Setelah sempat menjalani masa tenang di akhir tahu 2021, di tahun 2022 ini lagi-lagi negara kita harus dipusingkan dengan kasus Corona. Kehadiran varian baru yakni Omicron begitu cepat menyebar seiring dengan dibukanya pintu ke luar negeri. Bahkan mungkin bisa dibilang varian Om Icron ini penularannya benar-benar cepat sehingga tidak bisa di-tracking lagi sumber penularan virus. Di perusahaan tempat saya bekerja sendiri juga ada beberapa karyawan yang harus menjalani isoman karena terdeteksi positif hasil tesnya. Hal ini kemudian membuat perusahaan kembali mengeluarkan kebijakan perubahan jam kerja bagi karyawan.  

Dengan semakin bertambahnya kasus Omricon ini, tentunya membuat kita lagi-lagi harus waspada. Protokol kesehatan hendaknya tetap dijalankan meski mungkin kita sudah bosan dan mungkin menganggap Corona sudah tak seberbahaya sebelumnya. Selain itu, kita juga bisa melindungi diri dan keluarga dari virus Corona ini dengan mengikuti program vaksin yang sudah dicanangkan pemerintah sejak tahun 2021 lalu.

Di awal tahun 2022 ini, alhamdulillah saya sudah mendapatkan jatah vaksin booster untuk virus Corona. Saya mendapat vaksin booster ini setelah mendapatkan 2 kali vaksin Sinovac di pertengahan tahun 2021(April dan Mei) lalu. Saat itu pemberian vaksin pertama dan ke dua dilakukan di kantor yang sudah bekerja sama dengan Puskesmas di wilayah kantor saya berada. Baik vaksin pertama maupun kedua saya tidak merasakan KIPI yang berat. Tidak ada demam atau rasa lapar yang mungkin dirasakan penerima vaksin lainnya. Terkait masalah KIPI ini memang berbeda-beda tergantung kondii tubuh penerima vaksin.

Kenapa harus vaksin?





Seperti yang kita tahu bersama, vaksin merupakan salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona di berbagai belahan dunia. Layaknya vaksin jenis lain, pemberian vaksin Corona bertujuan memberikan tubuh antibodi terhadap virus Corona sehingga saat virus tersebut menyeran tubuh kita sudah mengenalinya dan. Program vaksin juga memiliki tujuan menciptakan herd immunity yang Bisa membuat masyarakat terlindungi dari virus Corona. 
 
Program vaksin Corona sendiri di Indonesia dimulai sejak tahun 2021 lalu. Pemberian vaksin awalnya diberikan sebanyak 2 kali dan sekarang menjadi 3 kali dengan tambahan vaksin booster. Alasan kenapa harus dilakukan vaksin sampai berkali-kali ini adalah karena kekebalan tubuh menurun 6 bulan setelah pemberian vaksin. Di lain pihak virus Corona juga belum menunjukkan tanda-tanda akan menghilang di muka bumi. Yah, semoga saja varian virus ini tidak terus bertambah dan bisa ditangani agar kita semua tidak harus melakukan vaksin berulang-ulang.
 
Sayangnya seperti yang kita tahu hingga kini masih ada pihak yang tidak bersedia untuk diberi vaksin dengan berbagai alasan. Saya jadi ingat ketika awal mula vaksin didistribusikan di negara kita. Ada cukup banyak pihak yang menolak mengikuti kegiatan ini karena berbagai alasan. Ada yang bilang vaksin bisa mengakibatkan pembekuan darah, ada juga yang karena vaksin ini adalah barang baru yang disuntikkan ke tubuh kita dan belum ada yang tahu apakah vaksin ini benar-benar efektif. 

Belum lagi dengan kejadian KIPI yang cukup membuat masyarakat resah. Ada yang KIPI-nya cukup parah bahkan ada juga yang meninggal setelah menerima vaksin. Lalu alasan lain tentu saja adalah vaksin merupakan propaganda dan bagian dari konspirasi. Bahkan ada yang bilang vaksin itu kan virus Corona yang dilemahkan. Kalau begitu mending kena Corona aja sekalian. Hew. 

