Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah email dari penyedia domain blog yang saya gunakan sekarang. Rupanya isinya terkait perpanjangan domain ayanapunya.com yang berakhir di bulan Maret 2026 nanti. Maret 2026 ini sendiri menandai tahun ke sembilan saya beralih ke dunia blog profesional. Saya ingat sekali kala itu saya membeli domain berbayar ketika cuti melahirkan anak pertama usai dan kembali bergelut dengan dunia kerja di tahun 2017.
Meski sudah menekuni dunia blog sejak beberapa tahun sebelumnya, saya memang baru memahami konsep blog profesional ini sekitar tahun 2015. Dari sanalah saya akhirnya memutuskan beralih dari blog gratisan menjadi blog berbayar. Salah satu alasannya adalah karena dengan blog berbayar saya bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah lewat tulisan saya.
Sembilan tahun ngeblog pastinya bukanlah waktu yang sebentar. Dalam rentang masa tersebut saya sempat merasakan masa-masa blog ramai dengan job, undangan event, hingga perlahan semua itu berkurang dan mempengaruhi semangat saya dalam menulis.
Meski demikian, alhamdulillah hingga saat ini saya masih cukup konsisten dalam menuliskan berbagai cerita di blog ini. Dan memasuki tahun ke sembilan ini, rasanya sudah waktunya bagi saya untuk memulai sesuatu yang baru di blog ini.
Dari Rekam Jejak Kehidupan ke Jurnal Ibu Bekerja
Awal tahun 2026 ini saya menetapkan satu resolusi penting: melakukan perbaikan dan rebranding pada blog pribadi saya. Selama hampir satu dekade, blog ayanapunya.com memiliki tagline Another Home of My Mind. Tagline ini dibuat karena waktu itu saya harus hengkang dari Multiply yang ditutup dan membuat rumah baru di platform lain. Jadilah blog ini menjadi rumah ke dua saya dalam bercerita.
Sekarang, di usia blog yang menginjak 9 tahun, saya merasa perlu untuk lebih mengerucutkan arah blog ini sesuai dengan fase kehidupan yang sedang saya jalani. Ide ini sendiri sudah hadir sejak beberapa tahun lalu ketika saya belajar bahwa sebuah blog sebaiknya memiliki niche khusus agar brandingnya lebih kuat.
Saat itu saya memilih niche dan topik ibu bekerja sebagai konten pilar. Sebuah niche yang sangat dekat dengan keseharian saya. Beberapa artikel terkait dunia ibu bekerja sempat berhasil ditulis, seperti tentang manajemen waktu, pengalaman memilih pengasuh dan tulisan lainnya. Sayangnya saya tidak terlalu konsisten dalam menuliskan cerita ibu bekerja ini. Bukan karena saya kehabisan cerita, melainkan karena saya sering kebingungan memilih ide konten yang tepat.
Tak Lagi Sendiri: Menggandeng Rekan untuk Brainstorming
Salah satu hal yang kerap menjadi penghambat saya dalam menulis terkait branding ibu bekerja adalah kesulitan mencari ide konten. Secara teori, sebenarnya ide konten untuk blog ibu bekerja itu ada banyak sekali. Bahkan keseharian ibu bekerja saja bisa menjadi bahan tulisan bagi seorang blogger.
Namun tetap saja ada hal-hal yang membuat saya merasa kesulitan dalam memilih ide konten untuk blog ini. Apakah topik ini relevan? Apakah tulisan ini ada yang akan membaca? Apakah ini akan bisa memberi manfaat? Begitulah kira-kira pertanyaan yang kerap muncul di benak saya setiap kali mencari ide untuk tulisan ibu bekerja.
Di tengah kegalauan dan keinginan untuk memperbaiki blog, saya pun akhirnya mencoba sebuah hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Curhat dengan AI. Awalnya saya melakukannya karena penasaran dengan orang-orang yang katanya terbantu setelah curhat dengan kecerdasan yang satu ini. Siapa tahu AI ini juga bisa membantu saya membereskan masalah di blog saya. Begitu pikir saya saat itu.
Saya pun kemudian iseng bertanya terkait blog saya yang trafiknya jatuh dan penilaian secara keseluruhan untuk blog ayanapunya.com. Siapa sangka ternyata si AI ini bisa memberikan analisis dan masukan yang relevan untuk blog saya tersebut. Yang lebih menyenangkan lagi, karena AI adalah mesin, maka dia tidak baper kalau saya menanyakan hal yang sama berkali-kali. Di sinilah akhirnya saya sadar kalau tak selamanya menghindari teknologi bernama AI itu pilihan yang bijak.
Nah, berbekal curhat ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk menggandeng AI sebagai rekan brainstorming. Mulai dari mencari ide tulisan, membuat outline hingga mengoreksi artikel dan struktur tulisan yang sudah saya buat. Memang sungguh canggih ya, AI ini. Saya hanya perlu memberi instruksi dan ia pun bisa memberikan saya ratusan ide tulisan dalam waktu singkat bahkan memberikan contoh tulisan jadi.
