Cerita Lebaran : Jatuh Bangun di Kampung Orang Tua



"Tadi Dede pintar lho, Mas pas aku dan Mama salat. Dia rebahan dan nggak rewel," kata  saya pada suami sepulang dari salat Ied yang kami laksanakan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tak seperti tahun lalu, tahun ini Ramadan dan lebaran kami memang terasa berbeda dengan kehadiran putri kami yang sekarang berusia 6 bulan. Jika tahun lalu saya masih bisa mengikuti ibadah tarawih bersama suami di mesjid atau musala, maka untuk tahun ini ibadah tarawih saya lakukan di rumah saja karena rasanya tak mungkin membawa Tyas ke musala atau mesjid untuk ikut tarawih.

"Iyakah? Alhamdulillah kalau Dede-nya pintar," balas suami saya sambil menimang putri kami.

Berbeda dengan tarawih, untuk ibadah salat Ied saya dan suami akhirnya memutuskan untuk membawa serta anak kami. Selain karena durasinya yang terbilang singkat, saya juga ingin mengenalkan Tyas pada suasana salat Ied. Selain itu anak saya masih belum terlalu aktif pergerakannya. Meski begitu, tetap saja yang namanya membawa bayi, otomatis persiapannya jadi sedikit lebih repot ya. Untungnya saya dan keluarga tidak sampai terlambat tiba di tempat salat. Hanya selang beberapa menit sebelum imam memulai salat, saya dan ibu sudah berhasil mendapatkan tempat salat.

Saat suami setuju untuk membawa serta Tyas dalam pelaksanaan salat ied, dia menyarankan agar saya salat sambil memangku anak kami. Namun karena yakin anak saya tidak akan rewel, sebelum melaksanakan salat, Tyas saya letakkan di antara saya dan ibu dengan beralas selimut miliknya. Alhamdulillah, selama kami salat Tyas tidak menunjukkan tanda-tanda bosan atau rewel. Sementara kami salat, matanya tampak bolak-balik memandangi saya dan ibu saya. Tyas juga tidak melakukan aksi tengkurap seperti yang kerap dilakukannya jika sudah direbahkan. Mungkin dia sadar kalau alas tidurnya keras jadi dia lebih memilih tetap dengan posisi telentang. Sambil memandangi ibu dan neneknya, sesekali anak saya mengeluarkan celotehan khas miliknya.



[embed]https://www.instagram.com/p/BVvb8PSAogD[/embed]

Seusai salat Ied dan kumpul-kumpul sebentar dengan adik perempuan dan keponakan, saya beserta suami, ibu dan adik laki-laki saya bertolak menuju Desa Aluh-aluh. Selama 2 tahun terakhir saya memang menghabiskan Lebaran hari pertama di Desa Aluh-aluh, tempat saudara-saudara ibu saya tinggal. Desa Aluh-aluh ini terletak di Kabupaten Banjar. Dulu, untuk bisa sampai ke sana saya harus naik klotok selama kurang lebih 2 jam. Nah, seiring dengan semakin pesatnya pembangunan, perjalanan menuju Desa Aluh-aluh sudah bisa dilakukan dengan menggunakan motor meski jalannya masih berupa jalan setapak. Bahkan para sepupu saya sekarang cukup sering bolak-balik Banjarmasin - Aluh-aluh ini dengan menggunakan motor. Lalu apakah saya juga menempuh perjalanan darat seperti para sepupu saya? Tentu saja tidak. Untuk perjalanan ini terlebih dahulu kami naik motor menuju Pasar Arba untuk kemudian dijemput dengan menggunakan klotok menuju Desa Aluh-aluh.



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam, kami pun tiba di tempat tujuan. Sebelum menginjakkan kaki di rumah salah satu paman, terlebih dahulu kami mengunjungi makam kakek, nenek dan ayah saya yang memang terletak tak jauh dari rumah para paman dan bibi. Memang selain untuk bersilaturahmi dengan para anggota keluarga dari pihak ibu, tujuan utama dari berlebaran di Aluh-aluh ini adalah untuk berziarah ke makam almarhum ayah saya. Makamnya sendiri terletak tak jauh dari rumah paman dan bibi saya. Sejatinya memang lahan tersebut sudah disiapkan untuk menjadi makam keluarga.

