Review Buku Filosofi Teras: Belajar Stoikisme dengan Bahasa Ringan

Review Buku Filosofi Teras: Belajar Stoikisme dengan Bahasa Ringan


Sejak mengunjungi perpustakaan kota Banjarmasin di tahun 2026 lalu, kini saya memiliki kebiasaan rutin ke sana untuk mencari berbagai buku pengembangan diri. Bisa dibilang koleksi buku pengembangan diri di Perpustakaan Kota Banjarmasin ini cukup update dan lengkap. 

Contohnya saja, saya menemukan buku tentang Ikigai yang selama ini memang sedang saya cari. Meski ini adalah buku lanjutan, tetap saja membacanya memberikan banyak pengetahuan baru untuk saya.

Setelah menuntaskan buku tentang Ikigai, perhatian saya kini tertuju pada buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang masuk dalam jajaran best seller di Indonesia. Tema yang diangkat penulis dalam buku ini adalah terkait filosofi Stoic yang berasal dari Yunani pada abad 3 SM.

Saya sendiri awalnya ragu untuk membaca buku ini mengingat tema yang dibahas dalam buku ini berbau filsafat. Sependek yang saya ketahui, bahasan filsafat itu biasanya cukup berat dan perlu waktu untuk mencernanya.

Namun, di lain pihak saya sendiri sudah pernah membaca tulisan Henry Manampiring dan cukup menikmati gaya menulis beliau. Akhirnya, saya pun memasukkan buku Filosofi Teras sebagai buku yang saya pinjam di Perpustakaan Kota Banjarmasin. 

Identitas Buku


review filosofi teras

Judul buku : Filosofi Teras
Penulis : Henry Manampiring
Editor : RBE Agung Nugroho
Ilustrator : Levina Lesmana
Layout Cover : Levina Lesmana
Layout Isi : Cindy Alif
Penerbit : Kompas
Jumlah Halaman : 352 halaman

Belajar Ilmu Stoik lewat Buku Filosofi Teras

Stoik merupakan filosofi yang berasal dari Yunani. Dalam sejarahnya, seorang pedagang bernama Zeno dari Siprus yang sedang berlayar harus menerima nasib kalau kapal yang ditumpanginya karam dan dirinya harus terdampar di Athena. Akhirnya selama berada di Athena, Zeno pun belajar berbagai ilmu filsafat dari berbagai filsuf di kota tersebut. 

Setelah mendapatkan banyak ilmu, Zeno kemudian mengajarkan filosofinya sendiri. Dalam pengajarannya, Zeno menggunakan sebuah teras berpilar yang dalam bahasa Yunani disebut Stoa. Dari sinilah kemudian muncul istilah Stoikisme. Penulis kemudian memilih kata “teras” untuk dijadikan judul bukunya yang membahas filsafat Stoikisme.

Henry Manampiring sendiri berkenalan dengan filosofi Stoik ini setelah dirinya didiagnosis mengalami depresi oleh psikater. Sebagai pribadi yang introvert, Henry kerap memiliki pikiran negatif akan banyak hal yang pada akhirnya berpengaruh pada kondisi psikologinya. Selain dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, Henry kemudian menemukan solusi lewat buku tentang Stoik yang dibacanya selama masa penyembuhan depresi.

Menurut penulis, filosofi Stoa memiliki tujuan untuk membantu manusia menjalani hidup dengan lebih tenang dan rasional, bebas dari emosi negatif dan juga mengasah kebajikan dalam hidup (kebijaksanaan, keadilan, keberanian, menahan diri).

Prinsip Dasar Filosofi Stoik

Dalam Stoikisme, ada satu aturan utama yang berlaku yang disebut dengan dikotomi kendali yang berbunyi. 
Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.

Hal-hal yang berada di bawah kendali kita diantaranya pendapat kita, keinginan kita, tujuan, dan juga segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri. Sementara itu, hal-hal yang berada di luar kendali kita meliputi tindakan orang lain, opini orang lain, peristiwa alam, kesehatan dan juga kekayaan atau rezeki.

