Review dan Pesan Moral pada Drama Korea It's Okay To Be Not Okay



Sebagai salah satu pecinta Drama Korea, sulit bagi saya untuk tidak tertarik pada drama yang dibintangi oleh aktor kesayangan. Apalagi kalau atas drama tersebut memiliki premis yang unik dan mendapat tanggapan positif dari para penonton. Pasti deh saya akan usahakan menonton drama tersebut entah itu saat masih airing atau setelah dramanya tamat. 

Setelah lepas dari pesona Hyun Bin di Crash Landing On You, saya putuskan menonton It's Okay To Be Not Okay yang dibintangi oleh Kim Soo Hyun, yang katanya sekarang merupakan aktor drama dengan bayaran termahal di Korea Selatan sana. Dalam drama ini Kim Soo Hyun beradu peran dengan Seo Yea Ji dan Oh Jung Se. Ketiga 

Berikut Sinopsis dari drama It's Okay To Be Not Okay:

Sinopsis It's Okay To Be Not Okay

 

Drama Korea It's Okay To Be Not Okay berkisah tentang pencarian jati diri dan penyembuhan luka batin ketiga pemeran utamanya. Go Moon Young merupakan seorang penulis dongeng dengan kepribadian anti sosial dan mengarah ke psikopat. Dia berpakaian seperti seorang putri namun berbicara tanpa memperhatikan perasaan orang lain. 

Adapun Moon Gang Tae adalah seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa yang memiliki seorang kakak dengan bawaan autis bernama Moon Sang Tae. Gang Tae memiliki kepribadian yang tertutup dan selalu menahan emosinya. Karena trauma yang dialami sang kakak di masa kecil mereka, Gang Tae selalu berpindah-pindah kota setiap tahunnya. Pertemuannya dengan Moon Young kemudian membuat Gang Tae akhirnya kembali ke kota masa kecilnya dan bekerja di rumah sakit OK, tempat ayah Moon Young dirawat selama hampir 20 tahun.

Kembalinya Go Moon Young dan Moon Gang Tae ke kota Seongjin membuka lagi kisah lama antara keduanya. Di masa kecil, Moon Young pernah menolong Gang Tae yang hampir tenggelam di danau es. Sementara Gang Tae juga sejak kecil sudah menyukai sosok Moon Young. Meski awal hubungan Gang Tae berusaha menghindari Moon Young, pada akhirnya dia luluh juga dengan kebar-baran penulis cantik ini.

Sayangnya, hubungan Moon Young dan Gang Tae terhalang tembok yang cukup besar, yakni Sang Tae. Puluhan tahun hidup bersama membuat Sang Tae menjadi sangat posesif kepada Gang Tae. Apalagi Sang Tae juga menderita autis yang kadang membuatnya kesulitan mengungkapkan perasaan dan berkomunikasi dengan banyak orang. Situasi inilah yang sebenarnya membuat Gang Tae sulit menjalin hubungan dengan siapapun. 

Dengan berbagai usaha pada akhirnya Moon Young dan Gang Tae berhasil membuat Sang Tae menerima kehadiran Moon Young dan menjadikan Moon Young sebagai anggota keluarganya. Sayangnya di saat kebahagiaan mulai hadir dalam kehidupan mereka, sebuah misteri terkait kematian ibu Sang Tae terbongkar. Belum lagi sosok dari Do Hui Jae, ibu penulis Go Moon Young yang menghilang secara misterius kembali menghantui kehidupan Moon Young. Bagaimanakan akhir dari kisah Go Moon Yong, Moon Gang Tae dan Moon Sang Tae? Berhasilkah ketiga orang ini lepas dari bayang-bayang masa lalu mereka?

Tokoh utama It's Okay To Be Not Okay

Go Moon Young

 

Go Moon Young merupakan putri penulis cerita misteri Do Hui Jae yang menghilang secara misterius saat usianya masih remaja. Seperti ibunya, Go Moon Young berprofesi sebagai penulis dengan genre dongeng. Dongeng-dongeng yang dibuat Moon Young cenderung gelap dan suram. Go Moon Young sendiri memiliki trauma masa kecil saat akan dibunuh ayahnya. Selain itu, karena ibunya juga memiliki kepribadian psikopat membuat Moon Young tumbuh menjadi pribadi yang antisosial.

Moon Gang Tae

 

Moon Gang Tae adalah seorang perawat di rumah sakit jiwa. Sejak kecil ia selalu didoktrin ibunya untuk menjaga kakaknya, Sang Tae yang menderita autis. Ucapan sang ibu ini membuat Gang Tae tumbuh dengan beban besar di pundaknya dan selalu menahan diri dari mengeluarkan emosi dalam dirinya. 