Bicara soal makam, sejujurnya saya memiliki pengalaman kurang menyenangkan dengan titian yang digunakan untuk mencapai lokasi makam. Jadi lokasi pemakaman keluarga di terletak di antara persawahan. Untuk bisa mencapai makam dibuatlah titian kayu yang sayangnya kondisinya sudah agak rapuh. Bagi mereka yang sehari-hari tinggal di situ, tentu menjadi perkara mudah untuk melewatinya. Nah kalau untuk saya yang terbilang jarang mengunjungi makam tentunya harus lebih berhati-hati. Saya ingat terakhir kali ke makam saat usia kehamilan 3 bulan, saya sukses terperosok karena menginjak papan yang sudah sangat jabuk. Untungnya peristiwa terperosok ini tak mempengaruhi janin saya. Berkaca dari pengalaman tersebut tentunya saya harus lebih hati-hati jika ingin mengunjungi makam.

Sayangnya sepertinya saya ditakdirkan untuk lagi-lagi terperosok saat mengunjungi Desa Aluh-aluh. Bahkan terperosoknya bukan hanya sekali, namun dua kali! Jadi ceritanya untuk tahun ini, saat akan mengunjungi makam kami mendapati kondisi air yang cukup pasang dan membuat beberapa bagian jalan tergenang air. Mau tak mau saya harus melepas alas kaki untuk bisa melewati genangan air tersebut. Tyas sendiri sejak awal sudah saya serahkan pada ayahnya untuk digendong. Dengan hati-hati saya melompat-lompat melewati setiap rintangan di jalan. Kenapa harus melompat? Karena genangan air, saya juga harus melewati aneka rerimbunan tanaman.

Setelah berhasil melewati beberapa rintangan, saya pun berhasil melewati titian yang pernah membuat saya terperosok. Sayangnya saat selesai ziarah saya kurang berahati-hati. Gara-gara melihat adik saya melompat langsung dari titian menuju ke tanah, saya pun ingin mengikutinya. Sayangnya saat menjejakkan kaki ke tanah, kaki saya tak seimbang. Saya berusaha menyeimbangkan diri dengan berpegangan pada pohon yang ada di samping saya. Sayang tanahnya terlalu licin dan mau tak mau saya harus merelakan bagian bawah gamis saya basah karena kaki saya yang terperosok. Yah, masih untung sih saya tidak terjatuh sekalian.

Tak cukup sampai di situ, sorenya lagi-lagi saya mendapat pengalaman kurang mengenakkan. Jadi sebelum kembali ke Banjarmasin, saya dan keluarga bekunjung ke kediaman beberapa anggota keluarga. Tak jauh berbeda dengan kondisi saat akan menuju makam, perjalanan menuju rumah para anggota keluarga ini juga harus melewati aneka titian dan genangan air. Sejak awal saya sendiri juga sudah diingatkan untuk berhati-hati. Bahkan salah satu saudara ibu saya sudah memilihkan jalan paling aman agar saya tidak terpeleset saat menuju rumah salah satu nenek.

Rupanya, takdir saya terperosok bukanlah di jalan ataupun titian. Jadi, saat akan pulang dari bersilaturahmi, saya bersalaman dengan nenek. Saat itu kami berada di bagian teras belakang rumah beliau, berkumpul bersama para tamu lainnya. Nah, saat akan berdiri, tiba-tiba saja, "Bruk!" kaki saya terperosok. Ya ampun! Di antara sekian banyak papan yang ada di teras itu kok bisa-bisanya kaki saya menginjak papan yang lapuk?! Hedeh. Bahkan adik dan ibu saya sampai tertawa melihat bagaimana saya bisa terjatuh kala itu. Saya sendiri cuma bisa meringis menahan malu karena sudah sukses bikin bolong lantai rumah orang. Satu hal yang saya syukuri, saat kejadian terperosok, Tyas lagi-lagi sedang digendong ayahnya.