Pada akhirnya agar program vaksin ini bisa berjalan pemerintah menjadikan vaksin sebagai sebuah syarat untuk bisa ke luar kota dan pengurusan berbagai dokumen. Dengan begini, mereka yang menolak vaksin mau tidak mau harus melakukannya karena akan menghambat aktivitas mereka. Berdasarkan data pada 18 Februari 2022, total cakupan penerima vaksin Covid di Indonesia sudah mencapai 90, 95% untuk vaksin dosis pertama, 67,04% untuk vaksin kedua dan 3,94% untuk vaksin ke tiga.

Pelaksanaan Vaksin Booster



Selang 6 bulan setelah vaksin ke dua diberikan, saya mendapat notifikasi di aplikasi Peduli Lindungi terkait tiket untuk vaksin booster. Saya sendiri juga sudah menunggu-nunggu notifikasi ini karena adik saya bercerita kalau dirinya sudah mendapat vaksin booster beberapa minggu sebelumnya. Adik saya mendapat vaksin booster Astrazeneca dan saat saya tanya apakah dia mengalami KIPI katanya dia hanya mengalami pegal di lengan. 

Setelah mendapat notifikasi untuk vaksin booster, saya pun mencari info di mana kira-kira tempat yang mengadakan vaksin booster. Kebetulan ibu yang mengasuh anak saya merupakan kader Posyandu di tempat saya tinggal jadi saya bertanya padanya. Hanya selang beberapa hari, saya mendapat info dari ibu asuh Yafiq kalau pada hari Sabtu, 30 Januari 2022 akan diadakan vaksin gratis di lokasi waterboom dekat rumah. Tentunya saya tidak melewatkan kesempatan ini dong apalagi kegiatannya pas hari libur jadi kalau saya mengalami KIPI saya bisa istirahat di hari Ahad-nya.

Sebelum menerima vaksin booster, saya juga sempat bertanya kepada beberapa teman yang sudah menerima vaksin booster. Adik saya, seperti yang diceritakan di atas tidak mengalami KIPI yang parah meski menerima vaksin Astrazeneca yang berdasarkan cerita efek KIPI-nya termasuk berat. Ada juga teman sesama blogger yang menerima vaksin booster Pfizer dan katanya juga tidak mengalami efek KIPI yang berat. Hal ini meyakinkan saya untuk segera melakukan vaksin booster. 

Di hari H, saya berangkat menuju lokasi vaksin. Sebelumnya saya menitipkan anak-anak dulu agar tidak saat divaksin. Saat tiba di lokasi waterboom, saya diminta mengisi data terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk. Tidak banyak masyarakat yang berada di waterboom untuk vaksin. Mungkin karena saya datangnya sudah agak siang sehingga jumlah pengunjung sudah berkurang. Tanpa perlu mengantri lama, saya pun langsung menuju meja tempat pemberian vaksin dilakukan setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan tekanan darah. 

Sebelum melakukan perawat memberi tahu kalau vaksin yang akan diberikan kepada saya adalah vaksin Pfizer dengan ukuran setengah dosis. Berdasarkan surat edaran yang diterbitkan Kemenkes, dosis untuk pemberian vaksin booster ini hanya setengah dari dosis vaksin sebelumnya. Pemberian vaksin juga bisa dilakukan secara homolog yakni vaksin yang sama dengan 2 vaksin sebelumnya atau secara heterolog yakni vaksin booster yang diberikan berbeda dengan 2 vaksin sebelumnya.

Setelah menerima vaksin booster, saya bisa dibilang tidak mengalami KIPI. Padahal saya sudah jaga-jaga nih siapa tahu demam sepulang dari tempat vaksin. Nyatanya saya tidak mengalami demam atau gejala lain. Hanya saja lengan saya yang disuntikkan vaksin agak nyeri beberapa jam setelah vaksin diberikan dan berlangsung selama hari. Alhamdulillah setelah mendapat vaksin booster saya bisa beraktivitas normal seperti biasanya. 

Demikian sedikit cerita saya terkait vaksin booster Corona. Sekoga bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian!

Baca Juga