Dengan prinsip dikotomi kendali ini, maka sepatutnya kita seharusnya fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan jangan memikirkan apa yang tidak bisa dikendalikan. Apalagi jika hal yang tidak bisa dikendalikan itu adalah kuasa sang Pencipta. Dengan mengesampingkan hal-hal yang berada di luar kendali, maka kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk memaksimalkan hal-hal yang bisa kita kendalikan. 

Selain dikotomi kendali, dalam buku ini Henry juga menambahkan satu teori lagi yang berasal dari William Irvine dalam bukunya A Guide to Good Life : The Ancient Art of Stoic Joy. Teori tambahan ini disebut juga trikonomi kendali yakni hal-hal yang sebagian bisa kita kendalikan. Dalam hal ini Irvine mengusulkan kalau sekolah, pekerjaan, perlombaan, hubungan dengan pasangan bisa dimasukkan dalam kategori "sebagian dalam kendali."

Contoh dari hal-hal yang sebagian bisa dikendalikan ini misalnya dalam urusan bisnis. Saat akan memulai sebuah ide bisnis, kita mungkin tidak tahu apakah bisnis ini akan sukses atau tidak karena hal itu berada di luar kendali kita. 

Namun tentunya kita tetap bisa mengusahakan agar bisnis berjalan baik dengan melakukan analisa SWOT sebelum memulai bisnis, membekali diri dengan berbagai tips memulai usaha hingga menerapkan manajemen yang baik terkait bisnis yang dijalankan. 

Langkah yang Perlu diambil Saat mengalami Emosi Negatif

Selain dikotomi kendali, Filosofi Stoik juga berkaitan erat dengan pengelolaan emosi. Dalam keseharian, tak jarang kita harus menjalani hari dengan emosi negatif. Ada banyak hal yang bisa memicu kehadiran emosi negatif ini yang biasanya hadir dari hal yang tidak bisa kita kendalikan. Beberapa contohnya seperti bangun kesiangan, kemacetan di jalan, cuaca yang buruk, omongan buruk orang lain, hingga kondisi politik yang kacau. 

Hadirnya emosi negatif secara tidak langsung juga bisa mempengaruhi bagaimana kita menjalani hari. Dalam buku ini, penulis menjabarkan beberapa langkah yang bisa diambil yang disingkat menjadi STAR yakni:

1. STOP (Berhenti)

Saat seseorang merasakan emosi negatif dalam dirinya, maka hal yang perlu dilakukan adalah berhenti sejenak. Saat mulai merasa takut, khawatir, marah, dan emosi negatif lainnya, kita bisa diam terlebih dahulu untuk meredam emosi yang muncul.

2. THINK & ASSESS (Dipikirkan dan dinilai)

Setelah menghentikan proses emosi, langkah yang dilakukan selanjutnya adalah berpikir secara rasional dan menilai apakah perasaan yang ada bisa dibenarkan atau tidak. 

Misal saat kita terkena macet, apakah marah-marah akan menjadi solusi? Tentu saja tidak, bukan?

3. RESPOND 

Setelah berhenti dan berpikir, langkah terakhir adalah menentukan respons yang akan diberikan, baik melalui ucapan maupun tindakan.

Karena sebelumnya sudah melalui proses berpikir, diharapkan respons yang diberikan pun menjadi lebih baik.


Mempersiapkan Diri Akan Hal Buruk

Selain prinsip akan dikotomi kendali, ilmu Stoik juga mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri akan hal buruk yang terjadi. Bahkan dalam ajaran Stoik, kita diajarkan untuk mengawali hari dengan membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi di hari itu apakah itu cuaca yang buruk, berhadapan dengan orang menyebalkan dan lain sebagainya.

Jika dilihat dari satu sisi, ajaran Stoik yang satu ini memang agak lain karena seolah mengajarkan kita untuk berpikiran negatif. Namun sebenarnya inti dari ajaran ini adalah melatih diri agar lebih siap menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.

Dengan begitu, saat hal buruk benar-benar terjadi, kita tidak terlalu kaget dan bisa lebih tenang dalam menghadapinya.


Stoik dan Praktik sebagai Orang Tua

Selain bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, ajaran Stoik juga bisa diterapkan dalam hal parenting. Sebagai orang tua, pastinya ada banyak kekhawatiran yang muncul di kepala kita yang berhubungan dengan perilaku hingga masa depan anak. Kita selalu berharap bisa membesarkan anak yang berperilaku baik dan kalau bisa juga sukses di masa depannya.

