Mengontrol Tontonan Anak bagi Ibu Bekerja



Putri saya sekarang berusia 9 bulan. Sebagai seorang ibu bekerja, salah satu risiko yang harus saya ambil dalam pengasuhan anak saya adalah menitipkannya pada orang lain. Dalam hal ini, saya memilih seorang ibu rumah tangga yang masih bersaudara jauh dengan kami. Beliau memiliki 2 orang anak perempuan dengan usia 9 dan 3 tahun, pas sekali untuk menemani putri kecil saya dalam kesehariannya.

Setiap jam istirahat, saya selalu berusahu menjenguk putri saya. Nah, di jam istirahat ini kadang saya ikut juga berinteraksi dengan anak-anak. Mereka kadang bermain dan satu hal yang tidak ketinggalan adalah menonton televisi. Biasanya sih tontonannya kalau tidak Ipin dan Upin ya VCD lagu anak Islami. Insya Allah masih tontonan yang amanlah kalau menurut saya.

Di masa kecil dulu, televisi merupakan salah satu sarana hiburan paling utama saat berada di rumah. Layaknya anak kecil lainnya, saya menonton aneka kartun yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta. Paling legendaris tentu saja Doraemon yang bahkan hingga saya beranjak dewasa masih ditayangkan. Di masa itu, mungkin tidak pernah terpikir di benak saya tentang pengaruh yang akan saya dapatkan setelah menonton acara televisi tersebut. Nonton kartun adalah hiburan. Just it!

Baca juga : Belajar Menjadi Orang Tua

Seiring dengan semakin bertambahnya umur dan banyak membaca, saya belakangan jadi tahu kalau kebanyakan menonton televisi bisa memberikan efek yang buruk bagi anak-anak. Dari yang saya tahu, terlalu banyak menonton televisi bisa berpengaruh pada perkembangan otak, kemampuan berbicara, perkembangan motorik hingga psikologis anak. Ngeri juga, ya?

Saya sendiri kalau di rumah sangat jarang mengajak putri saya menonton televisi. Mungkin karena saya merasa dia juga belum paham dengan apa yang ditontonnya jadi ya tidak saya biasakan untuk menonton televisi. Namun seiring dengan bertambahnya umurnya, saya harus mempersiapkan diri saat anak saya nanti mulai mengerti yang namanya menonton televisi.

Di lain pihak beberapa acara televisi sebenarnya juga ada yang menandung edukasi. Semisal acara Bocah Petualang atau Hafiz Qur'an yang menginspirasi itu. Sebagai seorang ibu jaman millenial, saya tentunya harus jeli dalam memilihkan tontonan untuk anak saya. Tak hanya televisi sih sebenarnya. Tontonan lain berupa video youtube dan gadget juga harus menjadi perhatian untuk saya dan ibu-ibu lainnya.

Baca juga : Berkata “IYA, BOLEH” pada Anak, Kenapa Tidak?

Berhubung saat ini saya masih berstatus sebagai ibu bekerja, maka saya tidak bisa selalu mendampingi anak saya setiap harinya. Karena itu saya tentunya harus memikirkan cara untuk tetap bisa mengontrol apa saja yang ditonton anak saya nanti. Sebisa mungkin sih anak saya menonton hal-hal yang bermuatan positif saja. Beberapa cara yang terlintas di benak saya untuk mengontrol tontonan anak bagi ibu bekerja antara lain:

Berkoordinasi dengan pengasuhnya perihal tayangan televisi yang ditontonnya

Sebagai orang yang dipercaya untuk menjaga putri saya selama saya bekerja, maka wajar saja kalau saya harus berkoordinasi dengan pengasuh anak saya terkait tayangan yang akan ditontonnya nanti. Tayangan yang dipilih untuk anak saya haruslah yang memang sesuai untuk anak-anak dan bisa memberikan keteladanan untuknya. Selain itu saya juga harus berkoordinasi perihal batasan waktu menonton televisi setiap harinya. Baiknya sih anak tidak dibiasakan menonton televisi dalam jangka waktu yang lama.

Memikirkan opsi memasukkan anak ke daycare

Opsi memasukkan anak ke daycare/playgroup juga bisa menjadi pilihan saya jika putri kami sudah semakin besar nanti. Setahu saya di daycare/playgroup anak-anak akan diajak melakukan berbagai aktivitas yang bisa membantu stimulasi  mereka. Dengan adanya berbagai aktivitas ini tentunya akan mengalihkan perhatian anak dari menonton televisi.