30 comments:

  1. Tetep masih ada yang bisa disyukuri dari sebuah musibah ya mbaa hehe. Jangan2 itu pertanda harus diet #ups

    ReplyDelete
  2. Gudlak ya Mak, senengnya lebaran bersama

    ReplyDelete
  3. Aduh Mbak, pengalaman terperosoknya nggak enak banget. Mudah-mudahan di lebaran berikut (in syaa Allah) gak kejadian lagi :(

    ReplyDelete
  4. Pengalamannya kok sama mba, aku juga lagi sialatuurahmi, terperosoak di rumah orang. Lebaran memang selalu penuh cerita

    ReplyDelete
  5. wah. toss. mbak. hihi

    ReplyDelete
  6. iya. agak-agak gimana gitu jadinya kalau ke kampung orang tua. aamin semoga nanti kalau ke sana nggak ada acara jatuh lagi

    ReplyDelete
  7. aamiin. makasih, mbak :)

    ReplyDelete
  8. hahaha. habis melahirkan aku malah tambah kurus nih. :D

    ReplyDelete
  9. alhamdulilah kedua anakku kalau dibawa ke mesjid atau solat berjamaah gak pernah ribut duduk anteng dekatku

    ReplyDelete
  10. alhamdulillah, ya, mbak. mungkin karena sering diajak ya?

    ReplyDelete
  11. Sealalu ada yang bisa disyukuri ya mbak, walaupun jatuh bangun :)

    ReplyDelete
  12. Hehehe, terperosknya malah di teras....

    ReplyDelete
  13. Wah, pinter ya bisa diajak sholat Ied :D Syuna 2 tahun sama aku aja dirumah mba, masak-masak. Hehe

    ReplyDelete
  14. Duh mbak pengalaman terperosoknya. Moga di lebaran berikutnya nggak kejadian lagi dan itu mungkin tanda agar kita selalu ingat pada-Nya, bahwa apapun bisa terjadi atas kuasa-Nya

    ReplyDelete
  15. Masih untung ya mbk pas terperosok si kecil ikut ayahnya jd tetap aman

    ReplyDelete
  16. Untung gak kenap2 ya Mba :D anggap aja jackpot lebaran hihihi

    ReplyDelete
  17. Baca ini jadi ingat pengalaman lebaran pertama sama suami.. Waktu itu kami jalan2 masih pake motor butut yg pke gigi n rantai. Pas jalan jubah sy nyangkut n ketarik dirantai kendaraan. Untung ga jatoh.. Hiks

    ReplyDelete
  18. iya, mbak :)

    ReplyDelete
  19. Waduh sampe terperosok, untung pas ga gendong si kecil.
    Btw Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin ya Yana.

    ReplyDelete
  20. kalau sudah 2 tahun kayaknya memang sudah "gagah" anaknya ya. jadi agak ribet kalau mau dibawa ke mesjid. he

    ReplyDelete
  21. aamiin. moga aja pas ke sana lagi nanti kondisi di sana sudah lebih baik. heu

    ReplyDelete
  22. iya. nggak kebayang deh kalau misalnya aku yang bawa bayinya. padahal suamiku juga baru beberapa kali diajak ke kampung halaman ibuku

    ReplyDelete
  23. hihi. moga sampai di situ aja jackpotnya :D

    ReplyDelete
  24. nah iya sekarang aku kalau nyari gamis itu yang nggak terlalu lebar karena rada nyusahin. tapi sekarang yang musim malah gamis super lebar

    ReplyDelete
  25. iya, alhamdulillah nggak sampai terperosok, mas. Selamat idul fitri juga buat Keluarga Biru yaa. Mohon maaf lahir batin

    ReplyDelete
  26. Wah, pinter anaknya diajak sholat…

    ReplyDelete
  27. ceritanya menarik banget wkwwk, jangan lupa mampir blogku ya

    ReplyDelete
  28. makasih dah mampir ke blog saya :)

    ReplyDelete
  29. halo mbak, makasih ya udah ikutan GA blog aku :) Gudlak ya mbak.. btw, untung pas peristiwa2 terperosok ga lagi gendong putrinya mbakk

    ReplyDelete
  30. seru bacanya mba Aya , semoga happy selalu ya dedenya :)

    ReplyDelete