Moon Sang Tae

 

Moon Sang Tae, seorang penderita autis namun memiliki bakat menggambar yang luar biasa. Ketika ibunya meninggal karena dibunuh, Sang Tae mengalami trauma karena menjadi saksi satu-satunya Selama bertahan-tahun ia memiliki ketakutan akan kupu-kupu yang katanya merupakan pembunuh ibunya.

Pesan moral dalam drama It's Okay To Be Not Okay

 

Sebagai drama yang mengusung tema kejiwaan dalam ceritanya, ada banyak pesan moral yang bisa didapat dari drama It's Okay To Be Not Okay. Baik itu lewat dongeng yang diceritakan Moon Young maupun lewat para pasien di Rumah Sakit OK membuat yang membuat kisah dalam drama ini lebih berwarna. Selain itu, beberapa pesan moral dalam dongengn yang ditulis Go Moon Young juga berkaitan dengan parenting yang mana saat ini saya sedang menjalaninya. 

Berikut beberapa pesan moral yang bisa diambil dari drama Korea It's Okay To Be Not Okay:

Hadapilah kenangan buruk dan ketakutanmu

Dalam dongeng berjudul anak kecil yang penuh ketakutan Go Moon Young berkisah tentang seorang anak yang dihantui oleh mimpi buruk kenangan masa lalunya. Ia kemudian meminta bantuan penyihir untuk menghilangkan mimpi buruknya.Sayangnya meski kenangan dan mimpi buruk sudah dihilangkan, anak itu tetap tidak bahagia.

Anak yang kini sudah dewasa itu kemudian bertanya kepada penyihir yang pernah menolongnya dulu. "Semua kenangan burukku hilang, tapi kenapa aku tidak bahagia?"

Penyihir kemudian memberikan jawaban kalau kita seharusnya bisa menghadapi kenangan buruk dan ketakutan. Orang yang bisa tumbuh bersama semua kenangan itu, akan menjadi lebih kuat, bersemangat, dan mudah menyesuaikan diri. Orang seperti itu yang bisa mendapatkan kebahagian.


Dongen ini memberikan pesan kepada kita untuk belajar menghadapi ketakutan kita. Dalam dramanya sendiri, sosok Moon Sang Tae yang dihantui ketakutan akan kupu-kupu menjadi perwakilan dari anak yang hidup dalam ketakutan itu. Pada akhirnya Sang Tae pun berhasil menemukan pintu keluarnya dan menghilangkan ketakutannya akan kupu-kupu.

Setiap anak berhak mendapat kasih sayang yang penuh dari orang tuanya

Salah satu pasien Rumah Sakit Jika OK bernama Kwon Gi Do adalah putra seorang anggota dewan. Karena memiliki sindrom manik ia pun dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh orang tuanya. Saat ayahnya sedang berkampanye, Gi Dong malah mengacau dan membongkar rahasia keluarganya. Tentang dirinya yang disembunyikan karena tak sepintar kakak-kakaknya dan tentang dirinya yang memiliki gangguan kejiwaan.

Padahal Gi Do melakukan semua itu hanya untuk mendapat perhatian orang tuanya. Karena terlahir berbeda dari saudara-saudaranya Kwon Gi Do disembunyikan dan dianggap mempermalukan keluarganya. Bahkan sang ibu juga tak menunjukkan kasih sayangnya saat Gi Do ditangkap karena merusak kampanye sang ayah.

Kisah lain terkait kasih sayang orang tua ini ada pada dongeng kisah hidup zombie. Dalam dongeng ini diceritakan seorang anak yang tak memiliki perasaan dan hanya memiliki nafsu makan. Sang ibu kemudian menyembunyikan anak itu di gudang dan memberinya makan dengan mencuri hewan ternak desa. Suatu hari wabah menyerang dan semua orang desa pergi mengungsi. Sang ibu tak mungkin meninggalkan anaknya. Ia pun memberikan tubuhnya untuk dimakan sang anak. Saat sang ibu memberikan tubuh terakhirnya, sang anak memeluk erat tubuh ibunya dan berkata, "Ibu kau hangat sekali."

Jujur saya nangis bombay ketika bagian dongeng ini dibacakan. Pesan yang dibawa oleh dongeng ini sangat kuat tentang bagaimana kadang kita melimpahi anak dengan materi namun lupa memberi mereka kasih sayang yang sepatutnya mereka dapatkan sebagai seorang anak.

Baca juga : 5 Alasan Menonton Drama Crash Landing on You

Kadang kita terlalu nyaman dengan kondisi kita sampai tak bisa keluar dari zona nyaman tersebut


Dongeng Anjing Musim Semi berkisah tentang seekor anjing yang diikat di sebuah pohon. Di siang hari anjing tersebut terlihat gembira dan kerap bermain dengan anak-anak di desa. Namun di malam hari anjing tersebut menangis karena ingin lepas dari tali yang mengikatnya dan berlarian dengan bebas di ladang musim semi.