Mendampingi anak menonton acara kesukaannya

Saat sedang tidak bekerja, saya akan berusaha mendampingi anak saya saat menonton acara kesukaannya. Selain bisa mengetahui muatan dari acara yang sedang ditonton, menonton bersama ini juga bisa meningkatkan keakraban antara saya dan anak saya nantinya.

Memberi contoh dengan menonton acara yang bermutu

Dengan semakin banyaknya stasiun televisi yang bermunculan, program televisi pun semakin banyak bermunculan. Sebagai seorang ibu, saya tentu harus jeli dalam memilih tontonan untuk anak. Jangan sampai anak saya menonton acara yang tidak memberi manfaat baginya. Hal ini tentunya harus dimulai dari orang tuanya sendiri dalam memilih tontonan. Tontonan yang kami pilih harus yang benar-benar membawa manfaat bagi seluruh anggota keluarga.

Itulah dia beberapa langkah yang akan saya lakukan untuk mengontrol tontonan bagi putri saya nantinya. Jika ada ibu bekerja yang memiliki pengalaman seputar tontonan untuk anaknya boleh banget ngasih saran untuk tulisan ini.

Tulisan ini merupakan tanggapan dari post trigger Mak Anis Khoir dalam tulisannya yang berjudul Anak, Televisi dan Sarana Edukasi di #KEBloggingCollab grup Mira Lesmana.

31 comments:

  1. tontonan anak-anak sekarang makin berkurang banyak acara2 yg tidak mendidik untuk anak

    ReplyDelete
  2. Saat ini mencarikan tontonan yang bermutu untuk anak itu tidak mudah. Mungkin lebih mudah kalau berlangganan tv cable atau punya film2 sendiri (bukan dari tayangan tv).

    ReplyDelete
  3. Tontonan sekarang memang aneh2. Benar saran mbak...beri tahu pengasuhnya mana tontonan yg layak dan tidak. Agar anak tidak sampai menonton yg salah

    ReplyDelete
  4. yup, mas. tontonan yang salah bisa berakibat buruk pastinya nanti

    ReplyDelete
  5. bisa juga begitu caranya, mas. makasih sarannya ya :)

    ReplyDelete
  6. iya. makanya sebagai orang tua kita harus benar-benar selektif dalam memilih tontonan anak

    ReplyDelete
  7. beberapa tahun ke depan bakal ngalamin nih jd ibu ^^

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah sekarang anakku juga berkurang jam nonton TV dan gadgetnya semenjang masuk sekolah dan daycare

    ReplyDelete
  9. Bener banget bunda. Tontonan TV itu perlu diawasi. Bahkan dari iklan yang muncul di TV aja udah kurang layak dikomsumsi anak2. Hahhh tantangan kita di jaman ini mkin brat ya bun

    ReplyDelete
  10. TV itu sangat menarik, apalagi bagi anak-anak. Untuk bisa 'mengalahkan' TV, orangtua harus bisa memberi hal lain yang lebih menarik dari apa yang diberikan oleh TV. Aku ngga melarang sama sekali anak-anak menonton TV, tapi kubatasi dan kudampingi. Dan kalau pas lagi senggang, aku ajak main bareng. Biasanya sih, apa pun yang dikerjakan asal dilakukan bareng dengan orangtua, selalu lebih menarik dari TV.

    ReplyDelete
  11. Kalo udah begini, saya suka seneng sama jadwal sekolah yg full day mbak.. anakku yg TK disibukkan sama kelas2 tambahan kecil kayak cooking class atau iqro. anakku yg besar jg ekskulnya padat. jadi waktu nonton tvnya pas udah sore, bareng ibunya

    ReplyDelete
  12. Saya yang sudah ibu-ibu begini sangat suka nonton acara Bolang. Apalagi jika tentang anak-anak yang hidup di pinggir pantai, suka menangkap ikan. Seru pokoknya. Kadang saya ajak anak saya usia 10 tahun nonton bareng.