Dalam ajaran Stoik sendiri, ada beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak, mulai dari memahami dikotomi kendali, melatih kebijaksanaan, belajar bersosialisasi, hingga menghadapi kegagalan dan perlakuan buruk dari orang lain.

Selain itu, perlu diingat juga bahwa dalam parenting ada banyak hal yang tidak bisa dikontrol oleh orang tua. Alih-alih terus menyesali hal yang berada di luar kendali, akan lebih baik jika kita fokus melakukan hal terbaik pada apa yang masih bisa diusahakan.

Hal ini mengingatkan saya pada buku Parent with No Property yang juga membahas bagaimana orang tua bisa mempersiapkan anak menghadapi kehidupan lewat pola pikir, kebiasaan, dan nilai hidup, bukan sekadar materi.


Kesan Setelah Membaca Buku Filosofi Teras

Sebagai ibu bekerja, membaca buku Filosofi Teras ini pastinya memberikan wawasan dan pemahaman baru bagi saya. Meski bukan orang yang kerap overthinking, prinsip yang dipaparkan di buku ini semakin membuat saya lebih yakin untuk lebih berfokus pada diri sendiri ketimbang terus-menerus memandang hidup orang lain yang jauh dari kendali saya.

Menariknya lagi, ajaran Stoik dalam buku ini terasa selaras dengan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang Muslim, yakni tentang ikhtiar, menerima ketentuan hidup, dan bertawakal setelah berusaha semaksimal mungkin 

Buku Filosofi Teras sendiri ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami meski membahas filsafat. Henry Manampiring berhasil menjelaskan konsep Stoikisme dengan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami pembaca awam. Terdapat juga wawancara dengan beberapa tokoh dan orang-orang yang juga sudah menjalankan Stoikisme ini dalam hidup mereka yang bisa menjadi gambaran bagi pembaca. 

Bagi yang ingin belajar mengelola emosi, menghadapi kecemasan, atau menjalani hidup dengan lebih tenang, buku ini menurut saya layak untuk dibaca setidaknya sekali seumur hidup.

Baca Juga

Posting Komentar

40 Komentar

  1. Buku filosofi teras ini buku filsafat tapi bahasanya disampaikan dengan gaya ringan dan khas anak muda. makanya jadi banyak yang baca dan banyak yang suka. kalau berat-berat susah dapat banyak pembaca. Henry Manampiring memang keren kalau membuat buku. Tema berat bisa tersampaikan dengan bahasa ringan. Jadi mudah dimengerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya aku sepakat. Buku filosofi itu biasanya berat banget. Tetapi beda, Filosofi Teras lebih mudah di pahami dan teorinya sangat adaptif juga sama keseharian. Beneran deh, bisa diterapkan langsung dalam kehidupan.

      Sudah gitu dari cover bukunya pun menarik dan pemilihan warna nya juga bagus. Simple, tapi bikin orang tertarik baca.

      Hapus
  2. Prinsip Stoik ini sebaiknya dipelajari oleh semua pihak, ya.
    Terutama para Emak. karena Emak nih rajin "mengaum", jadi bisa belajar lebih mindfull, sabar, ridho, ikhlas, yang mana ini jelas nggak mudah.
    tapi insyaAllah bisa diperdalam lewat pendekatan Stoik.
    Mantaabb!

    BalasHapus
  3. Jika dalam ajaran Islam Stokism itu serupa dengan pengendalian diri /Sabar (STOP), Menerima apa yang sudah di takdirkan (THINK & ASSESS ), berikhtiar (respond)

    BalasHapus
  4. Baca ini memang agak mengerutkan kening sedikit
    Mungkin bahasanya terlalu tinggi buatku ya
    Karena saya lebih suka ke nyastra sebenarnya
    Namun, banyak hal yang saya bisa petik dari buku ini

    BalasHapus
  5. ajaran Stoikisme ini mungkin tidak familiar bagi beberapa orang tapi sebenarnya orang Indonesia sudah melakukannya Walaupun mungkin budaya berbeda dan memang sebaiknya orang tua belajar dan juga mempraktekkan langsung untuk keberlangsungan hidup keluarganya dan dengan buku ini harusnya bisa jadi sumber inspirasi dan tempat belajar juga soal filosofi ini

    BalasHapus
  6. Mungkin aku perlu baca buku ini juga yaaaa. Apalagi melihat kondisi negara yg sedang sakit stadium akhir , gara2 pemimpin yg suka asbun .... Stress banget, dan kesalnya memang aku ga bisa kendalikan itu semua, Krn di luar kemampuanku juga.

