Sekitar tahun 2017, saya dan suami mengajak Yumna putri kami untuk mengunjungi kakek neneknya yang tinggal di Tangerang Selatan untuk pertama kalinya. Di usianya yang memasuki bulan ke tujuh, ini adalah pertama kalinya bagi anak saya melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat pula. 

Sebagai orang tua baru, tentunya kami harus mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Saya sendiri sebelum keberangkatan sudah mencari-cari informasi seputar membawa bayi naik pesawat. Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus dibawa, hingga tips agar bayi bisa nyaman dalam perjalanan. Selain itu saya dan suami juga beberapa kali melakukan perjalanan yang cukup sebagai pemanasan sebelum kami benar-benar berangkat nanti.

Persiapan Perjalanan dengan Bayi

Satu hari sebelum hari keberangkatan, kami mulai berkemas. Suami memasukkan pakaiannya ke dalam ransel kecil sementara pakaian saya dan Yumna diletakkan di satu koper travelling. Dalam koper tersebut, selain berisi pakaian saya dan Yumna, juga saya masukkan beberapa perlengkapan bayi seperti popok, pompa ASI dan beberapa perlengkapan MPASI seperti saringan kawat dan parutan keju. 

Selain tas koper, saya juga membawa sebuah tas jinjing berisi popok ganti, minyak telon, ASIP dan MPASI untuk anak saya dalam perjalanan nanti. Rencananya kami akan berada di tempat mertua selama 5 hari. Oh, ya selain membawa dua tas tersebut, saya juga menyewa sebuah stroller untuk memudahkan kami membawa Yumna saat berada di tempat kakek neneknya nanti.

Pengalaman Terbang dengan Bayi

Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 4 sore. Untuk perjalanan ini, saya terlebih dahulu melakukan check in online pada maskapai yang sudah saya pilih. Nah, berdasarkan saran yang saya dapat, jika membawa bayi sebaiknya pilihlah kursi bagian depan atau bagian belakang agar memudahkan akses keluar nanti. 

Saya sendiri awalnya memilih kursi bagian tengah karena saat check in kursi bagian depan sudah terisi. Eh saat check in lagi di bandara kursi saya dipindahkan ke depan oleh petugasnya. Jadi, kesimpulannya, ibu yang bawa bayi tidak boleh duduk di bagian tengah pesawat.

Saat pesawat akan take off, saya pun mulai mempraktikkan tips agar bayi tidak rewel saat pesawat akan terbang. Tips tersebut tak lain adalah menyusui bayi saat pesawat take off. Untuk yang satu ini saya sampai berlatih beberapa kali di rumah karena sejujurnya saya tak terbiasa menyusui di tempat umum dan kalau menyusui pun selalu disangga bantal. 

Nah, entah karena sudah kenyang atau karena tidak terbiasa menyusu di luar rumah ini, anak saya menolak disusui. Akhirnya sebagai alternatif saya dan suami memberinya buah potong untuk dikunyah saat pesawat mulai take off. Alhamdulillah selama perjalanan tersebut Yumna tidak rewel baik saat pesawat berangkat maupun mendarat.

Tantangan di Perjalanan Darat

Nah, setelah tantangan di pesawat terlewati, tantangan selanjutnya yang kami hadapi adalah macet. Heuheu. Jadi perjalanan dari bandara menuju rumah mertua di Pondok Cabe memakan waktu 3 jam lebih karena waktu itu belum ada jalan tol baru. 

Karena membawa bayi, kami putuskan untuk naik taksi online saja dengan biaya sekitar seratus lima puluh ribu plus biaya parkir dan tol. Alhamdulillah anak saya lumayan anteng di dalam mobil. Mungkin karena hari sudah malam dan anak saya sudah kelelahan, dia jadinya ketiduran di perjalanan.

Jika saat perjalanan berangkat anak saya super anteng, maka hal yang sebaliknya terjadi saat kami pulang ke Banjarmasin. Untuk perjalanan pulang ini, saya memilih penerbangan siang. Kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet dan ternyata malah tiba di bandara 3 jam sebelum pesawat berangkat. 

Kombinasi antara bosan dan mengantuk mungkin pada akhirnya membuat Yumna menjadi sedikit cerewet. Dia tidak menangis sih tapi maunya diajak jalan terus. Untungnya saya kemudian menemukan sebuah rest area yang terdapat di lantai 2 terminal 1 C (bandara lama). Sambil menunggu panggilan untuk pesawat saya pun menyusui dan menidurkan Yumna di tempat tersebut.



Tips Travelling dengan Bayi




Berkaca dari perjalanan saya kemarin, ada beberapa hal yang harus saya perhatikan saat mengajak bayi travelling, yakni:

1. Perhatikan jam tidur bayi

Anak saya termasuk yang rewel saat dia sudah mulai mengantuk. Dari perjalanan kemarin bisa saya simpulkan kalau dia akan lebih nyaman jika perjalanan dilakukan setelah jam tidurnya atau setelah tidurnya cukup. Beberapa artikel juga menyarankan sebaiknya perjalanan dilakukan pada jam tidur bayi agar bayi tidak rewel.

2. Pilih alat transportasi yang nyaman untuk bayi

Kalau saat travelling sendirian kita bisa dengan santainya memilih naik turun angkutan umum, maka saat membawa bayi saya jelas lebih memilih akomodasi yang lebih nyaman. Dan saya sangat bersyukur dengan keberadaan taksi online yang ada di kota-kota besar sekarang. Dengan menggunakan taksi online ini, saya bisa duduk dengan nyaman dan kalau anak saya lapar dia bisa menyusu dengan nyaman.

3. Pakai gendongan yang nyaman agar tidak capek

Meskipun sudah membawa stroller, tetap saja gendongan diperlukan saat mengajak bayi travelling. Saya pribadi hingga hari ini lebih nyaman menggunakan gendongan model SSC ketimbang gendongan jarik atau geos. Memang sih agak ribet pemasangannya dan tidak ringkas saat dibawa. Namun gendongan jenis ini membuat pembagian beban di bahu lebih merata sehingga mengurangi rasa pegal saat menggendong bayi.

Kesimpulan

Travelling dengan bayi memang membutuhkan persiapan ekstra, tetapi pengalaman pertama kami membawa Yumna sangat berkesan. Dengan persiapan matang, pemilihan transportasi yang tepat, dan tips praktis, perjalanan dengan bayi bisa tetap menyenangkan. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi para orang tua yang ingin membawa bayi mereka jalan-jalan.

Baca Juga