[Review Buku] Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner


Identitas Buku

Judul Buku : Rudy Kisah Masa Muda Sang Visioner
Penulis : Gina S. Noer
Tim riset : Amelya Oktavia & Diva Apresya
Penyunting : Arief Ash Shiddiq, Amelya Oktavia, Zen R.S
Perancang sampul : Teguh Pandirian
Pemeriksa aksara : Primanila Serny, Titish A. K & Devi Rahmi
Penata Aksara : sih_gagas
Digitalisasi : Rahmat Tsani H
Redaksi Plotpoint : Amelya Oktavia
Penerbit : Penerbit Bentang
Tahun terbit : 2015
Jumlah halaman : 266 halaman

Mengenal Sosok di Balik Buku

Sebagai presiden ke-3 Republik Indonesia, saya hanya mengetahui kisah kehidupan B. J. Habibie lewat film Habibie dan Ainun yang tayang beberapa tahun lalu yang lebih banyak menceritakan kehidupan Eyang Habibie setelah menikah dengan Ainun. 

Film kedua tentang Habibie, yang berjudul Rudy Habibie juga tak sempat saya tonton di bioskop. Padahal film kedua ini banyak menceritakan tentang perjuangan Eyang Habibie saat bersekolah di Jerman dahulu. Sementara untuk film terakhir lebih terfokus pada cerita ibu Ainun saat menyelesaikan pendidikan dokternya di Universitas Indonesia.

Beruntung kemudian saya menemukan buku biografi Eyang Habibie ini yang ditulis oleh Gina S. Noer berjudul Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner. Info tentang buku ini sendiri saya temukan saat mbak Herva membagikan link-nya di laman facebook. 

Berbekal handphone, saya pun mulai mencari buku ini di aplikasi baca buku digital. Alhamdulillah ternyata bukunya ada dan saya bisa membaca biografi Rudy Habibie bermodal kuota. Hehe.

Gambaran Isi Buku Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner

Buku Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner setebal 266 ini bercerita tentang kehidupan Eyang Habibie mulai dari masa kecilnya di Parepare, masa remaja di Bandung hingga kisah perjuangan beliau saat kuliah di Jerman. 

Yang menarik, sejak kecil beliau sudah banyak berinteraksi dengan orang-orang penting. Selain itu, buku ini juga memperlihatkan sisi lain Habibie—mulai dari sifat keras kepala hingga kisah-kisah kecil yang menghibur.

Tak kalah penting, buku ini menyoroti peran besar sang ibu, Tuti Marini, dalam membentuk karakter dan kesuksesan beliau.

Hal Menarik dari Buku Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner

Berikut beberapa hal yang ingin saya bagikan setelah membaca buku biografi Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner: 

1. Terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan

Selama bertahun-tahun, saya selalu mengira kalau B.J Habibie terlahir dari keluarga biasa nan sederhana di Sulawesi sana. Intinya from zero to hero-lah. Ternyata saya salah besar. Baharudin Jusuf Habibie atau yang biasa dipanggil Rudy merupakan anak dari salah satu pejabat pemerintahan di masa Belanda. 

Ayahnya Alwi Habibie adalah Kepala Dinas Pertanian Pare-Pare sementara ibunya Tuti Marini, meski berstatus ibu rumah tangga namun juga mengenyam pendidikan tinggi dan berasal dari keluarga priyayi sebelum menikah dengan Alwi Habibie. 

Karena terlahir dari keluarga berpendidikan ini membuat Rudy bisa memperoleh pendidikan yang baik juga. Tak hanya itu, keluarga ini juga sehari-hari terbiasa menggunakan Bahasa Belanda dalam percakapan hariannya. Mungkin inilah yang membuat cara berbicara Eyang Habibie agak unik.

2. Dari kecil sudah terlihat kritis dan suka belajar

Otak jenius dan kecintaan Rudy untuk belajar sudah terlihat sejak kecil. Jika saudara-saudaranya yang lain kerap menghabiskan waktu dengan bermain, maka Rudy lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca dan mempelajari berbagai hal. 

Rudy juga kerap mempertanyakan berbagai hal yang kemudian diberikan jawaban oleh ayahnya. Untuk mengakomodir rasa ingin tahunya yang sangat besar, Papi membelikan banyak buku untuk dibaca Rudy yang pastinya membuatnya semakin tenggelam dalam dunianya.

3. Ibu yang sangat disiplin dan menomorsatukan pendidikan

Tuti Marini, adalah ibu yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Semua anak-anaknya disekolahkan di sekolah terbaik. Bahkan ketika suaminya meninggal, Tuti bersumpah akan menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang tertinggi. Karena itu saat Rudy mengungkapkan keinginannya untuk kuliah di Jerman, Mami tanpa pikir panjang langsung menyetujuinya. 