Suatu hari, hati kecil anjing tersebut berbisik dan bertanya, "Hei, kenapa kau tak melepaskan tali di lehermu dan melarikan diri?"

Anjing itu kemudian menjawab, "Karena sudah lama terikat, aku lupa cara melepaskannya."

Dongeng ini bagi saya menggambarkan bagaimana kadang kita terlalu nyaman berada di sebuah kondisi hingga tak berani untuk mencoba hal baru. Zona nyaman, begitu kondisi ini dikenal. Tentunya terlalu lama berada di zona nyaman ini bukanlah hal yang baik karena akan menghambat kemajuan kita sendiri. Dalam dunia kerja, terjebak di zona nyaman pastinya akan membuat karir tidak bisa naik dengan maksimal.

Orang yang membiarkan kekerasan pada orang lain terjadi lebih jahat daripada yang melakukan kekerasan

Pesan moral ini saya dapatkan pada kasus pasien di Rumah Sakit Jiwa OK yakni Yoo Sun Hae yang menderita gangguan mental identitas disosiatif. Di masa kecilnya, Yoo Sun Hae kerap dipukul ibunya. Ini membuatnya memiliki kepribadian ganda yang kadang muncul di saat-saat tertentu. Kepribadian itu adalah dirinya yang berusia 8 tahun dan disiksa ibunya.

Ironisnya, sosok ayah Yoo Sun Hae ternyata hanya membiarkan sang istri menyiksa anaknya karena menganggap hal tersebut wajar dalam mendidik anak. Perilaku ayahnya yang tak berbuat apa-apa saat dirinya dipukuli membuat Yoo Sun Hae lebih membenci ayahnya ketimbang ibunya yang sering memukulinya.

Kekerasan terhadap anak sendiri bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Di masa lalu mungkin ada yang menganggap ini cara mendidik anak, pun saya sendiri juga pernah dipukul ibu saya jika melakukan kesalahan. Namun jika kekerasan ini dilakukan berulang hingga membuat anak trauma, pastinya harus ada yang bertindak untuk bisa menyelamatkan jiwa anak yang sering menerima kekerasan ini. Beruntung kita sekarang berada di masa orang tua yang sudah semakin sadar pentingnya ilmu parenting dalam mendidik anak sehingga bisa meminimalisir terjadinya kekerasan pada anak dalam pola pengasuhan.  

Baca juga : [Review] Sky Castle dan Pesan Moral yang Terdapat di Dalamnya

Orang tua harus mengajarkan anaknya untuk mandiri

Dongeng keren lain yang membawa pesan parenting dalam drama ini adalah Tangan dan Monkfish. Dongeng ini bercerita tentang seorang ibu yang memiliki bayi yang sangat cantik. Karena begitu mencintai anaknya, sang ibu selalu membantu anaknya dalam berbagai hal. Saat sang putri mulai makan, dia akan menyuapinya dan tak membiarkan putrinya menggunakan tangannya. Pun saat putrinya belajar berjalan, sang ibu menggendongnya sehingga sang anak tak perlu repot berjalan.

Saat sang ibu sudah tua, sang ibu meminta anaknya untuk menyediakan makan. Anaknya lalu berkata, "Ibu. Aku tak punya tangan. Tanganku menghilang, karena tak pernah digunakan."

Sang ibu kemudian meminta anaknya untuk menggendongnya. Anaknya berkata lagi, "Ibu, aku tak punya kaki. Aku tak pernah menginjak tanah, karena kau terus mengendongku. Namun, aku memiliki mulut yang sangat besar."

Kemudian, dia membuka mulutnya yang sangat lebar. Sang ibu sangat marah dan membentak,


"Setelah kuperhatikan, kau bukan anakku yang sempurna. 

Kau hanya monkfish bermulut besar tak berguna.

Kau adalah kegagalan yang hanya bisa menerima dan tak bisa memberi apa pun."
Dongeng ini mengajarkan kita kalau sebagai orang tua kita seharusnya mengajarkan anak untuk mandiri. Tidak perlu terus-menerus membantu sang anak dalam proses belajarnya karena akan membuatnya jadi anak yang tak mau berusaha. Selain itu orang tua juga seharusnya melakukan introspeksi diri jika ternyata anaknya tidak tumbuh sesuai harapannya. Siapa tahu itu karena pola pengasuhan kita yang salah di masa kecil.  
                       

