Satu hari, sepulang dari sekolahnya Yumna putri saya yang duduk di kelas 1 SD mendadak berkata,  "Ma, aku mau jualan. Nanti malam temani ya, bikinnya."

Mendengar ucapannya, saya bertanya, "Memang mau jualan apa?"

"Mystery Box. Aku sudah janjian sama teman katanya dia juga mau jualan besok." Saya hanya mengangguk-angguk mendengar perkataanya tersebut.

Sesuai dengan ucapannya, malam itu Yumna sudah sibuk berekreasi. Dengan menggunakan gunting dan kertas, putri saya itu mulai membuat beberapa mystery box. Ada yang diisi permen ada juga yang diisi stiker buatannya sendiri. Katanya akan dijual 1000 rupiah per mystery box. Dari situlah pengalaman anak SD belajar jualan ini benar-benar dimulai.

Keesokan harinya, di dalam kendaraan saat menjemputnya pulang sekolah, saya bertanya,"Gimana tadi jualannya?" 

"Laku dong. Tapi ada yang nggak laku," jawab Yumna dengan bangga.

"Jualan temannya gimana?" tanya saya lagi.

"Nggak jadi dia jualan," jawab Yumna lagi. 

Dan begitulah mulanya putri saya mulai belajar berjualan di kelasnya. Setelah berjualan mysteri box, Yumna juga sempat berjualan gelang manik-manik yang dibuatnya sendiri, berjualan penghapus hingga yang terakhir berjualan spinner yang dibelinya dari warung dekat rumah. 

Hal-hal yang Terjadi Ketika Anak SD Belajar Jualan

Sebagai seorang ibu, jujur awalnya saya tidak punya ekpektasi kalau putri sulung saya itu punya keberanian untuk jualan. Memang sih saya kerap memberi tahu dia kalau misalnya mau punya tambahan uang jajan mending jualan aja di kelas. 

Namun setelah saya ingat lagi awal mula Yumna jualan adalah karena ajakan dari teman sekelasnya untuk berjualan. Uniknya, di saat teman-temannya tidak berjualan Yumna tetap mencari ide barang apa lagi yang ingin dijualnya saat barang sebelumnya tidak ada yang membeli lagi.

Saya sendiri jujur tidak memiliki bakat atau keberanian untuk berjualan ini, terutama saat masih bersekolah untuk menambah uang jajan. Padahal sewaktu saya sekolah dulu ada juga beberapa teman yang dengan rajin mencari uang tambahan untuk jajannya. Ada yang jualan isi binder lucu yang memang hits di masa itu dan bahkan ada yang dengan kreatifnya membuat karakter yang dilaminating sendiri lalu dijual pada teman-teman sekelas.
 
Baru ketika saya kuliah saya berusaha mencari tambahan uang dengan bekerja menjadi penjaga rental komik. Lalu ketika bekerja di kantor lama saya sempat juga berjualan pulsa dan juga sweter yang akhirnya saya tinggalkan karena penjualan yang menurun. Padahal kalau misalnya saya teruskan sepertinya saya bisa membagikan ilmu dan pengalaman saya berjualan pada putri saya.

Kembali lagi pada Yumna yang belajar jualan, namanya masih anak-anak, tentu saja putri saya ini berjualan sesuka hatinya. Berikut adalah beberapa hal-hal unik, polos, sekaligus menggemaskan yang terjadi saat anak SD belajar jualan

1. Menentukan harga sesuai dengan kemampuan konsumen

Namanya anak-anak, mungkin belum terlalu paham dengan prinsip keuntungan dan HPP produk. Saat berjualan gelang manik-manik, dengan entengnya Yumna menjual gelang buatannya dengan harga Rp. 2000,- padahal kalau di pedagang gelang harga minimal gelang manik adalah 10 ribu rupiah. 

Saya berusaha membujuk Yumna untuk menaikkan harga jualnya dan dia akhirnya menaikkan harga menjadi Rp. 3.000,-. Saya sempat bertanya kenapa tidak dinaikkan harga gelangnya menjadi 5000 rupiah? "Soalnya uang saku anak SD nggak banyak," begitu jawab putri sulung saya itu kemudian.

2. Tidak mengerti harga modal dan keuntungan

Sebagai penjual cilik, Yumna juga tidak mengerti apa itu harga modal dan keuntungan yang harus didapat dari berjualan. Jadi satu ketika Yumna membeli mainan spinner di warung tetangga dan ketika teman sekolahnya melihat mainan tersebut, mereka ingin membeli juga. Nah, harga spinner ini sendiri di warung tetangga 2000 rupiah. Saya pun menyarankan agar Yumna menjual spinner tersebut seharga 3000 rupiah biar dapat untung seribu rupiah.