Mami bahkan menggunakan uangnya sendiri untuk bisa mengantar Rudy ke Jerman. Untuk bisa membiayai sekolah anak-anaknya, Tuti menjual semua aset di Sulawesi dan membuka usaha kos-kosan di Bandung dan usaha jual beli berlian.

Tak hanya kepada anaknya, Mami juga sangat memperhatikan pendidikan para mahasiswa yang tinggal di indekos miliknya. Beliau dikenal sangat disiplin dalam urusan belajar bahkan menerapkan jam belajar dan jam malam yang cukup ketat. Tak hanya itu, untuk urusan makanan para anak kos juga mendapat jatah makan 3 kali sehari.

Sayangnya karena kondisinya sebagai orang tua tunggal, Mami lebih memprioritaskan anak laki-laki dalam hal pendidikan. Jika Rudy bisa sekolah hingga ke Jerman, maka anak-anak perempuan cukup sampai jenjang SMA saja. Mungkin ini sedikit tidak adil di mata orang-orang tapi Mami memastikan anak-anaknya dididik dengan baik sehingga semuanya tetap bisa sukses. 

4. Memiliki sifat keras kepala dan kadang tidak memikirkan perasaan orang lain

Sifat keras kepala Rudi mulai digambarkan sejak dia mulai berkuliah. Saat mengetahui sahabatnya dapat beasiswa ke Jerman, misalnya. Rudy ngotot ingin ke Jerman juga meski pendaftaran beasiswa sudah habis. Akhirnya dengan usahanya Rudy memang lulus ujian namun harus berangkat dengan biaya sendiri. 

Lalu saat berkuliah di Jerman, diceritakan bagaimana saat memperjuangkan Seminar Pembangunan, Rudi ngotot tak mau acara tersebut disisipi muatan politik yang membuatnya harus adu argumen dengan utusan dari Indonesia. 

Rudi juga kadang tak mempedulikan perasaan orang lain dan kurang berhati-hati dengan ucapannya. Saat memberikan tutor bagi beberapa mahasiswa Jerman, Rudy tak segan-segan memaki jika "muridnya" tak kunjung mengerti. 

5. Peran besar Mami dalam mempersatukan Habibie dan Ainun

Dalam film Habibie dan Ainun, tentunya kita bisa melihat bagaimana romansa yang dimiliki oleh Eyang Habibie dan Ibu Ainun. Namun ternyata untuk akhirnya bisa menikah dengan Ainun, ada peran besar mami Tuti Marini di dalamnya. 

Diceritakan bagaimana Mami yang resah karena mendapat kabar kalau di Jerman Rudy. bergaul dengan seorang gadis Polandia bernama Ilona. Tak ingin anaknya terikat dengan orang asing, saat mengunjungi Rudy yang sedang sakit di Jerman, Mami pun menemui Ilona dan tanpa basa-basi meminta Ilona menjauhi Rudy.

Tak cukup sampai di situ, Mami juga mulai berusaha mencari wanita yang tepat untuk bisa menemani Rudy di Jerman. Dan pilihan Mami adalah Ainun, putri dari keluarga Besari yang dikenal cantik dan pintar. Selain itu, Mami memilih Ainun karena melihat keluarga Besari memiliki nilai yang sama dalam mengasuh keluarga.

Mulanya Rudy tak memedulikan perjodohan yang diprakarsai ibunya ini karena di masa SMA dia pernah mengejek Ainun dengan sebutan "Gula Jawa." Namun setelah bertemu lagi, alangkah terkejutnya Rudy melihat Ainun yang kini menjadi wanita cantik. 

Selain itu ternyata Rudy juga menemukan kecocokan dan kesamaan visi dengan Ainun hingga tak perlu waktu lama baginya untuk memutuskan Ainun menjadi pelabuhan terakhir.

Kesimpulan

Buku Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner bukan hanya sekadar biografi, tetapi juga potret perjalanan hidup seorang tokoh besar sejak muda. Dari kisah ini, kita belajar bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh lingkungan, pendidikan, serta dukungan keluarga.

Sebagai pembaca, saya merasa buku ini memberikan banyak pelajaran berharga, terutama tentang pentingnya peran orang tua dalam membentuk masa depan anak. Buku ini sangat cocok bagi siapa saja yang mencari inspirasi tentang pendidikan, perjuangan hidup, dan mimpi besar.

Demikian sedikit review saya untuk buku biografi Rudy Habibie. Kamu juga bisa membaca review saya untuk buku Parent with No Property yang juga berkisah tentang usaha seorang ayah agar anaknya mendapat pendidikan terbaik. Semoga bermanfaat!

Baca Juga