    ReplyDelete
  13. kalau saya sukanya acara kayak home decor gitu, mbak atau kayak ibu cerdas yang tayang tiap weekend itu

    ReplyDelete
  14. iya kalau dipikir-pikir kadang ada bagusnya juga ya sekolah full day itu asal isinya bukan belajar melulu. he

    ReplyDelete
  15. setuju, mbak. orang tua harus bisa mengalihkan anaknya dari televisi ini

    ReplyDelete
  16. kalau iklan malah banyak pesan tersiratnya kalau menurut saya, mbak

    ReplyDelete
  17. wah berarti sekarang lagi rajin-rajinnya nyari info soal parenting yaa :)

    ReplyDelete
  18. sudah punya kesibukan lain, ya, mbak

    ReplyDelete
  19. Anak saya 3 tahun, emaknya mulai pusing karena dikit-dikit dia minta nonton tv atau youtube. Semua tontonan anak selalu saya awasi sih, tapi kawatir juga kalau keseringan. Jadi harus punya berbagai cara untuk mengalihkan perhatiannya. Dulu-dulu sih diajak main bola atau mewarnai dia langsung semangat. Sekarang? Udah bisa bilang 'nggak mau main bola'. Huhuhuh. Tapi emak jaman now gak boleh kehabisan akal. Anak saya paling suka kegiatan 'membantu mami', jadi kalau saya bilang 'bantu mami cuci piring yuk', dia langsung ngacir duluan ke dapur. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  20. Dulu Umaro ku kasih nonton tv. Tapi akhirnya aku menyesal. Sekarang kalau lihat ada bayi udah di kasih nonton tv atau nonton hape sedih. Karena sudah tau dampaknya. Sayangnya banyak ibu yang belum paham dampaknya jadi ketika anak anteng nonton di anggap lucu bahkan pinter

    ReplyDelete
  21. Kalau aku jarang sih ngajak anakku nonton tivi. Tapi di akunya yang susah lepas gadget pas sama dia

    ReplyDelete
  22. Kalau anak-anak sudah bersekolah, berkurang kok keinginannya untuk nonton televisi :)
    apalagi kalau sudah kenal gadget, hadeeeh malah problemnya lebih berat dari sekadar nonton tipi :(

    ReplyDelete
  23. Nah itu dia juga yang bakal jadi peer besar, mbak

    ReplyDelete
  24. Saya termasuk yang bersyukur KPI dan LSF sekarang cukup tegas, walau sensorannya kadang cukup lebay. Paling gak saya jadi merasa lebih aman membiarkan anak menonton tivi dibanding youtube. Kalo youtube kudu didampingi, karena tanpa sensor.

    ReplyDelete
  25. iyaa katanya youtube juga sekarang lebih bahaya ya karena nggak ada sensornya. apalagi kalau yang ditonton youtuber yang suka ngumpat

    ReplyDelete
  26. Anak saya baru suka nonton tv, sebelumnya nonton di HP, kartun2 kesukaannya yg sy downloadkan. Klo dia nonton di HP paket datanya saya offkan, jadi yg ditontonnya ya yg offline aja, yg sdh lewat sensor emaknya. Nah sekarang mulai suka nonton tv, channel NickJr, tontonannya sama aja yg di HP tp versi layar besar drpd HP. Heheheh. Intinya sebisa mungkin kita dampingi anak2 kta saat menonton dan tahu apa yg ditontonnya ya Mbak :)

    ReplyDelete
  27. iya, mbak. anak saya juga ini sudah mulai tertarik sama gadget yang saya gunakan padahal umurnya baru 11 bulan. harus benar-benar hati-hati nih nanti

    ReplyDelete
  28. Memang tantangan berat ini untuk mengontol tv sama gadget di rumah. Perlu kerjasama yang bagus dan kompak diantara orang dewasa penghuni rumah.

    ReplyDelete
  29. Nah iya tuh, saat bekerja, tontonan yang dilihat oleh anak-anak harus benar-benar dikoordinasikan dengan pengasuh. Takutnya malah pengasuhnya yang malah nonton sinetron kan ya. Alhamdulillah sekarang aku di rumah dan anak-anak mengerti tontonan yang baik untuk mereka ya serial kartun, itupun saya juga harus tahu dan kadang ngedampingi, kadang ya di dapur atau di mana, asal masih mendengar tayangan tipinya

    ReplyDelete
  30. yup. orang tua harusnya ngasih contoh dan disiplin yang baik terkait tontonan dan gadget ini. pr banget sih ini kalau buat saya

    ReplyDelete
  31. iya, mbak. alhamdulillah sih yang jagain anak saya ini punya anak balita juga jadi tontonannya nggak jauh-jauh dari ipin dan upin. he

    ReplyDelete