga konsisten

    BalasHapus
  7. Suami bulan ini dapat THR dan bonus tahunan. Krn sama2 maret.

    Jadi kemarin pas THR masuk, itu memang untuk kebutuhan lebaran, mulai dr bayar asisten, THR anak dan keponakan, thr papa mama, beli hampers utk teman2. Bisa dibilang habis utk keperluan lebaran.

    Tp untungnya bonus tahunan juga masuk di Maret. Jadi bonus tahunan ini yg aku gunain utk investasi, kebetulan saham sedang bergejolak , jadi memilih utk masuk kesana buat invest. Mumpung turun.

    Seandainya bonus dan THR ga masuk di bulan yg sama, kemungkinan besar THR memang aku pakai utk keperluan lebaran aja mba. Tidak utk nabung. JD yg tabungan dan investasi memang hanya dr bonus dan THR natal di December.

    BalasHapus
  8. Namanya juga sudah berkeluarga ya, Kak. Sejauh suami naik bertanggung jawab. Dalam artian sudah berupaya sedaya upaya ya nggak ada salahnya sebagai istri membantu hal yang bisa dibantu. Benar nggak, Kak?

    BalasHapus
  9. Kalau uang THR dikelola dengan baik insyaAllah bisa di pos kan dengan bijak, ya dan pastinya berkah untuk semua keluarga, apalagi ini uang THR dari istri, pastinya akan menjadi pahala sedekah jika itu bisa dinikmati oleh anggota keluarga juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mas Yonal. Selama THR bisa dikelola baik, bisa mencukupi kebutuhan juga. Malah jadi bonus. Jadi pengelolaan THR itu memang perlu dibagi², biar nggak kalap pas menjelang lebaran untuk beli² baju baru saja. In this economy, kalau nggak terkelola dengan baik dana THR jadinya terbuang sia². 🥲

      Hapus
  10. Alhamdulillah soal THR tahun ini menurut saya lebih menyenangkan ya, Mbak. Pertama THR Berdekatan dengan gajian. Baim yang gajian di akhir bulan atau di awal bulan. terus ini mau akhir bulan dan awla bulan lagi. Jadi gajian lagi hehehe.
    namun tantangan dan godaan terbesar adalah pas hari raya. Bagaimana bersemangat mmempersiapkan hari lebaran, termasuk mudik. Jadi tanpa terasa pengeluaran banyak, dan THR pun ikut terpakai. Jadi sejak awla memang harus disisipkan, bahkan sudah direncanakan jauh-jauh hari THR akan digunakan untuk apa. Dan keren Mbak Antung uang THR tahun ini akan digunakan untuk renovasi dapur. Jadi uang THR akan kelihatan hasil dan manfaatnya juga.

    BalasHapus
  11. Relate banget sama isi tulisannya—apalagi buat ibu bekerja yang tiap Lebaran pasti punya “banyak peran” sekaligus: ngatur kebutuhan rumah, bagi-bagi THR, tapi juga tetap mikirin kondisi keuangan setelah Lebaran 😄

    Aku setuju banget sama poin bahwa THR itu bukan sekadar “bonus buat dihabisin”, tapi justru harus dikelola dengan lebih sadar. Karena realitanya, tanpa perencanaan, uang THR itu memang sering banget cuma numpang lewat dan habis tanpa terasa

    BalasHapus
  12. Ketika masih menerima THR dari tempat bekerja. Aku di didik sama orangtua terutama Bapak untuk menabung uang THR sekitar 30-40% sisanya barulah aku bagi untuk kebutuhan Ramadan, buat amplop THR lebaran anak-anak kecil, tetangga, serta sanak-saudara.

    Jadi, sejak pertama Nerima THR, udah ada pos jelas. Dan tidak menganggap itu bonus, karena THR setiap tahun akan di peroleh dan angkanya jelas.
    .makasih sudah berbagi tips yang aplikatif buat mengelola THR, jadi nggak boncos dan tetap bisa menabung dengan uang THR.