    Berarti coba belajar utk fokus dengan yg aku bisa aja ya mba..

    Cuma susaaah, Krn tiap baca berita, yg ada stress lagi 😭😭. Dan itu ngaruh Ama keputusan yg aku mau ambil utk hal2 di dalam kendaliku 😔.

    BalasHapus
  7. Kayaknya aku perlu baca jugaa buku ini, berasa ga tenang akhir-akhir ini. Thanks kaak udah bikin resensi bukunya, ada beberapa hal yang langsung bisa dipraktikan sebelum baca bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaya Kak, apalagi melihat keadaan sekarang, biar gak overthinking dan bisa lebih tenang mengendalikan emosi. Oke juga ini bukunya untuk dibaca

      Hapus
  8. Saya baru tahu ada ajaran Stoikisme, Mbak. Tapi dari uraian Mbak Antung, ternyata bagus ya. Jadi kita fokus saja dengan apa yang bisa kita kendalikan. Apalagi itu menyangkut diri kita. Yang paling tahu kemampuan kita, ya kita sendiri. Hal lain saya suka soal emosi negatif. Benar hal-hal sepele bisa membuat kita emosi, akhirnya mengganggu mood kita menjalani aktivitas sepanjang hari.

    BalasHapus
  9. Salah satu buku yang aku tandai untuk dibaca tahun iniii. Dan setelah saya baca-baca sedikit resensi dari mbak antung, kok rasa-rasanya sedikit banyak saya udah ada ilmu stoikisme ya 😂
    Abis kan hidup ini kadang lucu ya. Yang direncanainnya gimana, eeeh yang terjadinya gimana. Makanya aku pribadi sih sudah banyak melatih kesabaran, juga ketenangan kala menghadapi berbagai masalah hidup.
    Apalagi kita hidup di NKRI yang apa-apanya serba lucu 😭

    BalasHapus
  10. Pas kebetulan kemaren baca bagian tertentu dari buku filsafat, ternyata Stoa memang artinya teras depan rumah, Zeno pendiri Filsafat Stoa, seringkali berdiskusi dan mengajar dengan muridnya di teras depan rumahnya. Jadilah filosofi teras. Tapi emang jadi best seller pada akhirnya ya, penulisnya bisa membahasannya dalam bahasa yang relevan. Dan salah satu satu ajaran yang paling saya ingat adalah terkait dengan bagaimana emosi itu dilakukan melalui pengelolaan pikiran.

    BalasHapus
  11. Kak Antung memang tidak salah menjadikan perpustakaan kota Banjarmasin sebagai tempat berburu buku pengembangan diri, koleksinya ternyata sekeren itu.
    Awalnya diriku juga sempat mengira bahasan filsafat di buku ini akan terasa berat. Namun, lewat ulasan kakak, jadi makin penasaran bagaimana Henry Manampiring mengemas konsep dikotomi kendali dan metode STAR dengan bahasa yang ringan dan sangat dekat dengan keseharian kita.
    Sangat setuju, prinsip fokus pada apa yang bisa kita kendalikan itu benar-benar bikin hidup jauh lebih tenang.

    BalasHapus
  12. Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini emang rekomen banget sih kata aku pun. Soalnya aku baca oke juga.

    Banyak yang bisa diterapkan dalam keseharian, terutama terkait pengelolaan emosi. Pastinya buat Ibu bekerja pun akan super bermanfaat banget ini buku. Apalagi selesai dibaca langsung praktek ya Mba.

    Makanya nggak heran kalau buku ini best seller dan dengar-dengar mau di film kan? Sherina kalau nggak salah yang jadi salah satu pemerannya.