Kenangan buruk mungkin tidak bisa dihapus, namun bisa diganti dengan kenangan yang indah 

Episode final It's Okay To Be Not Okay memperlihatkan Go Moon Young yang bertemu dengan ibunya di penjara. Di sana keduanya terlibat pembicaraan untuk terakhir kali. Sang ibu mengatakan kalau Moon Yong takkan bisa melupakan sosok ibunya itu. Seorang ibu yang psikopat dan ingin menjadikan putri satu-satunya menjadi seperti dirinya. Beruntung Moon Young akhirnya bertemu dengan orang-orang yang bisa mencintainya dengan tulus dan memberikan kehangatan keluarga. Dari mereka, Moon Young belajar kalau kenangan buruk yang tak bisa dihapus bisa diganti dengan kenangan lain yang lebih indah.


It's Okay To Be Not Okay

Sesuai judulnya, pesan moral terakhir yang bisa saya ambil dari drama ini adalah It's Okay To Be Not Okay. Tidak apa-apa jika kamu merasa tidak apa-apa. Berbagai masalah dalam hidup kadang membuat kita merasa buruk dan bahkan mungkin terpuruk. Namun pastikan saat sudah merasa tidak apa-apa ini sebaiknya kita mencari pertolongan agar terhindar dari hal-hal lebih buruk yang mungkin akan terjadi.



Demikian review dan pembahasan untuk drama Korea It's Okay To Be Not Okay. Oya, kalau mau baca ulasan lain tentang drama keren ini bisa mampir ke blog www.shezahome.com yaa. Sampai jumpa di review drama Korea lainnya.

Post a Comment

14 Comments

  1. Saya nonton drakor ini ada episode-episode yang membuat saya menitikan air mata. Apalagi kalau nonton pas ngomongin soal hubungan anak dan orang tua, duh meleleh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Drama ini pesan parentingnya berasa banget. Benar-benar jadi pengingat buat diri sendiri

      Delete
  2. Aku udh tamat ini... Bagus banget emang. Awal2 agak bingung niy cerita apaan sih. Lama-lama baru ngerti cerita tentang proses melawan trauma.

    ReplyDelete
  3. Dalem banget ya pesan moralnya...
    Temanya juga menarik, kapan-kapan nonton ah...

    ReplyDelete
  4. Saya dulu termasuk yang idealis dan miss perfect banget. Tetapi, sekarang udah lebih luwes. Makanya setuju banget dengan pesan kalau gak apa-apa sesekali merasa tidak apa-apa

    ReplyDelete
  5. Jadi penasaran pengen lihat lambsuml drama ini. Kayanya banyak yang nonton dan ngasih review juga. Judulnya juga udah menarik. Memang kenangan masa lalu ini kadang terus terbawa hingga dewasa. Seperti punya inner child yang terus melekat. Bagus sih pesan yang ingin disampaikan penulisnya.

    ReplyDelete
  6. Aih...saya akhirnya kelar juga nonton It's Okay To Be Not Okay ini dua hari yang lalu. Yang bikin saya salut tuh karena mereka menempatkan pemeran utama prianya sebagai seorang perawat, biasanya kan dokter.. beda aja gitu..dan yaa..soal karakter dan mental illness yang dialami sejumlah tokoh di dalamnya, kita jadi belajar banyak..

    ReplyDelete
  7. Huaaa ada Gang Tae ,, ini drakor favorit akuuu

    ReplyDelete
  8. Saya juga nonton drakor ini mbak. Tapi karena bukan penggemar drakor fanatik, jadi nontonnya lompat-lompat episode. Ikutan nonton kalau pas main ke rumah adik dan dia lagi nonton drakor ini.

    ReplyDelete
  9. Jeli banget mencatat pesan moral di serial, mbak. Hahaha aku jarang fokus ke pesan moral kalau nonton. Observasi lebih ke pilihan dan tindakan karakter

    ReplyDelete
  10. Wah reviewnya lengkap banget mba ini film kesukaan aku banyak pesan moral yang didapat setelah nonton film ini..udah gitu pemerannya cakep2 jugaa enak buat ditonton

    ReplyDelete
  11. Banyak luka, kesedihan, dan makna tersirat dalam drama ini.
    Semoga setelah menonton drama ini, jadi makin "kaya" untuk penikmat drama Korea agar tidak mengulangi kesalahan yang menyebabkan mental sang anak "terluka".

    ReplyDelete
  12. Jalan cerita drakor banyak memberikan banyak pesan moral apalagi senang dengan makna parenting yg ditanamkan mbak mulai dr kemandirian sampai pada kehidupan sosial.

    ReplyDelete
  13. semakin banyak yang review film ini, semakin aku penasaraaan pengen nonton :D tapi apadaya masih belum ada waktu huhu secara nonton drakor nggak bisa 1-2 episode aja wkwk

    ReplyDelete