    BalasHapus
  13. Aku juga selalu bikin anggaran untuk THR. Meskipun nggak berupa persentase. Pokoknya kalau nggak mudik harus dihemat-hemat, karena nantinya buat keperluan jalan-jalan jauh saat liburan kenaikan. Hahaha...

    Tapi kalau mudik ya hampir 80% terpakai untuk keperluan lebaran dan mudik.

    BalasHapus
  14. kalau daku, punya penghasilan bulanan, tapi enggak ada THR, karena freelance. Ngandalin THR dari suami, hahahaha. Kalau kami, yang ngelola THR ya suami, dan itu sudah ada rencananya untuk apa saja.

    BalasHapus
  15. Tunjangan hari raya adalah pemasukan yang sangat berarti tapi kadang-kadang penggunaannya suka tidak bijaksana karena penggunaannya yang berlebihan memang harus direncanakan dengan sebaik-baiknya supaya bisa bermanfaat dengan sebesar-besarnya

    BalasHapus
  16. THR sering kali jadi "uang kaget" yang habis sekejap kalau tidak dipandu dengan logika yang jernih, dan tulisan ini hadir sebagai pengingat yang sangat taktis.

    Seneng nih saat kak Ayana menekankan pentingnya skala prioritas—memisahkan antara kewajiban (seperti zakat dan salam tempel) dengan keinginan pribadi atau self-reward.

    Dan menarik sekali melihat poin penulis tentang pentingnya menyisihkan sebagian THR untuk dana darurat atau investasi pasca-Lebaran; sebuah strategi cerdas agar dompet tidak "kering kerontang" saat memasuki bulan Syawal nanti.

    Kelola THR dengan bijak, hati pun tenang saat silaturahmi deh tuh!

    BalasHapus
  17. Baca tulisan tentang THR rasanya jadi kangen pingin dpaat THR lagi hihi.. Sudah 3,5 tahun lebih kira-kira aku resign mba, jadi sudah 3 x lebaran nggak punya THR sendiri. Tapi alhamdulillah THR suami mencukupi..

    Bener banget kalau THR sebenarnya kayak gaji bulanan aja. Mesti tetep diatur pengeluarannya sesuai skala prioritas rumah tangga, ya. Dan pastinya mesti bijak juga. Kalau dihambur-hambur, apalagi buat beli-beli barang diskonan lebaran yang sebenernya bukan prioritas dan bukan kebutuhan juga, bisa-bisa uang THR melayang gitu aja.. Mesti nunggu setahun pun buat dapetinnya lagi hihi :)

    BalasHapus
  18. Rasanya bukan cuma buat ibu bekerja saja, IRT pun perlu banget buat ngatur keuangan alias uang THR biar nggak boncos setelah lebaran. Selain dipakai untuk berbagi rezeki pada sanak keluarga, saya juga mudik Mba. Jadi memang dari awal harus diatur dan disiapkan dananya biar cukup dan sampai defisit keuangan

    BalasHapus
  19. Sepakat mbak Antung, dengan perencanaan yang tepat THR tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan saat ramadhan dan lebaran saja, tetapi bisa juga digunakan untuk memenuhi lainnya, seperti investasi atau membayar utang serta dana darurat

    BalasHapus
  20. Daku pribadi kebetulan sudah lama gak dapet THR.. Jadi gak perlu pusing ngurusnya. Lebih ke pusing buat nyari buat nutupin kebutuhan hari raya.. tapi ini bisa banget dikeep buat finansial planner lainnya..

    BalasHapus
  21. Ka Antuuung.. suka banget sama infografisnyaa..
    Kekiniaan sekalii dan mudah dipahami.

    Bagiku yang juga ga punya THR karena suami wiraswasta, serasa kayaak pas anak-anak dapet THR dari utinya gitu yaa.. Rejeki dan in syaa Allah pemanfaatannya bisa untuk alokasi dana yang dibutuhkan dalam rumahtangga.

    BalasHapus