    BalasHapus
  13. Ya Ampy, baca review ini aku jadi nyadar
    Aku lho punya buku ini, tapi masih belum kubaca
    Parah, haha

    BalasHapus
  14. Salah satu kelebihan Henry Manampiring adalah dapat membahasakan filsafat yang terkenal berat menjadi bahasa ringan dan mudah dicerna oleh banyak kalangan, itu kenapa buku Filosofi Teras ini lumayan banyak yang suka karena banyak yang tak terlalu sadar kalau sedang membaca buku pembahasan mendalam tentang Stoikisme

    BalasHapus
  15. Salah satu pilihan buku filsafat yang enak dibaca karena ditulis dengan bahasa anak muda jadi lebih mudah mencernanya.

    BalasHapus
  16. Aku pernah baca buku ini tapi akhirnya nggak aku selesaikan. Entah kenapa waktu baca malah bikin aku overthinking hahaha...

    Padahal isinya menarik banget ya. Aku paling suka penjelasan tentang hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita.

    Aku jarang banget baca buku self improvement karena suka tertekan kalau gagal menerapkan dalam hidup. Kaya makin banyak PR yang harus aku perbaiki dan makin pusing 😅

    BalasHapus
  17. Salah satu buku terkeren juga versi ku nih. Banyak pelajaran hidup, khususnya tentang psikologi kehidupan yang bs kita pelajari bersama. Mulai dari cara bersosialisasi, cara berdamai dengan kegagalan hingga cara bertahan hidup dengan cara sederhana.

    Intinya kita bs belajar menjalani hidup dengan lebih tenang dan rasional, bebas dari emosi negatif dan juga mengasah kebajikan dalam hidup (kebijaksanaan, keadilan, keberanian, menahan diri).

    BalasHapus
  18. Obrolan tentang stoik ini keknya belakangan mengemuka yaa, terlebih saat banyak banget peristiwa di dunia yang bikin kita ngrasa OVT, anxiety, bahkan sebagian orang juga depresi karenanya hiks.
    Owh jadi buku ini termasuk bahan bacaan yang nggak berat2 banget walau isinya filsafat ya mbak? Kyknya aku tu curiga duluan gara2 covernya aku merasa kurang santai haha, jadi kupikir kek buku motivasi yang agak berat gitu.
    Mantul juga yaa, diajak kembali memahami soal bagaimana kita berpikir kalau situasi lagi baik maupun buruk, juga soal pengendalian emosi.Moga kapan2 bisa baca buku ini juga :D
    Thanks reviewnya.

    BalasHapus
  19. Saya itu kalau mendengar kata filsafat yang perta kali melintas di pikiran adalah “bahasannya pasti bikin pusing kepala”. Tapi setelah membaca review kak Antung saya jadi punya gambaran yang berbeda. Kalimat Kakak tentang parenting dan dikotomi kendali itu bener-bener bikin merenung. Sebagai orang tua, kita sering banget cemas berlebih soal masa depan anak, padahal hasil akhirnya kan di luar kendali kita kan ya? Tugas kita memang hanya fokus memberikan usaha dan nilai hidup terbaik. Terima kasih sudah berbagi, dan buku ini sepertinya harus jadi tambahan koleksi untuk Rumah Baca Cahaya Ilmu, soalya keren bangeet, semoga banyak yang ikut membaca.

    BalasHapus
  20. Sering merasa "bahaya" membaca buku filsafat.
    Tapi aku juga baca buku Filosofi Teras ((karena dapat kado dari sahabat blogger)).. suka sekaliii.. meski memang kudu banyak hal yang dipilah dan dipilih seperti yang ka Antung bilang.. bahwa dalam Islam terasa selaras.

    BalasHapus
  21. ini salah satu buku yang kuinginkan tapi belum kebeli, pinjam di Ipunas antrinya panjang banget, sepertinya memang harus beli sendiri deh supaya puas bacanya dan ga pakai antri

    BalasHapus
  22. Aku udah punya lama bukunya yang cover putih. Menarik banget belajar STOIK ini. Sederhana tapi ngena banget buat kehidupan sehari-hari. Bagian cara mengelola emosi juga relate, apalagi yang STOP–THINK–RESPOND itu, kayak diingatkan buat nggak reaktif. Yang menarik lagi pas dikaitkan ke parenting dan nilai hidup, jadi terasa lebih dekat dan bisa langsung dipraktikkan, nggak cuma teori doang.