Sayangnya saran saya ini malah tidak didengarkan oleh Yumna dan dia tetap menjual spinner dengan harga 2000 rupiah. Waktu ditanya kenapa nggak dijual dengan harga 3000 rupiah, jawabannya, "Yang penting kan spinnernya sudah terjual dan dia dapat uang." Hedeh.

3. Sudah mengerti promo dan diskon

Nah, walau masih tidak mengerti harga modal dan keuntungan, ternyata Yumna mengerti yang namanya promo dan diskon untuk menarik pembeli. Hal ini diterapkannya saat berjualan di kelasnya. Misalnya untuk produk gelang dia beri harga diskon dari 3000 rupiah menjadi 2000 rupiah. Atau penghapus yang asalnya dijual 3500 rupiah didiskon menjadi 3000 rupiah saja. Tapi ya jadinya makin nggak untung jualannya dengan diskon begini. Hehe.
 

Manfaat Anak SD Belajar Berjualan

Setiap orang tua mungkin memiliki reaksi yang berbeda-beda ketika anaknya belajar berjualan entah itu di kelas atau di lingkungan lainnya. Ada yang mendukung atau bisa juga ada yang melarang dengan alasan tertentu seperti mengganggu waktu belajar anak. Kalau saya sendiri malah mendukung sekali ketika Yumna berkata ingin berjualan di sekolah. Apalagi sepertinya guru di kelasnya juga tidak mempermasalahkan siswa yang berjualan ini selama tidak mengganggu jam pelajaran.

Di lain pihak, mengizinkan anak berjualan sendiri juga memiliki banyak manfaat. Beberapa manfaat tersebut antara lain:

1. Mengenalkan anak pada dunia wirausaha

Kalau dilihat-lihat, anak-anak generasi sekarang merupakan generasi yang lebih cenderung bekerja untuk dirinya sendiri. Ini bisa dilihat dari berbagai profesi yang muncul di kalangan generasi Z seperti konten kreator hingga menjadi owner sebuah brand. 

Ini berbeda dengan generasi milenial seperti saya yang mungkin pola pikirnya masih menjadi karyawan dengan gaji tetap dan uang pensiun. Nah, sesuai dengan tuntutan zamannya ini, anak-anak juga tentunya penting sekali untuk dibekali kemampuan enterpreneur yang pastinya akan bermanfaat bagi mereka di masa depan.
 

2. Mengasah keberanian diri untuk mencoba hal baru

Tidak semua orang memiliki nyali yang besar untuk menawarkan produk kepada orang lain dengan risiko ditolak atau tidak laku. Hal inilah mungkin yang menjadi penghalang bagi saya dan orang-orang lain yang masih tidak berani untuk menjual produk kepada orang lain. Nah, ketika anak ternyata memiliki inisiatif untuk berjualan, tentunya ini adalah sebuah hal yang perlu diapresiasi karena artinya mereka memiliki keberanian untuk mencoba hal baru.

3. Mengasah kreativitas

Tak hanya untuk mengasah keberanian, mengizinkan anak untuk berjualan juga bisa membantu mengasah kreativitas mereka entah itu dalam proses pemilihan barang yang ingin dijual atau bahkan dengan membuat sendiri dagangan yang ingin dijual seperti yang dilakukan Yumna putri saya. Asah kreativitas ini juga berlaku saat anak mulai mencari ide dan strategi untuk menawarkan dagangannya agar bisa laku seperti memberikan bonus atau diskon pembelian barang.

4. Mengajarkan ilmu keuangan

Manfaat lain dari mengizinkan anak berjualan tentunya adalah bisa mengajarkan mereka ilmu keuangan. Lewat berjualan anak jadi belajar tentang bagaimana membeli barang dan menentukan harga modal serta keuntungan yang ingin didapat. Selanjutnya anak juga bisa diajarkan untuk mengelola pendapatan yang dihasilkannya tersebut dalam bentuk tabungan atau hal lainnya. 

Penutup

Melihat Yumna sibuk menghitung uang receh hasil jualannya, saya sering tersenyum sendiri. Saya tidak tahu apakah keberaniannya berjualan ini adalah bakat alami atau sekadar fase masa kecil.

Namun satu hal yang pasti, sebagai orang tua, dan sebagai ibu bekerja, saya merasa pengalaman kecil ini adalah bekal berharga. Bukan soal berapa rupiah yang ia dapat, tapi tentang keberanian mencoba, memahami nilai usaha, dan belajar dari pengalaman sejak dini.

Dan mungkin, pelajaran ini justru datang lebih cepat pada anak saya daripada pada saya sendiri.


Baca Juga