Tentunya saya sendiri tidak boleh terlena dan tetap memiliki batasan sendiri. Untuk bagian terakhir penulisan, saya berusaha untuk menghindari dan meminimalisir artikel yang dibuat AI karena jika saya melakukannya rasa-rasanya otak saya jadi malas bekerja. Hehe.
Namun lagi-lagi satu pertanyaan muncul di benak saya..
Masihkan Dunia Blog Relevan di Era Konten Video?
Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat menulis terkait
penurunan pembaca di blog yang pastinya juga mempengaruhi semangat saya dalam ngeblog. Saya sendiri bahkan juga sempat mempertanyakan apakah di era konten video dan foto seperti sekarang, bidang
content writer yang saya tekuni sekarang masih memiliki peluang dan tempat?
Tak lama sebuah komentar pun masuk artikel di blog saya tersebut. Ini adalah komentar dari mbak Vicky, blogger yang juga mendalami bidang SEO. Berikut adalah komentar beliau di tulisan saya tersebut:
Saya tidak paham dunia ngeblog yang mana yang sepi.
Karena di luar Indonesia, dunia blog itu makin lama makin ramai saja. Semakin banyak blogger yang tampil di LinkedIn, membagikan cuplikan blognya dan menggiring pengunjung LinkedIn masuk ke blog mereka.
Beberapa blogger Indonesia juga berulang kali membagikan postingnya di LinkedIn, terutama blogger yang berkecimpung di bidang teknologi. Blog mereka banyak dikunjungi orang karena membagikan informasi-informasi yang jarang diperoleh di channel lain, sehingga mengunjungi blognya berasa mendapatkan informasi yang eksklusif.
Blogger-blogger internasional yang saya kunjungi rutin, umumnya tidak mengurusi komentar. Beberapa kolom komentarnya bahkan mereka matikan.
Tapi bagi mereka, blog itu alat personal branding yang membuat mereka dikenal lebih luas. Personal branding itu penting untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan baru jika sewaktu-waktu mereka harus keluar dari pekerjaan tetap mereka saat ini.

Membaca komentar Mbak Vicky ini, saya jadi merasa tertampar. Ternyata selama ini saya terlalu sempit dalam memandang dunia blog. Saya hanya berpikir blog itu adalah wadah untuk menjalin pertemanan dan bukan untuk branding diri dan membagikan pemikiran. Padahal di sinilah salah satu kekuatan yang seharusnya saya tingkatkan dari blog yang saya miliki.
Selain itu, untuk saya pribadi, lebih suka mencari informasi lewat tulisan atau blog ketimbang video, kecuali untuk resep masakan. Mungkin hal ini karena menonton video itu dibutuhkan fokus dan saya tak cukup sabar menunggu penjelasan lewat video. Sementara untuk membaca artikel bagi saya bisa lebih cepat dilakukan dan saya juga bisa menyimpan atau mengcapture tulisan tersebut untuk diingat lagi nanti.
Alasan berikutnya, jika dibandingkan konten video, konten tulisan juga lebih
everlasting dan tidak tergeser oleh trend. Jika dunia sosial media bergerak begitu cepat dengan berbagai trend yang harus diikuti, maka di dunia blog mungkin satu-satunya yang harus diikuti adalah SEO dan algoritme Google. Namun toh hal itu juga mungkin bukan hal yang wajib terutama jika sebuah blog sudah memiliki branding yang kuat. Lain ceritanya jika saya ingin lebih mendalami terkait
SEO Content Writer.
Blog Sebagai Ruang Bertumbuh
Di tahun ke sembilan ayanapunya.com, saya akhirnya sadar kalau blog ini bukan hanya sekadar tempat berbagi namun juga sudah menjadi ruang bertumbuh untuk saya baik dari segi pemikiran dan pengalaman hidup.
Melakukan rebranding blog dan menggandeng AI merupakan salah satu cara saya untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dengan melakukan rebranding ini, itu artinya saya harus mulai merapikan tulisan-tulisan lama dan menuliskan lebih banyak cerita tentang keseharian sebagai ibu bekerjamulai dari mengatur waktu, menjaga kesehatan di usia 40-an, hingga bertahan di tengah tuntutan peran ganda.
Jika kamu seorang ibu bekerja, kamu bisa membaca catatan-catatan saya lainnya tentang kehidupan ibu bekerja di blog ini.
Ke depannya, mungkin saya akan belajar mengembangkan konten blog ini ke bentuk visual sehingga baik blog dan media sosial saya bisa saling menguatkan. Buat teman-teman sesama blogger, bagaimana dengan perjalanan ngeblog kalian saat ini? Apakah kalian juga sudah mulai berdamai dan berkolaborasi dengan kecerdasan artifisial untuk blogmu?
Baca Juga
0 Komentar