    BalasHapus
  23. Filosofi Teras memang salah satu buku yang sering bikin orang merasa relate dengan isi dan cara penyampaiannya. Aku juga suka bagaimana konsep stoik dijelaskan dengan bahasa yang lebih ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari

    BalasHapus
  24. Membaca buku Filosofi Teras mengembalikan hidup kita yang kudunya mindful yaah..
    Seringkali kita terpengaruh akan cepatnya arus informasi dan ritme hidup.
    Lupa kalau segala sesuatu perlu hadir, dinikmati dan kemudian berpikir logis untuk respon yang kita berikan.

    BalasHapus
  25. Buku-buku yang mbak baca cukup familiar meskipun belum pernah saya baca. Saat ini banyak orang membutuhkan motivasi untuk menghadapi realitas hidup ini. Tidak semua orang kuat menghadapi hidup apalagi banyak distraksi yang memperburuk mental seseorang. Kalau tak cukup dengan buku obatnya bisa berdoa dan beribadah atau pergi ke ahlinya (psikiater)

    BalasHapus
  26. Sepertinya covernya baru, ya. Kayaknya anak saya punya buku ini, tapi covernya putih. Bagian penerapan Stoik dalam parenting itu bener-bener bikin merenung. Terkadang suka merasa overthinking dengan masa depan anak. Sepertinya saya mau baca buku ini, deh.

    BalasHapus
  27. Baca buku filsafat kayaknya berat banget ya, tapi dengan artikel ini jadi dapat gambaran tentang isi bukunya.

    BalasHapus
  28. Perlu baca soal Stoikisme di era tiktok dan semua yang serba instan seperti ini. Karena hidup tak selamanya serba cepat dan mudah, perlu ada balancing dalam hidup

    BalasHapus
  29. aku sering melihat buku ini di medsos tapi belum pernah membacanya. Kayaknya menarik banget! untuk pembelajaran hidup atau self development.

    BalasHapus
  30. Seru banget punya kebiasaan rutin ke perpustakaan seperti ini 😊 Apalagi kalau koleksi bukunya lengkap dan update, pasti jadi tempat yang nyaman untuk “kabur” sejenak sambil menambah wawasan. Menemukan buku yang memang sudah lama dicari itu rasanya juga selalu menyenangkan yaa 😄

    BalasHapus
  31. Asli, relate banget sama ulasannya, Kak! Buku ini emang penyelamat banget ya buat kaum-kaum yang suka overthinking kayak kita, haha. Konsep dikotomi kendalinya beneran ngebantu banget buat lebih santai ngejalani hidup.

    BalasHapus
  32. Buku yang mengajarkan bagaimana kita menyikapi segala hal dari point of view yang bijak. Saya sudah nonton semua sesi podcast dari penulis buku ini juga, inspiratif banget.

    BalasHapus
  33. Salah satu buku incaran aku ini. Terima kasih sudah review Kak! Jadi gak sabar buat beli bukunya

    BalasHapus
  34. Filosofi Teras memang tipe buku yang datangnya kayak teman baik—gak menggurui, tapi pelan-pelan bikin cara pandang kita berubah. Dan review ini berhasil bikin aku pengen baca ulang bukunya sambil merenungi hidup lagi.

    BalasHapus
  35. Waah bukunya dalem banget ya, Kak. Menarik sekali utk dibaca. Jadi pengen baca juga deh

    BalasHapus
  36. Bagus bukunya aku juga udah baca, waktu itu pada sesi signing book dengan mas Henry, beliau cerita dibalik beliau nulis buku ini yaitu karena banyak hal yang terjadi di dirinya.

    BalasHapus
  37. Sepertinya bukunya seru nih. Aku jarang banget baca buku filsafat. Mungkin belum apa-apa udah takut nanti kalau baca buku filsafat akan ngantuk. Ternyata banyak insight-nya yah...
    Terima kasih udah review bukunya.

    BalasHapus
  38. Reviewnya menarik banget, Kak! Jadi makin paham kenapa buku Filosofi Teras begitu banyak direkomendasikan. Cara penyampaiannya ringan dan mudah dipahami, bikin penasaran untuk ikut membacanya. Terima kasih sudah berbagi ulasan yang bermanfaat!

    BalasHapus